
Sari berjalan dengan langkah cepat menuju dapur. Ia segera memegang sesuatu entah apapun itu,demo menutupi perasaannya kini yang tengah galau.
Eneng yang melihat gelagat Sari nampak heran. Dengan segera ia menghampiri Sari.
"Ada apa,Sar? Apa kamu sakit?" Tanyanya.
"Oh. Nggak. Aku nggak apa-apa kok." Jawab Sari dengan suara serak.
"Jangan bohong. Aku kenal kamu sudah lama. Kita disini kan sama-sama. Sudah 3 tahun ini kita melayani tuan muda Leonardo. Kamu sudah ku anggap sebagai keluarga sendiri. Jadi, kalau ada apa-apa tolong cerita aja." Ucap Eneng dengan memgang kedua bahu Sari.
"Aku. Aku merasa malu bekerja sebagai ART di usia semuda ini. Aku benar-benar malu. Hiks.. Hikss.." Isak tangis Sari bersamaan dengan ia menceritakan keluh kesah yang ia rasakan selama ini.
"Hhh.. Jadi karena masalah ini aja? Ku kira apaan." Ucap Eneng dengan senyum yang lebar.
"Dengar ya, Sari. Bayangkan jika di dunia ini tidak ada pembantu, maka segalanya akan menjadi kotor dan tidak terawat. Sama seperti kita, kita ini aset paling berharga di rumah ini. Jika tidak ada kita, maka rumah ini tidak akan sebersih ini. Meskipun bangunannya kokoh sekalipun, jika tidak ada pembantu maka rumah ini hanyalah rumah tua yang usang. Jadi, jangan berkecil hati dan berbanggalah. Karena sebenarnya, kita ini adalah pahlawan bagi tuan muda Leonardo." Jelas Eneng membuat Sari menatap takjub kepada wanita yang usianya lebih tua 3 tahun darinya.
"Iya. Benar yang kamu katakan, neng. Eh. Ngomong-ngomong, aku boleh minta tolong nggak?" Ujar Sari.
"Iya. Ada apa? Bilang aja." Ucap Eneng menyanggupi.
"Tolong jangan berubah. Dan terus semangati aku ya." Ujar Sari dan menatap teman seperjuangannya itu penuh harap.
"Hahaha.. iya.." Jawab Eneng dan mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda beberapa saat yang lalu.
Senyum di wajah Sari semakin lebar saat ia teringat perkataan Eneng perihal pahlawan dalam pekerjaan mereka.
Tawanya pun pecah seketika, tat kala ia tak dapat menahan kalimat itu yang terngiang di fikirannya.
***
Adelia menatap jam dinding yang telah menunjukkan pukul 7 malam. Namun pria yang ia tunggu-tunggu sedari tadi pagi tak kunjung memasuki kediaman mereka.
"Kenapa mas Leo belum pulang ya? Apa terjadi sesuatu? Eh. Mikir apa sih aku?" Ucap Lia khawatir dengan fikiran yang tak karuan. Namun segera ia menepis fikiran tersebut.
Tak lama suara klakson mobim memecah kekhawatirannya sedari tadi. Lia pun segera menghampiri mobil tersebut dan bermaksud menyambut kedatangan sang suami.
Namun hal itu tak kunjung ia lakukan, disaat ia melihat pria tua yang mulai membungkuk dengan senyum yang mengambang di wajah keriputnya.
Lia pun segera menghamburkan pelukannya kepada pria tua itu, seraya memanggilnya lirih.
__ADS_1
"Papah." Ucap Lia.
"Iya nak. Ini papah. Apa kabarmu nak? Apa kamu sehat-sehat saja?" Tanyanya kepada Lia yang masih enggan melepaskan pelukannya.
"Iya, pah. Lia baik-baik saja. Bagaiamana dengan papah? Apakah papah sehat?" Tanya Lia dan mengedarkan pandangannya, menyusuri wajah keriput sang papah.
"Iya. Papah juga baik-baik saja." Jawabnya.
Suara pintu mobil yang tertutup membuat Lia menoleh kearah pria yang menjadi suaminya itu.
"Kamu menunggu saya?" Tanya Leo menatap Lia yang berada di luar rumah.
"I-iya." Jawab Lia tergagap.
Pasalnya baru kali ini Lia menunggu sang suami. Karena biasanya dia selalu sibuk di dapur, guna menyiapkan makan malam untuk sang suami.
Meskipun memiliki pelayan yang berlimpah, Lia tak dapat melalaikan tugasnya sebagai seorang istri untuk melayani sang suami.
"Sebaiknya kita masuk. Kita bicarakan semuanya setelah makan malam." Ucap Leo seakan dapat membaca fikiran Lia sedari tadi.
"Iya. Mari." Ucap Lia dengan melangkahkan kakinya di belakang tuan muda Leo, bersamaan dengan Kakek Edward yang berada di samping Leo.
"Ayo pah. Masuklah." Ajak Lia seraya menggandeng tangan papahnya memasuki kediamannya bersama tuan muda Leo.
***
Setelah makan malam, akhirnya pembicataan pun dimulai ketika Leo mulai angkat bicara perihal kedatangan ayah mertuanya.
"Saya tidak akan basa basi lagi, saya hendak mengajak papah untuk tinggal bersama kami." Ucap Leo, sontak membuat kaget seluruh penghuni rumah itu.
Tak terkecuali Lia yang langsung tersentak kaget, hal ink tidak dibicatakan terlebih dahulu sebelumnya. Membuatnya merasa bahagia sekaligus bangga terhadap keputusan sang suami.
"Be-benarkah?" Ucap Lia mewakili perasaan pak Tomo yang tengah campur aduk saat ini.
Ia merasa senang dan bersyukur. Namun tak sedikit pula ia merasa malu, karena harus menerima semua kebaikan yang telah diberikan keluatga NusaJaya kepada dirinya dan juga putrinya.
"Apa tidak apa-apa? Ini adalah hal yang merepotkan." Ucap pak Tomo.
"Keadaan anda sedang tidak sehat. Dalam kondisi seperti ini, harus ada yang menjaga anda. Bukankah begitu, perkataan dari dokter yang memeriksa anda tadi?" Tegas Leo membuat Lia kaget dan menatap papahnya dengan sorot mata penuh tanya.
__ADS_1
"Memangnya, papah sakit?" Tanya Lia.
Lia bukanlah anak kecil lagi. Ia tahu dengan melihat dari situasi dan percakapan barusan, sudah pasti telah terjadi sesuatu kepada papahnya.
"Oh. Nggak nak. Papah nggak kenapa-napa. Ini badannya cuma kadang suka pegel-pegel aja." Jawab pak Tomo seketika.
"Pak Tomo didiagniosa mengidap penyakit jantung dan diabetes serta komplikasi lainnya. Ini keterangan dari dokter." Jelas Leo dengan menyertakan selembar kertas.
Dengan sigap Lia meraih kertas tersebut dan membacanya segera.
"Kenapa bisa, pah? Dan papah selama ini diam saja?" Ucap Lia dengan air mata kembali membasahi pipinya.
Ia takut. Takut kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki, turut pergi meninggalkannya jua.
"Sudah nak. Papah nggak apa-apa nak. Nanti juga sembuh sendiri." Ujar pak Tomo berusaha menenangkan anaknya.
"Selalu begitu. Papah selalu saja begitu. Dulu juga, mamah sakit papah juga bilang begitu. Nanti juga sembuh. Selalu papah berkata begitu. Nyatanya hikss.. nyatanya hiks... mamah nggak tertolong. Lia nggak mau papah ninggalin Lia. Lia nggak mau kehilangan papah seperti Lia kehilangan mamah. Huhuhu.." Perkataan Loa jelas mengena di hati pak Tomo.
Namun, apa yang dapat ia perbuat kali ini. Ia hanyalah orang tua yang tak dapat membahagiakan anaknya.
Ia merasa gagal. Bahkan hingga hari ini, ia terpaksa menjadi beban bagi putri semata wayangnya.
Lia yang tak dapat menahan gejolak untuk menangis pun, segera meninggalkan meja makan dan begegas menuju kamar tidurnya.
Sedangkan Leo, kakek Edward serta pak Tomo hanya memandangnya dari kejauhan.
"Sebaiknya anda segera istirahat. Pelayan akan mengantatkan anda ke ruangan anda. Begitu pula untuk anda kakek. Selamat malam." Ucap Leo dan menyusul kepergian Lia.
Bersambung..
-------------》》》》》》》》》》》》》》》-----------
Halo teman-teman semua, jaga kesehatan kalian selalu ya.
Meskipun belum banyak pembaca yang minat dengan novel ku ini, aku benar-benar menghargai kalian yang telah bersedia membacanya meskipun hanya beberapa bab saja.
Terus dukung aku untuk melanjutkan novel ini hingga tamat ya teman-teman. Satu komen dan satu like dari kalian sangat berharga bagi saya.
Terimakasih. See you da da bye bye.. 🥰🥰
__ADS_1