
Disela kesibukannya, Adelia yang sedari pagi belum menunjukkan batang hidungnya sempat membuat beberapa pelayan khawatir.
"Dimana nyonya Lia?" Tanya mbok Yem yang merupakan kepala pelayan tersebut.
"Sepertinya masih dikamarnya, mbok." Jawab Sari.
"Segera panggil. Sudah waktunya makan siang. Jangan bilang dia sakit." Titahnya ketus membuat Sari segera menuju kamar yang terletak cukup jauh dari dapur.
Ketika tiba diruangan yang dituju, Sari terkejut tak mendapati Lia diruangan itu.
"Eh. Kemana perginya nyonya? Waduh. Jangan bilang nyonya kabur." Gumamnya dan pergi mencati disetiap ruang di rumah tersebut.
"Nyonya.. Nyonyaa.. Anda dimana?" Serunya dengan cukup nyaring. Membuat Mbok Yem segera menghampirinya dan memukul bahunya.
"Aduh. sakit, Mbok." Rintih Sari dan memegang bahunya.
"Kamu kenpa teriak-teriak? Memangnya ini pasar malam apa?" Hardik mbok Yem. Membuat Sari mencibirnya bibirnya.
"Habisnya, nyonya Lia tidak ada dikamarnya. Siapa yang nggak panik."Jawabnya.
"Apa?! Tidak ada dikamarnya? Ayo segera cari. Bisa gawat kalau wanita itu kenapa-kenapa." Ujar mbok Yem dan memerintahkan beberapa pelayan serta security untuk mencarinya.
Irfan yang kebetulan lewat pun menyadari akan hal tersebut.
"Ada ribut-ribut apa di siang hari gini?!" Ucapnya santai.
"Begini, nyonya Lia nggak ada di kamarnya. Kami sudah mencarinya kemana-mana tapi nggak ketemu. Kami khawatir jika nyonya kenapa-napa." Jawab Sari disusul anggukan beberapa pelayan disampingnya.
"Apa?!" Seru Irfan dan segera bergegas melangkahkan kakinya, menelusuri beberapa ruangan yang ternyata tidak terdapat sosok yanh tengah dicari.
'Kemana perginya wanita itu? Bisa gawat jika tuan muda mengetahui hal ini.' Batinnya dan tepat saat ia membuka pintu bekas kamar Lia, saat itu pulalah sosok yang tengah membuat geger rumah tersebut berada.
"Apa yang anda lakukan disini?" Tanyanya kepada Lia yang kini tengah bersujud, menghadap kolong ranjang bekas kamarnya.
Terkejut, Lia refleks mengangkat kepalanya tanpa memeriksa sebelumnya ada ranjang diatasnya. Sontak membuat kepalanya terjedot kayu ranjang tersebut.
DUK!!
"Aduh!!" Serunya sambil memerang kepalanya yang nampak benjol karena benturan tersebut.
"Pfft.." Irfan yang melihat hal itu pun, hanya menahan tawa menyaksikan Lia yang kini tengah meringis.
Lia yang menyadari hal itupun kemudian berdiri dan menghampiri Irfan.
"Ketawa aja. Bukannya bantuin malah ketawa." Ucap Lia seraya memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Hm. Memangnya apa yang sedang anda lakukan?" Tanya Irfan yang berusaha tenang kembali.
"Aku mencari sebuah sapu tangan. Apa kamu ada melihatnya?" Ucap Lia dan tanpa sadar mencondongkan tubuhnya kepada Irfan.
Sontak membuat Irfan mundur satu langkah dan segera memalingkan wajahnya.
"Entahlah. Saya tidak melihatnya. Tapi jika saya melihatnya, akan saya kabari." Ujarnya dan pergi meninggalkan Lia seorang diri.
Disaat bersamaan dengan Irfan yang menghilang dari balik pintu, hadirlah Sari yang kini muncul dari balik pintu itu.
Dengan mata memerah dan wajah basah serta keringat yang membasahi tubuhnya, Sari segera menghampiri nyonyanya.
"Anda dari mana saja, nyah? Kami mencari anda kemana-mana." Ujarnya dengan nafas ngos-ngosan.
"Ya ampun. Maaf sudah merepotkan. Aku dari tadi disini saja kok, Sari." Ucap Lia.
"Saya kira anda kabur." Lanjut Sari.
"Tidak. Saya tidak akan pergi kemana-mana." Ucap Lia dan membuat Sari bernafas lega.
"Oiya Sar. Apa kamu ada lihat sapu tangan saat membersihkan ruangan ini? Terutama di laci meja itu?" Tanya Lia sembari menunjuk ke sebuah meja yang terletak tak jauh dari ranjang ruangan tersebut.
"Sapu tangan? Nah. Maaf, nyah. Saya tidak lihat. Coba nanti saya tanyakan kepada pelayan lainnya." Jawab Sari sambil menggelengkan kepalanya.
Tanpa sapu tangan tersebut, Lia sudah mulai cemas akan hal-hal yang dapat membuatnya frustrasi.
"Sudah waktunya makan siang, nyah. Anda sebaiknha segera keruang makan." Ucap Sari seraya membungkukkan tubuhnya tanda undur diri.
"Iya. Terimakasih." Sahut Lia lemas.
Dengan langkah lunglai, Adelia menuju ruang makan seperti tak ada nyawa diraganya.
Namun itu semua sirna dalam sekejap, saat ia melihat seorang wanita dengan perawakan yang luar biasa cantiknya.
Wanita yang ia kenal dengan sebutan bibi itupun tersenyum sumringah, dengan memamerkan deretan gigi-giginya yang putih berjejer rapih.
"Bibi!!" Seru Lia dan bergegas menuruni anak tangga menghampiri wanita tersebut.
"Apa kabarmu, Lia?" Tanyanya.
"Kabar saya baik saja. Bagaimana dengan bibi?" Balas Lia dengan senyum yang mengambang diwajahnya.
"Kabarku baik juga. Duh. Jangan manggil bibi melulu dong. Akukan punya nama." Singgung wanita itu dengan nada menggoda.
"Iya ya. Maaf. Bibi Sinta." Ucap Lia polos.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, apa yang membuat anda mampir kemari?" Tanya Lia dan duduk disofa ruang tamu tepat berhadapan dengan Sinta.
"Aku dengar kakek tinggal disini ya. Karena itu akupun ikut kesini." Jawabnya dan mengedarkan oandangannya menyusuri bangunan yang terlihat kokoh itu.
"Iya. Kakek tinggal disini sejak kemarin. Hari ini beliau ada rapat besar. Karena itu beliau masih dikantor saat ini." Ucap Lia dan menyodorkan cangkir berisi teh yang telah disajikan oleh Sari.
"Lalu Leo belum pulang?" Tanyanya sekali lagi.
"Iya. Bo- Eh mas Leo masih dikantor juga saat ini. Ada apa ya, bi?" Jawab Lia sekenanya.
"Berarti, hari ini cuma kamu saja dirumah?" Tanya Sinta dan menatap wajah bingung Lia karena ditatap demikian.
"Iya sih." Jawab Lia lagi.
"Kalau gitu, apa kamu mau jalan-jalan?" Ajak Sinta dan tanpa ragu, Lia pun mengangguk mantap dengan senyuman lebar di wajahnya.
"Iya. Saya mau. Sudah lama sekali saya tidak jalan-jalan. Sumpek juga dirumah terus. Sebentar ya bi. Saya izin kepada mas Leo dulu." Jawabnya dan mengambil ponselnya.
Dengan segera, Sinta pun meraih ponsel tersebut. "Nggak usah. Dia pasti mengerti. Toh kamu jalannya sama aku juga kan." Ucap Sinta dan segera menyeret Lia menuju mobilnya.
***
Leo segera melajukan mobilnya setelah menyelesaikan rapat besar yang baru saja usai.
Dengan hati gembira yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, ia segera memasuki kediamannya.
Tatapannya mengelilingi ruangan kamar miliknya. Namun sosok yang ia cari tak ia temukan.
Dengan langkah seribu, ia pun memanggil kepala pelayan dan seliruh lelahan yang ada.
"Dimana wanita itu?" Tanyanya dingin.
Dapat mereka rasakan aura dingin menyeruak dari tubuh majikan mereka.
Dengan terbata-bata, Mbok Yem segera menyahut pertanyaan tuan muda yang kini tengah menatap tajam kearahnya.
"Maaf, tuan muda. Nyonya Lia tadi keluar bersama dengan nyonya Sinta." Jawan mbok Yem dan sontak hal tersebut membuat Leo naik pitam.
BRAK!!
Sebuah gebrakan mengenai meja ruag tamu itu. Dengan mata merah menyala, Leo segera bergegas pergi meninggalkan rumah tersebut.
"Jika terjadi sesuatu kepadanya, saya tidak akan segan-segan kepada kalian!!" Ancamnya sontak membuat seluruh pelayan yang ada dirumah tersebut menggigil ketakutan.
Bersambung..
__ADS_1