Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Bersikap Manja?


__ADS_3

Saat ini Sierra sudah berada didalam mobil mewah milik Revan. Dan Revan pun sudah duduk tepat disamping Sierra dengan mata yang terus tertuju pada ponselnya.


Tanpa sadar Sierra pun mengamati sosok Revan yang berada disampingnya itu. Revan yang saat ini sudah menggunakan jas hitamnya kembali yang terlihat begitu tampan dan juga menawan.


Ini adalah pertama kalinya Sierra bisa melihat sosok direkturnya itu dari jarak yang begitu dekat. Sebab walaupun Sierra bekerja sebagai sekretaris Revan, tetapi ia tidak pernah terlibat dalam kegiatan Revan karena biasanya hal itu dilakukan oleh asisten pribadi Revan yang bernama Vino.


Pekerjaan Sierra sehari-sehari hanyalah sebagai sekretaris didalam kantor yang bertugas menyusun jadwal kegiatan Revan, mengirimkan berkas-berkas penting kepadanya, mengerjakan beberapa surat dan dokumen. Begitulah kira-kira pekerjaan yang biasa Sierra lakukan selama ini.


Bahkan Sierra juga belum pernah berada satu mobil dengan Revan seperti sekarang. Sierra belum pernah menaiki mobil mewah milik Revan seperti saat ini. Ini adalah pertama kalinya Sierra bisa merasakan fasilitas yang dimiliki oleh direkturnya itu.


Revan yang seakan menyadari tatapan Sierra yang sedari tadi tertuju padanya langsung mengalihkan pandangannya. Bahkan Revan sudah menaruh ponsel yang dipegang olehnya disaku celana. Kali ini Revan mulai menatap Sierra dengan lekat.


“Kenapa kamu terus menerus menatap saya? Baru sadar jika direktur kamu ini sangat tampan?" tanya Revan dengan senyum jahil.


Mendengar perkataan Revan yang seperti itu membuat Sierra langsung tersadarkan. Sierra pun segera mengalihkan tatapannya kearah jendela yang berada disampingnya.


“Kenapa kamu malah mengalihkan tatapanmu? Tadi saja berusaha mencuri pandang. Giliran sekarang saya sudah benar-benar berada didepanmu malah mengabaikannya begitu saja," gerutu Revan.


“Maafkan saya direktur. Saya sudah salah. Tidak akan mengulanginya lagi," ucap Sierra tanpa menatap Revan.


Revan yang mulai kesal pun langsung menarik tubuh Sierra. Membuat Sierra berada didalam dekapan Revan. Bahkan Revan mulai menyentuh rambut panjang Sierra hingga tubuh Sierra pun kembali gemetaran.


Untuk kesekian kalinya Sierra merasa takut dengan apa yang akan Revan lakukan kepadanya. Karena jujur saja Sierra masih belum siap untuk benar-benar memberikan tubuhnya kepada Revan.


“Kenapa tubuhmu gemetaran seperti ini? Memangnya kamu pikir saya akan melakukan apa?” tanya Revan yang sudah manarik ikatan rambut Sierra membuat rambut lurus Sierra langsung tergurai begitu saja.


“Jangan pernah mengikat rambutmu seperti itu lagi. Benar-benar membuat mata saya sakit," kata Revan yang sudah mendorong tubuh Sierra untuk menjauh.


Sierra pun membulatkan kedua matanya. Sungguh ia tidak mengerti dengan jalan pikiran lelaki yang berada disampingnya ini. Terkadang Revan bisa membuat Sierra menjadi takut dengan sikapnya yang tiba-tiba berbeda dari biasanya. Namun terkadang Revan juga bisa dengan cepat memberikan sikap dinginnya lagi kepada Sierra yang membuat Sierra menjadi kesal.


Sierra pun hanya menghembuskan nafas panjang sambil mengalihkan tatapannya kearah jendela disampingnya. Lalu Sierra yang seakan menyadari bahwa jalan yang dilaluinya saat ini bukanlah menuju rumahnya langsung menatap Revan bingung. Kali ini Revan akan membawa Sierra kemana? Itulah yang dipikirkan oleh Sierra.


“Maaf direktur aku ingin bertanya. Sebenarnya kita akan pergi kemana? Karena jujur saja saya tidak mengenali jalan ini dan ini bukanlah jalan kearah rumah saya," Sierra memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


“Memangnya siapa yang bilang kita akan ke rumahmu? Memangnya kamu pikir saya ingin mengantarmu pulang," jawab Revan dingin seperti biasanya.


“Lalu kita akan pergi kemana? Karena ayah saya pasti sudah menunggu dirumah," Sierra mulai khawatir.


Revan pun menatap Sierra dengan lekat. Lalu Revan mulai mendekatkan wajahnya kepada Sierra. Revan pun membisikan sesuatu ditelinga Sierra.


“Tentu saja kerumah saya," Revan berbisik namun masih bisa didengar oleh Sierra.


Tanpa sadar Sierra pun langsung mendorong tubuh Revan hingga menjauh. Bahkan Sierra sudah menutupi bagian tubuh depannya dengan kedua tangannya.


Apakah Revan akan benar-benar membawa Sierra kerumahnya? Apakah Revan akan memakai tubuh Sierra malam ini? Tapi kenapa harus sekarang? Kenapa cepat sekali? Bahkan Sierra saja belum sehari menjadi kekasihnya. Sierra pun mulai disibukan dengan pikiran buruknya kembali.


“Hei apa yang kamu pikirkan. Saya mengajakmu datang kerumah untuk jadi pembantu, membereskan rumah. Jadi jangan berpikir yang aneh-aneh karena tubuhmu itu tidak semenarik itu," Revan menyentil kening Sierra. Sierra yang mendapatkan sentilan itupun langsung memegang keningnya karena terasa sakit.


“Seharusnya anda menjelaskannya lebih dulu agar pikiran saya tidak jauh kemana-kemana," protes Sierra.


“Otakmu saja yang pikirannya kemana-mana. Memikirkan hal yang tidak-tidak. Saya saja tidak pernah sedikitpun berpikir untuk menyentuh tubuhmu itu. Jadi jangan mengharapkan sesuatu yang lebih,"


Sierra hanya memutar bola matanya. Ucapan dingin Revan selalu saja membuatnya kesal. Padahal yang membuat pikiran Sierra jadi berlarian kemana-kemana juga karena Revan sendiri.


“Kamu tidak menghubungi ayahmu? Saya kan sudah bilang kamu akan kerumah saya. Kamu akan menginap disana," ucap Revan yang melihat Sierra masih saja tenang.


“Apa? Menginap? Bukankah direktur hanya menyuruh saya untuk beres-beres saja? Bukannya menginap?" kali ini wajah Sierra mulai panik kembali. Revan yang melihat kepanikan Sierra itu pun tersenyum senang. Entah mengapa menggoda Sierra sudah seperti hobi barunya.


Bahkan hanya dengan melihat Sierra yang ketakutan, gugup, gemetaran, panik dan khawatir bisa membuat Revan merasa puas. Karena itulah Revan selalu menggoda Sierra agar dia bisa melihat segala ekspresi lucu dari Sierra yang tidak pernah dia lihat dari wanita-wanita lain yang bersama dengannya.


“Kalo saya bilang menginap ya menginap. Kenapa kamu harus bertanya terus sih? Kenapa membantah omongan saya? Sudah tidak butuh ceknya lagi? Mana sini kembalikan kepada saya kalo kamu tidak mau menurut," Revan mulai menarik tas hitam yang berada dipangkuan Sierra.


Sierra yang tidak ingin ceknya diambil langsung menggenggam tas itu dengan erat. Sierra tidak akan menyerahkan tasnya kepada Revan begitu saja.


“Tidak direktur maafkan saya. Maaf karena saya selalu membantah perkataan anda. Saya selalu banyak bertanya. Saya tidak patuh. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Saya akan menurut dengan apapun yang anda katakan. Jadi saya mohon jangan mengambil ceknya. Saya sangat membutuhkan uang itu," Sierra memohon.


Revan terdiam. Dia terlihat sedang menimbang-nimbang. Sierra yang melihatnya pun hanya bisa pasrah. Ia benar-benar takut jika cek itu akan diambil Revan kembali mengingat dirinya yang sudah melakukan banyak kesalahan. Sierra pun merutuki dirinya yang selalu saja berani membatah apa yang dikatakan oleh direkturnya itu.

__ADS_1


“Baiklah saya akan memberikanmu kesempatan untuk memiliki cek itu lagi. Tapi ada syaratnya,"


“Apa syaratnya direktur? Saya akan melakukan apapun yang anda perintahkan,"


Revan tersenyum. Lalu Revan mendekatkan wajahnya kembali kearah Sierra. Revan membisikan sesuatu ditelinga Sierra seperti yang sudah dilakukan sebelumnya.


“Cobalah bersikap manja dan memohon kepada saya," kata Revan pelan.


Setelah itu Revan pun kembali pada posisi duduknya semula. Sedangkan Sierra langsung terdiam setelah mendengar apa yang Revan katakan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.


Bersikap manja? Bagaimana bersikap seperti itu? Memikirkannya saja Sierra tidak pernah apalagi sampai melakukannya?


“Ayo cepat. Kenapa masih diam saja," Revan berkata kembali yang membuat Sierra langsung tersadarkan dari pikirannya.


Sierra pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jujur saja ia benar-benar bingung. Tidak tau harus bertindak seperti apa. Karena Sierra bukanlah tipe wanita yang suka bermanja-manja seperti wanita penggoda itu.


“Direktur maaf. Jujur saja saya tidak tau harus bersikap bagaimana. Saya tidak tau bersikap manja itu seperti apa. Saya tidak pernah melakukannya," jawab Sierra jujur.


Revan pun menatap Sierra. Dia memegang dagu Sierra seperti biasanya. Mungkin memegang dagu Sierra sudah menjadi hobi lainnya yang suka dilakukan oleh Revan.


“Kamu suka lihatkan bagaimana sikap Jeni ketika manja kepada saya? Lakukanlah seperti itu. Contoh yang biasa Jeni lakukan,"


Sierra terdiam kembali. Ia berusaha mengingat-ngingat seperti apa sikap Jeni ketika sedang manja dengan Revan. Hingga akhirnya ingatan Sierra pun tertuju pada sikap Jeni yang sering kali melingkarkan tangannya dilengan Revan. Sierra pun melirik kearah Revan sejenak.


“Gimana? Sudah tau belum?" tanya Revan.


Sierra menggangukan kepalanya. Lalu ia mulai mendekatkan dirinya kepada Revan. Dengan sedikit gugup Sierra melingkarkan tanggannya dilengan Revan. Sierra menatap Revan dengan ragu.


“Direktur Revan yang tampan dan baik hati. Maafkan saya. Tolong jangan mengambil cek itu. Saya benar-benar membutuhkanya," ucap Sierra sambil mengguncangkan lengan Revan.


Revan pun tertawa. Lalu Revan menaruh telunjuknya dikening Sierra untuk menjauhkan tubuh Sierra darinya. Sierra yang merasa sangat malu pun langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Sierra tidak sanggup menatap Revan saat ini.


“Oke boleh juga. Saya terima permintaan maafmu. Tapi ingat ini adalah peringat terakhir dari saya. Jika kamu berani membantah lagi bersiaplah untuk membayar ganti rugi sebanyak 2 kali lipat sesuai yang saya katakan sebelumnya,"

__ADS_1


Sierra menggangukan kepalanya kembali. Lalu Sierra mengalihkan pandangannya lagi keluar jendela. Entah mengapa Sierra merasa saat ini Revan seperti sedang mengerjainya.


Namun Sierra yang tidak ingin membuat kesalahan lagi memilih untuk diam. Sierra tidak ingin berdebat dengan Revan. Karena jika ia melawan maka Sierra yang akan benar-benar dirugikan. Jadi biar saja Sierra menerima berbagai perlakuan Revan saat ini karena memang Sierra yang sudah menjanjikan dirinya kepada Revan demi uang tersebut.


__ADS_2