
Alga berusaha mengelak namun tetap saja mereka enggan percaya.
"Perbuatan tercela seperti ini harus segera di nikahkan saja di tempat ini pak kepala desa." Ucap salah satu warga yang geram.
Ia memang tidak suka jika ada warga yang berbuat tidak pantas di tambah lagi ini daerah perkampungan bukan kota besar.
"Tolong kalian semua percaya jika saya tidak menghamili wanita ini, lagian kalian tau dari mana jika saya menghamili wanita ini. Menyentuh saja saya tidak mau di tambah lagi sampai menghamilinya."
Para warga menatap satu sama lain, Riska sedikit terpojok dengan pengakuan Alga.
"Saya tau dari ini," seseorang memperlihatkan video dan juga percakapan antara dirinya dan juga bidan setempat.
Mata Alga membulat begitu juga Anton dan Ambar tak kalah terkejut dengan vidio itu, bahkan tidak lengkap versinya. Alga tersenyum kali ini ia tidak bodoh seperti sebelum-sebelumnya.
Ia mengeluarkan ponselnya yang di dalamnya begitu banyak bukti-bukti jika Riska berbuat yang tidak senonoh dengan pria dan juga melakukan kejahatan.
"Kalian ini hanya bisa menghakimi saya, apa kalian tidak tau jika wanita yang sedang hamil ini menipu sana sini. Dan satu lagi saya punya buktinya loh jika saya tidak pernah melakukan macam-macam pada wanita ini justru wanita ini lah yang bermain-main dengan kekasihnya."
Riska terkejut dadanya bergemuruh bahkan nafas di tenggorokan sudah berhenti untuk kesekian detik.
Riska tidak habis ide, ia harus menghancurkan bukti itu sekarang juga. Tanpa basa basi ia rebut dan membanting ponsel itu sampai menjadi kepingan meski tidak hancur sepenuhnya tapi setidaknya bukti itu saat ini telah hancur dan para warga tetap mempercayai aktingnya yang berubah-ubah.
'Buktinya.'
Alga mengulurkan tangannya rasanya tidak percaya satu-satunya bukti yang ia miliki.
'Hancur sudah harapanku,'
Alga mengepalkan tangannya.
Plak
Tamparan kerasa mendarat di pipi Riska, Riska memegang pipinya yang terasa panas. Semua orang terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Alga, laki-laki seperti dia ini apa masih berakal sehat dan waras.
Sudah menghamili tapi main kasar juga bisa masuk penjara ini jika ada yang melaporkan kejadian tersebut dengan pasal penganiayaan dan pelecehan dan bisa berlapis jeratannya.
"Wah ... ini orang parah sekali, sudah bertindak asusila tapi juga main kasar ini bisa di bawa ke kantor polisi jika menganiaya orang." Ucap salah satu warga yang sedari tadi terus saja memanas-manasi suasana di balai desa setempat jadi keruh.
__ADS_1
Alga menatap telapak tangan yang baru saja menampar Riska.
"Ini tidak seberapa dengan apa yang kamu perbuat pada istriku, aku juga tau jika kamu peneror boneka itu. Selama ini aku diami kamu ternyata kamu tambah ngelunjak dan tidak tau malu. Jika kamu masih sayang dengan dia kamu cepat akui jika ini anak kamu dengannya." Ancam Alga tepat di telinga Riska.
Sudah lama ia geram dengan wanita ini, dulu betapa bodo*nya tertipu oleh wanita seperti cacing kepanasan dan berlenggak lenggok di depannya dengan manja padahal hanya tipuan semata.
Riska gemetaran takut warga malah berbanding terbalik mengajarnya dan menghakiminya bersama-sama.
"Se-- be-- nar-- nya-- sa--." Ia terbata-bata.
"Dia calon saya yang kabur," Elang datang dengan hawa yang begitu mendominasi.
Pakaian dan juga mobil milik Elang sangat mencolok. Riska panas dingin ternyata Elang juga mengetahui siasat ini, pasti hilang ATM berjalannya. Mampus ....
"Elang." Ketakutan setengah mati.
Kediaman Adipati.
"Nak, maafkan papanmu ini Salma." Mengusap surai Salma sesekali mencium puncak rambut Salma.
Air mata luruh seketika saat melihat putrinya yang menangis di pelukannya, mungkin sekelebat kenangan dengan Alga melintas sampai-sampai Salma terkejut dan menangis.
"Tidak pa, apa benar Alga yang katanya suamiku itu menghamili wanita lain?" Salma melanjutkan akting yang sudah berjalan.
Tapi dalam hatinya ia ingin menghancurkan Alga tapi tidak sekarang melainkan menunggu waktu yang tepat, enak sekali sudah membuat anak orang jatuh cinta tapi dengan tega melukai sampai sesakit dan separah ini.
Salma meminta salah seorang pembantu untuk mengantarkan dirinya ke kamar, ia ingin istirahat lebih tepatnya mengistirahatkan batinnya.
"Mbak Salma, apa ingin saya ambilkan makanan dan minuman?" tanya ke Salma.
"Boleh!" jawabnya datar.
Dari pada pusing dan pikiran tambah berat, lebih baik ia melampiaskan amarahnya ke makanan meski ia tau nanti perutnya akan sedikit begah dan kurang nyama.
Alga panas dingin saat pulang ke rumah Adipati. Keringatnya bercucuran di seluruh badan tanpa berhenti sama sekali.
"Semoga gak jadi samsak tinju di rumah mertua."
__ADS_1
Dug
Dug
Dug
Alga beberapa kali mengelap keringat dinginnya.
"Tarik nafas ... buang ...." Alga menaiki anak tangga untuk masuk ke dalam rumah Adipati.
Adipati menatap arah pintu, ia begitu kesal saat matanya tidak sengaja menatap makhluk hidup yang begitu tidak tau diri.
"Kurang baik apa saya ke kamu?" pertanyaan Adipati mencekik leher Alga.
"Maafkan saya pa, saya tidak pernah melakukan hal itu. Saya ada bukti tapi bukti itu sudah di hancurkan wanita yang tidak tau diri itu!"
Bagi Adipati ini hanya akal-akalan Alga untuk mengeles dan menghindarkan masalah.
"Berati keputusan saya untuk memisahkan kalian harus terjadi, anak saya bisa tiada dan tekanan batin gara-gara hidup dengan kamu. Di tambah lagi kamu sepertinya tidak ada perubahan, apa salah putri saya Alga. Jawab Alga."
Adipati meminta Alga untuk bicara apa kekurangan putrinya dan apa salah putrinya, jika tidak mau kenapa tidak dari dulu menolak pernikahan dan tidak menerimanya dengan lapang dada kala itu.
Tau begini tidak di paksa putrinya untuk menikah, sekarang apa yang di dapat oleh putrinya adalah penderitaan dan luka batin.
"Pa ... saya mohon jangan pisahkan saya dengan Salma Pa, Alga benar-benar sayang dan cinta tulus pada Salma," memohon-mohon di bawah kaki Adipati.
Adipati sedikit tidak suka dengan sikap Alga, kenapa jadi dirinya yang sepertinya ada salah.
Salma yang baru saja selesai melampiaskan marahnya ke makanan tanpa sengaja mendengar Alga bicara tentang bukti, bukti apa yang hendak ia buat. Di tambah lagi ada kata-kata sayang dan cinta, benarkah itu atau hanya bualan saja agar tidak di usir dari keluarga Adipati.
"Jangan percaya pa, jika dia sudah menikah buat apa menghamili wanita lain." Salma kesal berjalan sambil meraba-raba pagar di tangga.
Alga langsung menatap ke arah sumber suara yang berasal dari anak tangga. Salma ekspresi wajahnya sangat tertekuk-tekuk dan tidak ada wajah bahagia lagi.
*
Pusing dengan cerita atau karya orang lain ❎
__ADS_1
Pusing dengan cerita atau karya sendiri ✅
Jangan lupa dukungannya dan terimakasih banyak.