Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Perihal Sarapan


__ADS_3

Pagi menjelang, burung berkicau bersahutan. Hangatnya mentari menembus jendela kamar Lia, membuatnya terbangun dan meregangkan otot-otot tubuhnya.


"Sudah pagi. Sebaiknya aku segera memeriksa dokumen yang kemarin diberikan oleh Riska padaku." Ucapnya dan bergegas mengikat rambutnya, seraya membuka isi dari mab yang membungkus bukti tentang dirinya.


"Apa semua ini?" Ucap Lia saat ia melihat lembar demi lembar dari isi dokumen tersebut.


Matanya terbelalak dan hatinya bergetar, merasa seperti dejavu. Ia melihat foto dari seorang bayi yang tergelatak di depan pintu panti asuhan Bintang.


Bayi mungil dengan wajah yang membiru, tertutup selimut yang membungkusnya. Tubuhnya yang mungil berada di sebuah keranjang yang terbuat seperti dari rotan.


Meskipun itu hanyalah sebuah foto, ia dapat merasakan betapa memprihatinkan kondisi bayi di dalam foto itu.


"Apakah.. ini aku?" Ucapnya seraya mengelus foto yang di balut bingkai kecil di genggamannya.


"Tapi.. kenapa orang tua kandungku, tega membuangku seperti ini? Apakah aku ini.. aib?" Ucapnya lirih dengan air mata yang mengalir, menetes di antara bingkai itu.


"Kenapa? Kenapa? Hiks.. Hikss.. Hikss.." Tangisnya sesenggukan dengan derai air mata yang begitu deras.


Lemas dan letih, Lia tak dapat berharap untuk hidup lagi.


"Akan lebih baik, jika aku tidak mengetahui yang sebenarnya." Gumam Lia seraya memeluk bingkai itu.


Kedua matanya yang sembam, tertuju pada lembaran kertas lainnya.


"Apa ini?" Ucap Lia sembari mengusap matanya.


Sebuah kertas yang bertuliskan CAKRAMULIA, tertera di sana. Membuat Lia terheran-heran.


Dengan segera, ia membuka ponselnya dan mencari apapun yang tertera dalam kertas tersebut.


Dan tepat sekali dugaanya, memang ada sebuah perusahaan bernama CAKRAMULIA, tepat di pencarian dalam ponsel miliknya.


"CAKRAMULIA, perusahaan yang sebelumnya berjaya dan makmur, dengan penjualan yang meningkat pada tahun 20xx, kini harus menggigit jemarinya dikarenakan kurangnya strategi pemasaran. Di duga karena depresi yang di alami oleh pimpinan perusahaan tersebut. Di karenakan kehilangan putri semata wayangnya, seusai kasus penculikan yang menimpa putri mereka. Hingga kini, kasus itu sudah ditutup oleh pihak kepolisian. Setelah ditemukan kerangka seusia putri mereka. Dari deprei berat hingga perusahaan yang jaya dan makmur, hingga hampir bangkrut. Mampukah perusahaan itu tumbuh kembali seperti dahulu?" Tutur Lia mengikuti artikel, yang terlampir pada postingan di ponsel miliknya.


Melihat sekali lagi dengan cermat, Lia merasa dilema. Haruskah ia melanjutkan pencariannya, ataukah ia hentikan saja?


Namun rasa penasarannya mengalahkan keraguannya. Dengan sigap ia mencatat alamat prusahaan tersebut, dimana telah tercantum di artikel tersebut.


"Oh. Mereka membutuhkan seorang Sekretaris. Baiklah, nggak apa-apa. Aku bisa mencoba melamar disana, sekaligus mencari tahu kebenarannya." Ucap Lia dengan menyiapkan beberapa dokumen yang perlu di lampirkan.


Kesibukannya terhenti sesaat, ketika ia teringat akan sosok suaminya.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, bagaimana kabarnya mas Leo, ya? Coba ku telpon, deh." Sambung Lia dengan mengambil kembali ponselnya.


Belum juga dia sempat menghubungi, tiba-tiba ponselnya telah berdering, menunjukkan nama seseorang yang baru saja hendak ia hubungi.


Terkejut dan panik, ia mengangkat panggilan itu.


"Ha-halo. A-apa kabar?" Tanya Lia memulai pembicaraan.


"Baik. Kamu sendiri, bagaimana? Sudah makan?" Ucap Leo dengan dingin.


'Nih orang, niat nelpon nggak sih? Dingin banget jawabnya.' Batin Lia sambil menggigit bibirnya. Menahan rasa ingin memukul orang di sembrang panggilan saat ini.


"Kenapa diam saja?" Merasa di cueki, Leo pun bertanya sekali lagi.


"Oh. Nggak. Ini tadi saya lagi mau masak telur untuk sarapan. Hehehe." Ujar Lia dengan cengengesan. Menutupi kegugupannya.


"Telur? Itu saja? Saya akan antarkan orang untuk membawakan breakfast yang lebih baik." Kata Leo menambahkan.


"Eh. Nggak usah, mas. Nggak perlu repot-repot." Tolak Lia tegas. Ia tak ingin rencananya berantakan, hanya karena sebuah makanan.


"Kenapa? Apa ada yang kamu sembunyikan?" Tutur Leo, merasa curiga dengan gelagat Lia yang menolak.


Tak biasanya Lia menolak pemberian Leo. Tapi kini, Lia dengan mudahnya menolak.


"Ya sudah lah. Hati-hati dijalan." Kata Leo dengan berakhirnya panggilan itu.


"Ah. Dimatikan? Apakah dia marah? Seperti anak kecil saja." Gerutu Lia, seraya mencoba menghubungi sang suami.


Tuutt... Tuutt..


Panggilan pertama tak di angkat.


Tuutt.. Tuutt..


Panggilan kedua pun tak kunjung di angkat.


"Hah? Beneran marah, nih? Entahlah. Bikin ousing saja. Mending aku mandi aja." Ucap Lia dan membersihkan dirinya dalam kamar mandi.


Sementara Lia yang tengah membersihkan tubuhnya, ia tak menyadari jika ponselnya berdering hingga beberapa kali.


***

__ADS_1


Tok.. Tok.. Tok..


Suara ketukan dari arah pintu yang terlihat kokoh itu membuyarkan lamunan Leo. Dengan segera ia mempersilahkan masuk, bagi orang yang mengetuk sedari tadi.


"Masuk." Ucapnya tegas.


Dan saat itu pula lah, ia melihat seorang wanita yang biasa ia jumpai di depan ruangannya. Yang tak lain adalah sekretaris pribadinya, Cika namanya.


Sosoknya yang cantik, elegan, modern dan gaul, membuat siapapun yang melihatnya pasti akan jantuh cinta padanya. Tak perduli pria maupun wanita.


Namun sikapnya yang dingin, membuat para pujangga yang mengharapkan balasan cintanya pun merasa minder dengan kedekatannya kepada atasannya, Leonardo NusaJaya.


Langkah kakinya yang gemulai, serta pakaiannya yang terlihat mini bak model seksi, serta bibir merah yang menggoda, mampu menggaet aktor ternama sekalipun.


Tapi sepertinya, tuan muda kita tidak terpengaruh dengan hal itu.


Dengan dingin, Leo menatap sekretaris probadinya itu.


"Ada apa?" Tanya Leo dingin.


"Begini tuan muda, ini perihal proyek pembangunan di kota B." Ucap Cika dengan berdiri menghadap sang tuan muda.


"Iya. Lalu?" Masih dengan nada dingin dan pandangan yang datar, Leo bertanya kepada Cika.


"Apakah saya akan turut ikut kesana, tuan?" Tanyanya malu-malu, sembari menundukkan kepalanya.


Menghela nafas panjang, Leo menautkan kedua alisnya dan menatap tajam kepada wanita yang lebih muda 10 tahun darinya itu.


"Hhh.. Hal seperti ini saja kamu sampai masuk kemari?!! Kenapa tidak pakai panggilan saja?!!" Bentak Leo seraya menunjuk telpon yang terpajang di sampingnya.


Melihat kemarahan yang keluar dari tuan mudanya, Cika hanya diam dan menunduk. Ia malu, benar-benar malu.


"Hhh.. Kamu ikut. Siapkan berkas-berkas yang saya perlukan, dan juga perlengkapan untuk meeting kepada karyawan disana." Ujar Leo tegas dan di sambut antusias oleh Cika.


"Ba-baik, tuan muda. Akan saya persiapkan semuanya segera." Ucap Cika dengan wajah yang merona gembira.


"Saya rasa itu saja. Kamu boleh keluar." Kata Leo yang masih menatap Cika datar dan nada bicara yang dingin.


Tapi sepertinya hal tersebut tak membuat Cika berkecil hati, ia semakin ingin dekat dengan sang tuan muda.


"Baik, tuan muda. Saya permisi." Ucap Cika dan sebelum meninggalkan Leo seorang diri, ia memyempatkan diri untuk memandangi sang tuan muda yang nampak asyik dengan ponselnya.

__ADS_1


Senyum kecil terpasang pada wajah Cika yang terlihat bahagia, sebelum akhirnya ia meninggalkan ruangan tersebut.


Bersambung..


__ADS_2