Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Say "I Love You"


__ADS_3

Sierra baru saja melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumahnya. Namun pada saat itu suara dering ponsel Sierra pun terdengar. Sierra segera menghentikan langkahnya itu dan mengambil ponsel yang berada disaku celananya.


Saat itu nama “Direktur Revan” pun muncul dalam panggilannya yang membuat Sierra langsung menyipitkan matanya.


“Ada apalagi Revan menghubungiku? Bukankan tadi pagi mereka baru saja bertemu? Tapi kenapa baru beberapa jam saja sudah menelfon lagi?”. Keluh Sierra sambil menjawab panggilan itu dengan ragu.


“Selamat siang direktur Revan. Apakah ada sesuatu yang penting sehingga anda menghubungi saya?”. Sapa Sierra dengan seramah mungkin.


“Apakah saya harus menghubungi kekasih saya jika terjadi hal yang penting saja? Lalu jika tidak terjadi apapun saya tidak boleh mengubungimu? Begitu?”. Tanya Revan sinis yang membuat Sierra langsung terdiam. Membuat Sierra tidak tahu harus mengatakan apa lagi karena yang Revan katakan memanglah benar.


“Sierra bukankah tadi pagi saya sudah memberitahukanmu untuk menghubungi saya setiap satu jam sekali? Apakah kamu mengabaikan kata-kata saya?”. Ucap Revan kembali yang membuat Sierra langsung tersadarkan.


Membuat Sierra langsung teringat dengan janjinya yang akan mengikuti perintah Revan dengan menghubunginya setiap satu jam sekali. Sierra pun hanya bisa merutuki diri sendiri yang bisa dengan mudahnya melupakan perkataan Revan begitu saja.


“Kamu benar-benar bodoh Sierra. Bagaimana mungkin kamu bisa melupakan hal yang penting seperti itu. Habislah kamu sekarang”. Ucap Sierra didalam hati sambil memikirkan alasan yang tepat untuk Ia berikan kepada Revan agar Revan tidak marah dengannya.


“Kenapa kamu diam saja Sierra. Saya sedang bertanya padamu. Apa kamu benar-benar mengabaikan saya! Kamu berani melawan saya! Kamu ingin saya keluarkan dari perusahaan dan memiliki banyak hutang!”.


Kali ini suara Revan mulai meninggi. Dan Sierra yang tahu bahwa saat ini Revan sudah marah dengannya langsung mengeluarkan suaranya. Ia tidak ingin membuat masalah semakin berkepanjangan yang akhirnya hanya akan membuat dirinya menjadi susah karena melawan sosok Revan yang sangat berkuasa itu.


“Maafkan saya direktur. Anda tahu kan pagi tadi ponsel saya kehabisan baterai? Jadi tadi saya biarkan ponsel saya dicash dulu dan sekarang saya baru saya sampai dirumah. Bahkan saya belum sempat masuk kedalam rumah saya ini”.


Sierra beralasan karena Ia tidak ingin mengatakan yang sejujurnya bahwa Ia lupa dengan janjinya itu. Karena jika Revan tahu bahwa Sierra melupakannya maka masalah akan semakin rumit dan Revan semakin marah dengannya. Sierra tidak mau hal buruk itu terjadi.


“Kamu tidak membohongi saya kan Sierra? Kamu tidak melupakan perkataan saya?”.


Kini suara Revan sudah kembali seperti biasanya. Tidak meninggi seperti tadi. Sierra pun bisa bernafas lega karena ternyata alsasannya itu bisa berguna dan membuat Revan percaya sehingga tidak menambah masalah.


“Sungguh direktur. Saya tidak mungkin berani membohongi anda. Saya mengatakan yang sebenarnya. Jika anda tidak percaya, anda bisa bertanya kepada asisten Vino yang mengatar saya pulang kerumah”. Sierra berusaha menyakinkan.


“Kamu pulang diantar Vino? Dia tidak menyentuhmu sedikitpun kan? Dia tidak melakukan hal apapun padamu?”.


Sierra menghembuskan nafas panjang. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran direkturnya ini. Seharusnya Revan bisa tahu dong kalo Vino tidak mungkin berani melakukan hal yang tidak-tidak kepada Sierra. Vino tidak mungkin seenaknya saja menyentuh Sierra sesuka hatinya.


Vino adalah sosok lelaki yang sangat patuh dengan atasannya. Sangat setia dengan atasannya. Dia tidak mungkin berani melanggar aturan dari atasannya. Tidak mungkin berani mengkhianati atasanya dan membatahnya.


Seharusnya Revan bisa mengetahui semua itu setelah melihat perubahan sifat Vino pagi tadi yang langsung sangat sopan kepada Sierra bagaikan sebuah robot.


“Tidak direktur Revan. Asisten Vino tidak menyentuh saya. Tadi Dia hanya memegang tangan saya saja karena ingin membantu saya berjalan. Dan asisten Vino juga tidak melakukan apapun kepada saya”. Sierra menjelaskan.


“Bagus. Berarti Vino sudah tahu batasannya seperti apa”. Ucap Revan yang terdengar senang.


Sedangkan Sierra hanya bisa memutar bola matanya karena menahan rasa kesalnya dengan sosok Revan yang sangat menyebalkan ini.


“Baiklah kali ini saya akan memaafkanmu. Tapi ada syaratnya”. Kata Revan kembali.


Sierra pun menarik nafas yang dalam. Ia berusaha untuk bersabar dan tidak meluapkan emosinya. Bagaimana pun juga saat ini memang Sierra lah yang bersalah. Sierra yang melanggar peraturan.


Jadi sudah sepantasnya Sierra mendapatkan hukuman dari Revan untuk kesekian kalinya. Namun kali ini hukuman konyol apa lagi yang akan diberikan Revan kepada Sierra? Sierra benar-benar tidak berani untuk memikirkan hal itu.

__ADS_1


“Terima kasih direktur Revan karena sudah mau memaafkan saya. Tetapi syarat apa yang direktur Revan inginkan dari saya”. Ucap Sierra dengan tetap seramah mungkin.


“Syaratnya sangat mudah. Saya ingin dengar kamu mengatakan I Love You kepada saya”. Jawab Revan dengan tenang.


Sierra membulatkan matanya. Apakah Ia tidak salah dengar? Apakah Revan tidak salah ngomong?. Revan ingin Sierra mengatakan bahwa Ia mencintai Revan? Sungguh sangat menggelikan.


Membayangkannya saja membuat Sierra langsung merinding apalagi jika Ia benar-benar mengatakannya. Mungkin Sierra akan langsung mencuci mulutnya itu berkali-kali.


“Hhhmm direktur Revan sebelumnya maaf bukannya saya berani membantah. Namun apakah tidak ada syarat lain yang lebih mudah dari ini? Karena untuk mengatakan cintai kepada seseorang itu harus benar-benar tulus dari dalam hati. Kita tidak boleh mengatakannya dengan seenaknya saja kepada sembarang orang”.


“Tidak ada. Itu satu-satunya syarat dariku Sierra. Dan seperti yang kamu bilang tadi kamu harus mengatakannya tulus dari dalam hatimu tidak boleh ada kebohongan. Karena jika kamu berbohong saya akan langsung mengetahuinya. Dan saya juga bukanlah sembarang orang. Tetapi saya adalah kekasihmu saat ini. Jadi sudah sewajarnya kamu mengatakan cinta kepada kekasihmu sendiri”.


Sierra terdiam. Apa yang Revan katakan memanglah benar. Saat ini Revan memang kekasih Sierra. Tapi nyatanya bukanlah kekasih sungguhan karena hubungan mereka itu hanyalah sebuah permainan yang tidak didasari dengan kata cinta.


Jadi sangatlah berlebihan jika Revan meminta Sierra untuk mengatakan cinta jika Revan sendiri yang merupakan seorang lelaki tidak pernah mengatakan itu kepada Sierra.


“Maafkan saya direktur Revan sepertinya sulit bagi saya untuk mengatakan hal itu. Apakah direktur Revan benar-benar tidak memiliki syarat lain yang bisa diberikan kepada saya?”. Sierra bersikeras.


“Kenapa kamu selalu saja membantah perkataan saya Sierra. Apa susahnya untuk mengatakan i love you?. Wanita lain saja bisa mengatakan hal seperti itu dengan mudah tapi kenapa kamu harus menyulitkannya!”.


“Karena saya berbeda dengan wanita –wanita lainnya direktur. Tidak mudah bagi saya untuk mengatakan cinta kepada seseorang. Apalagi jika hati saya bukanlah untuk orang tersebut”.


Kali ini Revan yang langsung terdiam. Sierra yang seakan sadar dengan perkataannya sendiri pun langsung memukul kepalanya itu. Sungguh Sierra memang benar-benar bodoh.


Apakah Ia tidak berfikir dahulu jika mengatakan hal seperti itu sama saja memberitahukan Revan bahwa Ia tidak mencintainya?. Bahwa Sierra hanya membutuhkan uangnya saja?. Sierra hanya membutuhkan pertolongannya saja?.


“Maafkan saya direktur. Saya sudah salah berbicara. Tidak seharusnya saya mengatakan hal yang tidak sopan seperti itu”.


Sierra memecahkan keheningan. Sedangkan Revan masih saja dalam diamnya. Dia tidak mengatakan sepatah katapun. Sierra pun menghembuskan nafas panjang.


Jika situasinya sudah seperti ini maka mau tidak mau Sierra harus melakukan apa yang Revan inginkan. Sierra harus mengatakan hal itu mengingat dirinya yang sudah melakukan banyak kesalahan dan tanpa sadar melukai hati Revan. Sierra harus menebus kesalahannya.


“Baiklah direktur Revan saya akan melakukannya. Saya akan mengatakannya”. Ucap Sierra kembali.


Sierra pun menarik nafas yang dalam. Lalu Ia memejamkan matanya sejenak. Berusaha menjernihkan pikirannya. Berusaha menghilangkan egonya.


“Ayolah Sierra buanglah keras kepalamu itu. Hanya mengatakan cinta sekali saja apa susahnya. Beraktinglah Sierra dan jangan mempersulit keadaan”. Ucap Sierra dalam hati.


Setelah merasa sudah sedikit tenang Sierra pun membuka kedua matanya kembali. Ia berusaha mempersiapkan diri dengan apa yang akan dikatakannya.


Namun baru saja Sierra ingin membuka suara, suara Revan kembali terdengar yang membuat Sierra langsung menghentikan niatnya itu.


“Kenapa lama sekali? Bukankah tadi kamu sudah bilang akan mengatakannya”. Revan mengeluh.


“Iya direktur bersabarlah. Saya harus mempersiapkan diri saya dahulu”. Ucap Sierra dengan malas. Revan benar-benar pintar untuk merubah suasana hati seseorang menjadi buruk.


“Hahaha mempersiapkan diri? Memangnya kamu mau melakukan apa sampai harus mempersiapkan diri?”.


Terdengar tawa dari perkataan Revan dan untuk kesekian kalinya Sierra hanya memutar bola matanya. Sungguh ini benar-benar tidak lucu. Tidak ada yang harus ditertawakan.

__ADS_1


Ini adalah masalah perasaan jadi bagaimana mungkin hal seperti ini bisa dijadikan bahan bercandaan. Sierra pun merasa benar-benar kesal.


“Anda sudah selesai dengan kegiatan tertawa anda direktur? Jika sudah selesai saya akan mengatakannya sekarang”. Sindir Sierra.


“Baiklah-baiklah maaf. Saya tertawa karena kamu lucu sekali Sierra sungguh”.


“Iya terima kasih direktur atas pujian anda. Baiklah saya akan mengatakannya sekarang jadi anda harus menghentikan tawa anda itu”. Sierra semakin geram.


“Iya-iya Sierra saya sudah serius sekarang. Kamu bisa mengatakannya”.


Sierra menghembuskan nafas panjang. Ia pun memejamkan matanya kembali. “Direktur Revan i love you”. Sierra mengatakannya dengan cepat.


“Apa? Kamu bilang apa tadi? Saya tidak dengar? Tolong ulangi lagi Sierra. Katakan dengan pelan dan jelas sehingga saya bisa mendengarnya”.


“Direktur Revan apakah anda sedang mempermainkan saya?”. Kali ini Sierra sudah tidak bisa menahan kekesalannya lagi. Revan benar-benar sudah mempermainkannya. Dan itu tidaklah lucu.


Apakah Revan tidak tahu betapa sulitnya Sierra untuk mengatakan hal itu? Sebarapa susahnya Sierra mengkhianati perasaannya sendiri?. Seharusnya Revan mempunyai batasan jika ingin bermain-main dengan Sierra sehingga tidak melakukan hal yang keterlaluan seperti ini.


“Saya tidak mempermainkan kamu Sierra. Sungguh saya benar-benar tidak mendengarnya karena kamu mengatakannya dengan sangat cepat. Tolong ulangi kembali Sierra”.


Suara Revan terdengar putus asa. Dan Sierra yang menyadarinya pun tahu bahwa Revan tidak membohonginya. Revan mengatakannya dengan jujur.


Apalagi Revan sampai mengucapkan kata “tolong” yang tidak pernah Dia katakan kepada siapapun. Dengan berat hati Sierra pun harus mengulang perkatannya itu.


“Baiklah saya akan mengulanginya. Tolong anda dengarkan baik-baik direktur Revan”.


Sierra menghembuskan nafasnya kembali dan memejamkan matanya untuk kesekian kalinya. “I love you direktur Revan”. Ucap Sierra dengan suara yang lembut juga pelan. Bahkan perkataannya kali ini terdengar tulus tidak seperti sebelumnya.


“Terima kasih Sierra. Sekarang saya sudah memaafkanmu. Dan saya harap kamu tidak melakukan kesalahan lagi dan patuh dengan perkataan saya. Apakah kamu mengerti?”.


“Saya mengerti direktur. Mulai saat ini saya akan menghubungi anda setiap satu jam sekali”.


“Bagus. Yasudah kamu istirahatlah. Saya juga harus menghadiri rapat”.


“Baik direktur Revan sampai jumpa”.


“Sampai jumpa Sierra”.


Panggilan itupun terputus. Dan Sierra melanjutkan langkahnya kembali dengan perasaan kesal. Sungguh Revan sangatlah kekanak-kanakan.


Bagaimana mungkin Dia bisa menggunakan kata cinta sebagai bahan permainannya?. Mungkin Dia bisa melakukan hal itu kepada kekasih-kekasihnya yang dulu karena mereka sama-sama tidak memiliki perasaan. Tapi hal itu sangatlah berbeda dengan Sierra yang masih mempunyai perasaan.


Sierra yang masih menganggap bahwa kata cinta itu adalah sesuatu yang berharga. Sesuatu yang tidak bisa dengan mudah diucapkan dan dipermainkan. Kini Sierra pun sadar bahwa Revan memanglah seorang playboy yang luar biasa. Sierra mengakui akan hal itu.


\*\*\*\*\*\*


 


Jangan lupa juga untuk like, komen dan votenya ya untuk dukung author biar author selalu semangattt. Terima kasih semuanyaa

__ADS_1


__ADS_2