
Saat ini jam sudah menunjukan pukul 9 malam dan Sierra masih saja duduk manis diruang kerjanya dengan beberapa berkas disampingnya.
Sesekali Sierra menguap sambil memejamkan matanya sejenak. Rasa kantuk yang sedari tadi ditahan olehnya kini sudah tidak bisa dihalau lagi membuat Sierra ingin pulang secepat mungkin. Sierra pun terus melirik kearah ruangan direkturnya itu dimana belum ada tanda-tanda Revan akan keluar dari sana. Belum ada tanda-tanda Revan sudah menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah itu Sierra pun melihat kearah ponselnya lagi. Tidak ada panggilan ataupun pesan masuk yang diberikan oleh Revan membuat Sierra yang sudah kelelahan merebahkan tubuhnya sejenak dikursi kerjanya.
Sebenarnya Sierra bisa saja melanjutkan pekerjaannya dihari esok mengingat ini bukanlah pekerjaan yang penting dan mendesak. Namun dikarenakan Revan yang siang tadi memberikan pesan singkat kepada Sierra untuk menunggunya saat pulang kerja, maka mau tidak mau Sierra harus menuruti keinginannya dan menunggu Revan yang saat ini masih betah berada didalam ruangan.
Sierra yang merasa kadar mengantuknya sudah berada di luar batas pun memberanikan diri berjalan kearah ruangan direkturnya itu. Ia mencoba mengetuk pintu tersebut namun dengan cepat niatnya itu langsung diurungkannya.
Sierra takut jika ketukan nanti malah akan menggangu Revan. Akan membuatnya mendapatkan masalah baru. Karena Sierra sudah sangat tau bagaimana sifat direkturnya itu. Sifat Revan yang jika sedang banyak pekerjaan tidak pernah ingin diganggu oleh siapapun terkecuali jika itu adalah urusan yang mendesak dan sangat penting. Tetapi jika itu bukanlah suatu hal yang berarti maka siap-siap saja menerima kemarahan Revan yang sangat menakutkan.
Hanya membayangkannya saja sudah membuat tubuh Sierra merinding apalagi jika itu benar-benar terjadi? Mungkin Sierra akan benar-benar kehilangan cek yang sudah berada ditangannya beserta pekerjaannya.
Sierra yang tidak ingin mengambil resiko pun memilih kembali keruang kerjanya lagi. Biarlah ia yang menunggu Revan karena memang Sierra yang mempunyai hutang dan harus membayarnya selama satu bulan.
Hingga disaat Sierra sudah berada didekat ruangannya, ia melihat seorang wanita yang sudah menunggu kedatangannya. Sierra pun mengamati wanita itu sejenak. Wanita berambut panjang bergelombang yang menggunakan dress pendek berwarna coklat muda. Dress pendek itu seakan memperlihatkan lekuk tubuh wanita tersebut karena modelnya yang begitu ketat.
Bahkan bagian atas dress itu sangat terbuka dan hampir memperlihatkan bagian buah dadanya. Sierra yang seakan mengenali sosok wanita itu hanya bisa menghembuskan nafas panjang.
“Kenapa wanita itu datang lagi sih? Benar-benar menyebalkan," ucap Sierra sambil berjalan mendekati ruangannya.
“Revan masih didalam kan? Belum pulang?” tanya wanita itu ketika Sierra sudah berada tepat didepannya. Sierra pun menggangguk. Ia sangat malas jika harus meladeni wanita bar-bar satu ini. Hanya akan menambah beban pekerjaannya saja.
“Aku masuk dulu ya. Bye,"
__ADS_1
Wanita itu mulai berjalan pergi. Namun sebelum melangkah lebih jauh, Sierra sudah menarik tangannya yang membuat wanita itu menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Sierra.
“Kenapa?" tanya wanita itu dengan wajah yang tidak suka.
“Direktur Revan sedang banyak pekerjaan. Tidak ingin diganggu," Sierra menjelaskan.
Wanita itupun tertawa. Lalu dia menepis tangan Sierra begitu saja. Terlihat adanya ejekan dari sorot matanya.
“Hei Revan itu tidak ingin diganggu olehmu. Berbeda dengan aku. Minggir sana!"
Wanita itu ingin melanjutkan langkahnya kembali dan dengan cepat Sierra sudah menahan tangan itu lagi. Wanita ini memang tidak bisa diajak berbicara dengan bahasa manusia!
“Maaf nona Jeni yang terhormat. Seperti yang sudah saya beritaukan tadi saat ini direktur kami sedang memiliki banyak pekerjaan. Jadi beliau tidak ingin diganggu oleh siapapun dan itu termasuk anda. Tolong anda mengerti dan segera pergi sebelum saya memanggil satpam untuk datang kesini," ucap Sierra tegas.
Untuk kedua kalinya wanita yang bernama Jeni itu menepis tangan Sierra. Bahkan kali ini Jeni sudah mendorong tubuh Sierra yang membuatnya langsung terjatuh begitu saja. Sierra pun menatap Jeni dengan kesal. Ia tidak bisa menahan amarahnya lagi.
"Dan lihatlah kenapa jas Revan bisa ada ditubuhmu," Lanjut Jeni yang mulai melepaskan jas Revan yang sedari tadi melekat pada tubuh Sierra. Sierra pun berusaha menggambil jas hitam itu kembali.
“Kembalikan padaku,"
“Astaga lihatlah pakaianmu itu. Apa sekarang kamu mencoba menggoda Revan? Kamu berharap bisa menjadi kekasihnya? Sungguh aku tidak menyangka jika kamu wanita murahan yang tidak punya harga diri!" Jeni sudah memberikan tatapan jijik. Sierra yang tidak terima dengan ucapan Jeni langsung memberikan tatapan tajam.
Meskipun yang Jeni katakan benar, bahwa Sierra berusaha menggoda Revan tapi tidak sepantasnya ia harus dipermalukan oleh wanita yang jauh lebih murahan dan lebih tidak ada harga dirinya seperti Jeni!
“Ucapan itu seharusnya lebih pantas untuk anda sendiri nona Jeni. Lihatah diri anda yang sekarang ini. Bukankah lebih murahan dari pada saya? Lebih tidak memiliki harga diri?" kata Sierra berani.
__ADS_1
“Apa kamu bilang? Kamu sudah benar-benar kurang ajar ya!"
Jeni berjalan mendekat kearah Sierra. Bahkan Jeni mulai mengangkat tanggannya dan bersiap memberikan tamparan dipipi Sierra.
Namun saat itu tangan seorang lelaki sudah menghentikan tindakan Jeni. Revan sudah berada diantara mereka dan menatap keduanya dengan dingin.
“Apa yang kamu lakukan Jeni? Kenapa kamu ingin menampar sekretarisku?" tanya Revan yang saat ini menatap kearah Jeni.
“Sekretarismu ini sudah keterlaluan Revan. Dia sudah kurang ajar. Dia bilang aku wanita murahan dan tidak punya harga diri," Jeni mengatakan dengan suara manja. Lalu Jeni pun mendekatkan dirinya kepada Revan dan mulai memeluknya dengan erat.
“Lepaskan Jeni. Ayo kita bicarakan diruanganku," Revan melepaskan pelukan Jeni. Lalu dia menggenggam tangan Jeni untuk mengajaknya pergi.
Sedangkan Sierra hanya bisa menatap keduanya dalam diam. Ia sangat terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Ternyata Revan lebih memilih Jeni, wanita murahan itu dibandingkan Sierra. Padahal baru saja pagi tadi Revan mengatakan jika Sierra adalah kekasihnya. Walaupun itu hanya selama satu bulan.
Tanpa sadar airmata pun mulai membasahi wajah Sierra. Sierra baru sadar jika ia tidak memiliki arti apapun bagi Revan. Sierra hanyalah wanita mainannya yang tidak berharga sedikitpun. Karena itulah wajar saja jika Revan masih memiliki wanita-wanita lain disisinya seperti Jeni. Entah mengapa hati Sierra pun terasa sakit saat menerima kenyataan pahit itu.
“Sierra bawakan segelas teh hangat untuk Jeni ke ruanganku," Revan menoleh sejenak sebelum melanjutkan langkahnya kembali.
Jeni tersenyum senang saat Revan mengajaknya pergi bersama. Terlihat adanya rasa kemenangan dan ejekan dari wajahnya. Sierra pun segera menghapus air matanya. Ia menarik nafas yang dalam dan mencoba menenangkan dirinya.
“Ayolah Sierra jangan jadi wanita yang lemah. Sadar diri. Sadar posisimu. Kamu itu hanyalah mainannya. Jadi tidak seharusnya kamu menangis seperti ini. Tidak seharusnya kamu sakit hati dan mengharapakan sesuatu yang lebih," ucap Sierra mencoba menguatkan dirinya sendiri.
Setelah itu Sierra pun bersiap berjalan kearah dapur untuk membuatkan teh hangat sesuai yang diperintahkan Revan. Namun disaat Sierra ingin melangkah, ia merasakan sakit dibagian kaki kanannya. Sierra segera memegang kakinya yang sakit itu.
__ADS_1
“Sial. Gara-gara wanita murahan itu mendorongku, kakiku jadi terkilir. Ah benar-benar menyebalkan!" keluh Sierra yang berusaha melanjutkan langkahnya dengan perlahan sambil terpincang-pincang dan menahan rasa sakit.