
Alga membantu Salma masuk ke dalam mobil semua satu mobil dan Alga menyetir mobil itu dan di sampingnya bukan sang istri tapi bapaknya sendiri, Salma menolak saat di tawari duduk di depan dan ia memilih duduk di bagian belakang bersama dengan Papanya Adipati.
Salma bahkan tidak menatap ke depan, ia lebih asik berbicara dengan Adipati sesekali Arto juga ikut bicara apalagi tentang masa lalu Salma yang suka sekali pulang terlambat dan berakhir kena hukuman di larang keluar sampai waktu yang tidak di tentukan, tapi Salma selalu saja pandai ngeles dan akhirnya sang papa luluh juga.
Sesampainya di tempat Agam membuka cabang pertamanya restoran seafood semua tertuju pada suasana restoran yang begitu alami bahkan suasana sangat sejuk dan enak untuk di nikmati.
Salma merasakan itu tapi sayangnya pengelihatan matanya belum membaik dengan sempurna, masih buram dan tidak jelas sama sekali. Tapi ia tetap berpikir positif saja, jika Alga benar-benar sudah tidak berarti buat apa punya penglihatan yang jelas jika yang ia lihat akan membuat sakit hatinya tidak sembuh-sembuh.
'Oh ... ya bukannya Agam dan Samudra adalah saudara meski tidak terlalu kental saudaranya sebab saudara jauh, kalau di undang oleh Agam gimana. Oh ... ya aku teringat jika aku pura-pura hilang ingatan, jadi untuk sementara waktu saja aku aman-aman saja bukan.' Batinnya dengan percaya diri sekali.
Samudra tau jika adiknya itu mengundang gadis bernama Salma, lebih tepatnya istri dari pria yang kurang bersyukur itu. Samudra memang sudah banyak tau tentang Salma sejak lama tapi ia tidak mau menyinggung perihal sesuatu yang sangat sensitif untuk wanita.
Memang sebaik-baiknya aib harus di tutupi sebaik mungkin jika tidak ingin mereka tau tentang masa lalu kelam yang ada di antara dirinya sendiri dan pihak lawannya. Tapi apa boleh daya terkadang emosi yang tidak tertahan dan perihal lain yang membuat mereka harus tau sedikit atau banyak rahasia lama.
Itu semua di lakukan untuk mengeluarkan keluhan yang ia rasakan selama ini tanpa ada orang lain yang peka dan tau itu.
"Salma."
Sapa Samudra yang mengenakan kemeja rapi ala-ala Dokter memang dirinya seorang Dokter jadi kemana-mana pakaian yang ia kenakan selalu formal dan cocok dengan karakter wajah dan sikapnya yang penuh tipuan padahal jika sudah kenal lebih dalam dia hanya seorang pria mesum yang hanya fokus pada selangkan9an saja.
"Siapa?" bingung tidak tau siapa yang menyapa dirinya.
__ADS_1
Haduh ... akting harus total bukan.
Samudra menatap tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang, bukannya ini Salma yang ia kenal tidak mungkin salah orang bukan meski pakaiannya tidak sama, di tambah lagi saat masuk restoran ini ia datang tidak sendirian. Lalu apa yang terjadi dengan matanya Salma, kenapa pandangannya hanya lurus tidak ke arah lawan bicaranya.
Jangan ... jangan ... apa yang sedang di pikirkan Samudra benar, jika Salma kehilangan penglihatannya dan juga ingatannya. Kenapa Agam tidak cerita, kurang ajar dia itu. Takut kalah saing apa bukannya lebih baik saingan secara sehat dan damai.
"Aku Samudra, Salma." Hendak meraih tangan Salma namun secepat kilat tangan Alga menghentikannya.
Samudra tersenyum.
Lalu ia mendekati Alga dan membisikkan sesuatu yang tidak di sukai oleh Alga, apalagi jika bukan merebut Salma dari genggamannya. Bukannya sudah di peringatkan dulu untuk menjaga Salma dengan baik, tapi apa ini yang sekarang ia lihat.
Salma kehilangan penglihatannya dan juga ingatannya.
Pukulan mendarat di wajah Alga, seketika acara yang hendak di mulai jadi kacau sekali sebab ulah Samudra yang mendadak marah ke Alga tanpa sebab yang pasti, mereka menggunjingkan Salma. Sementara yang berkelahi jadi pusat perhatian sebab mereka sama-sama tampan dan mempesona yang satunya berpakaian santai dan yang satunya berpakaian rapi dan sopan.
Tapi justru yang berpakaian sopan dan rapi memukul orang dadakan entah ada masalah apa atau jangan-jangan mentalnya terkena masalah lagi, begitu banyak orang membicarakannya sampai-sampai Agam menghentikan acara yang hendak di mulai.
"Hey .. stop, kalian berdua apa-apaan sih. Jika kalian ingin berkelahi bukan sini tempatnya, ngerusak acara doang kalian." Agam mengisyaratkan beberapa orang untuk menyeret kedua orang yang barusan membuat keributan meski kedua orang itu ia kenal dengan baik.
Untung saja Agam tidak kenal baik dengan Elang, jika kenal pasti kekacauan akan bertambah parah sebab Elang suka sekali mengompori di tambah ia berduit tebal dan mengeluarkan sedikit uang saja tidak masalah untuk membayar jasa seseorang untuk mengacaukan apa saja yang ia mau.
__ADS_1
Salma membiarkan tanpa ikut campur, biarkan saja mereka menunjukkan sifat aslinya lagian jika ada orang yang salah disini bukan dirinya tapi mereka yang tidak beres dengan otaknya dan membuat keributan begitu saja padahal tempat ini akan ada acara peresmian restoran seafood.
Adipati, Arto dan Salma duduk di tempat duduk yang sudah di persiapkan secara khusus oleh Agam. Agam sangat antusias, biarkan saja Alga dan Samudra tidak bisa masuk lagi dengan begini Salma hanya akan menjadi miliknya sesaat tanpa menggenggam dia dengan erat dan lama.
"Om ... ayo silahkan dinikmati sajiannya." Agam menawarkan jamuan yang begitu menggugah selera baik Arto maupun Adipati sangat-sangat antusias sekali.
Salma mencium bau itu bau yang sangat sedap dan enak sekali.
Salma hendak mencoba tapi tangannya tidak menemukan sesuatu yang menganggu penciumannya, lalu dengan sigap Agam membantunya. Meski acara yang baru saja terjadi sedikit ada terkendala masalah tapi tidak dengan perjamuan yang berjalan dengan lancar usai pembukaan dan pengesahan restoran seafood Agam.
"Aku bantu, kamu tinggal buka mulut dan komen masakan seafood di restoran aku ini. Jika di lidah kamu tidak cocok akan aku ganti chef-nya sekarang juga." Agam bicara apa adanya.
Sedangkan Chef yang memasaknya jadi ketar-ketir mendengar bos barunya hendak memecat siapa saja yang bersangkutan dengan wanita yang sedang bos barunya suapi.
"Gimana, enak enggak?" harap-harap cemas.
Salma masih mengunyah, ia menerka-nerka rasa apa yang berada di mulutnya ini. Enak atau tidak tapi lumayan bisa dinikmati oleh lidahnya meski yah ... cukup aneh sih. Tapi ia tidak mau berkomentar pedas atau apalah itu, jika ia komentar bukannya chef baru itu akan di pecat sekarang juga padahal hari ini hari pertama restoran ini di buka oleh Agam.
"Begini Agam, bolehkah aku ke dapurnya. Oh ... ya siapa tadi yang memasaknya?" Salma menunjuk makanan yang tadi di hidangkan.
Batin Agam memang tidak salah jika makanan yang tersaji kurang serek di lidah ternyata benar, dari tampilan yang ini tidak menarik dan sepertinya tidak enak terbukti Salma meminta untuk di antarkan ke dapur secara langsung.
__ADS_1
*
Jangan lupa jejaknya, terimakasih banyak