Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Kebenaran Yang Tersembunyi


__ADS_3

Suara mobil milik Leo sudah tak terdengar lagi. Kini Lia benar-benar telah sendiri. Di rumah yang telah menemani keseharian papahnya seorang diri.


"Rumah ini adalah peninggalan papah. Aku harus merawatnya. Yaa.. Itu lebih baik dari pada aku menangis tak karuan." Gumam Lia dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tersebut.


Belum juga ia mengerjakan hal yang ia rencanakan barusan, tiba-tiba sebuah bingkai foto yang nampak kuno itu menjadi pusat perhatian Lia saat ini.


"Itu kan.." Ucap Lia terputus saat ia melihat bingkai foto itu.


Ia pun meraihnya dan mengelapnya dengan tangan kosong. Tatapannya menjadi semakin sendu. Air matanya menumpuk di ujung matanya.


"Mamah.. Waktu itu mamah berkata iika semua akan baik-baik saja. Tapi.. tapi kenapa sekarang Lia harus kehilangan papah juga, mah?" Ucap Lia seraya menatap bingkai yang ia genggam saat ini.


Terlihat di dalam bingkai tersebut nampak sesosok wanita dengan seorang pria dan jhga anak kecil di antara keduanya.


Yaa.. Itulah foto keluarga yang terpasang di dinding rumah tua itu.


"Maafin Lia, mah. Maafin Lia, pah." Lirih Lia mengucapkan kata itu sebeluk akhirnya, tangisnya semakin menjadi tat kala ia mengingat momen-momen bersama antara papah dan mamahnya.


"Aku nggak boleh gini terus. Aku harus semangat. Yoss!!" Seru Lia berusaha tegar dan kembali bangkit dengan semangat membara, membersihkan segala macam isi dari rumah tersebut.


Ketika tiba di salah satu ruangan, Lia nampak tak asing dengan aroma yang menyeruak dari ruangan tersebut.


Ternyata ruangan itu milik papahnya. Terasa sekali aroma minyak kayu putih dengan aroma yang menyengat.


"Papah.." Ucap Lia lirih dengan duduk di tepi ranjang dan mengelus lembut ranjang tersebut.


Ia pun mengedarkan pandangannya dan mendapati sebuah kotak, di atas meja yang terletak tak jauh darinya.


Merasa penasaran, Lia pun menghampiri meja itu dan meraih kotak tersebut. Melihat isi dari kotak yang membuat Lia semakin penasaran.


"Loh.. Bukannya ini.." Ucapan Lia terpotong saat ia menyadari isi dsri kotak tersebut.


"Kenapa bisa ada di sini?" Tanya Lia pada dirinua sendiri.


Dan mengambil benda tersebut keatas, seraya menatap tekat benda yang membuatnya tak dapat tidur dengan tenang hingga benerapa hari ini.


"Tapi heran deh. Kenapa bisa sapu tangan ini ada disini?" Ucap Lia dan mulai mengingat-ingat hal yang bersangkutan dengan sapu tangan tersebut.


"Oh iya, waktu itukan aku bawa kesini saat berkunjung di rumah ini. Hmm.. aku benar-benar membutuhkan benda ini agar tetap tenang." Lanjut Lia dan memasukkan sapu tangan tersebut ke dalam tas milkknya, menjaganya tetap aman di sana.

__ADS_1


Kembali Lia membersihkan ruangan tersebut hingga ia membuka sebuah lemari pakaian, dan ia melihat sebuat kardus cukup besar di dalamnya.


"Apa ini?" Tanyanya dan berusaha meraihnya.


Namun nihil, ia kurang tinggi dan kembali berusaha dengan berjinjit. Tapi gagal lagi.


"Duuh.. Tinggi banget ya.." Ucap Lia dan bergegas ke dapur guna mengambil kursi plastik, sebagai tempat ia berpijak.


"Ukh.. Berat banget sih.. Isinya apaan?" Kata Lia saat ia berglhasil mengambil kardus tersebut.


"Apa ya isinya?" Tanya Lia kembali pada dirinya sendiri.


Tanpa fikir panjang, Lia pun segera membuka kardus tersebut dan mendapati fotonya semasa kecil didalamnya.


"Waahh.. Banyak banget foto ku waktu kecil." Ucap Lia nampak memandangi satu per satu foto itu.


"Aneh.. Dari semua fotoku, kenapa nggak ada foto ku masih bayi, ya?" Ucap Lia yang masih membuka-buka isi dari album foto yang di penuhi oleh foto-foto dirinnya.


Usai melihat album tersebut, tatapan Lia pun tertuju pada sebuah mab besar berwarna coklat yang dibalut oleh mab plastik.


"Apa ini? Kenapa di dobel bungkusnya? Bikin penasaran aja." Gumamnya dan masih asyik membuka map tersebut.


Ternyata mab tersebut merupakan sebbuah dokumen yang benar-benar membuat Lia tak habis fikir untuk yang kesekian kalinya.


Bagaimana tidak, jika dokumen tersebut merupakan sebuah bukti nyata mengenai dirinya yang sebenarnya.


Kalimat yang terpampang jelas di halaman pertama dari dokumen tersebut bertuliskan,


SURAT IZIN HAK ADOPSI


Membuat Lia semakin mengerutkan alisnya saat ia melihat keseluruhan isi dari dokumen tersebut.


"Jadi, selama ini aku bukan anak kandung mamah dan papah?" Ucap Lia lirih dengan suara yang bergetar dan tubuh gemetaran.


Merasa sok dengan kenyataan yang ia terima, ia pun memutuskan utnuk terus membaca seluruh isi dari dokumen tersebut.


Niatan awalnya untuk bebersih rumah pun ia abaikan, demi mencari tahu hal yang telah di sembunyikan oleh kedua orang tuanya bertahun-tahun sekian lamanya.


Usai membaca dokumen adopsi tersebut, Lia pun mendapati sebuah foto yang nampak bagus dan jernih meskipun sudah terlihat usang.

__ADS_1


"Apakah ini aku?" Tanya Lia menatap intens foto yang ada di genggamannya saat ini.


"Lucunya aku." Lanjut Lia berusaha tenang meskipun sebenarnya, seluruh tubuhnya bergetar hebat.


Kemudian ia pun melihat kembali isi dari kardus tersebut dan mendapati sebuah bungkusan hitam di dalamnya.


"Apa lagi ini?" Ucap Lia dan mengambil hungkusan hitam tersebut seraya membukanya secara perlahan.


"Hm. Baju bayi?" Tanyanya sendiri saat melihat isi dari bungkusan hitam tersebut.


Sebuah pakaian bayi yang terlihat masih bagus, meskipun warnanya telah memudar di makan oleh waktu, tak mengurangi kelembutan dan keawetan pakaian yang ada di genggaman Lia saat ini.


"Masih ada lagi?" Seru Lia saat ia melihat lagi sebuah buku yang tergelatak di dalam kardus tersebut.


Ia pun meletakkan pakaian bayi yang tadi ia genggam dan meraih buku tersebut, sembari membacanya penuh kehikmatan.


Air mata yang tak ingin ia keluarkan pun kini telah memaksa keluar dari pelupuk mata milik Lia, membasahi wajahnya serta menetes di atas buku yang penuh dengan tulisan di sana.


Terdapat tulisan yang membuat Lia begitu syok. (Anak hilang yang di tampung oleh panti asuhan Bintang. Maafkan mamah nak, mamah belum bisa mengatakan dengan jujur kepadamu. Mengenai siapa kamu sebenarnya. Dan dari mana asalmu. Mamah nggak tega jika kamu marah dan meninggalkan mamah serta papah. Sekali lagi, maafkanlah orang tua mu ini, nak.)


Kalimat itulah yang membuat Lia menjadi semakin penasaran dan kembali membuka dokumen hak asuh dirinya.


Dan benar saja, jika ia telah di adopsi dari panti asuhan Bintang. Ia pun melihat dengan seksama alamat serta tahun ia di adopsi.


"Jika benar aku bukan anak mamah dan papah, lalu aku anak siapa? Kenapa mereka tega sekali kepadaku? Huhuhu.. Kenapa semua ini menimpa hidupku?" Seru Lia yang kini mulai memeluk kedua ltutunya, seraya menahan air matanya agar tak semakin deras.


"Apakah aku perlu mencari tau keberadaan kedua orangtua ku?" Gumam Lia pada dirinya sendiri.


Fikirannya yang kalut, kini dipenuhi oleh hal-hal yang membuatnya beberapa kali menangis.


Apakah Lia akan mencari tahu kebenaran akan dirinya?


Dan siapa sebenarnya orang tuan Lia?


Apakah masih hidup?


Seperti apa rupa mereka?


Hingga saat ini, semua itu masih menjadi misteri.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2