Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Cemburu Revan


__ADS_3

Setelah hampir 4 jam akhirnya meeting itupun terselesaikan. Kedua perusahaan sudah membuat keputusan untuk melakukan kerja sama dalam menjalankan proyek besar ini dan tinggal membuat kontrak kerja untuk ditanda tangani oleh kedua direktur tersebut.


Terlihat adanya sorot kepuasan dari wajah Leon namun berbeda dengan raut wajah Revan yang sedari tadi masih saja masam setelah melihat keakraban Sierra dengan Leon tadi.


Sierra yang menyadari itupun berkali-kali menghembuskan nafas panjang. Bagaimana cara Sierra menjelaskan situasi ini kepada Revan nanti? Itulah yang sedari tadi dipikirkan oleh Sierra sampai ia kehilangan fokus untuk meeting itu.


“Sepertinya sekarang sudah masuk jam makan siang. Bagaimana jika kita makan siang bersama direktur Revan?”. Ucap Leon yang melihat Vino dan Sierra sudah membereskan file-file yang dibawa oleh mereka.


“Terima kasih atas tawarannya direktur Leon. Namun mohon maaf saya belum bisa menerima tawaran itu karena masih ada yang harus kita lakukan lagi setelah ini”. Revan berusaha memberikan senyumannya. Walaupun senyuman itu terlihat begitu dipaksakan.


“Sepertinya kalian sangat sibuk hari ini. Baiklah kita akan makan siang dilain hari saja direktur Revan”.


Revan menganggukan kepalanya. “Baiklah. Terima kasih direktur Leon. Kalo begitu kami undur diri”.


Revan bangun dari duduknya yang diikuti oleh Sierra dan juga Vino. Lalu tanpa diduga Revan langsung menggandeng tangan Sierra yang membuat Sierra mematung untuk kesekian kalinya. Astaga situasi macam apa saat ini?.


Revan yang menyadari Sierra yang tidak mengikuti langkahnya langsung menatap Sierra tajam. “Kenapa kamu diam saja? Masih mau berlama-lama disini?”. Ucap Revan sinis.


Sierra mengelengkan kepalanya. “Tidak direktur Revan. Maafkan saya”. Jawab Sierra cepat.


Revan pun melanjutkan langkahnya kembali untuk keluar dari rungan meeting itu yang diikuti oleh Vino dibelakangnya. Namun langkah Revan kembali terhenti ketika Revan mendengar suara seorang lelaki memanggil nama Sierra.


“Sekretaris Sierra. Jika direktur Revan tidak bisa makan siang dengan saya bagaimana jika kamu saja yang menggantikannya?”. Tanya Leon dengan berani.


Revan pun membalikan badannya. Lalu Dia menatap Leon dengan dingin. Tidak berusaha ramah dan penuh senyuman seperti sebelumnya. Mungkin saat ini Revan sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.


“Maaf direktur Leon. Tetapi sekretaris saya juga tidak bisa menggantikannya. Jika anda mau, anda bisa makan siang dengan asisten saya”. Revan semakin mempererat genggaman tangannya.


Leon pun tertawa. “Haha tidak perlu direktur Revan. Karena yang saya butuhkan adalah sekretaris Sierra bukanlah asisten Vino. Atau bagaimana jika kamu memberikan nomor ponselmu Sierra. Biar saya bisa mengajakmu makan bersama dilain hari”. Leon menghampiri Sierra dan memberikan ponselnya kepada Sierra. Sierra pun hanya menatap ponsel itu dalam diam.


“Maaf direktur Leon. Tetapi nomor sekretaris saya adalah hal yang pribadi dan tidak bisa disebar luaskan. Jika anda membutuhkan sesuatu anda bisa langsung mengubungi asisten Vino saja”. Untuk kesekian kalinya Revan menolak.


“Sepertinya posisi sekretaris Sierra berbeda dari yang lainnya. Baiklah kalo begitu saya akan memberikan kelengkapan persyaratan kerjasama kita kepada asisten Vino. Sampai jumpa direktur Revan, sekretaris Sierra dan asisten Vino”. Leon berjalan meninggalkan ruangan itu yang diikuti oleh sekretarisnya dari belakang. Dan Sierra hanya bisa menatap kepergian Leon dalam diam.


“Sepertinya kamu tidak sepolos yang saya pikirkan Sierra. Kamu benar-benar pandai menggoda pria yang kaya raya”.


Revan melepaskan gengaman tangannya dan berjalan pergi. Sedangkan Vino yang melihatnya hanya bisa menghembuskan nafas panjang.


“Nona Sierra sepertinya anda sudah membuat kesalahan yang sangat besar. Pikirkanlah cara agar direktur Revan bisa memaafkan anda”. Ucap Vino sebelum berjalan pergi menyusul Revan. Sierra pun hanya bisa menarik nafas yang dalam.


“Mengapa aku yang harus kena marahnya? Aku tidak membuat kesalahan apapun. Yang salah itu Leon berbicara seenak saja sehingga membuat orang lain salah paham. Hah benar-benar mengesalkan”. Gerutu Sierra sambil berjalan mengejar Revan dan Vino yang sudah meninggalkannya.


Kini Sierra, Revan dan Vino sudah berada didalam mobil sedan hitam itu kembali. Sierra yang melihat Revan masih memberikan aura menyeramkan berusaha bernegosiasi dengan Vino agar bisa bertukar tempat duduk karena merasa sangat tidak nyaman berada didekat Revan.


Nanum Vino yang memang dasarnya mempunyai sifat kepala batu seperti Revan langsung menolak permintaan Sierra tanpa belas kasihan. Bahkan Vino berkali-kali menyuruh Sierra untuk meminta maaf kepada Revan dan memikirkan cara untuk bisa meluluhkan hatinya. Hingga akhirnya inilah Sierra yang sudah duduk disamping Revan dengan tegang tanpa berani menatap Revan ataupun berbicara dengannya.


“Nona Sierra. Bukankah anda ingin mengatakan sesuatu kepada direktur Revan?”. Ucap Vino yang merasakan aura dingin didalam mobil itu. Tetapi dingin itu bukan dikarenakan ac mobil tetapi dingin dikarenakan seseorang yang menahan amarah.

__ADS_1


“Asisten Vino mengapa kamu harus mengatakannya sekarang. Aku belum memikirkan gimana caranya!”. Sierra menatap Vino kesal.


“Anda harus melakukannya sekarang nona Sierra. Karena jika tidak, saya tidak akan bisa mengemudikan mobil ini. Harap pikirkan caranya secepatnya”. Vino tidak memperdulikan kekesalahan Sierra.


Sierra memutar bola matanya. Kebiasaan yang sering dilakukannya jika sudah menahan rasa kesal yang teramat dalam. Dan kebiasaan yang selalu membuat Revan habis kesabaran jika melihatnya.


“Vino. Kamu turun sekarang juga!”. Revan mengatakan dengan nada tinggi.


Vino yang tahu bahwa sebentar lagi direkturnya itu akan meledakan amarahnya segera turun dari mobil itu sebelum Dia ikut terlibat. Dan kini hanya tersisa Sierra lah didalam mobil itu yang sudah mulai gemetaran dan berkeringat dingin.


“Kamu. Kamu. Kamu. Benar-benar menguji kesabaran saya ya Sierra”. Ucap Revan yang kini sudah memegang dagu Sierra dan membuat Sierra langsung melihat tatapan tajam Revan dari jarak yang begitu dekat. Sungguh benar-benar menakutkan.


“Maafkan aku Revan. Maafkan aku. Aku akan menjelaskan semuanya. Ini hanyalah salah paham. Tidak seperti yang kamu pikirkan”. Sierra berusaha mengeluarkan suaranya.


“Memangnya kamu tahu apa yang sedang saya pikirkan saat ini hah!”. Revan sedikit membentak.


“Revan tenanglah. Sungguh kamu harus mendengarkan penjelasanku dulu”.


“Apa yang mau dijelaskan lagi!. Saya tidak butuh penjelasanmu!”.


Sierra yang tahu bahwa saat ini Revan sudah benar-benar marah hanya bisa terdiam. Sierra tahu bahwa kata-katanya tidak akan didengarkan Revan dan hanya akan membuat Revan semakin marah. Karena itulah Sierra harus memikirkan cara lain untuk bisa menenangkan Revan tetapi tidak dengan menggunakan kata-kata.


Lalu sebuah idepun terlintas dipikiran Sierra. Dengan sedikit ragu Sierra pun menatap mata tajam Revan itu dan perlahan mendekat kearahnya. Hingga akhirnya kini Sierra pun sudah memeluk Revan dengan erat.


“Tenangkan dirimu Revan. Jangan terbawa emosi”. Bisik Sierra ditelinga Revan.


“Kamu harus mendengarkan penjelasanku Revan. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Leon sungguh. Aku juga bertemu dengannya tidak sengaja saat dibandara kemarin ketika aku mau menyusulmu. Aku yang baru pertama kali menaiki pesawat sangat kebingungan hingga tanpa sengaja menabrak Leon dan Leon yang kebetulan menaiki pesawat yang sama denganku langsung membantuku. Hanya itu saja”. Sierra menjelaskan.


Revan masih saja terdiam. Dia tidak memberikan tanggapan apapun. Sepertinya amarah Revan sudah sedikit berkurang.


“Aku juga tidak tahu akan bertemu dengan Leon kembali. Bahkan aku tidak tahu bahwa Leon adalah direktur JW Group yang akan meeting dengan kita. Pertemuanku dengan Leon tidak disengaja Revan. Dan bagiku Leon hanyalah orang asing yang tidak dekat denganku". Sierra melanjutkan kata-katanya.


"Tapi kalo kamu memang tidak dekat denganya mengapa Leon bisa sampai berbicara masalah jodoh segala? Apalagi Leon sampai mengajakmu makan siang bersama dan meminta nomor ponselmu?". Revan membuka suara. Namun kali ini suaranya sudah lembut seperti biasanya tidak penuh emosi seperti sebelumnya.


"Aku tidak tahu Revan. Aku juga kaget saat mendengarnya tadi. Mungkin Leon hanya iseng ingin menggodaku saja".


Revan melepaskan pelukan Sierra. Lalu Revan menatap Sierra. Dengan tatapan yang bersahabat. Tidak dingin, tajam dan menakutkan sepeti tadi. Bahkan aura seram Revan kini sudah menghilang.


"Tidak mungkin Sierra. Saya sangat kenal Leon itu orang yang seperti apa. Dia tidak suka menggoda wanita begitu saja. Dan jika Dia mendekati seorang wanita itu tandanya Dia serius dengan wanita itu".


"Meskipun begitu tetap saja Leon adalah orang asing bagiku Revan. Orang asing yang tidak sengaja bertemu dan membantuku. Tidak lebih dari itu".


"Sierra bisakah kamu berjanji pada saya?". Ucap Revan yang sudah menggengam tangan Sierra.


Sierra mengangukan kepalanya. "Tentu saja".


"Berjanjilah jika Leon nanti meminta nomor ponselmu jangan pernah kamu berikan. Dan jika Leon mengajakmu makan bersama kamu harus menolaknya dengan tegas. Kamu jangan memberikan kesempatan kepada Leon untuk bisa mendekatimu".

__ADS_1


"Iya Revan. Aku akan melakukannya. Kamu tidak perlu khawatir".


"Dan saya juga ingin kamu merubah cara panggilanmu kepada Leon. Saya tidak suka jika kamu memanggilnya dengan akrab seperti itu. Kamu harus memanggilnya direktur Leon bukan hanya namanya saja"


Sierra mengangukan kepalanya kembali. "Baiklah aku mengerti. Jadi sekarang kamu jangan marah lagi ya. Marahmu benar-benar menakutkan Revan"


Revan tersenyum. Lalu Revan mengelus rambut panjang Sierra dengan lembut. "Saya marah karena saya tidak suka kamu dekat dengan lelaki lain. Apalagi lelaki itu adalah Leon. Jadi mulai sekarang kamu tidak boleh dekat dengan lelaki manapun lagi. Atau aku akan marah lebih besar dari sekarang".


"Tidak, tidak. Aku tidak akan pernah dekat dengan lelaki manapun Revan. Aku hanya akan dekat denganmu saja".


"Bagus. Kamu harus menepati kata-katamu itu. Oiya tapi kamu harus tetap mendapatkan hukuman dariku karena kamu sudah melakukan dua kesalahan sekaligus".


"Apa? Dua kesalahan? Aku hanya melakukan satu kesalahan saja Revan".


"Dua Sierra. Pertama kamu membuatku marah dengan keakraban kamu dengan Leon. Kedua kamu sudah memutar bola matamu yang jelas-jelas saya sangat tidak menyukainya. Jadi kamu sudah tahu kan hukuman seperti apa yang akan kamu dapatkan dari kesalahanmu yang double itu?".


Sierra menghembuskan nafas panjang. Sial kenapa Sierra bisa melakukan dua kesalahan sekaligus. Dan kenapa Sierra tidak sadar bahwa ia sudah memutar bola matanya dihadapan Revan?.


Jelas-jelas Sierra sudah tahu bahwa Revan tidak menyukai itu tapi kenapa Sierra selalu saja melakukannya dengan tidak sengaja dan mengulanginya?. Sepertinya otak Sierra memang sudah benar-benar tidak berfungsi karena bisa melupakan hal itu. Hah bersiaplah Sierra untuk bisa merasakan hukuman seperti pagi tadi.


"Apakah hukumannya tidak bisa diganti Revan? Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya. Bisakah kamu memberikan keringanan padaku?". Sierra berusaha memohon.


"Kamu pilih Sierra. Untuk melakukannya sekarang atau malam nanti dikamar?". Revan tersenyum penuh arti.


Sierra menatap Revan sebal. Lelaki ini benar-benar tidak bisa memberikan ampunan jika menyakut masalah kepuasan dirinya. Tidak bisa memberikan toleransi jika menyangkut keuntungan untuk dirinya. Dan meskipun Sierra memohon berkali-kali pun hanya akan sia-sia.


"Baiklah. Aku akan melakukannya sini". Sierra pasrah.


"Kalo gitu kamu yang harus mencium saya lebih dulu".


Mata Sierra membulat. Apakah urat malu Revan sudah benar-benar putus? Apakah otak Revan hanya berisi hal-hal mesum seperti itu? Apakah logika Revan sudah hilang?. Bagaimana mungkin Revan bisa menyuruh seorang wanita untuk menciumnya lebih dahulu? Padahal seharusnya hal seperti itukan dilakukan seorang lelaki.


"Mengapa aku? Bukankah seharusnya kamu yang melakukannya Revan? Tadi pagi saja kamu kan yang melakukannya?"


"Tidak bisa. Hal itu tidak berlaku untuk masalah saat ini. Karena kamu sudah membuat saya sangat kesal. Jadi kamu yang harus melakukannya. Ayo sini cepat".


Sierra menarik nafas yang dalam. Sierra pun harus menuruti permintaan konyol Revan itu walaupun tentu saja Sierra enggan untuk melakukannya. Tetapi untuk bisa menyenangkan kekasihnya. Menyenangkan direkturnya. Untuk bisa menebus kebaikan Revan. Dan untuk bisa menepati janjinya sebagai pacar Revan maka ia harus melakukannya.


Perlahan Sierra pun mendekatkan wajahnya kearah Revan. Lalu Sierra mencium bibir Revan dengan lembut dan melepaskannya. Terlihat ada rasa kemenangan diwajah Revan.


"Nah gitu dong nurut. Kan saya senang". Revan mengelus rambut Sierra kembali sebelum akhirnya Dia berjalan keluar dari mobil untuk memanggil Vino.


Sierra yang berada didalam mobil itupun hanya bisa mematung. Ini adalah pertama kalinya ia mencium seorang lelaki terlebih dahulu. Rasanya begitu manis, lembut dan membuat debaran jantungnya menjadi tidak beraturan.


"Astaga mengapa aku menjadi seperti ini? Aku selalu saja jatuh dalam godaanya. Dan aku selalu saja tidak bisa menahan nafsuku dan perasaanku? Apakah tanpa sadar aku sudah memiliki perasaan kepada Revan? Tapi mengapa harus dengan lelaki playboy itu yang pasti akan menyakitiku?." Sierra pun dibingungkan dengan perasaannya sendiri.


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2