Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Leon Tidak Menyerah


__ADS_3

Sierra menatap pantulan dirinya didepan cermin. Dirinya yang sudah menggunakan blazer berwarna coklat yang dipadukan dengan kemeja berwarna abu-abu. Sierra pun menghembuskan nafas panjang.


Ini adalah pertama kalinya Sierra melakukan pekerjaan diluar kota tanpa seorang Revan disisinya. Apalagi pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Bukan pekerjaan yang biasa Sierra lakukan didalam kantor. Pekerjaan ini bernilai ratusan juta bahkan mungkin miliyaran.


Jika Sierra melakukan kesalahan sedikit saja maka Revan akan langsung mendapatkan dampaknya. Revan yang akan langsung menanggung akibatnya. Karena itulah Sierra harus sangat hati-hati dan juga teliti agar pekerjaan ini bisa sesuai dengan yang diharapkan.


"Aku tidak boleh mengecewakan Revan. Aku harus menyelesaikan pekerjaan ini dengan baik. Aku harus membuat proyek ini berjalan lancar. Keuntungan dan kerugian perusahaan ada ditanganku". Ucap Sierra


sambil merapihkan berkas-berkasnya kembali. Menata dokumen-dokumen itu sesuai urutan agar tidak ada yang tertinggal.


Hingga akhirnya kesibukan itu pun terhenti ketika ia mendengar suara dering ponselnya. Sierra segera mengambil ponsel yang berada disampingnya itu dan menjawab panggilannya tanpa melihat nama dalam panggilan terlebih dahulu.


"Halo selamat pagi", Sapa Sierra yang masih sibuk dengan dokumen yang ada didepannya.


"Aku sudah berada di lobby hotelmu Sierra. Apa kamu sudah siap?".


Sierra mengerutkan keningnya. Lalu ia menurunkan ponselnya sejenak hingga nama Leon pun muncul dalam panggilan itu. Sierra menarik nafas yang dalam.


"Direktur Leon kamu tidak perlu repot-repot datang menjemputku. Aku bisa datang ke perusahaanmu sendiri".


"Aku merubah tempat untuk meetingnya Sierra. Tidak di perusahaanku. Jadi aku akan menunggumu di lobby hotel".


"Bagaimana kamu bisa tau hotel tempat aku menginap?". Tanya Sierra bingung.


"Aku bisa menemukanmu dimana saja Sierra. Jadi aku akan tunggu kamu disini".


"Taappiiii......".


Leon langsung memutuskan panggilannya begitu saja. Tidak memberikan Sierra kesempatan untuk berbicara. Sierra pun menghembuskan nafas kesal.


"Dasar seenak saja. Langsung putusin panggilan sesuka hatinya. Sepertinya Leon memang bukan orang yang mudah menyerah. Dia akan melakukan apa saja untuk bisa dekat denganku walaupun aku sudah berkali-kali menolaknya". Ucap Sierra yang langsung membawa dokumen yang sudah tertata rapih dan berjalan keluar dari kamar.


Sosok Leon yang menggunakan jas berwarna coklat itupun langsung terlihat ketika Sierra sudah sampai di lobby hotel. Leon pun tersenyum kearah Sierra


"Wah tidak disangka kita bisa pakai baju dengan warna yang sama seperti ini. Apa ini pertanda kedua bahwa kita berjodoh?". Ucap Leon ketika Sierra sudah berada didepannya.


Sierra hanya tersenyum sekelias. Sebelum akhirnya ia memberikan wajah seriusnya kembali.


"Kita akan melakukan meeting dimana direktur Leon?". Tanya Sierra dengan sopan.

__ADS_1


"Disini". Ucap Leon masih dengan senyumannya.


"Sebaiknya direktur Leon jangan bercanda. Kita harus segera melakukan meetingnya untuk membahas proyek ini".


"Aku tidak bercanda Sierra. Kita memang akan melakukan meeting di hotel ini. Di restoran itu". Kata Leon sambil menujuk kearah restoran yang berada tidak jauh dari mereka.


"Direktur Leon aku mohon untuk keseriusan kamu. Jangan mempermainkan aku".


"Siapa juga yang mau mempermainkan kamu? Kita memang akan meeting disitu kok. Yuk". Leon mulai berjalan kearah restoran itu dan Sierra hanya bisa mengikuti langkah Leon dengan pasrah.


"Bersabarlah Sierra. Jangan kesal. Ingat semua ini demi Revan. Kamu tidak ingin kan Revan mengalami kerugian". Ucap Sierra didalam hati mencoba untuk menguatkan.


"Nah kamu pesen dulu. Mau makan apa Sierra?". Tanya Leon disaat mereka sudah duduk disalah satu kursi yang berada didekat jendela dan memberikan buku menu kepada Sierra.


"Aku tidak perlu makan direktur Leon. Bagaimana jika kita langsung memulai meetingnya saja?". Tolak Sierra.


"Kita baru akan meeting jika sudah selesai makan Sierra. Jadi jika kamu tidak memilih makanannya maka kita tidak akan meeting".


Sierra menarik nafas yang dalam. Jika sudah seperti ini maka mau tidak mau Sierra harus mengikuti keinginan Leon agar mereka bisa menyelesaikan meeting dengan cepat. Sierra pun mengambil buku menu yang ada didepannya dan mulai membolak balik buku itu.


"Aku pesan beef spagetinya saja". Ucap Sierra yang sudah menutup buku menu itu kembali. Sierra memang sengaja memilih menu makanan yang bisa ia habiskan dalam waktu cepat.


"Tidak direktur Leon. Itu saja sudah cukup. Terima kasih".


Leon menganggukan kepalanya. Lalu dia memanggil salah satu pelayan dan mulai menyebutkan pesanannya. Sierra pun hanya bisa diam sambil memperhatikan.


"Untuk memulai sebuah meeting perut kita tidak boleh kosong Sierra. Kita harus makan dahulu supaya kita bisa fokus saat meeting nanti". Ucap Leon dengan senyumannya.


Sierra hanya menganggukan kepalanya. Ia seakan tidak memperdulikan kata-kata Leon yang menurutnya hanya sebuah basa basi saja.


"Kamu sudah bawa dokumennya? Bisa aku lihat dulu?". Kata Leon kembali saat melihat tidak ada respon apapun dari Sierra.


"Ini". Ucap Sierra sambil memberikan dokumen yang sudah dibawa olehnya sedari tadi.


Leon langsung mengambil dokumen itu. Lalu dia mulai membolak balik kertasnya sebelum akhirnya Leon menatap Sierra kembali.


"Sierra aku tau bahwa saat ini kamu memiliki hubungan yang special dengan Revan. Tapi aku tidak akan menyerah semudah itu Sierra. Aku tidak akan melepaskanmu".


Sierra membulatkan matanya. Ucapan Leon itu sangat mengejutkannya. Bahkan saking terkejutnya Sierra sampai sulit untuk membuka suaranya kembali.

__ADS_1


"Revan bukanlah satu-satu orang yang berkuasa disini. Posisiku dengan Revan sama. Kekusaan yang kita miliki sama. Jadi aku tidak akan takut jika harus menghadapinya. Aku tidak akan menyerah". Lanjut Leon.


Mata Sierra semakin melebar. Bahkan kini tubuh Sierra sudah mematung. Sungguh tidak pernah terfikirkan oleh Sierra bahwa Leon akan senekat ini. Leon akan berbicara jujur padanya tanpa memperdulikan rasa malunya. Sepertinya Leon memang bukan tipe orang yang mementingkan harga diri seperti Revan.


"Jadi hari ini aku sudah membuat keputusan. Keputusan bahwa aku tidak akan ragu-ragu untuk mengejarmu. Aku tidak akan takut untuk mendekatimu. Mohon berikan kesempatan padaku Sierra untuk berjuang". Ucap Leon masih menatap Sierra begitu dalam.


Sierra pun menghembuskan nafas panjang. Lalu Sierra meminum segelas air putih yang ada didepannya. Sierra berusaha untuk menenangkan dirinya. Berusaha sadar dari keterkejutannya itu.


"Maaf direktur Leon sepertinya kamu sudah salah mengartikan hubunganku dengan direktur Revan. Aku hanyalah karyawannya. Aku hanya sekretarisnya. Dan kita tidak mempunyai hubungan yang special seperti yang dikatakan direktur Leon". Sierra menjelaskannya.


Karena bagaimanapun juga Sierra dan Revan sudah sepakat untuk merahasiakan hubungan mereka. Untuk menutupi kedekatan mereka. Karena itulah Sierra berusaha mencari alasan agar Leon tidak salah paham dan menambahkan masalah untuk dirinya.


"Benarkah? Jika memang seperti itu maka aku tidak perlu meminta izin padamu. Aku tidak perlu bersaing dengan Revan". Kata Leon dengan wajah bahagia.


"Tapi direktur Leon aku mohon maaf karena aku tidak bisa membiarkan direktur Leon mendekatiku. Di dalam perusahaan sudah terdapat peraturan bahwa karyawan tidak boleh memiliki hubungan dengan orang satu kantor ataupun dengan orang luar yang berhubungan dengan perushaan". Sierra menegaskan.


"Sierra mana mungkin ada perusahaan yang memiliki peraturan konyol seperti itu? Jika kamu memang ingin menolakku, kamu tidak perlu membuat alasan yang tidak masuk akal". Ucap Leon dengan kesal.


"Aku tidak berbohong direktur Leon. Jika kamu tidak percaya maka kamu bisa menanyakan hal itu langsung dengan direktur Revan".


Leon terdiam. Lalu Leon mengambil segelas kopi yang ada didepannya dan meminumnya. Leon pun menghembuskan nafas panjang.


"Sierra meskipun kamu memberikan alasan seperti itu, aku tetap tidak akan menyerah. Aku akan berusaha untuk mendapatkanmu. Jadi apapun yang kamu katakan saat ini, itu tidak mempengaruhiku. Karena aku sudah membuat keputusanku sendiri". Leon bersikeras.


Sierra menatap Leon dengan kesal. Sungguh lelaki ini benar-benar keras kepala. Benar-benar egois sama seperti Revan. Dan Sierra yang tidak ingin memperpanjang pembicaraan yang tidak berguna ini segera bangun dari duduknya. Sierra sudah bersiap untuk meninggalkan Leon.


"Maaf direktur Leon sepertinya aku harus pergi. Aku tidak ingin membicara masalah pribadi dengan direktur Leon. Aku tidak ingin membahas hal yang tidak berkaitan dengan perusahaan. Jadi silahkan direktur Leon pelajari dokumennya dengan baik. Jika mempunyai pertanyaan bisa langsung menghubungiku".


Sierra mulai berjalan keluar dari restoran itu. Namun sebelum Sierra melangkah jauh, Leon membuka suaranya kembali yang membuat Sierra segera menghentikan langkahnya.


"Ingatlah Sierra. Keberhasilan proyek ini ada ditanganku. Jadi jika kamu ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini. Ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanmu, maka kamu harus menurut denganku. Kamu harus mengikuti apa yang aku ucapkan. Karena jika kamu berani membantah maka aku akan menolak dokumen apapun yang kamu berikan. Sama seperti dokumen yang ada ditanganku ini". Leon langsung membuang semua dokumen itu begitu saja yang membuat Sierra langsung melebarkan matanya. Sierra pun menatap Leon dengan tajam.


"Aku harap direktur Leon bisa bersikap layaknya lelaki dewasa. Layaknya seorang pemimpin. Bukan seperti anak kecil yang tidak bisa membedakan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi. maaf aku pamit pergi".


Sierra melanjutkan langkahnya kembali untuk meninggalkan Leon. Dan sesampinya Sierra diluar restoran, tubuhnya pun langsung gemetaran.


"Astaga bagaimana ini? Aku sudah membuat kesalahan yang besar. Aku sudah membuat proyek ini gagal. Apakah Revan akan marah denganku?". Ucap Sierra dengan panik.


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2