Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Kesalah Pahaman


__ADS_3

Apakah, kamu mau menikah dengan saya sekali lagi?" Tanya Leo hingga membuat Lia benar-benar tak dapat berbicara apa-apa lagi.


"Maaf, mas. Maksudnya.. menikah lagi bagaimana? Bukankah kita memang sudah menikah?" Tanya Lia yang heran dengan pernyataan Leo padanya.


"Dulu.. kamu menikah hanya seorang diri. Kini, saya ingin mempublikasikan status hubungan kita sebagai suami istri di depan publik. Apakah.. kamu bersedia, Adelia?" Ujar Leo dengan mengecup punggung tangan sang istri.


Lia terdiam, ia tak habis fikir sebelumnya akan ada pernikahan yang benar-benar terjadi di antara dirinya dan juga suaminya ini.


"Tidak, mas." Mendengar perkataan Lia barusan sontak membuat Leo terkejut bukan main.


"Kenapa? Bukankah kamu menginginkan pernikahan yang sebenarnya?" Seru Leo dengan mencengkram tangan Lia.


Mebuat Lia meringis akibat remasan tangan Leo kepadanya.


"Bukan begitu, mas. Tapi ada beberapa hal yang harus saya selesaikan." Balas Lia seraya melepaskan tangannya dari genggaman tangan Leo.


"Hal apa? Kamu bahkan menyembunyikan segalanya dari saya. Padahal saya telah bersedia membuka hati kepada kamu. Dan kamu menolaknya mentah-mentah? Tega sekali kamu!!" Ujar Leo dan segera berpaling meninggalkan Lia seorang diri di balik tirai.


"Mas. Bukan begitu, mas Leo. Tolong dengarkan saya dulu, mas!!" Seru Lia dengan mencoba meraih lengan suaminya. Namun apa daya, selang infus yang tertancap di tangannya menahan dirinya untuk mengejar sang suami.


"Mas Leo..." Gumam Lia dengan menyentuh punggung tangannya yang baru saja di kecup oleh Leo.


'Menolaknya? Saya bahkan sangat senang dengan perkataan anda barusan. Tapi mengapa anda malah berfikiran seperti itu terhadap saya. Cobalah memahami saya.' Batin Lia yang terasa penuh di dalam dadanya.


Pernikahan yang sebenarnya? Lia pun mengharapkannya. Impian setiap wanita adalah menikah dengan pria yang ia cintai, menjalin kasih yang harmonis bersama dalam membangun rumah tangga yang sejahtera.


Tapi kini, seorang Leonardo NusaJaya yang notaben adalah seorang yang dingin serta ambisius. Tentu saja tidak bisa menerima penolakan yang terang-terangan di berikan oleh Lia pada dirinya.


Tapi bukan itu maksud Lia. Ia ingin segera menyelesaikan urusannya dengan keluarga Cakramulia. Dan mencari kebenaran akan jati dirinya yang sebenarnya.


Benarkah ia merupakan putri mereka yang sempat hilang?


Lamunannya terhenti saat suara tirai terbuka membuatnya menengadah, menatap pria yang merupakan atasannya itu.


"Bagaimana kondisimu? Apakah sudah lebih baik?" Tanya Feri yang baru saja muncul.


"Iya, pak. Maafkan saya pak. Karena saya ceroboh jadi meropotkan anda semua." Balas Lia dengan menguluk senyum.


"Tidak kok. Malahan sepertinya kamu memang kurang fit. Tap, ada yang ingin saya tanyakan." Ujar Feri kepada Lia. Kini taut wajahnya nampak serius.

__ADS_1


"Iya, pak? Ada apa?" Tanya Lia dengan menatap balik atasannya itu.


"Kenapa kamu memanggil tuan muda Leo dengan sebutan mas Leo? Ada hubungan apa kamu dengannya?" Tanya Feri antusias.


"Tidak kok, pak. Kami tidak ada hubungan apa-apa. Tadi hanya kebetulan yang saya lihat hanyalah tuan mida Leo." Elak Lia dengan menggigut bibir bawahnya. Berharap perkataannya barusan dapat di percaya oleh Feri.


"Tidak. Sepertinya bukan begitu. Saya sudah cukup curiga dengan tingkah laku kalian berdua sebelumnya. Katakan Lia, katakan yang sebenarnya. Ada hubungan apa antara kamu dengan tuan muda?" Geram Feri.


Merasa tak tega, Lia pun mengungkapkan yang sebenarnya.


"Maaf, pak. Sebenarnya, tuan muda Leo dan saya adalah suami istri." Kata Lia yang membuat Feri nampak terkejut.


"Suami istri? Lalu kenapa kamu mengajukan lamaran kerja di perusahaan saya?" Ucap Feri dengan nada bicara yang sedikit marah.


"Itu.. itu karena.. saya.." Perkataan Lia terbata-bata. Suaranya seakan tercekat di tenggorokannya. Terlebih ketika raut wajah Feri uang bercampur antara amarah dan juga kecewa.


Menghela nafas dan menggelengkan kepalanya, Feri pun memijat sebuah titik di atara kedua alisnya.


"Karena apa? Karena ingin mempermainkan perusahaan kami? Hanya karena kami hampir bangkrut? Apakah ini semacam lelucon bagi kalian? Jika memang benar ini adalah lelucon, maka selamat. Kalian telah berhasil membuat saya kecewa akan diri anda, nona Adelia." Ucap Feri dengan mata memerah seakan menahan air mata yang akan segera keluar.


"Padahal saya sudah sangat bersyukur mendapatkan seseorang yang dapat saya percayakan untuk membantu saya berjuang membangun perusahaan itu kembali berdiri tegak seperti waktu itu. Tapi pemikiran saya salah semuanya. Sebaiknya anda tidak muncul lagi di perusahaan kami. Saya pamit undur diri. Selamat siang. Nyonya Leonardo NusaJaya." Sambung Feri dengan penekanan di setiap kalimat yang ia ucapkan.


Feri pun meninggalkan Lia seorang diri dengan tubuh yang terbaring di ranjang, serta sebuah infus lengkap dengan selangnya yang menancap di salah satu tangannya.


Lia terdiam sesaat dengan air mata yang mengalir mambasahi pipinya. Rencana yang ia susun sebelumnya tidak berjalan lancr sesuai harapannya.


"Apakah.. hiks.. semuanya akan berakhir seperti ini? Padahal.. hiks.. bukan ini.. hiks.. yang ku inginkan." Ujar Lia sembari menekuk kedua lututnya, dan membenamkan wajahnya yang basah oleh airmata di antara lututnya.


****


Lia meninggalkan hotel tersebut dan kini dirinya berada di bandara. Berencana untuk kembali ke kota A dan meninggalkan sang suami si kota B ini bersama sekretaris pribadinya.


'Mas Leo tau nggak ya, kalau aku kembali ke kota A? Apa sebaiknya aku menghubunginya saja?' Batin Lia.


Semenjak kesalahpaham yang terjadi kemarin, Leo tidak lagi menunjukkan batang hidungnya kepada Lia.


Tuutt...


Tuutt...

__ADS_1


Tuutt..


'Tidak di angkat? Kukirimkn pesan saja.' Lanjut Lia dan mengetikkan beberapa kalimat, sebelum


akhirnya ia mengirimkannya kepada sang suami.


-Saya tadi menelpon anda tapi tidak anda angkat. Saya hanya ingin mengabari anda jika saya kembali ke kota A hari ini. Jaga diri anda baik-baik, dan jangan lupa istirahat yang cukup. Saya pamit undur diri.-


Begitulah isi pesan dari Lia yang ia tujukan kepada Leo.


Sementara itu, kini Lia yang memang bersama dengan Feri sedari berangkat dari hotel pun hanya diam tanpa banyak bicara anatara keduanya.


Bahkan suasana di antara Lia dan Feri pun nampak canggung. Membuat Lia merasa mual dan seperti sembelit, saking canggungnya diantara mereka.


'Pak Feri diam saja sedari tadi. Apakah dia benar-benar marah? Apa yang harus ku lakukan?' Batin Lia.


"Pak-" Sejenak Lia ingin sekadar menyapa dan menanyakan kondisi atasannya itu. Namun semuanya ia tahan karena suara dari pengeras suara menggagalkan niatan Lia barusan.


Namun sebuah pamggilan darinomor sang suami, membuat Lia buru-buru mengangkat panggilan tersebut.


"Halo." Ucap Lia lembut.


Tak ada suara dari panggilan tersebut.


"Halo." Ucap Lia sekali lagi.


"Tuan. Tolong pelan-pelan. Akh. Tuan muda Leo." Suara berisik di balik panggilan tersebut membuat Lia membelalakkan kedua matanya.


"Apa ini?" Gumam Lia. Mencoba memastikan nama di balik panggilan tersebut.


Apakah benar dari suaminya?


"Ini benar dari mas Leo. Tapi kenapa ada suara nona Cika? Apa yang sedang mereka lakukan?" Ucap Lia dengan perasaan gelisah bercampur amarah.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Kenapa ada suara Cika di panggilan Leo?


Bersambung..

__ADS_1


***


__ADS_2