
Pagi ini sama seperti pagi sebelumnya. Sierra terbangun dari tidurnya dengan Revan yang sudah tersenyum manis disampingnya. Entah mengapa melihat wajah tampan Revan dari jarak yang begitu dekat membuat jantung Sierra berdegup kencang. Membuat Sierra sulit untuk menghirup oksigen yang ada disekitarnya.
Sierra pun memejamkan matanya sejenak. Ia berusaha untuk menangkan dirinya. Berusaha mengembalikan akal sehatnya. Berusaha menyadarkan dirinya dari perasaan yang semakin tidak karuan ini.
“Astaga mengapa perasaanku seperti ini lagi? Ya tuhan tolong sadarkan aku. Aku bisa benar-benar gila jika begini”. Ucap Sierra didalam hati.
Setelah itu Sierra pun bisa merasakan sebuah tangan membelai rambutnya dengan lembut. Bahkan Sierra juga bisa merasakan kehatangan sebuah tangan yang menyentuh wajahnya.
Dengan perlahan Sierra pun membuka matanya kembali dan menatap Revan yang masih berada tepat didepannya. Sepertinya Sierra sudah harus terbiasa melihat wajah tampan Revan setiap dipagi hari.
“Mau sampai kapan kamu tertidur Sierra? Ayo cepat bangun. Jangan malas”. Ucap Revan dengan lembut.
Sierra mengangukan kepalanya. Lalu Sierra segera bangun dari tidurnya dan hendak berjalan pergi untuk membersihkan diri sebelum akhirnya tangan Revan menahan langkahnya.
“Kamu tidak lupa dengan perjanjian kita semalam kan Sierra?”. Ravan tersenyum nakal.
Sierra mengerutkan keningnya. Ia berusaha mengingat-ingat. Hingga akhirnya Sierra pun teringat dengan kejadian semalam. Kejadian dimana Revan mengatakan harus adanya ciuman pengantar tidur dan juga morning kiss. Seketika wajah Sierra menjadi merona merah.
“Sepertinya kamu sudah ingat Sierra. Ayo cepat lakukan. Kamu bukan orang yang ingkar janjikan?”.
Sierra menarik nafas yang dalam. Lalu Sierra mendekat kearah Revan kembali. Dalam sekejap Sierra langsung mencium pipi Revan dengan lembut.
“Sudahkan?”. Ucap Sierra dengan malu.
Revan yang merasa puaspun mengangukan kepalanya. “Kamu bersiap-siaplah. Saya akan menunggumu direstoran”.
“Baiklah. Aku mengerti”.
Revan mengacak-ngacak rambut Sierra dengan lembut dan langsung pergi meninggalkan Sierra. Sedangkan Sierra masih saja diam mematung dengan perasaan yang semakin bergejolak. Sierra pun memegang dadanya sejenak.
“Ya tuhan. Aku sudah benar-benar jatuh kedalam perangkapnya. Aku sudah benar-benar menaruh lelaki playboy itu dihatiku. Aku harus bagaimana sekarang?”.
Sierra menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya Ia menyadarkan dirinya kembali dan bergegas untuk membersihkan diri dan bersiap-siap agar Revan tidak lama menunggunnya.
Setelah merasa puas dengan penampilannya yang menggunakan kemeja pendek berwarna biru muda dengan motif bunga-bunga dan celana panjang bahan berwarna hitam Sierra pun mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar hotel itu untuk mengampiri Revan yang sudah sedari tadi menunggunya.
Tapi seperti biasanya, sebelum benar-benar pergi Sierra tidak lupa menambahkan riasan natural diwajahnya dan mengikat rambutnya keatas yang sudah menjadi kebiasannya.
Setelah itu dengan langkah penuh percaya diri Sierra pun segera menghampiri Revan yang saat ini sudah duduk manis didalam restorandengan segelas kopi didepannya. Sierra pun langsung menyapa Revan dengan ramah dan sopan seperti biasanya.
“Selamat pagi direktur Revan. Maaf membuat anda menunggu lama”. Sierra memberikan senyumannya.
Revan menatap Seirra sekilas sebelum akhirnya Revan mengalihkan tatapannya kearah tabnya kembali.
“Tidak perlu menggunakan bahasa yang formal. Disini hanya kita berdua saja”.
Sierra pun melihat kesekelilingnya. Dan benar saja apa yang Revan katakan. Didalam restoran ini hanya ada Sierra dan Revan. Entah karena Revan sudah menyewa seluruh restoran ini atau memang pengunjung direstoran ini sedikit?. Sierra tidak mau ambil pusing dan langsung duduk didepan Revan.
“Makanlah. Saya sudah memesankan sarapan untukmu”.
“Apa kamu sudah makan?”. Tanya Sierra khawatir.
Revan pun menatap Sierra kembali. Lalu sebuah senyum terukir diwajah Revan. Senyum yang terlihat begitu indah bagi Sierra.
“ Apa kamu mengkhawatirkan saya?”.
Sierra mengangukan kepalanya. “Tentu saja. Bagaimana pun juga saat ini kamu adalah kekasihku dan juga direktur ditempatku bekerja. Jadi sudah sewajarnya jika aku menjagamu dengan baik”.
Revan semakin melebarkan senyumnya. Senyum yang memperlihatkan kebahagiannya. Bukan senyum mengejek ataupun mempermainkan Sierra seperti ssebelumnya.
"Saya sudah sarapan Sierra. Jadi cepatlah habiskan sarapanmu. Karena banyak yang harus kita lakukan hari ini”.
Sierra mengangukan kepalanya kembali. “Baiklah”.
__ADS_1
Sierra menurut dan mulai memakan sarapannya itu dalam diam. Sedangkan Revan kembali menyibukan dirinya dengan tab yang ada didepannya.
Setelah selasai dengan sarapan itu, Revan langsung mengandeng tangan Sierra untuk berjalan keluar dari hotel dan menuju tempat parkir.
Revan pun membukakan pintu penumpang depan untuk Sierra yang membuat Sierra menyipitkan matanya.
“Kenapa aku duduk didepan? Bukankah biasanya aku duduk dibelakang bersamamu?”. Tanya Sierra bingung.
“Karena hari ini saya yang akan mengemudikan mobilnya. Ayo cepatlah masuk”. Ucap Revan yang sudah masuk kedalam mobil dan duduk di bangku kemudi.
Sierra pun hanya menuruti perkataan Revan walaupun diotaknya menyimpan begitu banyak pertanyaan.
“Revan mengapa kamu mengemudikan mobil sendiri? Dimana asisten Vino?”. Tanya Sierra yang sudah tidak bisa menahan keingintahuannya.
“Vino ada dikamarnya. Mengurus berbagai dokumen”.
Sierra membulatkan matanya. Jika saat ini Vino berada di hotel dan disibukan dengan berbagai pekerjaan lalu mengapa Revan dan Sierra malah pergi dan meninggalkan Vino seorang diri tanpa membantunya?.
“Apa? Jadi asisten Vino mengerjakan semua dokumen seorang diri? Lalu mengapa kita pergi dan tidak membantunya Revan? Apa kita akan menenui direktur Leon kembali untuk membahas pekerjaan?”.
Mendengar nama Leon disebut membuat Revan langsung memberikan tatapan tajam kepada Sierra. Bahkan Revan sampai memberhentikan mobilnya dan memberikan aura dingin seperti sebelumnya. Sierra pun langsung merinding melihatnya.
“Apakah kamu ingin sekali menemui Leon lagi? Kamu sudah rindu dengannya? Kamu sudah ingin berada disisinya?”. Ucap Revan dengan penuh amarah.
“Tidak Revan. Bukan itu maksudku. Aku tidak pernah ingin bertemu dengan Leon. Bahkan aku tidak pernah sedikitpun merindukannya”.
“Lalu mengapa kamu mengatakan hal itu!”.
“Aku hanya bertanya saja Revan. Karena aku tidak tahu kemana tujuan kita saat ini. Karena kamu juga tidak memberitahukanku”.
Revan menghembuskan nafas panjang. Lalu Revan mengambil tangan Sierra dan menggenggamnya. “Saat ini kita akan pergi kencan”.
Mata Sierra semakin melebar. Apa kencan? Sierra tidak salah dengarkan? Sierra tidak sedang bermimpi kan? Bagaimana mungkin seorang Revan yang dikenal gila kerja bisa meninggalkannya pekerjaannya begitu saja demi sebuah kencan? Apalagi pekerjaan ini menyangkut proyek yang besar dan bernilai miliyaran?.
Revan mengangukan kepalanya. “Iya benar kencan. Aku sudah memesan tiket film untuk kita berdua. Setelah itu kita akan berkeliling mencari tempat yang indah dikota ini”.
Sierra langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sungguh ini bukanlah sebuah mimpi. Bukanlah sebuah khayalan Sierra. Ini benar-benar nyata. Ini benar-benar terjadi.
Seorang Revan yang sering berganti-ganti pasangan mengajaknya kencan. Menganggap Sierra seperti pasangan yang sesungguhnya. Mengetahui hal itu hati Sierra pun kembali berbunga-bunga.
“Kenapa? Kamu tidak mau kencan dengan saya? Mau bertemu dengan Leon saja?’. Ucap Revan kesal.
Sierra mengelengkan kepalanya. “Tidak. Aku mau berkencan denganmu. Aku sangat senang bisa melakukan itu”.
Revan tersenyum. Lalu Revan mulai mengemudikan mobilnya kembali dengan tangan yang masih menggegam erat tangan Sierra.
Setelah itu Revan berbelok kesebuah mall besar dan memarkirkan mobilnya. Lalu Revan segera turun dari mobil itu yang diikuti dengan Sierra dibelakangnya. Revan pun langsung menaruh tangannya dipingang Sierra dan berjalan memasuki mall tersebut.
“Revan kenapa kamu tidak bilang padaku bahwa kita akan berkencan. Jika aku tahu, aku tidak akan memakai pakaian formal seperti ini”. Sierra mulai protes melihat perbedaan penampilan dirinya dengan Revan.
Revan yang sengaja menggunakan kaos pendek berwarna putih dan juga celana levis sedangkan Sierra malah menggunakan kemeja formal dan juga celana panjang bahan.
“Saya ingin memberikan kejutan”. Ucap Revan dengan tersenyum.
Sierra hanya memanyunkan bibirnya dan mengikut langkah Revan yang sudah masuk kedalam ruang biskop lalu duduk disalah satu kursi yang berada ditengah.
Sierra pun tepat duduk disamping Revan dengan membawa sekotak popcorn dan minuman soda yang sudah dibeli sebelumnya. Setelah itu sebuah film pun secara otomatis langsung terputar dilayar besar itu.
Sierra yang menyadari bahwa tempat bioskop ini terlihat begitu sepi dan berbeda dari biasanya langsung mendekat kearah Revan dan membisikan sesuatu.
“Revan mengapa bioskop ini sepi sekali? Hanya ada kita berdua saja?”.
Revan pun ikut berbisik ditelinga Sierra. “Menurutmu kenapa?”.
__ADS_1
Sierra diam sejenak. Lalu Sierra pun ingat dengan kejadian direstoran pagi tadi. Pasti Revan sudah menyewa restoran itu dan bioskop ini untuk mereka berdua. Sierra pun mengelengkan kepalanya.
“Benar-benar boros. Orang kaya sepertimu sangat mudah membuang uang begitu saja”.
Revan pun tersenyum. Lalu Revan mengambil soda yang berada ditangan Sierra dan meminumnya. “Tapi saya bisa dengan mudah mendapatkan uang kembali dengan berkali-kali lipat”.
Sierra hanya memanyunkan bibirnya dan mulai melihat kearah film yang sedang diputar sambil memakan popcornnya. Sebelum akhirnya Revan membisikan sesuatu kembali ditelinganya.
“Sebaiknya kamu menjaga bibirmu itu Sierra sebelum saya memakannya habis-habis seperti popcorn ini”.
Sierra menatap Revan sebal sebelum akhirnya Ia fokus kembali dengan film yang diputar dan menikmatinya dalam diam.
Setelah hampir dua jam akhirnya film itupun selesai. Revan mengajak Sierra memasuki mobil kembali dan mencari-cari tempat sepi dengan pemandangan yang indah dikota ini.
Hingga akhirnya pilihan mereka pun tertuju pada sebuah taman besar dengan pemadangan danau disekelilingnya. Sierra dan Revan segera turun dari mobil sedan itu berjalan kearah taman sambil menghirup udara segar dari pepohonan.
“Apa kamu menyukainya?”. Tanya Revan yang memperhatikan Sierra.
“Iya aku sangat menyukainya. Sudah lama sekali aku tidak menghirup udara segar seperti ini”.
Revan tersenyum. Lalu Revan menggengam tangan Sierra. Menggengamnya dengan erat.
“Sebenarnya saya tidak terlalu suka tempat yang ramai dengan orang-orang. Saya lebih suka tempat yang sepi seperti ini karena bisa menenangkan pikiran saya. Karena itulah saya selalu menyewa tempat-tempat yang ramai pengujung untuk saya sendiri agar saya bisa menikmatinya tanpa terganggu. Bukan berarti saya senang menghamburkan uang begitu saja”. Revan menjelaskan.
Sierra pun menatap Revan yang berada disampingnya. Revan yang terlihat begitu tampan dengan rambut yang acak-acakan karena hembusan angin.
Sierra pun merasa jantungnya berdegup kencang kembali. Merasa hatinya larut dalam perasaannya lagi. Wajah Sierra pun kembali merona merah.
“Kenapa wajahmu memerah Sierra? Apa kamu kedinginan?”. Tanya Revan yang terlihat khawatir.
Sierra mengelengkan kepalanya. Lalu Sierra menundukan wajahnya dengan malu. “Tidak Revan. Aku hanya merasa sangat senang”.
Revan tersenyum. Lalu Revan memeluk Sierra dengan erat. Sierra pun membalas pelukan hangat itu. Ini adalah pertama kalinya Sierra membalas pelukan Revan setelah sebelumnya Ia hanya menerima pelukan itu begitu saja tanpa adanya niat untuk membalasnya.
“Jika kamu senang maka saya juga sangat senang Sierra”. Ucap Revan dengan lembut yang membuat hati Sierra menjadi luluh kembali. Lalu Revan pun melepaskan pelukannya dan menatap Sierra begitu dalam.
“Sierra. Bolehkan saya menciummu?”.
Sierra terdiam. Ini adalah pertama kalinya Revan meminta izin padanya untuk menciumnya. Ini adalah pertama kalinya Revan meminta persetujuan Sierra setelah sebelumnya Dia selalu melakukan sesuatu sesuka hatinya.
Menyadari Revan sikap Revan yang mulai berubah menghormatinya. Mulai menghargainya, sebuah senyuman pun terukir diwajah Sierra. Dan tanpa menjawab pertanyataan Revan, Sierra langsung mencium bibir Revan dengan lembut.
Awalnya Revan terkejut dengan ciuman Sierra itu. Sebelum akhirnya Revan mulai membalas ciumannya, mulai melumati bibirnya dan membiarkan lidah mereka saling bertemu untuk menjelajah lebih mendalam.
Hingga akhirnya suara dering ponsel Revan pun terdengar. Revan yang memang tidak ada niat untuk menjawab panggilan itu hanya mengabaikannya sebelum akhirnya Sierra melepaskan ciumannya dan menatap Revan malu.
“Jawablah panggilanmu itu Revan. Pasti panggilan yang penting”.
Revan menghembuskan nafas kesal. Lalu Revan mengambil ponsel yang berada disaku celananya itu dan menjawabnya dengan ketus.
“Ya ada apa!”. Jawab Revan tanpa menyapa.
Sierra pun bisa mendengar bahwa yang menghubungi Revan saat ini adalah asisten Vino. Bahkan Sierra juga bisa mendengar bahwa Vino meminta Revan untuk segera kembali karena ada sesuatu penting yang harus dibicarakan dengan Revan.
Revan terlihat agak kesal dengan permintaan Vino itu sebelum akhirnya dengan berat hati Dia meng iyakannya lalu menutup panggilannya. Revan pun langsung menatap Sierra.
“Sierra maaf. Tapi sepertinya kecan kita harus terganggu karena Vino meminta kita untuk segera pulang”.
Sierra pun tersenyum. “Iya tidak apa-apa Revan. Aku mengerti. Ayo kita pulang”. Sierra mengengam tangan Revan dan mengajaknya melangkah pergi.
Setidaknya Sierra sudah merasa sangat bahagia dengan kencan singkat ini. Kencan yang pasti sangat membekas dihatinya dan tidak akan pernah bisa dilupakannya.
Karena Sierra bisa berkencan dengan lelaki yang dicintainya. Bisa merasakan ketulusan dari lelaki yang disayanginya. Setidaknya itu sudahlah cukup bagi Sierra.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*