Terjerat Pesona Anak Majikan

Terjerat Pesona Anak Majikan
40. Bertemu Samudra


__ADS_3

Salma berjalan lebih dulu masuk ke dalam mobil milik entah milik siapa tapi nyaman juga di duduki.


"Mobil siapa?" menatap Rio dan Kamila bergantian.


"Sugar Daddy gue!" sahut Kamila dengan ekspresi biasa-biasa saja.


"Gila Lo, apa dia gak punya istri apa." Salma masih fokus dengan data-data pemasukan yang di kirim oleh Rio tadi sore.


"Gak tau, yang penting kita saling di untungkan," ringan sekali sikap Kamila.


Lama-lama pusing sendiri jika menanggapi Kamila yang bakalan bicara lebay tanpa henti dan membahas hal-hal yang tidak terlalu penting.


"Mampir ke club' yuk, sugar Daddy gue ngajakin ketemu hari ini. Dia baru pulang kerja butuh hiburan katanya." Kamila tersenyum ketika mendapat pesan singkat dari sugar daddy nya.


Salma tersenyum miris, kenapa ia punya teman bisnis tapi modelan gini. Atau jangan-jangan Rio juga sama lagi nimbun sugar mommy seperti Kamila.


Ya ampun pikiran Salma jadi tercoreng di tambah lagi pikiran fantasinya sudah merajalela di atas ranjang dengan suara sensual yang begitu menggema di telinga seperti yang pernah ia keluarkan secara tidak sengaja kala itu.


"Astaga pikiran aku ...." Mengetuk-ngetuk kepalanya sambil menggelengkan.


Kamila menatap dari spion.


"Pikiran kamu ada apa kak Salma?" Kamila mengeluarkan lipstik dan menambah warna pada bibirnya yang semula pucat kini berwarna cerah dan menggoda.


"Tidak ... tidak ada!" canggung jadinya.


Sesampainya di club' malam seperti hari-hari sebelumnya Salma akan di sambut dengan baik oleh beberapa orang yang memang mengenal Salma. Tapi sebelum itu ia mengubah tampilannya di ruangan khusus miliknya dan mengganti pakaian kurang bahan.


Cinta bertepuk sebelah tangan membuat dia begini, ini bukan Salma tapi ia mau mencoba menjadi Salma yang lain dan mencari jati dirinya. (Tidak patut di contoh, seharusnya menjadi lebih baik dan bukannya justru merusak diri)

__ADS_1


Rio seperti biasa menari-nari dengan iringan musik yang melengking membengkak di telinga, Salma sedikit menjauh dari kerumunan dan menatap jus yang ia minum.


Meski pakaian kurang bahan tapi sebisa mungkin dirinya juga menghindari minuman merugikan ini, tapi sedikit bukannya tidak apa-apa.


"Salma ... Salma ... patah hati bukan gini caranya, jika kamu menghancurkan diri sendiri kamu bakalan rugi kedepannya." (si putih)


"Tapi jika kamu tidak minum sesuatu yang menenangkan kamu akan terus saja memikirkan bajinga* yang tak tau diri dan di untung itu." (si hitam)


Salma berpikir sejenak.


Sepertinya butuh menyegarkan diri dulu deh, hendak pergi namun matanya menangkap seseorang yang pernah ia lihat tapi di mana ya?


"Sepertinya tidak asing dengan laki-laki yang bersama Kamila, tunggu ... tunggu ... bukannya itu Dokter yang tadi aku lihat di rumah sakit yang ngasih aku satu kotak makanan, beneran dia orangnya. Mataku masih jernih dan otakku juga gak loading banget ...." Mengerjab-ngerjabkan matanya.


Serasa tidak percaya jika orang yang ia lihat murah senyum, tampan dan kalem ternyata seorang Cassanova.


Kamila sadar jika Salma berjalan tidak jauh dari tempatnya memuaskan sugar Daddy nya meski tidak sampai jauh hanya sekedar kecupan yang menuntut ke arah yang lebih jauh lagi.


Di tempat Alga di rawat.


Ia selalu menatap pintu ruangan keluar masuk tempat dirinya menginap selama 1 Minggu tanpa hadirnya Salma di sampingnya, cuma sesekali bapaknya berkunjung tapi Adipati setiap hari mengunjungi dirinya.


Riska sudah 3 kali mengunjungi dan tadi Riska menyuapi dirinya untuk yang pertama dan terakhir kalinya, tapi Alga tidak tau jika tadi Salma diam-diam datang dan bertepatan dengan dirinya di suapin oleh Riska.


Sekilas bayangan Riska merengek meminta untuk balikan lagi.


"Alga ... maafkan aku ya menuntut kamu dengan cara dipaksa Mencintai Salma, aku mohon jangan putus ya hubungan kita meski aku tau kamu sudah menikah dengan Salma. Aku mohon Alga." Tatapan menyedihkan sekali.


Alga sedikit tersentuh, walau bagaimanapun Riska kekasih hati yang sudah jadi mantannya yang paling berkesan di hidupnya.

__ADS_1


"Tidak bisa Riska, pergilah. Keadaan aku seperti ini dan di tambah kamu berada di tempat ini membuat semua kacau, hubungan kita di awali secara tidak sengaja dulu dan aku memutuskan kamu dengan baik-baik meski aku dalam keadaan menjadi suami orang. Aku tidak mau menambah beban dosaku, jadi aku mohon pergilah Riska raih kebahagiaan kamu tapi tidak denganku," Alga menepis tangan Riska yang menggenggam dirinya.


-


"Kak Salma, sini." Kamila memanggil Salma, tapi karena suara bising jadi tidak jelas Kamila menyapanya atau tidak.


Salma berjalan mendekati 2 insan entah di mabuk asmara atau hasrat bir*hinya saja.


"Kak kenalin ini Samudra." Kamila mengenalkan Salma pada Samudra.


"Samudra." Mengulurkan tangannya pada Salma.


"Salma," cuek, dingin dan tenang.


Samudra tersenyum manis, sungguh berbeda wanita ini. Samudra mengingat-ingat sepertinya tadi ia berjumpa dengan wanita ini tapi di mana ya ....


"Sepertinya kita pernah bertemu nona?" Samudra mulai membuka percakapannya.


"Benar tuan, saya wanita tadi yang anda berikan satu kotak nasi di depan kamar pasien!" Salma tidak menampik jika dirinya memang bertemu dengan Samudra.


Samudra tersenyum.


"Kamila sayang, nanti kamu pulang sendiri tidak apa-apa?" Samudra menyentuh rambut gelombang Kamila.


"Tidak apa-apa, asalkan!" jawabnya mengisyaratkan tangan untuk memberikan upahnya malam ini.


*


Ambil hikmahnya di setiap part yang Emak tulis oke.

__ADS_1


__ADS_2