Terjerat Pesona Anak Majikan

Terjerat Pesona Anak Majikan
28. Melampiaskan emosi


__ADS_3

Alga benar-benar bodo* kenapa tadi ia ke rumah Riska jelas-jelas Riska bukan muhrimnya, tapi tadi dirinya benar-benar tidak ada niatan melakukan hal di luar jangkauannya tapi ... semua sudah terjadi dan kini dirinya sendirilah yang harus membereskan masalah yang sudah ia buat dari awal.


Misi untuk melukai Salam sudah terjadi tapi kenapa ia sangat-sangat bersalah pada Salma apa perhatian palsu pada Salma kini sudah berubah haluan dan ada apa dengan dirinya.


"Kenapa aku jadi tidak tega begini pada Salma?" gumam lirih ketika dirinya sudah menutup pintu dan berjalan keluar rumah.


'Bukankah bagus jika ia terluka, berarti misi diriku membalas dendam dan membuat Salma suka padaku telah berhasil. Tapi aku belum mendengar pengakuan rasa cintanya itu tapi rasa ketidak sukaannya saat aku bersama Riska terlihat sekali jika dirinya seperti orang cemburu, coba besok aku tes lagi apa dia benar-benar cemburu aku dengan Riska.'


Alga berlalu menuju garasi dan mengambil motornya untuk pergi menyegarkan pikiran, ia melajukan motornya ke arah salah satu warung kopi di tempat ini banyak orang menikmati secangkir kopi dan banyak pemuda yang sedang nongkrong santai di tempat ini umurnya sih 11 12 dengan dirinya dulu saat masih SMA. Tapi ada juga para orang tua yang berada di tempat ini selain murah tempat ini menyediakan WI-FI gratis pula asalkan pesan minum atau beberapa gorengan.


"Pesan kopi gula aren nya satu ya bang." Alga memilih tempat yang agak jauh dari kerumunan orang-orang.


Tak selang berapa lama pesanan kopi sudah datang.


"Kalau sampai Bapak tau bagaimana dan perasaannya? pasti bapak sangat kecewa sekali di tambah lagi Salma nona kesayangan bapak dan sekarang jadi menantu kesayangan bapak, di tambah lagi bagaimana perasaan pak Adipati jika tau putrinya saya lukai seperti ini." Alga berada di ujung tanduk siap-siap bunuh diri sendiri sebab ulahnya yang terlalu egois.


Seharusnya dari awal dirinya berhenti dan tidak main-main sampai terjadi seperti ini, andai tadi ia bersikukuh dengan alasan pekerjaan dan lebih mementingkan Salma pasti hari dimana dirinya sekarang tidak terjadi, nasi sudah menjadi bubur.


Di tempat lain.

__ADS_1


Salma menangis hatinya benar-benar teriris-iris pedih sekali rasanya, terhianati seperti ini bahkan yang menghianati mengakuinya. Meski pernikahan tanpa cinta namun dirinya tidak dapat menetralkan perasaan yang ada dalam dirinya, bukan salahnya dia jika ia mencintai suaminya.


"Dasar laki-laki minta di potong bebek angsa." Salma melemparkan bantal yang basah akibat air matanya ke lantai.


Ia beranjak dari tempat tidur lalu berjalan dengan menghentakkan kedua kakinya secara bergantian menuju kamar mandi ia membersihkan dirinya seperti terkena najis saja tapi tidak pakai lumpur hanya mandi berkali-kali sambil tubuhnya menggigil baru ia keluar dari kamar mandi dan menuju ruang keluarga.


Nila, Siti dan Ina menatap ke arah sumber suara ternyata majikannya sedang dalam mode bad mood atau perasaan sedang buruk. Nila, Siti dan Ina adalah penonton setia pertengkaran antara Salma dan Alga bahkan episode salah faham akan berlanjut sampai beberapa hari yang akan datang.


"NILA ... NILA ...." Teriakan Salma membuat Nila terkejut lalu ia menatap kedua sahabat yang seprofesi dengannya.


Nila menguatkan diri menghadapi amukan majikannya, ya resiko anak buah selalu kena damprat tuannya.


"Iya mbak," suara melengking Nila terdengar nyaring di seluruh penjuru rumah bahkan di luar rumah bisa di pastikan suaranya menggelegar dan membuat orang yang memiliki pendengaran bagus langsung terganggu.


Nila menelan salivanya.


Gluk


"Ada apa mbak memanggil saya?" tanya dengan sopan sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Belikan aku ayam bakar, ayam goreng dan martabak tapi bukan martabak manis. Jangan lupa corndog kamu belikan, ini uangnya!" memberikan 5 lembar uang berwarna merah pada Nila.


"Siap mbak Salma." Nila bergegas namun di berhentikan lagi oleh Salma.


"Nila, tunggu. Satu lagi beli lebih jika uangnya cukup, untuk kalian sisanya," Salma mengibaskan tangannya.


"Terimakasih mbak Salma." Senyum merekah terpancar di sudut bibir Nila.


Sekitar satu jam Nila kembali ke rumah dengan membawa banyak pesanan Salma dan membawakan untuk yang lainnya juga.


"Mbak Salma ini pesanannya, sesuai dengan yang mbak mau." Meletakkan di atas meja ruang keluarga.


"Terimakasih ya, gimana uangnya kurang tidak untuk membeli makanan?" Salma membuka bungkusan yang berada di depannya.


"Tidak mbak, saya pamit ke belakang dulu mbak!" Nila bergegas pergi dari pada ikutan di makan.


Salma masih memendam emosinya usai menangis tadi perutnya lapar dan butuh pelampiasan yang banyak maka dari itu makanlah solusinya jika emosi tidak dapat padam di tambah lagi usai menangis pasti pas jika makan banyak.


*

__ADS_1


Emak juga gini kalau emosi bawaannya makan mulu buat meredam


__ADS_2