
Agam tadi merasakan curiga berlebih pada kakak sepupunya, apa perlu ia tanyakan tapi nanti dikirain gak percaya dengan kakaknya sendiri dan lebih percaya dengan cctv dan pendapatnya sendiri lagi.
Agam di buat kebingungan, teka-teki apa ini. Sepertinya ia tidak pernah melukai siapa-siapa atau menyinggung orang lain. Agam berusaha mengingat-ingat apa dirinya punya masalah saat di Kampus atau di luar dunia kampusnya.
Sedangkan di rumah Adipati, Alga di buat hawatir setengah mati saat menemukan Salma yang tergeletak tidak berdaya di lantai. Lantai kamarnya begitu dingin sampai wajah Salma terutama bagian bibir membiru pucat sekali.
Alga mengangkat badan Salma dan membaringkan badannya, lalu Alga menelpon salah satu pembantu rumah untuk membantunya mengobati Salma dan memanggilkan Dokter secepatnya. Adipati yang tadinya berada di ruang kerjanya langsung menemui anak dan menantunya.
"Salma ... bangun nak." Adipati mengusap telapak tangan kanan sedangkan Alga tangan kirinya Salma.
Dalam situasi seperti ini mereka kompak.
Dokter yang menangani Salma sudah datang, begitu cepat sampai di rumah. Apa tadi sang Dokter berada di perjalanan atau entah mau kemana begitu sepertinya.
-
Sedangkan di tempat lain, Samudra ternyata sudah berada di klub malam bahkan ia minum beberapa kali sloki, tidak banyak hanya 2 saja tidak lebih.
"Ish ... dasar ingkar janji, gak pantes jadi suami Salma. Apa aku harus rebut Salma lebih dulu dengan cara tidak baik, em ... tidak ... tidak ... jika aku rebut dia dengan cara curang. Bukannya dia akan pergi dariku dan tidak mau menengokku lagi, pesona ... kamu itu sangatlah luar biasa Salma." Samudra sedikit tidak sadar, potret Salma ia sentuh dengan kagumnya.
"Apa salah, jika aku menyukai wajah cantik ini. Wajah yang membuat aku tergila-gila bahkan melirik wanita di luaran sana saja tidak ada yang menarik lagi, meski mereka semua rela tanpa sehelai baju di depanku. Cih ... Alga memang bodo4nya gak ketulungan lagi." Sambungnya sebelum ia benar-benar tertidur pulas di ruangan klub malam bagian VIP tersebut.
Rumah kediaman Adipati.
Mereka semua tentu saja hawatir dengan gadis bernama Salma itu, bagaimana bisa Salma yang tidak pernah pingsan seumur hidupnya kini ia berbaring tanpa kesadaran.
"Bagaimana Dok?" tanya Adipati pada Dokter yang memeriksa keadaan Salma.
__ADS_1
"Tidak perlu hawatir berlebihan pak Adipati, keadaan nona Salma semakin baik dan sepertinya kondisi matanya akan pulih juga serta ingatannya!" sedikit merasa bersalah sudah berbohong padahal selama ini Salma tidak benar-benar kehilangan ingatannya.
Pingsannya tadi sebab kelelahan pikirannya dan tentang matanya Salma itu benar jika perkembangannya bertambah baik, entah drama ini akan berlanjut sampai kapan. Dokter Qori hanya bisa membantu Salma sedikit dan selanjutnya hanya Salma sendiri yang memerankannya.
'Huft ... leganya jika masalah ini sedikit ada titik terang, untung sebelum kesini tadi siang Salma sudah bicara jika ingatannya di buat membaik saja dan sisanya tentang apa yang harus di bicarakan. Untungnya gak ketahuan.'
Qori lega selega-leganya.
"Benarkah Dok?" Adipati sangat senang dengan kabar baik ini, rasanya tidak sabar melihat putrinya bahagia lagi.
Sedangkan Alga termenung, Salma pulih ingatannya. Bukankah ia akan mengingat lagi perlakuan jahatnya dan bertambah benci lagi pada diri ini, tidak ... ia harus jujur dan mencari waktu agar Salma mau memaafkan dirinya memaafkan atas tindakan yang merugikannya dulu sampai-sampai terjadi insiden yang tidak di inginkan menimpa Salma.
Salma mulai siuman, kepalanya memang merasa sakit. Apa lagi di tambah badannya yang terasa sangat lemas, ia haus dan lapar.
"Haus ...." Salma hendak duduk tapi langsung di bantu oleh Alga.
Plak
"Tidak usah, panggilkan saja salah satu pembantu di rumah papa. Aku takut kamu berbuat macam-macam." Salma sebisa mungkin dan sekuat mungkin menolak perhatian Alga.
Alga tercengang dengan penolakan Salma, bahkan Dokter Qori dan juga Adipati. Mereka melihat sumber suara, lalu Qori dan Adipati perlahan menjauh dari kamar tidur dimana Salma tadi di periksa keadaannya.
Salma sangat takut dirinya percaya diri lagi jika pergantian Alga tulus dan tidak main-main padahal itu hanya siasatnya saja untuk membantu balas dendam lagi. Apalagi tentang Riska yang selalu terngiang-ngiang di pikirannya, wanita yang menaruh dendam pribadi dari jaman dulu sampai sekarang.
Mungkin saja ini siasatnya lagi untuk menjebak dalam permainan gilanya yang lebih dalam lagi dari sebelumnya.
"Salma, jangan kamu siksa aku seperti ini Salma. Aku mohon ... maafkan aku." Berusaha meraih hati lembut Salma kembali.
__ADS_1
"Siksa apa, apa kamu pernah berbuat Salah padaku?" pancingnya dengan nada santai.
Memang sengaja Salma begitu, ia ingin Alga mengaku lagi ia ingin Alga tambah bersalah. Memang tidak pantas hanya Alga saja yang di hukum seharusnya Riska juga ikut di hukum, Salma mulai semangat untuk sembuh dari sakit agar diri nya bisa menyelesaikan misinya dengan tangannya sendiri.
"Salma, maafkan aku yang pernah melukai kami dulu. Tapi sebelum aku melanjutkan permintaan maafku ke kamu, aku mohon kamu minum dulu." Tetap menyodorkan segelas minuman pada Salma.
Salma ragu-ragu menerimanya.
Tapi pada akhirnya ia mengambil dan meminum air itu sampai tinggal sekitar 2 cm saja.
Setelah meminum air putih Salma menyipitkan matanya seperti orang yang benar-benar bisa melihat, tapi bukan karena itu. Salma hendak mengejek tapi situasi ia berada di dalam kamar tanpa ada orang lain lagi, pikiran negatif ke Alga selalu ada mengingat catatan dosa Alga yang pernah di torehkan ke dalam tubuh dan hatinya.
"Lanjut cerita, jangan terlalu basa basi doang." To the points langsung.
Alga menggaruk kepalanya, mau cerita di mulai dari mana ia bingung bukan main.
"Kenapa diam?" Salma mengalihkan wajahnya.
Ia mencari-cari sebuah bantal untuk kenyamanan badannya, ia ingin sekali mendengarnya lagi. Meski ... terdengar konyol dan mau sakit hati sebab kenyataannya cerita itu mengulang lagi kisah lama.
"Maafkan aku Salma, maaf yang membuat kamu terluka. Dulu aku pura-pura memperhatikan kamu dan memberikan kesan yang baik dan luar bisa itu semua hanya kepura-puraan yang sudah terencana sebelumnya. Dan atas kejadian itu aku meminta maaf yang sebesar-besarnya Salma dan kejadian dimana aku hampir meniduri Riska itu semua," Alga berhenti bercerita.
Atas kebodo4annya ia hampir kehilangan Salma untuk selama-lamanya bahkan terancam tidak dapat memiliki Salma lagi.
"Untuk balas dendam, apa kamu mendekati papa juga demi harta?" pancing Salma.
Alga gelagapan, apa yang di tuduhkan Salma pada dirinya memang benar. Demi harta, perlakuan baiknya juga demi harta, syukur deh kejadian beberapa hari yang lalu saat Riska mengaku-ngaku hamil jadi heboh bahkan Alga sudah di mengundurkan diri dari pekerjaannya mengawasi lahan tembakau dan teh, setidaknya benalu tak menguasai harta keluarga Adipati bukan.
__ADS_1