
Salma masih menggunakan jubah handuknya, ia langsung duduk di tempat tidur setelah mengambil paket miliknya yang berada di atas meja.
Salma yang belum mahir dan lincah dalam make up ia sendiri bingung harus yang mana dulu, ia baca setiap tulisan yang ada untungnya tidak ada bahasa asing yang hurufnya berkelok-kelok dan masih sama hurufnya ABC tapi bedanya pakai bahasa internasional dan di terjemahkan ke dalam bahas Indonesia.
"Jadi ini dulu, oke ... deh semoga gak luntur. Masa iya mau kuliah bedak dimana-mana, hilang harga diri gue sebagai Salma si bidadari tapi preman." Salma mulai mengoleskan benda asing itu di wajahnya.
Terlihat cantik dan seperti ibu-ibu kondangan yang pakai make up tebal.
"Bukannya seperti itu akan jadi tertawaan penghuni kampus." Alga menatap Salma dari kejauhan yaitu di sofa sambil menutup mulutnya dan hendak tertawa.
Salma tidak percaya, sejak kapan makhluk autotrof itu ada di sofa atau jangan-jangan ia juga melihat dirinya ganti pakaian.
"Kamu, sejak kapan berada di situ." Tunjuknya sudah berapi-api.
"Barusan, aku tidak melihat ko kamu ganti baju tadi," Alga keceplosan.
"Barusan? kamu bilang barusan." Salma mengertakkan giginya.
Alga mengangguk cepat.
"Dasar mesum, pergi gak." Sambil ancang-ancang melempar hair dryer miliknya.
__ADS_1
Alga mengisyaratkan dengan tangannya untuk berhenti di tempat dan jangan melemparkan sesuatu.
"Tolong ... jangan lempar benda itu, oke." Alga tidak siap jika benda itu mengenai badannya di tambah lagi jika kena mukanya, sebab wajahnya sekarang adalah aset berharga untuk mencari duit, jika wajahnya sampai lecet pasti mempengaruhi keuangan masa depannya di tambah lagi ia bukan seorang dari lulusan sarjana dll. Sebenarnya tidak pengaruh lulusan apa yang penting ada kemauan dan keuletan dari dalam dirinya sendiri pasti bisa.
"Pergi," sambil menunjuk pintu keluar tapi bukannya pergi justru Alga mendekati Salma.
"Ini di taro dulu hair dryer nya lalu aku benahi dandanan kamu yang kacau balau ini." Alga mendudukkan bada Salma di kursi meja riasnya.
"Hey ... hey ... hey ... jangan macam-macam ya kamu, sok sok an mau memperbaiki riasan ku kayak bisa aja," Salma hendak berdiri namun lengan kokoh Alga menghalangi jalannya.
"Mau kemana, duduk dulu. Jika mau terlambat kuliah dan dapat nilai D silahkan saja." Peringatan Alga memang ada benarnya juga, pada akhirnya ia jadi anak penurut di depan Alga.
Salma memejamkan matanya sebab Alga menyuruhnya untuk menutup mata, lagian mata milik Salma membuat Alga tidak nyaman jika terbuka.
"Apa masih lama?" Salma sudah tidak tahan ingin melihat maha karya Alga, apa sesuai dengan ekspektasi realita yang ada.
"Sedikit lagi!" jawabnya mengoleskan pewarna bibir sedikit warna oranye.
Alga memalingkan wajahnya sebelum ia malah terlibat lebih dalam akan kecantikan Salma.
__ADS_1
'Sial, cantik benget lagi jika di poles bedak dan teman-temannya di tambah ini bagian bibir, aduh ... menggoda banget lagi.' Pikiran mesum Alga meronta-ronta lagi.
"Sudah, kamu boleh buka mata." Alga menjauh dan segera keluar dari kamar Salma dari pada nanti pekerjaan dirinya berantakan.
Misinya hanya demi uang dan demi wanita yang ia cintai yaitu Riska, antara sadar atau tidak Alga sebenarnya rasa suka pada Salma sedikit tertanam. Terlihat saat ia mencurahkan perhatian dan kepeduliannya yang berkedok atas dasar ingin jadi pembimbing demi uang.
Saat berada di dalam mobil, Alga bersikap dingin bahkan sangat dingin sekali sedangkan Riska hari ini nebeng lagi padahal Riska anak orang kaya mobil segini mah bisa beli 5 sekaligus.
"Kenapa sih kamu nebeng lagi di mobil gue, gak punya mobil Lo." Salma kesal sekali.
"Ya ... terserah gue lah, lagian yang jadi sopir kan pacar gue jadi suka-suka gue ikut nebeng atau enggak," sinis Riska.
Salma tersenyum devil.
'Ee ... he ... he ... coba ancam sedikit saja si Alga, dia bakalan tetap pilih pacarnya atau duit dari keluarga gue, fix jika pilih duit dia cowok gak pantes jadi kriteria gue masa depan.'
Salma mengeluarkan jurus andalannya.
"Alga, mulai besok kamu berhenti saja jadi supir dan pembimbing aku. Lagian sudah waktunya kamu berhenti aku bisa bawa mobil sendiri dan bakalan cari orang lain jika saat berkerja bawa orang lain." Salma bersikap dingin.
Jantung Alga berdetak tidak karuan, jika dirinya di pecat terus gimana kelanjutan hidupnya masih gini-gini saja. Duit juga belum banyak bahkan buat ngontrak aja masih kembang kempis masa kehilangan kerjaan juga, terpaksa deh mengorbankan perasaan sang kekasih dari pada gak punya pegangan untuk makan. Lagian di jaman seperti ini cari pekerjaan jika tidak punya orang dalam mustahil dapat dengan cara sendiri, yang pinter aja belum tentu seberuntung dirinya ini.
__ADS_1