
"Bagaimana perkembangan kasus dana pembangunan hotel di kota B?" Suara berat itu membuyarkan lamunan para bawahannya, yang kini berada di kursinya masing-masing.
Dengan lantang dan tegas, seorang Leonardo NusaJaya, menghardik habis-habisan seluruh karyawan yang tengah bercucuran keringat dingin.
"Bagaimana bisa kita kecolongan dana sebesar ini?! Kalian di gaji bukan hanya untuk bercengkerama dan bergosip saja!! Dasar tidak berguna!!" Seru Leo seraya membanting sebuah dokumen yang sedari tadi ia genggam.
Seperti singa tidur yang tengah di ganggu, amukan Leo barusan jelas membuat seluruh manusia di ruangan tersebut tak berkutik.
'Mampus dah kita.' Batin salah seorang karyawan disana.
'Benar-benar mengerikan.'
'Semoga aku masih bisa hidup.'
'Apa mau pulang huhuhu..'
Begitulah isi hati para karyawan yang duduk di hadpaan seorang Leonardo NusaJaya tersebut. Dengan menundukkan kepalanya, mereka seperti tikus yang tertangkap basah mencuri sebuah keju.
"Siapa dalang dari semua ini? Apakah sudah terungkap?" Tanyanya dengan mata yang memerah dan sorot mata tajam.
"Ma-maafkan ka-kami, tu-tuan muda. Ta-tapi, untuk sa-saat ini kami be-belum mengetahuinya. Kami sudah melakukan penyelidikan terhadap seluruh karyawan di kota B. Tapi hasilnya nihil. Ma-maafkan kami sekali lagi, tuan." Jelas seorang pria dengan kacamata tebal bertengger di wajahnya.
Ia nampak menunduk dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya.
BRAKK!!!
"Tidak berguna!! Kalian tahu berapa banyak kerugian yang kita alami akibat keteledoran dan kecerobohan kalian?!!" Bentak Leo dengan menggebrak meja tersebut.
Membuat mereka yang melihatnya semakin bergidik, pasalnya mereka masih sayang dengan nyawa mereka sendiri.
"Ma-maafkan kami, tuan muda." Sekali lagi, mereka mengucapkan kalimat itu dengan membungkukkan tubuh mereka secara bersamaan.
"Minta maaf saja tidak cukup. Kalian akan mempertanggung jawabkan perbuatan kalian." Ujar Leo dengan raut wajah datar, namun penuh dengan tipu daya yang terpancar di sorot matanya.
Entah apa yang tengah ia fikirkan, tapi sepertinya bukan hal baik bagi seluruh manusia di ruangan tersebut, yang kini saling pandang satu dengan lainnya.
"Ma-maksud tuan muda apa, ya? Maaf, kami kurang paham." Tanya salah seorang dari mereka.
"Saya yang akan menyelidiki kasus ini. Dan kalian yang menangani sengketa lahan kota C. Saya rasa itu cukup. Meeting selesai. Silahkan keluar." Ucap Leo dengan membalikkan tubuhnya dan hendak keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Tu-tuan muda, sengketa lahan di kota C sepertinya sudah tidak dapat di ganggu gugat. Mereka telah menang sidang." Ujar pria kacamata tebal tersebut.
Bukan Leonardo NusaJaya jika ia kalah dalam suatu urusan.
"Siapa bilang mereka menang? Mereka yang tidak tahu jika mereka bukanlah pemilik sah lahan tersebut. Mereka melewatkan satu hal dalam sidang waktu itu." Jelas Leo dengan menatap tajam pria di hadapannya.
"Kalau boleh tahu, a-apa itu tuan?" Tanyanya dengan segan.
"Cari tahu sendiri." Ucapnya dingin dan segera berlalu meninggalkan mereka yang nampak pucat pasi.
"Keterlaluan!! Bagaimana bisa orang seperti itu menjadi bos kita!!" Seru seorang pria dengan membanting dokumen yang ia genggam.
"Tenanglah. Kita pasti bisa menghadapi ini semua." Ucap seorang wanita dengan menyentuh pundak pria tersebut.
"Seharusnya yang berada di sini adalah tuan Dwi. Kenapa harus bocah ingusan itu? Usianya saja sepantaran dengan anakku. Huuh.." Ucapnya lantang, tanpa menyadari jika di balik pintu itu masih berdiri Leonardo NusaJaya denagn seringai di wajahnya.
'Dasar manusia-manusia munafik.' Batinnya dan berlalu diiringi Angga yang mengekor.
"Apa anda yakin meninggalkan perusahaan dan menyelesaikan kasus dana di kota B?"Tanya Angga yang berusaha menyeimbangkan laju langkahnya.
"Tentu saja." Ucapnya singkat.
Sesaat ia terdiam dengan tatapan wajah datar, membuat Angga khawatir dan menghampirinya.
"Jangan beritahu dia. Sekarang dia sedang di kediaman almarhum papahnya. Beri dia ruang untuk menenangkan diri dari depresi." Jelas Leo.
"Tapi jangan lupa, berikan ajudan terpercaya untuk terus memantaunya." Sambung Leo dan kembali melangkahkan kakinya.
"Baik, tuan muda Leo." Jawab Angga dan menatap punggung Leo dari kejauhan.
"Lagi berantem kayanya. Hehehe. Imutnya pasangan itu." Gumamnya sebelum turut menyusul Leo yang nampak semakin jauh.
****
Lia berdiri tepat di sebuah gerbang panti asuhan, sebuah gedung tua yang bertuliskan Panti Asuhan Bintang.
Lia saat ini yang mengenakan pakaian kemeja berwarna putih dengan lengan panjang yang di gulung, serta celana levis panjang berwarna biru muda dan sepatu kets putih yang menyeimbangkan penampilannya saat ini.
Tak begitu norak, tak begitu mewah tapi terlihat anggun dan elegan. Dengan balutan tas slempang yang menambah kecantikan alami wanita pemilik mata coklat tersebut.
__ADS_1
'Apakah aku melakukan hal yang benar?' Batinnya seakan ia ragu untuk melangkahkan kakinya memasuki gedung tersebut.
'Aku nggak mau ada yang tahu. Jadi aku nggak ingin melibatkan siapapun. Bahkan mas Leo dan semuanya. Inj adalah urusanku dan aku harus mencari tahu sendiri kebenarannya.' Sambung Lia dalam hatinya. Berusaha menguatkan tekadnya, untuk mencari jati dirinya yang sebenarnya.
"Paling tidak, untuk mengetahui siapa orang tua kandungku. Dan kenapa aku di buang?" Gumam Lia dan tepat saat ia membuka pintu gerbang tersebut, ia dikejutkan oleh tangan yang menyentuh bahunya secara tiba-tiba.
"KYAAA!!" Jerit Lia.
Sontak saja hal itu membuatnya terkejut bukan main. Sehingga ia pun berteriak dan hendak memukul orang yang membuatnya hampir terkena serangan jantung.
"Hei, tenanglah. Saya manusia juga sama seperti mbaknya." Ucap suara lembut itu yang menyadsrkan Lia. Membuat Lia segera membuka matanya yang terpejam karena saking terkejutnya.
"Oh.. Ma-maafkan ketidaksopanan saya. Saya kira anda hantu. Maaf yaa." Ujar Lia dengan membungkukkan tubuhnya.
"Iya. Tidak apa-apa. Mbaknya mau masuk kesana, ya?" Tanyanya seraya menatap Lia.
"Iya benar. Saya mau masuk. Kalau anda mau kemana?" Tanya Lia sembari berusaha mengurangi rasa terkejutnya.
Lia melihat wanita di hadapannya tersenyum dengan lembut. Wanita yang kinj berada di hadapan Lia nampak kurus, tubuhnya tinggi dengan rambut pirang yang bergelombang iaikat kebelakang.
Gaunnya yang berwarna lilac menambah aksen cantik di dalam dirinya.
'Cantiknya. Jika aku laki-laki, sudah ku lamar wanita ini.' Begitu isi hati Lia saat melihat wanita di hadapannya.
"Kenapa diam saja, mbak? Ayo sini masuk." Ajaknya yang kemudian di balas anggukan oleh Lia.
'Kok mbaknya masuk duluan, apa mbaknya pengurus gedung ini?' Bantinnya dan melamgkahkan kakinya mengikuti wanita di hadapannya.
"Maaf sebelumnya, apa anda oemilik panti ini?" Tanya Lia sopan.
Wanita itu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap lembut Lia yang kini nampak mematung.
'Ya ampun.. Tatapannya bikin meleleh' Batin Lia menyeruak.
Tatapan wanita itu semakin intens dan dalam. Lahgkahnya menuju kearah Lia yang masih terdiam, mematung seraya menatap wajah cantik milik wanita di hadapannya.
'Kenapa mbaknya kesini?' Batin Lia merasa ada yang mengganjal dengan wanita itu.
Bersambung..
__ADS_1