
Sementara itu, di kediaman tuan muda Leonardo NusaJaya.
Kakek Edward tengah menunggu Leo di ruang keluarga, dirinya nampak mengerutkan alisnya yang memutih.
Dengan tatapannya yang tajam pun tak dapat terhidar, tat kala dirinya menatap sosok yang tengah ia tunggu sedari tadi.
Merasa di perhatikan, Leo pun duduk di hadapan kakek Edward. Sembari mengamati wajah kakeknya, yang sedari tadi terlihat begitu suram.
"Ada apa?"Tanyanya seraya menyeruput kopinya, yang telah disediakan oleh Sari.
"..." Diam dan tetap menatap Leo dalam-dalam, kakek Edward merasa enggan sekadar membuka mulutnya untuk menyampaikan unek-uneknya.
"Sikap kakek sekarang ini, apakah berkaitan dengan masalah dana pada proyek hotel di kota B?" Tanya Leo sekali lagi.
Dan benar saja tebakan Leo, dengan menghela nafas panjang, kakek Edward meregangkan otot-otot wajahnya yang terasa kaku.
"Kenapa kamu memilih pergi, hanya untuk mengurus urusan yang sepele seperti itu?" Tanya kakek Edward sembari turut menyeruput kopi hitamnya.
"Mau bagaimana lagi, mereka yang dikirim kesana saja tidak dapat melaksanakan tugas mereka dengan baik." Tutur Leo dengan santainya.
"Lalu, bagaimana dengan Lia?!" Seru kakek Edward.
"Dia kan sedang berada di kediaman mendiang papahnya, biarkan saja. Dia juga butuh ruang untuk dirinya sendiri." Ucap Leo seraya menyudahi acara minum kopinya.
"Bagaimana bisa punya anak, kalau kalian tidur tidak bersama seperti ini. Hhh.." Ujar kakek Edward dengan mengelus dadanya.
"Harapan kakek tidak banyak. Kakek hanya ingin mendapatkan cicit saja, tidak lebih. Alangkah baiknya, jika seorang anak laki-laki. Jadi kakek bisa dengan segera mengurus hak waris mu dan juga paman mu, Dwi. Tapi kenapa kamu susah sekali di aturnya. Jika tiba waktunya kakek tiada, kamu akan menyesal." Kata kakek Edward.
Akan tetapi, perkataan kakek Edward yang menggelegar itu, membuat dua orang yang hendak bertamu saat ini pun segera mengurungkan niatnya.
Raut wajah keduanya nampak tak senang, dengan pakaian mewah yang mereka kenakan, mereka terlihat begitu berkelas.
'Jadi, selama ini Leo di nikahkan paksa agar mendapatkan keturunan? Kenapa tidak bilang padaku? Kenaoa hanya bocah ingusan itu? Kenapa?!!' Batin pria di balik gorden yang menutupi tubuhnya, dengan mengepalkan kedua tangannya dengan perasaan geram memenuhi dadanya.
"Sialan!!" Umpat pria tersebut, yang sepertinya hendak bertamu saat ini. Yang tak lain dan tak bukan adalah Dwi, paman dari seorang Leonardo NusaJaya.
__ADS_1
"Tenanglah sayang." Ucap istrinya, Sinta yang nampak molek dengan gaun merah yang sepertinya sangat ia gandrungi.
Dengan memeluk lengan sang suami, Sinta terlihat manja-manja kucing di samping Dwi yang sepertinya tak ingin di ganggu saat ini.
"Lepas!!" Hardiknya dengan menepis tangan sang istri, yang telah menemaninya selama kurang lebih 5 tahun ini.
Membut Sinta tersungkur, dan menghantam lantai dengan keras.
"Jika saja kamu dapat memberiku keturunan, pasti hal seperti ini tidak akan terjadi pada hidupku!!" Bentaknya dengan melangkahkan kakinya, meninggalkan kediaman keponakannya, Leonardo NusaJaya.
Perkataan yang terucap langsung dari lisan sang suami, membuat hati Sinta bergetar. Tak kuasa menahan air matanya, Sinta segera mengusap wajahnya yang begitu cantik, layaknya dewi dengan sapuan kasar. Guna mengusap air matanya yang menetes.
Perih. Dadanya sesak dan tubuhnya terasa seperti di hujami riubuan jarum.
'Kenapa? Kenapa kamu baru bilang sekarang? Ke apa tidak tahun-tagun sebelumnya?' Batin Sinta.
Itulah yang ia rasakan. Setelah sekian lama menikah, mereka belum jua di karuniai seorang anak.
Tanpa mereka ketahui, jika hal tersebut adalah satu-satunya jalan, agar mendapatkan hak waris yang lebih banyak.
Umpatan dan cacian, serta pertikaian pun tak dapat terelakan lagi. Saat keduanya semakin memanas akibat argumen masing-masing, yang tak ingin dikalahkan.
***
Lia yang baru saja pulang dari panti asuhan Bintang, kini merebahkan dirinya di kasur.
"Capek juga ya." Ucapnya dengan perlahan.
"Kapan ya kita punya anak seperti mereka. Lucu banget. Mereka ketawa ketiwi dan lari-larian. Seperti nggak kenal lelah. Saya-" Perkataan Lia terputus saat ia baru menyadari, jika ia bukan di rumah tuan muda Leo.
Melainkan di rumah mendiang papahnya. Membuatnya tersenyum kecut, Lia merasa rindu terhadap sosok yang membuatnya benci akan keegoisannya beberapa hari yang lalu.
"Bisa-bisanya aku ngomong seperti itu, seolah-olah dia ada disini. Hhmm. Nggak.mungkin kan dia disini, awas aja kalau dia disini." Ucap Lia dengan memberika tinju ke udara.
"Bau.. Mandi aja dulu lah." Ucap Lia, dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
__ADS_1
***
"Apa-apaan. Memangnya kehadiran anak seperti bermain boneka? Langsung jadi gitu? Huh.. kekanak-kanakan." Ujar Leo dan meninggalkan kakeknya, yang hanya menatapnya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Usiamu sudah tidak muda lagi, kamu akan menua seperti kakek. Sekarang kamu bisa senang meski belum memiliki momngan. Tapi ingatlah ketika kamu menua kelak. Anak akan sangat berarti bagimu." Ucap kakek Edward yang meninggalkna ruangan itu jua.
Meninggalkan Leo yang tengah mencerna perkataan sang kakek barusan. Pandangannya sayu, melihat sang kakek yang semakin menua itu dari kejauhan.
Tubuh sang kakek yang masih tegap hingga hari ini pun membuat Leo terkagum. Kesetiaannya pada sang istri membuat Leo semakin kagum pada kakeknya itu.
"Bukan hanya anda, saya pun merindukan mereka juga. Sangat rindu, seandainya waktu dapat di putar." Mendengar perkataannya sendiri, membuat Leo teratawa sesaat. Sebelum akhirnya, air matanya turut menetes dengan di antara telapak tangannya yang sengaja ia letakkan di wajahnya.
Menutupi tangisnya dalam diam di ruangan itu seorang diri.
'Mah.. pah.. Adik.. Saya rindu..' Ungkapnya dalam hati, tak ingin terlena dengan perasaannya, Leo pun memilih untuk istirahat dan merebahkan tubuhnya di ranjang king size miliknya.
"Rindu, ya?" Ucapnya dan membalikka tubuhnya, menghadap tepat dimana biasanya sosok wanita yang selalu menemani malamnya itu berada.
Dengan menyesap aroma yang menempel dark bantal milik sng istri, Leo merasa kenyamanan yang telah lama ia tak rasakan.
"Rindu. Apakah.. kamu juga rindu?" Kata Leo sembari bergumam seorang diri.
Membenamkan wajahnya dan kembali menghirup aroma Lia dari bantal yang kini ia peluk dalam-dalam.
Sedangkan Lia, ia pun nampak memegang sapu tangan itu dan meletakkannya di dadanya.
Berbaring mengamhadap ke kiri, ia mwrasa seperti tengah berhadapan dengan pria yang dahulu sempat membuatnya naik pitam akan kearoganannya.
Dan Leo pun berbaring telungkup dengan kepala menghadap ke kanan, seakana-akan kedua insan itu tengah saling berhadapan.
Namun tempat dan jarak yang memisahkan keduanya. Tak terelakan, sepertinya rasa cinta itu tumbuh seiring dengan kerinduan yang kini mereka rasakan bersama.
Tatapan keduanya nampak lembut, dengan kenangan-kenangan yang terlintas di benak mereka.
Entah apa yang mereka fikirkan, hingga keduanya tertidur dalam mimpi yang indah. Dapat di lihat dari senyum keduanya, yang terukir di wajah mereka dalam sunyinya malam.
__ADS_1
Bersambung..