
Kini Revan sudah berada didalam mobil sedannya. Revan pun mengalihkan pandangannya kearah luar jendela. Pikirannya benar-benar kacau. Hatinya benar-benar ragu. Perasaan khawatir terus menyelimutinya.
Sejujurnya Revan tidak ingin meninggalkan Sierra seorang diri. Revan tidak ingin Sierra bersama dengan lelaki yang bernama Leon itu.
Tapi apa yang bisa Revan lakukan? Ia tidak mempunyai pilihan lain selain merelakan Sierra tidak bersama dengannya untuk beberapa waktu sampai masalah ini terselesaikan.
Revan pun menghembuskan nafas panjang. Padahal baru saja Revan bisa benar-benar dekat dengan Sierra. Revan bisa berhubungan baik dengannya. Tapi mengapa masalah rumit ini malah terjadi?.
"Vino..apa kamu yakin bahwa pilihanku ini sudah tepat?". Tanya Revan tanpa menatap.
"Pilihan anda sudah tepat direktur. Karena ini semua demi kebaikan semuanya. Dan saya yakin nona Sierra pasti bisa menjaga dirinya dengan baik. Nona Sierra tidak akan mengkhianati anda direktur".
"Benarkah? Mengapa kamu bisa seyakin itu?". Kali ini tatapan Revan sudah teralihkan kearah Vino.
"Karena saya tau bagaimana sifat nona Sierra direktur. Dan saya yakin anda pasti lebih mengenalnya dari pada saya".
Revan mengangukan kepalanya. Kini hatinya terasa lebih tenang. Segala keraguannya sedikit demi sedikit sirnah.
Apa yang dikatakan Vino memanglah benar. Sierra pasti tidak akan pernah mengkhianati Revan. Sierra pasti akan menjaga jarak dari Leon. Karena Sierra adalah wanita yang baik. Sierra adalah wanita yang penurut.
Tidak lama dari itu, mobil sedan itupun mulai masuk ke sebuah gedung tinggi yang menjadi tujuan mereka. Ketika mobil itu berhenti, Revan pun segera melangkah keluar yang langsung disambut dengan para satpam dengan sopan.
"Selamat datang direktur Revan". Sapa satpam tersebut sambil membungkukan tubuhnya.
Revan hanya mengagukan kepalanya. Kebiasaan yang selalu Revan lakukan ketika para karyawannya menyambut dan menyapanya.
Lalu Revan mulai berjalan memasuki gedung tersebut dengan Vino dibelakangnya. Para karyawan yang melihat kedatangan Revan pun langsung menyapanya dengan sopan sambil membungkukan tubuh.
Dan sama seperti sebelumnya Revan hanya menganguk dengan pandangan lurus kedepan dan melanjutkan langkahnya. Tanpa menatap karyawan-karyawan itu ataupun memberikan senyumannya.
Memang beginilah sikap seorang Revan kepada para karyawannya. Selalu memperlihat sikap dingin dan angkuh agar karyawannya tidak bersikap seenaknya dan hormat padanya.
Namun sikap Revan bisa sangat berubah ketika ia bersama dengan Vino ataupun Sierra. Revan malah bersikap lebih baik dan bersahabat dengan kedua orang tersebut karena bagi Revan kedua orang itu adalah orang yang sangat berarti untuknya.
Bahkan Revan tidak pernah membiarkan Vino yang mengemudikan mobilnya untuk membukakan pintu untuk Revan seperti yang biasa dilakukan para direktur lainnya. Karena bagi Revan Vino sudah seperti keluarganya dan untuk Sierra tentu saja seperti kekasihnya yang berharga untuknya.
"Vino apakah mamah sudah tiba disini?". Tanya Revan ketika mereka sudah berada didalam lift.
"Iya direktur Revan. Nyoya Farida sudah menunggu kedatangan anda sedari tadi diruangan anda".
Revan memijat keningnya sejenak. Sepertinya ibunya memang tidak main-main kali ini. Karena ibunya yang dikenal paling tidak suka menunggu, malah rela menunggu kedatangan Revan yang memerlukan waktu sekitar 5 jam untuk tiba di perusahaannya.
Revan pun yakin jika ia tidak pulang sekarang, jika Revan membantah keinginan ibunya itu, pasti tanpa ragu ibunya akan langsung mengacak-ngacak perusahaan dan membuat keributan.
Membayangkannya saja sudah membuat kepala Revan berdenyut kencang apalagi jika itu benar-benar terjadi? Mungkin saat itu kepala Revan akan langsung pecah karena rasa pusingnya.
Kini pintu lift pun terbuka, Revan dan Vino segera keluar dari lift itu dan berjalan menuju ruangannya. Saat Revan membuka pintu ruangan terlihat sosok ibunya sudah duduk manis didalam ruangan itu bersama seorang wanita yang sangat Revan kenali. Revan pun mengerutnya keningnya.
__ADS_1
"Jeni? Apa yang kamu lakukan disini". Tanya Revan dingin.
"Anakku Revan akhirnya kamu sampai juga. Apakah kamu tau berapa lama mamah menunggumu disini? Untung saja ada Jeni yang berbaik hati mau menemani mamah sehingga mamah tidak bosan". Ucap ibunya sambil berjalan menghampiri Revan dan memeluknya.
Revan pun membalas pelukan hangat ibunya itu. Namun tatapan Revan masih tetap tertuju pada Jeni. Tanpa teralihkan sedikitpun.
"Seharusnya mamah menungguku dirumah saja. Tidak perlu repot-repot datang ke perusahaan dan membuang waktumu".
"Tidak Revan. Mamah ingin secepatnya bertemu denganmu makanya mamah rela menunggumu disini".
Ibunya pun melepaskan pelukannya. Lalu ibunya menatap wajah Revan dengan lekat dan menyentuh wajah tampan Revan dengan lembut.
"Astaga lihatlah wajahmu ini. Terlihat sangat kurus sekali. Tidak ada daging sedikitpun. Tidak tampan seperti dulu. Apakah selama mamah pergi tidak ada yang mengurusmu? Tidak ada yang merawatmu?". Ibunya terlihat khawatir.
Revan pun menggengam tangan ibunya itu. Lalu Revan mengalihkan tatapannya kearah ibunya yang saat ini berada didepannya. Revan pun memberikan senyum lembutnya.
"Aku baik-baik saja mah. Jadi mamah tidak perlu mengkhawatirkan aku. Karena ada Vino disampingku yang selalu mengurusku dengan baik".
"Tapi tetap saja Revan, Vino tidak bisa kamu andalkan. Bagaimana pun juga Vino seorang lelaki sehingga Dia tidak bisa mengurusmu dengan baik. Kamu membutuhkan seorang wanita disampingmu untuk bisa mengurus segala kebutuhanmu".
Ibunya pun menatap kearah Jeni yang berada tidak jauh dari mereka. Lalu ibunya berjalan mendekati Jeni dan merangkulnya.
"Lihatlah Jeni. Dia tidak hanya cantik tapi juga pandai mengurus rumah. Pandai memasak. Dan pandai merawat seseorang". Puji ibunya dengan senyum bahagia.
"Kamu pasti membutuhkan wanita yang seperti Jeni Revan. Jadi berhentilah main-main dan segera menikah dengan Jeni selagi Jeni belum memiliki seorang kekasih". Lanjut ibunya dengan senyum yang terus merekah.
Revan menarik nafas yang dalam. Ia merasa sangat geli dengan berbagai pujian yang diberikan ibunya kepada Jeni. Bahkan Revan merasa sangat jijik dengan sikap malu-malu Jeni didepan ibunya itu. Revan pun melengos.
"Lagipula aku tidak membutuhkan wanita untuk menjadi pembantuku. Yang aku butuhkan adalah wanita yang tulus mencintaiku". Lanjut Revan sambil berjalan kearah kursi kerjanya.
"Revan mengapa kamu tega sekali mengatakan hal sekasar itu pada Jeni? Jeni itu wanita baik-baik tidak seperti wanita-wanita yang menjadi mainanmu selama ini". Ibu terlihat kesal.
Revan pun tersenyum sinis. Lalu Revan menatap Jeni depan pandangan menghina. Revan terlalu lelah untuk mengikuti drama Jeni pada saat ini.
"Apakah mamah yakin bahwa Jeni wanita baik-baik? Jeni bukanlah salah satu dari wanita mainanku?"
"Revan cukup. Kamu tidak perlu menghina Jeni seperti itu. Mamah sangat tau Jeni seperti apa. Mamah sudah sangat mengenalnya. Jadi kamu jangan pernah merendahkannya".
Revan pun tertawa geli saat mendengar ucapan ibunya itu. Ucapan yang seakan mengartikan bahwa Jeni adalah wanita yang suci dan bukanlah wanita nakal. Padahal kenyataannya Jeni adalah salah satu wanita mainan Revan yang sudah Revan buang sebelum satu bulan.
"Haha sungguh menggelikan. Jeni sudah hentikan dramamu ini. Bukalah topengmu dan tunjukan bagaimana dirimu yang sebenarnya didepan mamahku. Lagi pula pakaianmu yang tertutup saat ini terlihat sangat tidak cocok untukmu. Pakaianmu yang seksi itu lebih cocok".
Ibunya baru saja ingin membuka suara sebelum akhirnya Jeni yang sedari tadi terdiam kini membuka mulutnya. Wajahnya terlihat mulai ketakuan. Sepertinya Jeni takut jika Revan membongkar jati dirinya yang sebenarnya.
"Revan cukup. Jika kamu mau merendahkanku maka kita bicarakan ini berdua. Jangan melibatkan tante Farida". Ucap Jeni dengan nada tersudutkan.
Revan melengos. Ia tidak peduli dengan apa yang Jeni katakan. Telinganya seakan menjadi tuli tidak bisa mendengar apapun.
__ADS_1
"Tante Farida sebaiknya sekarang tante pulang dulu. Masalah ini biar aku yang menyelesaikannya langsung dengan Revan. Aku tidak mau tante jadi bertengkar dengan Revan karenaku". Jeni melanjutkan kata-katanya.
Ibunya pun menatap Revan tajam. Lalu dia mengelus rambut Jeni dengan lembut dan penuh kasih sayang. Revan yang melihatnya semakin merasa jijik.
"Baiklah kali ini mamah akan menuruti kata-katamu Jeni. Dan kamu Revan. Kamu jangan sampai membuat Jeni sedih. Jangan merendahkannya lagi. Jika mamah tau kamu melakukan itu maka mamah tidak akan segan-segan menurunkanmu dari posisi direktur ini". Ancam ibunya.
Untuk kesekian kalinya Revan hanya melengos. Ia benar-benar tidak memperdulikan ancaman ibunya itu. Karena walaupun ibunya berusaha menurunkan Revan dari jabatan direkurnya tapi para investor pasti akan langsung menarik modalnya yang membuat perusahaan akan mengalami kesulitan keuangan. Revan tau ibunya pasti tidak akan sebodoh itu untuk menghancurkan perusahaan hanya karena seorang Jeni.
Merasa tidak ada tanggapan apapun dari Revan ibunya pun menatap Revan kesal. Mungkin ibunya sangat menyesal karena sudah melahirkan anak yang kurang ajar seperti Revan.
"Kamu benar-benar anak yang durhaka. Mengapa aku bisa melahirkan anak yang tidak tau sopan santun seperti ini". Ucap ibunya kembali sambil berjalan keluar ruangan yang diikuti Vino dibelakangnya.
Revan masih saja terdiam. Ia mengacuhkan ucapan ibunya begitu saja. Bahkan Revan juga mengacuhkan Jeni yang saat ini berjalan mendekat kearahnya.
"Akhirnya kita bertemu lagi Revan. Apa kamu tidak merindukanku? Aku sangat merindukanmu". Ucap Jeni yang mulai menggoda Revan.
Revan mengabaikannya. Bahkan Revan tidak menatap Jeni sedikitpun. Revan hanya fokus dengan laptopnya dan tidak menganggap kehadiran Jeni.
"Revan apa kamu benar-benar mengabaikanku? Kamu tidak ingin aku manjakan?". Lanjut Jeni dengan suara yang begitu manis.
Revan yang merasa kesabarannya sudah habis pun langsung menatap Jeni tajam. Revan tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Keluar!". Revan membentak.
Jeni yang terkejut dengan bentakan Revan itupun langsung terdiam. Lalu matanya mulai berkaca-kaca.
"Mengapa sikapmu jadi seperti ini Revan? Mengapa kamu sangat dingin denganku? Mengapa kamu membentakku? Padahal dulu kamu sangat manis denganku".
"Sudah Jeni cukup dengan dramamu. Saat ini mamahku sudah pulang jadi kamu tidak perlu bertingkah seperti orang lain lagi".
Tangis Jeni pun semakin pecah. Dan Revan melihatnya hanya bisa menarik nafas yang dalam. Ia sudan benar-benar malas meladeni wanita bermuka dua ini.
"Tapi aku tulus mencintaimu Revan. Aku benar-benar menyayangimu".
"Itu urusanmu Jeni. Aku tidak peduli".
"Revan mengapa kamu tega sekali denganku? Apa salahku sampai kamu seperti ini Revan".
"Jeni seharusnya kamu sudah tau bagaimana cara bermainku. Aku tidak perlu menjelaskannya lagi kan?. Jadi sebaiknya kamu pergi sekarang sebelum aku memanggil security untuk memaksamu keluar"
"Revan kamu benar-benar jahat". Jeni berjalan keluar dari ruangan itu namun sebelum Jeni benar-benar pergi, Revan membuka suaranya kembali.
"Aku harap kamu tidak akan pernah muncul dihadapanku lagi Jeni. Karena meskipun kamu menggunakan mamahku untuk mendukungmu tapi itu hanya akan sia-sia. Karena aku tidak akan pernah bersama dengan wanita mainanku untuk kedua kalinya. Jadi ingatlah itu".
Jeni tidak menjawab. Dia terus melanjutkan langkahnya hingga benar-benar keluar dari ruangan itu. Revan pun menarik nafas yang dalam.
"Hah benar-benar memusingkan. Ternyata ini maksud mamah memaksaku untuk pulang. Mamah ingin menjodohkanku dengan Jeni. Sepertinya Jeni bukanlah wanita yang mudah. Dia mempunyai berbagai trik untuk membuatku kembali dengannya. Aku harus berhati-hati dengan dia". Ucap Revan sambil memejamkan matanya sejenak.
__ADS_1
Halloo semua..... terima kasih untuk dukungan kalian. Jangan lupa like dan komennya.
\*\*\*\*\*\*