
"Dan itulah yang terjadi, tuan muda." Ucap Feri mengakhiri ceritanya perihal ia memeluk Lia tadi siang. Hingga insiden itu terjadi menimpa Lia akibat kecerobohannya.
Merasa bersalah, Leo hanya menjndukkan kepalanya dengan kedua telapak tangannya menutupi wajahnya.
Kini ia tak yakin dapat menjaga wanitanya. Ingin ia merutuki dirinya sendiri, tapi ia lebih memilih untuk berdiam diri hingga hasil pemeriksaan istrinya keluar.
"Tapi ada yang ingin saya tanyakan. Apa sebenarnya status hubungan anda dengan nona Lia? Hingga anda begitu khawatir." Ucap Feri.
Sejenak Leo berdiam diri, ia ingin menjawqb pertanyaan yang di lontarkan oleh Feri padanya barusan.
Tapi hati dan fikirannya masih di penuhi oleh keadaan Lia saat ini. Hingga ia enggan untuk sekedar menjawab pertanyaan itu.
Cika yang baru saja tiba membawa sebuah air mineral kemasan dalam genggamannya.
"Wajah anda pucat sekali, tuan muda. Sebaiknya anda minum dulu agar lebih tenang." Ucap Cila dengan menyodorkan botol minuman tersebut kepada Leo.
"Tidak. Terimakasih." Balas Leo.
"Tapi, tuan muda."
"Saya bilang tidak!" Hardik Leo dengan sedikit membentak Cika.
Merasa malu, Cika hanya memilih diam dan duduk sedikit lebih jauh dari Leo. Tepatnya di sebelah Feri.
Suasana begitu canggung, hanya suara para perawat dan dokter serta beberapa pasien lainnya yang menggema di ruangan tersebut.
Semuanya nampak begitu sibuk untuk memberikan pertolongan pertama pada pasien yang di tujukan di rumah sakit ini.
Leo berinisiatif memberitahukan kepada Feri atas status hubungannya dengan Lia.
"Sebenarnya, saya dan sekretaris pribadi anda adalah-"
Namun sayangnya pernyataan yang dilontarkan Leo terhenti saat suara yang tidak ia kenal menghentikannya.
"Keluarga atas nama nona Adelia?" Sahut seorang dokter yang muncul dari balik tirai tersebut.
Dengan segera, Leo berdiri dan menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana kondisinya?" Tanya Leo.
Bukannya menjawab pertanyaan Leo, dokter tersebut malah melemparkan pertanyaan juga kepada Leo. "Maaf. Jika saya boleh tahu, anda siapanya pasien ya, tuan?" Tanyanya.
"Saya suaminya." Ucap Leo.
"Hhh.." Menghela nafas, dokter itu menunjukkan wajah yang cukup membuat Leo naik pitam dan hendak memukul dokter tersebut.
__ADS_1
"Jangan bertele-tele. Cepat katakan bagaimana kondisinya?" Seru Leo dengan sedikit memberi penekanan pada setiap kalimatnya.
"Bukannya begitu, tuan. Saya hanya merasa lega. Karena ternyata, meskipun dalam kondisi yang kurang prima serta dengan adanya stres yang di alami. Kandungan nona Adelia masih bisa bertahan. Meskipu tadi hampir saja mengalami keguguran, karena telah terjadi pembukaan. Kami telah memberi injeksi untuk mempertahankan kandungan. Ya, syukurlah tubuh nona Adelia mau menerima injeksi tersebut. Jika tadi lambat sedikit saja, mungkin janin dalam kandungan nona Adelia tidak dapat di selamatkan." Tutur sang dokter, menjelaskan dengan detail yang di alami oleh Lia.
Membuat Leo bergidik dan bola matanya bergetar, tat kala ia mendengar kata kandungan. Ia merasa seperti mendapatkan hal yang sangat luar biasa selama ini.
"Tunggu dulu! Kandungan? Apakah maksud anda, dia hamil?" Tanya Leo memastikan.
"Benar, tuan. Apakah anda tidak mengetahuinya?" Tanya dokter tersebut.
"Tidak. Saya tidak tahu." Ujar Leo yang masih mencerna perkataan dokter itu barusan.
"Kandungannya masih di usia awal." Ucap sang dokter.
"Berapa usianya dok?" Tanya Leo.
"Kemungkinan sekitar usia 2 minggu." Sahut sang dokter dengan menatap kembali catatan yang ia pegang sedari tadi.
"Mungkin karena itulah nona Adelia belum memeriksakan kandungannya saat ini. Tapi yang saya sarankan kepada anda, tuan. Sebiknya nona Adelia jangan diberi tekanan yang berlebihan hingga membuatnya stres dan berakhir seperti ini. Belum lagi dengan pekerjaan beliau. Dan yang terakhir. Saya harap, anda tidak terlalu agresif dalam berhubungan badan." Jelas dokter tersebut.
Mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan oleh sang dokter, membuat wajah Leo memerah dan teringat akan kejadian tadi malam. Dimana dirinya memang begitu agresif dan mendominasi.
"Baik." Sahut Leo berusaha tetap tenang.
"Mari silahkan, tuan. Tapi saya harap agar anda tidak terlalu berisik dan memberi pertanyaan berlebihan kepada pasien." Ujar dokter tersebut.
"Baik." Jawab Leo. Dengan keringat dingin membanjiri dahinya, ia berusaha tenang dan menghampiri Lia yang terbaring di atas ranjang rumah sakit tersebut.
"Hei." Ucap Leo lembut.
Lia yang mendengar suara berat yang ia kenal pun, segera menoleh kearah sumber suara tersebut.
Mendapati sang tuan muda yang biasanya bersikap arogan, dingin dan tak mengerti arti cinta itu membuat Lia mengangkat sebelah alisnya. Karena pria tersebut nampak menunjukkan sisi balik dari sifat yang biasa ia tujukan kepada orang lain. Wajahnya kini nampak begitu pucat dan penuh rasa khawatir di dalamnya.
"Hei." Jawab Lia.
Senyum keduanya nampak damai, terutama saat Leo menyentuh perut sang istri dan mengecupnya pelan.
"Saya hamil, mas." Ucap Lia dengan menyentuh jari Leo dan di bals oleh Leo yang menggenggam tangan Lia.
"Iya. Saya tahu." Ujar Leo.
Suasana nampak canggung di antara keduanya. Lia hanya dapat diam dengan senyum mengambang di bibirnya, merasakan elusan dari tangan Leo di atas perutnya.
Hingga suara Leo yang serak, seperti menahan tangisan memecah keheningan saat ini. "Maaf." Ucap Leo mendadak, hingga membuat Lia terkejut.
__ADS_1
Seketika Lia terperangah, ia tak pernah mengira jika seorang Leonardo NusaJaya akan meminta maaf kepada gadis biasa yang bahkan tidak memiliki kekayaan seperti pria dihadapannya saat ini.
"Kenapa meminta maaf, mas?" Tanya Lia.
"Karena saya.. karena saya yang tidak dapat memberimu apa yang kamu inginkan. Hingga membuatmu bermain dibelakang saya. Bahkan kamu rela mempermainkan perasaan saya seperti ini. Dan kamu telah menjadi bawahan oleh pria itu. Apakah kamu tahu, bagaimana perasaan saya saat ini?" Ujar Leo dengan kedua matanya yang memerah.
Seketika, Lia tersentuh oleh perkataan Leo padanya. Ia segera menyentuh rambut pria yang menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya. Sedangkan tangannya yang lainnya masih menggenggam tangan Lia.
"Jangan berkata seperti itu. Saya punya penjelasannya, mas Leo." Ucap Lia.
Leo segera menatap Lia dengan wajahnya yang memerah seperti tomat. Hingga membuat Lia tak mampu menahan tawanya.
"Hahaha. Kenapa wajah anda merah seperti itu, mas Leo?" Ucap Lia yang masih tertawa.
"Wajah saya memang seperti ini jika sedang malu." Balas Leo.
"Jadi, anda sekarang sedang malu?" Tanya Lia.
"Hm." Balas Leo dengan memalingkan wajahnya kesembarang tempat.
"Malu karena apa? Disini hanya ada kita berdua. Tapi anda merasa malu?" Kata Lia dengan senyuman yang mengambang di wajahnya.
"Karena kamu yang bersinar seperti ini. Saya jadi malu." Ucap Leo dengan menarik tangan Lia yang sedsri tadi menyentuh rambutnya.
Membuat Lia ikut malu dan menundukkan kepalanya karena merasa di goda oleh suaminya sendiri.
"Adelia." Kata Leo dengan suara paraunya yang seksi.
"Ya. Mas Leo. Ada apa?" Tanya Lia dengan mengangkat wajahnya.
"Apakah, kamu mau menikah dengan saya sekali lagi?" Tanya Leo hingga membuat Lia benar-benar tak dapat berbicara apa-apa lagi.
Bersambung...
Halo teman-teman readers semuanya~~😄
Kesehatan adalah hal yang paling utama. Chapter ini aku buat berdasarkan pengalamanku sendiri.😩 Saat aku hamil anak keduaku. Jadi aku nggak bisa capek dan nggak bisa terbebani pikiran yang bukan-bukan.
Tapi syukurnya aku bisa melewati masa itu dengan baik-baik saja dan dapat melahirkan dengan lancar. 😃😃
Buat kalian yang sedang hamil, jaga kondisi kalian ya. Dan peran keluarga sangat di perlukan sekali ketika hamil. 🤗🤗
Pokoknya jangan capek-capek dan jangan banyak fikiran. Minum vitamin dan asam folat dengan rutin sangat membantu perkembangan janin dalam kandungan.😊
Dan jangan lupa, Mohon dukung aku untuk meneruskan karyaku ini, yaa~~ Hehehe. Terimakasih.. 😁😁🙏🙏
__ADS_1