Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Perilakunya Seperti Seorang Kakak


__ADS_3

"Seandainya anak perempuan saya masih hidup, mungkin kinj dia sudah sebesar kamu, nona. Saya.. benar-benar seperti melihat mereka di dalam diri anda." Ujarnya yang tak dapat lagi membendung tangusnya.


Feri yang mendengar itu pun hanya diam membisu, selama ini dia tak pernah menyadari jika sekretaris pribadinya mirip dengan ibundanya.


Diam-diam Feri pun curi-curi pandang untuk melihat sekilas wajah Lia. Dan benar saja apa yang di katakan oleh ayahnya, bahwa wajah Lia seperti kombinasi sang ibunda dan adik perempuannya.


'Benar. Nona Lia mirip sekali dengan ibu. Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya? Padahal nona Lia telah bersama denganku menjadi sekretaris pribadiku meskipu baru beberapa hari ini.' Batinnya setelah memalingkan wajahnya kembali.


"Ma-maaf tuan. Saya tidak menyadari jika kehadiran saya akan membuat anda teringat dengan mendiang anak dan istri anda, tuan Cakra." Ujar Lia dengan membungkukkan tubuhnya di hadapan tuan Cakra.


Melihat Lia yabg tak nyaman dengan tatapan ayahnya, Feri pun berinisiatif meninggalkan ruangan tersebut.


"Sepertinya keadaan anda sudah stabil. Saya dan nona Lia pamit undur diri, nona Lia belum pulang sedari kembali dari kota B. Jika ada apa-apa hubungi saja saya." Ucap Feri dengan membungkukkan tubuhnya dan meninggalkan ayahnya yang menatapnya dengan pandangan lembut.


"Iya." Ucap tuan Cakra.


"Ayo, nona Lia." Ajak Feri kepada Lia yang masih menatap tuan Cakra sesaat sebelum berpamitan.


"Saya undur diri dulu, tuan. Saya harap anda segera sembuh dan dapat berkumpul kembali dengan keluarga anda." Ucap Lia seraya membungkukkan tubuhnya juga, sebelum akhirnya ia membalikkan tubuhnya.


Melangkahkan kakinya menuju arah pintu, Lia menyempatkan diri untuk menatap kembali tuan Cakre yang berada seorang diri di ruangan itu.


"Tuan Feri sangat khawatir dengan anda. Beliau sangat menyayangi anda, tuan." Ujar Lia yang membuat tuan Cakra tersenyum bahagia.


"Terimakasih." Sahutnya dan kembali merebahkan tubuhnya yang renta di atas kasur tersebut.


Feri yang telah berada di luar ruangan, sebenarnya mendengarkan apa yang telah di sampaikan Lia kepada sang ayahanda.


Tapi ia tak ingin membahas apalagi menegur Lia perihal tersebut. Karena ia telah mengetahui siapa sebenarnya Adelia ini.


Mencoba basa basi, Feri pun membuka suaranya seraya menyusuri lorong rumah sakit yang terlihat tenang meskipun banyaknya orang dan perawat maupun dokter yang lalu lalang di sepanjang lorong rumah sakit tersebut.

__ADS_1


"Ehem. Apakah anda akan langsung pulang, nona Lia?" Tanyanya dengan bersehem sedikit, guna mengurangi kecanggungan di antara mereka berdua.


"Iya, pak. Saya ingin segera istirahat. Belum lagi besok saya sudah harus bekerja seperti biasanya


kan, tuan?" Ujar Lia dengan menyunggingkan senyumnya.


Mendengar perkataan Lia, Feri pun sedikit bimbang. "Perihal pekerjaan, sepertinya anda tidak perlu bekerja di perusahaan Cakramulia lagi, nona Lia." Ujarnya.


Lia yang mendengar penuturan dari Feri pun terkejut dan menghentikan langkahnya.


"Ke-kenapa, pak? Apa saya melakukan kesalahan hingga merugikan perusahaan?" Tanya Lia.


Ia tak ingin usahanya berakhir begitu saja, tanpa membuahkan hasil. Terutama surat serta bukti yang di tinggalkan oleh kedua orang tuannya yang telah tiada.


"Tidak. Bukan begitu. Hanya saja, saya merasa curiga dengan anda. Anda adalah istri dari pengusaha sukses, sekaligus pewaris dari NusaJaya. Lalu mengapa anda berfikir untuk bekerja di perusahaan saya?" Ucap Feri dengan tatapan serius di wajahnya.


"Waktu itu kamu bilang bahwa kamu memiliki alasannya. Sekarang saya tagih alasan tersebut." Desak Feri kepada Lia yang wajhanya nampak memucat.


"Maaf pak Feri. Karena kedua orang tua saya memiliki sebuah data perihal hilangnya adik perempuan anda." Ucap Lia.


Terkejut bukan main, Feri pun mengguncang-guncang tubuh Lia dan memaksanya untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Katakan!! Katakan apa yang kerua orang tuamu ketahui tentang adik perempuan saya!!" Ucap Feri dengan sedikit membentak.


Mendengar suara Feri yang sedikit nyaring, membuat beberapa orang yang berada di rumah sakit itu pun mengalihkan perhatian mereka kepada Lia dan juga Feri.


"Maaf sekali lagi, pak. Sayangnya, kedua orang tua saya telah meninggal dunia. Sehingga, yang mereka tinggalkan hanyalah sebuah dokumen dan juga barang-barang bukti lainnya." Sahut Lia dengan menahan perih di bahunya.


"Tapi sebelum itu, bisa tolong lepaskan tangan anda pak? Saya kesakitan." Sambung Lia.


Dengan segera Feri melepaskan tangannya dan mengalihkan pandangannya. "Ma-maaf, saya terlalu memaksamu." Ujarnya.

__ADS_1


"I-iya. Nanti jika saya sudah tiba di rumah, saya akan menyerahkannya di hari kerja, pak. Untuk sekarang sebaiknya anda istirahat saja dulu." Kata Lia.


"Tidak! Jangan di tempat kerja. Sebaiknya di taman kota saja, selain teduh dan asri, di taman kota juga lebih nyaman." Mendengar perkataan Feri, Lia pun menyetujui pendapatnya.


"Baik, pak." Balas Lia.


"Akan saya hubungi kapan kita bisa bertemu, untuk saat ini sepertinya kamu yang lebih membutuhkan istirahat." Sambung Feri saat melihat Lia yang nampak lemah dan letih, serta wajhanya yang terlihat memucat serta kantung hitam di bawah matanya.


"Apa kamu yakin kamu baik-baik saja? Kamu terlihat lemah dan wajahmu pucat sekali. Mumpung kita di rumah sakit, apa kamu tidak ingin memeriksakan dirimu saja dulu?" Tanya Feri dengan wajah yang terlihat khawatir.


'Ya ampun. Pak Feri manis banget, benar-benar tipe kakak penyanyang terhadap adik dan keluarganya.' Batin Lia yang merasa senang di perhatikan seperti itu. Meskipun ia belum pasti akan kebenaran jati dirinya dengan keluarga Cakramulia itu sendiri.


"Saya tidak apa-apa, pak. Saya hanya butuh istirahat saja. Nanti juga saya akan baik-baik saja. Saya hanya kelelahan di perjalanan saja." Sahut Lia.


Tanpa terasa, kini mereka berada di luar area rumah sakit.


"Kamu pulang dengan taksi saja, akan saya pesankan." Ujar Feri yang memegang ponselnya, hendak memesan taksi online.


"Tidak perlu repot-repot, pak. Saya bisa pesan sendiri kok, pak. Lebih baik bapak pulang saja dulu. Saya bisa menunggu taksi saya sendiri disini." Ujar Lia, karena ia dapat melohat semburat kelelahan di wajah Feri yang nampak lesu.


"Tidak boleh begitu, Lia. Saya-" Perkataan Feri terhenti saat pundaknya di sentuh oleh Lia.


"Saya benar-benar tidak apa-apa, pak. Malah saya yang khawatir jika anda belum pulang sekarang. Besok anda sudah kembali bekerja." Kat Lia dan dituruti oleh Feri.


Menghela nafas panjang, "hhh.. yasusahlah. Jika kamu memaksa." Sahutnya sebelum akhirnya meninggalkan Lia dan memasuki taksi tersebut, sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan Lia seorang diri di rumah skait tersebut.


Hingga tak berselang lama, sura berat yang ia kenal mengagetkannya.


"Sepertinya kalian lebih dekat dari sebelumnya, ya? Sebenarnya ada hubungan apa di antara kalian berdua-" Ucapnya terputus seraya diiringi langkah kakinya yang mendekati Lia.


"-istriku." Sambungnya yang jelas membuat Lia terkejut.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2