
"Sudahlah, jangan mengelak lagi. Katakan saja jika kamu cemburu saya bersama wanita lain. Hemm." Ujar Leo.
"Apaan sih. Di bilang nggak kok. Meskipun anda membawa wanita lain pun saya tidak akan cemburu, bahkan ketika anda mempunyai kekasih lain pun saya tidak akan cemburu." Sanggah Lia dan memalingkan wajahnya, hingga ia tak melihat raut wajah Leo yang nampak sedih.
"Jadi, kamu berbohong kepada saya?" Tanya leo tiba-tiba, dan membuat Lia menoleh ke arahnya.
Mendapati seorang pria dengan karisma dan wibawanya yang luar biasa bahkan dapat menghancurkan perusahaan musuhnya dalam sekejap, kini berada di hadapan Lia dengan keadaan air mata yang mulai menetes perlahan menyusuri pipinya dan jatuh di bantal yang ia genggam.
"Ke-kenapa anda menangis?" Tanya Lia.
Terdiam dan memandangi wajah sang istri, perasaan takut akan kehilangan itu kembali muncul di dalam benak Leo.
"Bukankah waktu itu kamu menyatakan cinta mu kepada saya? Tapi kenapa kini kamu tidak mengelak? Apakah kamu selama ini hanya mempermainkan saya?" Ujar Leo dengan suara beratnya yang bergetar.
Terkejut akan pernyataan yang di ucapkan oleh sang suami, Lia pun merasa tak tega dengan rasa bersalah yang tengah ia rasakan saat ini. Hingga ia pun segera melayangkan pelukan nya kepada sang suami.
Membua Leo terperanjat dan tersadar akan tingkah lakunya yang layaknya seorang anak kecil di hadapan wanita yang tak pernah ia anggao sebelumnya.
Sebuah pelukan yang cukup lama tak ia rasakan, bahkan ketika kepergian kedua orang tuannya dan juga adik terkasihnya pun, ia tak pernah mendapatkan perlakuan yang istimewa seperti saat ini.
"Jangan menangis. Saya akan selalu ada untuk anda, dan saya akan selalu bersama dengan anda. Dalam suka dan duka, dalam kaya maupun miskin. Bukankah itu yang saya ucapkan dalam janji ikrar dalam pernikahan kita?" Ujar Lia demgan mengelus elus punggung sang suami, tanpa melepaskan pelukan yang masih melekat di antara keduanya.
"Benarkah?" Ucap Leo tanpa menatap Lia dan malah menenggelamkan wajahnya di dada sang istri.
"Tentu saja." Sahut Lia dan seketika ia merasakan sensasi yang cukup lama tak ia rasakan.
Ketika Leo mengecup sang istri kembali dan memulai pagutan panas mereka, tatapan keduanya nampak sendu dengan deguban jantung keduanya seakan melaju lebih cepat dsri biasanya.
Desirsan darah yang mengalir di tubuh keduanya pun seakan naik ke bagian wajah mereka, memberi semburat semu di pipi keduanya.
__ADS_1
Seakan tak ingin melepaskan diri dsri birahi yang mulai menggejolak, Leo pun berinisiatif merebahkan tubuh sang istri dan membuka pakaian atasnya. Menampakkan tubuh putih bak porselen milik sang istri, tak terlupakan kedua gundukan yang telah ia santap begitu saja.
Membuat Lia melenguh dan mendesah merasakan gejolak yang begitu intens di area sensitif nya itu.
Menjadikan Leo semakin semangat dalam permainan nya dan berusaha memberikan yang terbaik kepada wanita miliknya itu.
Tak terlupakan pula, bagian tubuh bawah dari Lia yang masih tertutup. Dengan segera ia sibakkan dan menampilkan kehangatan yang akan ia rasakan sesaat lagi.
Namun sesaat ia mengelus pelan bagian perut bawah sang istri, seraya berkata. "Dia adalah anak saya, cinta kita tumbuh di dalam sini bersama dengan berkembangnya ia kelak menjadi orang yang berguna." Ujar Leo seraya mengecup pelan perut sang istri.
Melihat apa yang tengah di lakukan oleh sang suami, membuat Lia terharu dan terenyuh. Seakan selurih jiwa dan raganya telah ia pasrahkan kepada pria di hadapannya ini.
"Mas." Ucapnya pelan. Membuat Leo mendongak dan menghampiri sang istri dan mengecup pelan pipinya dan memberikan senyuma yang mampu membuat luluh hati wanita manapun yang melihatnya.
"Iya. Ada apa, sayang?" Ucapnya.
"Saya.. saya.." Seakan tak dapat mengatakan isi hatinya, Lia kembali memalingkan wajahnya dan menyembunyikan rasa malunya dengan menggigit bibir bawahnya.
Terkejut dengan pernyataan yang di ucapkan oleh Leo kepadanya, Lia langsung menatapnya dan memeluk kedua lengan berotot milik sang suami.
"Bagaimana anda bisa tahu kalau saya mau mengatakan hal itu?" Tanya Lia.
Menatap wajah sang istri, Leo pun menjawab pertanyaan Lia dengan entengnya. "Karena isi hati mu dapat terlihat dengan jelas dari wajah mu yang bersemu." Ucap Leo dengan mencubit pelan pipi sang istri yang terlihat lebih berisi dari sebelumnya.
Menunduk malu dan tak dapat menyanggah perkataan Leo yang baru saja ia ucapkan, Lia pun hanya diam dengan wajah yang lebih memerah.
Leo yang melihat sikap dari Lia pun, mendekatkan wajhanya ke telinga sang istri seraya mengatakan perkataan yang membuat Lia semakin terlena akan perasaan yang begitu dalam antara dirinya dan juga sang suami.
"Apa kamu sadar jika kamu sangat cantik. Bahkan kamu lebih cantik ketika cemburu dan marah. Sikap mu yang berani dan tak mau menyerah dengan keadaan, membuat saya semakin tak dapat melupakan diri mu." Ujar Leo yang mendadak menjadi bergitu berbeda dengan pertama kali mereka bertemu dahulu.
__ADS_1
Dag.. dig.. dug..
Meskipun bukan kali pertamanya, Lia masih merasa malu malu dengan perlakuan yang di tunjukkan Leo kepadanya.
Menarik wajahnya dari sisi sang istri, Leo kembali menarik dagu sang istri dsn membuatnya menatap dirinya.
Sebuah senyuman terukir di wajahnya, seraya mengecup pelan dahi sang istri sebelum akhirnya beranjak dan melepaskan kaos yang membelenggu tubuh bagian atasnya sedsri tadi.
Menampakkan otot otot tubuhnya yang kekar dan proposional. Memberikan pemandangan yang menyejukkan jiwa raga bagi seluruh kaum hawa yang melihatnya.
Mendekatkan wajahnya kepada sang istri, seakan tak ada bosan bosannya dengan kecupan kecupan yang ia layangkan kepads Lia. Ia terus mencubui tubuh Lia yang sudah sangat sensitif.
Melepaskan penutup terakhir pada tubuh sang istri, Leo pun tak segan lagi dan memberi pemanasan pada area tersembunyi bagi kaum wanita.
Seperti orang yang kecanduan, Lia seakan tak ingin melepaskan buaian dan belaian serta jamahan yang dilakukan oleh Leo kepada dirinya.
Tak ingin terlepas kan dari pagutan, keduanya pun menyatu dalam kehangatan yang menjadi titik kenikmatan bagi setiap insan di muka bumi ini.
Hingga miliknya menyatu dengan sempurna, suaranya yang serak dengan nafasnya yang terasa berat. Leo menyentuh bagian atas perut sang istri.
"Saya ada di dalam sini, dan anak kita pun bersama dengan kita. Apalah kamu dapat merasakan saya di dalam sini?" Tanha Leo dengan terus mengelus perut Lia.
Membuat wanita dengan bola mata berwarna coklat itu pun menggenggam tangan Leo dan menyatukannya di atas perutnya juga.
"Tentu saja. Saya dapat merasakan anda di dalam tubuh saya." Ujar Lia dengan pandangan matanya yang setengah terbuka.
Tubuhnya yang di penuhi dengan kecupan di mana mana, membuat Leo tak dapat lagi menahan gejolaknya untuk melawan insting alaminya sebagi seorang pria tulen.
Mempercepat gerakannya di iringi dengan suara gemuruh hujan yang tiba tiba menjadi irama tersendiri bagi kedua pasangan tersebut menjalankan kegaitan mereka dalam balutan penuh cinta dan juga kasih yang semakin nampak di antara keduanya.
__ADS_1
Bersambung..