Terjerat Cinta Boss Muda

Terjerat Cinta Boss Muda
Cemburu


__ADS_3

"Sepertinya kalian lebih dekat dari sebelumnya, ya? Sebenarnya ada hubungan apa di antara kalian berdua-" Ucapnya terputus seraya diiringi langkah kakinya yang mendekati Lia.


"-istriku." Sambungnya yang jelas membuat Lia terkejut.


Membuat Lia menghadap ke sumber suara, dan mendapati Leonardo NusaJaya tengah menatapnya intens.


"Eh. Se-sejak kapan anda disini?" Tanya Lia dengan memundurkan langkahnya, sedangkan Leo melangkah maju menghampiri Lia.


"Jangan mengalihkan pembicaraan." Ucapnya seraya jarak di antara keduanya lebih dekat.


"Saya tidak sedang mengalihkan pembicaraan. Anda saja yang terlalu sensitif." Jawab Lia sembari mengalihkan tatapannya.


Melihat perlakuan yang di tunjukkan oleh Lia, membuat Leo sedikit kesal.


"Sepertinya kamu sekarang lebih berani, ya?" Ucapnya dengan menyentuh dagu Lia, memaksanya untuk menatap wajah tampan sang suami di hadapannya.


Seketika pandangan mereka pun bertemu, Lia mau tak mau akhirnya menatap pula bola mata hitam legam dari pria yang telah memberinya buah hati di dalam perutnya kini.


"Bukankah anda yang telah berani? Anda bahkan sepertinya memiliki kekasih lain selain saya, anda benar-benar luar biasa, tuan." Mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Lia, membuat Leo menaikkan sebelah alisnya.


"Apa maksud dari perkataan mu itu? Saya bahkan tidak memiliki kekasih lain." Ungkap Leo yang masih terheran-heran dengan gelagat yang di tunjukkan sang istri kepadanya.


Plak!!


Lia menepis tangan Leo dan menatapnya dengan tatapannya yang tak kalah tajam dengan sang tuan muda.


"Oh ya? Lalu yang terjadi kemarin apa? Saya masih ingat betul ketika nona Cika keluar dari kamar anda dengan tanpa mengenakan pakaian atasnya." Ujar Lia seraya menepis tangan Leo yang sedari tadi berada di dagunya.


"Bukankah sudah jelas jika hal yang terjadi kemarin adalah akal muslihat dia saja, untuk mendapatkan hati saya." Ucap Leo yang masih memperhatikan wajah Lia.


"Ooh.. Saya paham sekarang." Sambungnya lagi, yang sontak membuat Lia pun turut menaikkan sebelah alisnya.


"Kamu pasti sedang cemburu, ya?" Ucapnya narsis, membuat Lia menatapnya ilfil seraya sedikit menjauh dari posisi Leo berdiri.


"Tidak! Saya nggak cemburu. Sama sekali tidak cemburu." Tegas Lia yang di buat salah tingkah.


Hingga membuat seorang Leonardo NusaJaya tertawa, "Hahaha.. Memang pesoan saya ini sungguh keterlaluan. Bahkan mampu membuat wanita-wanita itu terpokat oleh pesona saya." Sambungnya dengan suara tawanya yang menggelegar.

__ADS_1


Baru kali ini Lia melihat Leo tertawa, sebelumnya jangankan tertawa. Tersenyum pun sepertinya sangat jarang Leo tunjukkan pada semua orang.


"Apaan sih? Bukannya anda yang cemburu?" Ujar Lia buat Leo berhenti tertawa saat itu juga.


"Cemburu? Saya? Bahkan tanpa kamu sekalipun aku tidak akan kekurangan wanita." Ujarnya membuat Lia langsung terkejut.


Memasang wajah masam, Lia pun bergegas meninggalkan Leo yang menatap heran kepada Lia yang telah mendahului langkahnya.


'Hah? Ada apa dengan betina itu? Apa saya ada salah ngomong? Hah.. biarin aja dah.' Batin Leo dan menyusul kepergian Lia.


Menghampiri sebuah taksi online yang telah ia pesan sejak tadi, Lia yang hendak membuka pintu mobil itu pun merasakan genggaman di pergelangan tangannya.


Ia pun menatap siapa yang menggenggam tangannya dan ia mendapati Leo yang berada di sampingnyalah yang menggenggam tangannya.


"Sudah jauh-jauh saya menghampiri kamu, tapi kenapa kamu malah naik taksi ini?" Ucapnya dingin tanpa melepas genggamannya.


"Terimakasih atas kebaikan anda. Tapi saya ingin naik taksi saja." Balas Lia tanpa memandang Leo kembali.


"Kamu ikut saya pulang, sekarang!!" Titahnya seraya menarik paksa Lia.


"Kamu-" Perkataan Leo terputus saat suara dari sopir taksi tersebut menegur pasangan tersebut.


"Hei!! Jadi naik nggak? Kalau nggak jadi pergi sana! Saya juga harus terima orderan lainnya." Hardiknya membuat Lia dan Leo menatap sopir tersebut.


"Ma-maafkan kami pak." Ucap Lia pelan.


"Kalau mau bertengkar jangan menghentikkan rezeki orang dong! Bikin orang lain susah saja." Cerocosnya hingga membuat Leo cukup naik pitam, terutama ketika melohat Lia yang hanya menunduk.


Dengan segera ia melepaskan genggamannya dengan Lia dan mengambil dompet di saku celananya, seraya mengwluarkan uang 100 ribuan.


"Ambil itu!! Anggap saja sebagai pengganti rezekimu!" Seru dengan melemparkan uang tersebut tepat di hadapan sang sopir yang hanya melongo.


"Apa-apaan ini? Hei!!" Bentaknya yang tak di hiraukan lagi oleh Leo, karena dia telah pergi bersamaan dengan Lia yang kembali ia genggam seraya berjalan beriringan.


"Pasangan yang nggak jelas." Lanjut sopir tersebut sebeluk akhirnya dia kembali menyetir mobilnya dan melaju di tengah ramainya jalanan kota saat ini.


"Kenapa anda memberi dia uang sebanyak itu? Padahal ongkosnya tidak samapi 100 ribu." Ucap Lia.

__ADS_1


"Karena dia cerewet." Balas Leo singkat tanpa memandang Lia.


"Oohh.. jadi saya cerewet, nih? Saya kan tiap bulan anda beri uang terus. Berarti saya cerewet dong?" Ujar Lia mencoba mengusili Leo yang terlihat kurang mood.


Terdiam tanpa mengatakan apapun, Leo dan Lia yang telah berada di samping mobil milik Leo pun mengahadap kearah Lia yang berada di belakangnya.


Tanpa melepaskan cengkeraman tangannya, Leo pun mengatakan sebuah kalimat yang mampu membuat Lia meleleh seketika.


"Saya memberimu uang, bukan berarti kamu cerewet. Tapi karena itu keewajiban saya sebagai serlorang suami kepada istrinya." Ucapnya dengan menatap mata coklat Lia dalam diam.


Sedangkan Lia yang mendengar perkataan tersebut tak dapat mengelak maupun membalas perkataan Leo barusan.


Seperti terpanah api asrama, Lia hanya menunduk malu dan memandangi sepatu miliknya seraya menyembunyikan wajahnya yang memerah bagai tomat.


Merasakan sentuhan di dagunya, Lia pun mendongak dan mendapati Leo yang tengah menatapnya dengan tatapan lembut.


Seraya berkata, "jangan berfikir yang bukan-bukan, saya ini suami mu dan kamu istriku. Tidak ada kekasih lainnya atau apa pun itu. Karenanya, ayo kita pulang. Kepulangan kita sudah di nantikan oleh kakek." Leo pun mengecup pelan dahi Lia yang sukses menjadi perhatian beberapa orang yang kebetulan melewati mereka.


Masih mencerna apa yanh baru saja Leo katakan dan perbuat kepadanya, Lia seakan tak perduli dengan orang-orang di sekitarnya.


Hingga sebuah pintu terbuka untuknya, tepat ketika seorang Leonardo NusaJaya yang terkenal angkuh sombong dan arogan tersebut membukakan pintunya kepada Lia, layaknya pangeran kepada sang putri di sebuah kisah dongeng.


'Kenapa aku merasa mas Leo sedikit berbeda dsri kemarin?' Batin Lia, seraya memasuki mobil tersebut disusul oleh Leo.


Ternyata Leo tidak mengemudikan mobilnya, melainkan Agus yang tengah membantu tuan mudanya sedari Lìa meninggalkan lota A hingga kembali ke kota A lagi.


"Anda mau kemana sekarang, tuan muda?" Tanyanya sopan.


"Tumben anda menggunakan sopir? Bukankah biasanya anda menyetir sendiri? Lalu siapa mas supir ini?" Tanya Lia yang membuat Agus merasa tak nyaman.


Sebenarnya dialah yang telah melakukan pantauan, sehingga mengatahui jika Adelia telah tiba di kota A.


Canggung dan bingung, Agus merasa kiuk untuk menjawab pertanyaan sepele dari nyonya mudanya itu.


Keringat dingin mengucur, apalagi ketika tatapan Leo yang terlihat jelas di kaca spion.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2