
Tanpa terasa, meeting hari itu telah berlalu. Lia dan Feri kemudian pamit undur diri dan segera istirahat. Karena urusan di kota B telah usai, maka esok hari mereka harus kembali ke kota A.
"Sekali lagi, saya ucapkan terimakasih banyak kepada anda, selaku pemimpin perusahaan NusaJaya." Kata Feri dengan membungkukkan tubuhnya, di ikuti oleh Lia yang turut membungkukkan tubuhnya pula.
"Hm. Sama-sama. Senang bekerjasama dengan anda." Balas Leo dengan menjabat tangan Feri, begitu pula dengan Lia.
"Sebaiknya anda segera beristirahat." Ucap Cika sebelum berlalu mengekor di belakang Leo.
"Emm. Lia. Ada yang ingin saya tanyakan." Kata Feri dengan menghadap Lia dan menatapnya dengan intens.
"Iya, pak. Ada apa?" Sahut Lia.
"Tidak. Tidak jadi. Sebaiknya kamu segera beristirahat. Hari ini kamu sudah bekerja keras. Terimakasih." Ujar Feri dan berjalan mendahului Lia.
Sedangkan Lia, ia hanya menatap dalam diam pria yang belum ia ketahui siapa dia sebenarnya di dalam keluarga Cakramulia.
'Apakah dia mulai curiga, kalau aku adalah istri mas Leo?' Batin Lia.
Tapi perasangkanya tersebut ia tepis seketika, saat ia merasa pening dan mual itu muncul kembali.
"Ukhh.. Sebaiknya aku segera istirahat. Beberapa hari ini aku kurang enak badan. Apa mungkin aku masuk angin, ya?" Gumam Lia pada dirinya sendiri, seraya menaiki lift yang menuju ke lantai tepat kamarnya berada.
***
Hari telah menunjukkan rembulannya. Lia yang terbangun karena tertidur sejak sore hari tadi.
"Masih jam 9. Kenapa aku terbangun? Oh. Ada pesan dari mas Leo." Ucap Lia saat ia mengecek ponselnya.
-kamar saya sebelah kamarmu. Gunakan pintu yang tertutup tirai di dinding kamarmu.-
Begitulah isi dari pesan yang di kirimkan oleh Leo padanya.
"Pintu yang tertutup tirai di dinding kamar? Memang ada yang seperti itu?" Gumam Lia seraya menyibakkan tirai yang menutupi tembok kamarnya.
Dan benar sekali perkataan Leo, jika ada di pintu di balik tirai tersebut. Membuat Lia tercengang dan terheran-heran.
__ADS_1
"Beneran ada!! Waahh. Keren sekali. Aku baru tahu jika ada ruangan yang seperti ini di hotel." Ujar Lia yang merasa takjub dengan hal yang ia temukan saat ini.
"Mas Leo lagi ngapain, ya? Apa ku ketuk dulu, ya? Nggak usah deh. Anggap aja balasan karena dia sudah mengerjai aku tadi. Hehehe." Kata Lia dan ketika ia membuka knop pintu tersebut, ia di kejutkan dengan pemandangan yang di luar pemikirannya sebelumnya.
***
Setengah jam yang lalu, Leo meminta Cika untuk membuatkan kopi buatannya dengan menggunakan panggilan selulernya.
"Kamu datang kesini. Buatkan saya kopi." Titah Leo kepada Cika, dimana sekarang wanita itu tidak satu ruangan dengan Leo.
"Baik, tuan muda. Saya segera kesana." Jawab Cika, dengan mengenakan kimono tidurnya.
Tak tertinggal pula, bungkusan yang telah ia terima dark Sinta tadi siang.
'Kali ini, anda akan menjadi milik saya, tuan muda Leo.' Batin Cika dengan semangat yang menggebu-gebu.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu membuat leo menghentikan acara baca bukunya, dan membuka pintu tersebut yang menunjukkan sosok Cika dengan balutan kimono pada tubuhnya.
Ia yang tengah asyik membaca buku tebal miliknya dengan menyenderkan punggungnya di dinding, seraya salah satu tangannya memegang buku tersebut sedangkan tangan yang lainnya ia masukkan ke dalam saku celananya.
Penampilannya yang seperti itu sungguh membuat Cika semakin meleleh, akibat terpukau oleh perawakan dari tuan mudanya saat ini.
Diam-diam, Cika membuka bungkusan berisi serbuk putih yang ia terima dari Sinta tadi siang.
Namun rencananya kali ini sepertinya gagal, karena suara ketuka terdengar dari arah dinding kamar Leo. Membuat Cika yang hampir ketahuan segera saja menggenggam kembali bungkusan tersebut.
"Eh. Su-suara apa itu, tuan muda?" Tanya Cika yang heran dengan suara ketukan tersebut.
"Bukan urusanmu. Terimakasih kopinya. Kamu boleh keluar." Titah Leo yang tahu sebenarnya siapa di balik ketukan tersebut.
"Baik, tuan muda. Jika ada apa-apa, silahkan hubungi saya saja. Ini kopinya. Saya undur diri. Selamat malam." Ujar Cika dengan menyodorkan kopi buatannya barusan, di atas meja kerja kamar tersebut.
"Hm." Ucap Leo dingin seraya menyeruput perlahan kopi buatan sekretaris pribadinya itu.
__ADS_1
Cika segera meninggalkan kamar milik tuan mudanya itu, sesaat setelah ia menatap pria yang telah membuatnya jatuh cinta terus dan terus kepadanya.
"Ya ampun. Aku harus bagaimana ini?" Gumam Cika dengan menggenggam bungkusan tersebut.
"Tidak apa-apa. Masih ada lain kali." Gumamnya lagi dengan mendongakkan kepalanya yang sedari tadi ia tundukkan guna menyembunyikan kegugupannya beberapa saat yang lalu.
"Apanya yang masih lain kali?" Hingga suara berat dari seseorang membuatnya terperanjat kaget hingga ia menjatuhkan bungkusan tersebut kelantai.
"Oh. Anda, tuan Feri. Bukan apa-apa, kok. Ngomong-ngomong, mengapa anda belum istirahat? Hari sudah malam." Ujar Cika mencoba mengalihakan perhatian.
"Saya bukan bayi. Jadi tidak mengapa jika saya tidur sedikit lebih malam, 'kan?" Sahut Feri dengan senyum kecil ia sunggingkan di wajahnya yang rerlihat putih bersih.
"Oh. Iya. Tidak apa-apa. Kalau begitu, saya permisi dulu, tuan Feri. Selamat malam." Pamit Cika segera beranjak dari tempatnya berdiri sedari tadi.
Namun langkahnya terhenti saat ia baru menyadari jika bungkusan tersebut ia tinggalkan begitu saja.
Kembali ia membalikkan tubuhnya, namun ia mendapati sosok Feri yang tengah memungut bungkusan tersebut.
"Sepertinya tadi anda menjatuhkan ini." Ucap Feri dengan memberika benda tersebut kepada Cika.
"Oh. Iya. Terimakasih. Sampai jumpa." Sahut Cika dengan segera menerima bungkusan yang telah kucel tersebut.
"Sama-sama. Tapi, sebaiknya anda lebih hati-hati dalam bertindak. Sepertinya, atasan anda orangnya cukup mengerikan. Saya harap anda tidka mengecewakan beliau." Tutur Feri sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Cika dalam kesendirian di tengah lorong kamae hotel tersebut.
Sejenak Cika memikirkan apa yang telah Feri sampaikan padanya barusan. Ada benarnya apa yang ia katakan. Tapi rasa sukanya telah merajai fikirannya. Hingga ia tak dapat mengendalikannya dan ingin memilikinya seutuhnya.
'Cih. Sialan. Tahu apa kamu?' Batin Cika dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya dengan tangan yang ia kepalkan sekuat tenaganya.
'Hampir saja. Padahal hampir saja aku memiliki anda, tuan muda Leo.' Batin Cika seraya memasuki kamarnya.
Sedangkan Feri yang telah memasuki kamarnya, membasuh wajahnya di wastafel. Berusaha menjernihkan fikirannya.
"Bodohnya aku. Itukan bukan urusanku. Sekali lagi, aku sepertinya akan membuat ayah semakin kecewa pada sikapku yang suka ikut campur masalah orang lain. Hhh.." Gumam Feri pada dirinya sendiri.
Sepertinya ia memiliki masa lalu yang cukup sulit untuk ia artikan, hingga ia begitu perduli pada urusan orang lain.
__ADS_1
Bersambung..