Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Kebijaksaan kakek Edward


__ADS_3

"Jangan karena kamu sekarang bisa hamil, jadi kamu bisa mengatur atur saya, ya. Kamu bahkan tidak pantas menyentuh saya sejengkal saja!! Kamu harus sadar diri, siapa kamu dan siapa saya!!" Serunya tanpa perduli lagi dengan tatapan Lia yang begitu syok akan perkataan Sinta kepadanya.


Lia yang melihat sendiri perlakuan Sinta kepadanya, seakan tak dapat mengatakan apa pun dan hanya membungkam mulutnya.


Sedangkan Leo beserta kakek Edward nampak syok melihat perilaku Sinta yang di tujukan kepada Lia.


"Apa apaan kamu, Sinta!!" Seru kakek Edward seraya menatap tajak ke arah Sinta yang tengah berdiri seraya menatap Lia dengan tatapan yang penuh amarah.


Namun segera setelah ia mendengar suara berat sang kakek yang menegurnya barusan, ia terperanjat dan seakan kembali kepada kenyataan akan apa yang telah ia ucapkan kepada Lia barusan.


Kedua bola matanya yang menggunakan soft pens berwarna biru muda pun nampak membulat dengan wajah yang terlahta pucat pasi.


'Mati aku. Apa yang sudah ku lakukan barusan. Sepertinya aku terlalu terbawa emosi. Lagian, ngapain juga sih perempuan kampung ini kebanyakan tanya. Uukhh.' Batinnya bergejolak sembari mengarahkan pandangannya kepada Lia yang menundukkan kepalanya.


"Kenapa kamu mengatakan hal memalukan seperti itu?" Ujar kakek Edward seraya megarahkan tatapannya yang memerah kepada Sinta.


"Kamu tahu jika kita adalah keluarga berada, golongan yang terhormat. Semua orang segan dengan namaa keluarga kita. Tapi yang barusan kamu katakan sama sekali tidak memcerminkan nama baik keluarga kita. Malah sebaliknya, ucapan yang baru saja kamu lontarkan kepada Lia telah memberi kesan buruk untuk keluarga dan juga perusahaan." Sambungnya seraya mengatur nafasnya yang tersengal sengal karena menahan amarah yang bergejolak di dadanya.


Sedangkan Sinta hanya diam saja tanpa mengalihkan pandangannya dari sepotong steak ukuran medium yang tersaji di hadapannya.


Wajahnya memerah, antara malu ataupun marah pun tak ada yang tahu isi hati dari wanita bermuka dua tersebut. Semua orang yang berada di ruangan itu hanya terdiam sembari mendengarkan dengan seksama perkataan demi perkataan yang di ucapkan sang kakek kepada Sinta. Tak ada yang berani membantah maupun menyela perkataan orang paling sukses di kota tersebut.


"Hhhh..." Menghela nafas, kakek Edward pun menatap Sinta dengan sorot mata yang tajam. Sedangkan yang di tatap hanya dapat menelan ludah dengan tangan yang sedikit gemetar, meskipun ia tak melihat jika kakek Edward tengah menatapanya karena pandangannya masih lurus menghadap ke bawah. Tapi ia sadar jika kakek Edward tengah menatapnya dengan tatapan seorang NusaJaya sesungguhnya. Sayu namun mematikan, sekujur tuhuhnya merinding karena tatapan itu seakan menusuk tubuhnya beribu ribu kali.


"Sebagai orang paling tua di rumah ini, saya harus bersikap netral. Karenanya saya tidak dapat menyalahkan siapapun itu." Mendengar pernyataan sang kakek barusan, membuat Leo dan Lia terperangah. Apakah kakek Edward yang terkenal dengan kebijaksaannya, serta kepemimpinannya yang solit telah pudah karena usianya yang mulai menua.


Hal itu pun spontan mendapat respon dari sang cucu, Leonardo NusaJaya yang merasa tak dapat menerima pernyataan sang kakek mentah mentah.


"Tapi, kek. Jelas jelas wanita itu telah menggunjingkan Lia di hadapan anda secara terang terangan. Tapi kenapa anda malah berkata seperti itu dan tidak koperatif. Seharunya anda tahu betul keputusan apa yang harus anda ambil." Seru Leo dengan gegabah ia berdiri dari kursinya dan mencondongkan tubuhnya.

__ADS_1


Perasaan yang tidak adil ia terima pun mulai bergejolak di dadanya, amarah yang sekian lama ia pendam pun seakan berkobar pada hari ini.


"Tenanglah, Leo." Ucap kakek Edward pelan.


"Bagaimana saya bisa tenang, sedangkan anda tidak membuat keputusan yang adil bahi kami, terutama kepada Lia." Jawab Leo seraya menyipitlan kedua matanya seraya melirik Sinta yang belum nergeming dari posisinya semula.


"Saya belum selesai bicara, Leo. Cobalah untuk menahan emosi mu sejenak, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah. Apakah kamu akan mendidik anak mu dengan emosi seperti itu? Menjadi orang tua hukanlah hal yang mudah. Karenanya sebagai orang yang lebih tua saya pun haris bijak dalam mengambil keputusan. Pahamilah situasi saat ini dan ambil kesimpulannya dengan kepala dingin." Ucap kakek Edward sembari kembali menyeruput kopinya.


Suasana teeasa hening sesaat tanpa ada yang mengangkat bicara maupun menyantap hidangan yang kini tengah dingin seutuhnya.


Tak tahan lagi, Leo pun ambil suara. "Jadi, bagaimana keputusan anda. Apa yang akan anda lakukan kepada wanita itu?" Ucapnya pelan namun tegas.


Melihat situasi semakin goyah, Lia pun tak ingin sesuatu yang buruk menimpa keluarga ini. Ia hanya ingin menjalani kehidupan di rumah ini dengan baik baik saja. Meskipun ia tahu, bahwa ketenangan tidak akan pernah ada dalam kehiduapn ini.


"Sudahlah, kek, mas Leo. Saya tidak apa apa. Toh bibi Sinta hanya mengutarakan isi hatinya saja. Entah bibi Sinta berkenan atau tidak dengan pendapat saya, saya tidak pernah merasa keberatan sama sekali. Jadi saya mohon, masalah seperti ini jangan terlalu di besar besarkan." Ucap Lia dengan menyentuh lengan Leo dan memberikan senyuman terbaiknya kepada pria matang di sampingnya tersebut.


Hati suami mana yang tidak meleleh mendapatkan sentuhan dan senyuman memanja dari sang istri, terrutama mereka adalah pemgantin baru. Sudah pasti tentu saja Leo tak dapat menolak perkataan Lia kepadanya barusan.


Namun hal itu di ketahui oleh para pelayan yang berada di dalam dapur rumah tersebut, dimana letaknya tepat berhadapan langsung dengan Leo kini berada.


Sontak hal tersebut membuat para pelayan terkekeh kecil mengetahui sang tuan muda angkuh, arogan dan dingin sedingin es itu dapat bersemu karena mendapat perlakuan sekecil itu dari seorang gadis biasa seperti Lia saat ini.


"Hihihi.." Kekeh Sari pelan namun masih dapat tersengar oleh Leo.


Sedangkan Eneng dan juga beberapa pelayan lainnya hanya bergumam riang.


"Ya ampun, tuan muda kita bisa merona juga ya." Ujar Eneng.


"Iya. Imut banget sih mereka. heheh." Lanjut beberapa pelayan yang turut meramaikan kejadian sesaat barusan.

__ADS_1


Namun pujian dan kekehan kecil membuat suasana di dapur sedikit ribut pun sukses menjadi sunyi seperti kuburan, karena hal tersebutlah mereka sukses mendapatkan tatapan mematikan dari tuan muda mereka.


"Apa yang kalian bicarakan? Kembali kerja!! Gosip aja!!" Seru Leo berusaha setegas mungkin, meskipun ia gagal total menutupi semburat merah pada wajahnya yang semakin memerah seperri semangka.


Bukannya takut dan ngeri, para pelayan termasuk Eneng dan Sari pun hanya membubarkan diri sembari tetap berkekeh riang. Sedangkan Leo hanya geleng geleng kepala melihat pelayan yang berada di rumahnya memiliki sikap seperti itu kepadanya.


Sedangkan Irfan yang melihat hal tersebut hanya diam saja, seakan tidak tertarik akan hal hal semacam itu.


Namun sosoknya yang berdiam diri sembari menyenderkan punggungnya di tembok antara ruang makan dengan dapur pun menarik perhatian Eneng sesaat.


Seperti terbius oleh pesona sang arjuna bernama Irfan, Eneng tak dapat memalingkan pandangan matanya dari sosok tersebut.


Membuat jantungnya berdegup kencang, bekerja ektra dengan memompa darah lebih cepat ke kepalanya . Hingga sukses membuat wajahnya memerah saking terperangah oleh pesona yang si suguhkan oleh pria dambaannya.


"Ehem." Deheman dari Sari sontak membuyarkan lamunan Eneng akan buaian rasa sukanya kepada Irfan.


"A-apa?" Tanya Eneng seraya menutupi wajahnya yang memanas dengan telapak tangannya.


"Nggak apa apa." Jawab Sari dengan menyunggingkan senyumannya.


Sekarang kita kembali di situasi yang canggung di meja makan bersama keluarga NusaJaya saat ini.


"Tadi saya mengatakanbahwa sebagai orang tua di keluarga NusaJaya saat ini,jsudah sepantasnya jika saya harus bersikap netral. Karena saya memilih Sinta untuk meminta maaf kepada Lia atas apa yang kamu ucapkan barusan kepadanya." Tutur kakek Edward seraya menatap Sinta, kali ini tatapannya lebih serius dari sebelumnya.


"Apa?!" Seru Sinta seketika, ia mendongakkan kepalanya. Menatap tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


Jika respon Sinta saja seperti itu, apakah ia sudi meminta maaf kepada Lia secara blak blakkan?


Kalau pun ia meminta maaf, apakah ia bersungguh sungguh.?

__ADS_1


Atau hanya mencari celah untuk kembali menaklukkan Leo dan menjadi ahli waris seutuhnya?


Bersambung...


__ADS_2