
"Kemana perginya wanita itu? Dari tadi panggilan saya tidak di angkat. Lancang sekali dia. Lihat saja. Akan ku beri hukuman yang setimpal padanya." Ucap Leo dengan mencengkeraam ponsel dalam genggamannya.
Leo merasa marah dan kecewa kepada Lia karena, sang istri tak kunjung mengangkat panggilannya. Hingga ia merasa jengah dan tak dapat menahan amarahnya, ia pun beranjak dari kursi kekuasaannya.
Meninggalkan ruangannya dan melesat melajukan mobilnya, meninggalkan gedung yang menjadi impian setiap orang bila dapat bekerja di sana.
***
"Aahh.. Segarnya habis mandi. Eh, 15 panggilan?" Ucap Lia yang baru saja menyadari jika ada panggilan sebanyak itu dalam ponselnya.
"Bisa gawat ini. Jangan-jangan dia marah besar karena aku nggak mengangkat telponnya dari tadi. Duuhh.. Gimana ini? Coba ku hubungi lagi, deh." Gumam Lia yang mulai kalang kabut, karena merasa takut jika tuan muda yang temperamen itu akan memarahinya.
Hingga beberapa kali Lia mencoba menghubunginya, tapi sepertinya mas Leonya enggan untuk mengangkat telfonnya.
"Beneran marah? Ya sudahlah, terserah dia." Ucap Lia, ia pun hendak mengenakan pakaiannya ketika suara ketukan pintu membuatnya berhenti dan segera membukakan pintu tersebut.
Betapa terkejutnya Lia, saat mengetahui ternyata sosok di balik pintu itu adalah Leonardo NusaJaya, suaminya sendiri.
"Eh. A-ada apa kemari?" Kata Lia, dengan enggan menatap pria dihadapannya.
"Pertanyaanmu itu, apakah menandakan jika saya tidak boleh kesini?" Ungkap Leo dengan menatap tajam sang istri.
"Bukan. Bukan begitu. Tapi, saya terkejut saja anda kesini tanpa mengabari saya terlebih dahulu." Ucap Lia yang masih berdiri di ambang pintu.
Menyadari dirinya di ambang pintu, ia pun menyarankan kepada Leo untuk masuk ke dalam rumah.
"Silahkan masuk dulu." Ucapnya.
"Tidak. Saya langsung pergi saja. Ini untukmu." Ujar Leo dengan menyerahkan bungkusan berbentuk kotak yang sepertinya sebuah makanan.
"Ah. Baiklah kalau begitu. Terimakasih." Imbuh Lia seraya mengambil bungkusan tersebut.
Merasa canggung, Lia pun berfikir untuk masuk kedalam rumah terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, saya masuk dulu." Kata Lia kemudian menutup pintunya perlahan.
Namun keinginannya untuk menutup pintu pun sirna, saat ia menyadari ada yang mengganjal pada pintu tersebut.
"Loh, kok nggak bisa di tutup?" Ujar Lia seraya ia menatap bagian bawah pintu itu.
Dan tepat sekali, saat ini pintu itu tengah di hadang oleh ujung kaki Leo yang masih mengenakan sepatu kantornya.
"Eh. A-ada apa? Katanya ada langsung pergi." Ujar Lia seraya menatap heran sang tuan muda.
"Saya merasa aneh." Ujar Leo merasa curiga.
"A-aneh bagaimana?" Ucap Lia polos. Ia tak merasa melakukan sebuah kesalahan. Tapi kenapa dia merasa di curigai oleh pria di hadapannya ini.
"Apa kamu.. menyembunyikan pria lain di rumah ini?" Kata Leo dengan entengnya.
Tidak memikirkan perasaan Lia, Leo pun dengan santainya berkata seperti itu. Seolah-olah Lia tengah berselingkuh dengan pria lain.
"ASTAGA!!" Seru Lia dengan menutup mulutnya, menggunakan kedua telapak tangannya.
"Hm. Sudahlah. Kamu lanjutkan saja. Saya tidak akan mengganggu." Ucap Leo dingin dan membalikkan tubuhnya. Hendak meninggalkan Lia yang menatapnya tak percaya dengan apa yang baru saja pria itu ucapkan.
Mendengar perkataan yang baru saja terlontar dari mulut Leo, sungguh membuat Lia teluka pada hatinya.
Ia sungguh tulus dengan pernikahan ini. Ketika ia merasakan cinta pada pria di hadapannya ini, kenapa ia harus di tuduh yang bukan-bukan. Padahal ia tak melakukannya, bahkan ia sama sekali tidak ada fikiran seperti itu.
"Kenapa? Kenapa anda tidak percaya pada saya? KENAPA?!!" Seru Lia dengan mengepalkan tangannya erat-erat.
"Padahal.. padahal.. padahal saya sudah jatuh cinta pada anda. Dan sekarang anda menuduh saya yang tidak-tidak, dan meninggalkan saya dengan perasaan yang seperti ini?" Ucap Lia seraya menundukkan kepalany, dengan air mata yang menetes membasahi kemarik pada lantai rumahnya.
"Anda benar-benar kejam. Saya menyukai anda dan anda harus bertanggung jawab atas perasaan saya kepada anda. Saya juga ingin merasakan cinta anda. Saya tahu jika anda tidak mencintai saya. Tapi anda tidak seharusnya menuduh, yang bahkan saya sendiri tidak terfikirkan hal seperti itu. Anda-" Seluruh isi dalam kepala Lia ia ungkapan secara langsung pada suaminya.
Namun perkataanya yang belum usai tak dapat ia lanjutkan, dikarenakan tubuhnya yang terlihat semakin kurus itu di peluk erat oleh pria yang telah menggaet hatinya secara perlahan-lahan.
__ADS_1
"Ucapkan sekali lagi." Gumam Leo yang masih memeluk erat sang istri.
"Saya.. saya jatuh cinta.. kepada anda. Tolong jangan membuat saya seperti orang bodoh. Tolong katakan jika anda juga mencintai saya. Hiks.. Hiks.. Hiks.." Ungkap Lia seraya memeluk balik tubuh sang suami.
Tak membalas perkataan Lia, Leo hanya membenamkan kepalanya di antara tengkuk Lia. Menghirup aroma yang selalu ia rindukan.
Entah berapa lama, ia selalu bermimpi memandangi wanita yang kini menyatakan cinta dengan sendirinya.
"Mas? Kenapa diam saja? Apa anda sakit?" Tanya Lia seraya mencoba melepaskan pelukannya.
Namun nihil, ia tak berhasil melepaskannya. Yang ada pelukan itu semakin erat.
"Masuk dulu yuk, mas. Nggak enak di liatin tetangga." Ucap Lia yang merasa canggung, karena sebenarnya mereka tengah di perhatikan oleh para tetangga sekitar.
Sedangkan para tetangga yang mmemang sudah tahu status pernikahan Lia, hanya senyum-senyum seraya terus mengamati sepasang suami istri itu.
"Ayo." Kata Leo dengan segera ia melepaskan pelukannya, dan menggendong Lia dalam pelukannya.
Membuat Lia memekik pelan dan mengalungkan tangannya tepat di tengkuk sang suami.
"Kyaa!! Kaget, mas. Bilang dulu dong kalau mau gendong saya." Ucap Lia manja.
Sebenarnya Lia malu bukan main, karena ia seperti baru saja menyatakan cinta pada seorang pria.
Padahal dia seumur-umur belum pernah melakukan hal bodoh seperti itu sebelumnya.
Tapi apa daya, semua sudah terlanjur dan mereka hanaya dapat saling tersipu malu, saat rasa rindu mereka terobati.
Merebahkan tubuh Lia di atas ranjang dan menindihnya, Leo melayangkan kecupan lembutnya di dahi Lia, beralih di ujung hidung mancung Lia, kemudian ia bergeser sedikit di kedua pipi istrinya.
Karena semua hal itu, Lia pun blushing parah dengan detak jantung yang berdegup tak karuan. Kini kecupan itu semakin berani, melayang tepat berada di tengkuk sang istri. Memberi tanda di sana, dan berakhir tepat di bibir ranum Lia.
Bersambung..
__ADS_1
Untuk teman-teman readers semua. Jaga kesehatan selalu, ya. 😊