Terjerat Pesona Anak Majikan

Terjerat Pesona Anak Majikan
23. Jujur Salma ke Agam


__ADS_3

Salma meletakkan tasnya dengan tidak semangat, baginya hari ini hari terburuk selama ia kuliah di Universitas ternama tempatnya menimba ilmu.


Agam menatap curiga Salma.


"WOY ... kusut banget tuh muka, lupa setrika kamu?" sambil memberikan air mineral pada Salma.


"Sudah tau nanya!" Salma membuka segel air mineral lalu tutupnya dan meminum hampir satu botol ia habiskan.


Agam sampai menautkan kedua alisnya, kerasukan setan apa ini anak tumben-tumbenan air pemberiannya di minum biasanya di biarin sampai jamuran tuh air mineral. Ada yang tidak beres ini, atau jangan-jangan Salma mulai buka hati. Wah ... ini bertanda baik artinya, Agam bersorak gembira dalam hati.


"Apa nanti aku boleh ke rumah kamu Salma?" Agam masih sama seperti dulu tidak pernah berubah selalu ini yang ia tanyakan.


Sejak SMP Agam selalu satu sekolah bersama dengan Salma tapi saat hendak ke rumahnya selalu saja di tolak jika tidak pasti di suruh menunggu di gang depan rumah dan berbicara di tempat penjual soto ayam lagi dan lagi bahkan sampai sekarang.


"Untuk apa datang, aku tidak mau terjadi fitnah Agam." Salma menolak.


'Maaf Agam, tapi sebisa mungkin aku tidak membukakan pintu rumah. Takut tetangga su'udzon dan menambah dosa, meski aku sadar dosaku memang banyak.'


Agam kecewa, lagi-lagi di tolak kunjungan baiknya. Apa dirinya tidak pantas datang ke rumahnya, berperilaku baik dan gak main cewek sana sini apa itu kurang di mata Salma atau jangan-jangan sudah ada pria lain yang mengisi hatinya. Tapi siapa orang itu? bukannya selama ini Salma tidak memiliki kekasih.


Setelah selesai jam kuliah.


Salma dan Agam sedang mengobrol di salah satu cafe yang tidak jauh dari kampus.


"Kenapa kamu membawaku kesini Agam?" Salma meminum lemon tea hangat.

__ADS_1


Agam menatap teliti wajah Salma bahkan sampai ia bisa menatap pori-pori halus Salma.


"Kamu harus jujur sama aku, itu bekas apa di leher kamu?" tanya Agam dengan teliti padahal ini bekas Alga kemarin malam kenapa masih ada, bukannya bekas itu sudah tertutupi dengan foundation jangan-jangan luntur lagi gara-gara banyak keringat yang keluar.


Salma menarik nafas panjang, ia harus jujur agar Agam tidak berharap pada dirinya lagi.


"Begini, aku dari dulu tidak suka bertele-tele jadi pada intinya. Aku sudah menikah dan bekas yang kamu lihat ini adalah bekas jajahan suamiku." Salma berbicara tegas namun mematahkan hati Agam langsung.


Jadi selama ini usahanya sia-sia saja mendekati Salma, terus siapa laki-laki yang beruntung itu. Apakah dia laki-laki baik, tampan dan mapan, lalu apakah dia mencintai Salma. Begitu banyak pertanyaan yang mendarah daging di otak Agam, bagaimana jika Salma di lukai oleh Suaminya itu.


"Siapa laki-laki beruntung itu Salma?" tatapan Agam berubah jadi dingin.


"Dia ...," belum selesai berbicara tapi ia mendapati kenyataan jika suaminya tengah di rangkul kekasihnya masuk cafe ini.


Kenapa takdir sebegitu kejam pada dirinya, kenapa harus dengan cara ini datangnya.


"Dia siapa Salma?" Agam penasaran.


"Yang kamu lihat barusan itu!" jawabnya menunjuk Alga dan kekasihnya.


Agam tidak percaya bahkan bola matanya sudah sangat lebar sekali.


"Alga." Agam menebak saja.


Salma mengangguk.

__ADS_1


"Beneran?" masih tidak percaya.


Salma mengangguk lagi.


Seketika Agam menepuk dahinya.


"Kenapa kamu punya suami yang tidak tau diri sih Salma, di pikiran kamu ada apa sih kenapa mau-maunya kamu nikah sama dia yang jelas-jelas punya kekasih itu." Memijat kedua pelipisnya.


"Papa yang meminta, dia terlalu percaya jika Alga laki-laki baik. Sedangkan aku tidak bisa membantah permintaan Papa, kamu tau kan Papa orang tua satu-satunya yang aku punya," Salma murung sekali.


Untung saja posisinya sekarang di tutupi oleh Agam jadi ia tidak ketahuan oleh Alga.


"Terus kamu diam begitu melihat suami kamu jalan dengan kekasihnya yang sok cantik itu?" Agam bicara apa adanya sambil mengisyaratkan tangannya ke arah dua sejoli yang jatuh cinta tanpa memikirkan perasaan orang lain.


Riska memang tidak cantik bahkan manis saja tidak ada, mungkin karena body dan rayuan mautnya lah yang mampu menghipnotis Alga dan bod*hnya Alga bisa di tipu dengan mudah termasuk dengan pacar-pacarnya yang lain juga.


Salma cengegesan di iringi tawa devil.


"Aa ... ha ... ha ..., biarkan saja. Lagian jika mereka senang dalam kubangan dosa ya terserah, nanti malam akan aku ceramahi suamiku!" jawaban monohok apa ini, kenapa ada wanita gila seperti Salma.


Apa otaknya konslet setelah menikah dengan dia, sebenarnya Agam tidak mau menghina Alga tapi ia membantin saja.


'Dasar laki-laki brengse* sudah miskin gak punya kerjaan bagus biasa-biasanya main gila dengan wanita lain bahkan istrinya melihat, dia tidak tau. Kalau gue di posisi Salma bakalan gue tendang dari rumah tanpa pakaian biar sekalian tuh di arak warga kampung. Aku tidak rela wanita sebaik Salma di lukai bajinga* tidak pandai bersyukur. Lihat saja Alga, akan aku lindungi Salma sekuat jiwa ragaku meski taruhan nyawa pun aku rela demi Salma.'


BERSAMBUNG

__ADS_1


Yuk tinggalkan jejak yang baik, biar mood booster Emak naik.


__ADS_2