Terjerat Pesona Anak Majikan

Terjerat Pesona Anak Majikan
80. Perjanjian merubah segalanya


__ADS_3

Suara deringan ponsel milik Alga mengejutkan Alga yang sedang berkerja, sudah terlanjur setengah jalan.


"Maaf sebelumnya tuan dan nona, mertua saya telepon. Bolehkan saya mengangkatnya dan menyuruh teman saya menggantikan saya sebentar?" diiringi senyum di mimik wajah Alga.


Pelanggan itu mengiyakan, lagi pula Alga begitu ramah dan terampil melayani pembeli tempatnya berkerja.


"Iya.. tidak apa-apa, pasti ada yang penting mertua kamu menelpon di jam seperti ini!" tersenyum ramah.


Adipati menunggu Alga mengangkat telponnya sampai suara panggilan ke dua barulah Alga mengangkatnya.


πŸ“ž "Hallo pa.. ada apa?"


πŸ“ž "Alga. Kamu dimana?" balik bertanya sebab Adipati tidak tau jika menantunya berkerja di salah satu restoran ternama dengan gaji yang sangat layak dan tidak sembarang orang bisa berkerja di tempat tersebut.


Meski ijasah hanya SMA skill Alga tidak dapat di remehkan apalagi soal bicara, Alga lebih licin dari pelumas kendaraan bahkan lebih gesit dari mesin terbaik di dunia.


πŸ“ž "Begini Alga, apa kamu tau Salma hari ini kemana? apa dia sedang bersama kamu Alga. Papa main ke rumah hari ini."


Alga mengerutkan dahinya, Salma tidak ada di rumah? lalu dia pergi kemana sekarang. Kenapa dia sering pergi dan tidak berpamitan dulu, iya dirinya mengizinkan pergi tapi berpamitan dulu setidaknya jika tidak mau dengan suami atau papa atau bapak ya minimal dengan pembantu atau satpam rumah begitu agar tidak membuat hawatir dan resah hatinya Alga maupun Adipati papanya.


'Jika bapak tau Salma pergi tanpa izin pasti aku yang kena sebab tidak bisa menjaga istriku dengan baik. Tapi bukannya lebih parah papa yang bertindak bisa-bisa habis riwayatku.'


Alga terdiam sedangkan Adipati mengerutkan alisnya dan bingung dengan anak dan menantunya, sebenarnya ada apa lagi antara Salma dan Alga. Apa mereka bertengkar dan saling jauh satu sama lain.


Sebagai orang tua pasti Adipati resah dan takut akan keselamatan rumah tangga anaknya dan secara tidak langsung dirinya dulu begitu sangat tidak peduli dengan orang lain, di tambah ia suka sekali bermain-main dengan beberapa wanita.


πŸ“ž "Maaf pa sebelumnya, aku sedang berkerja pa hari ini dan Salma tadi di rumah pa. Mungkin hari ini sudah masuk kuliah tadi ia mengirimkan pesan padaku pa saat aku berkerja," terpaksa Alga berbohong.


Terus terang saja Alga benar-benar tidak tau keberadaan Salma sekarang ia dimana, bagaimana keadaannya sekarang yang jelas rasa hawatir ini begitu besar dan takut terjadi apa-apa dengan Salma, takut kejadian lalu itu terulang kembali.


Rasanya kehidupannya hampa dan hambar tanpa hadirnya sosok Salma di hidupnya.


Adipati sebenarnya tidak percaya tapi.. mungkin saja benar lagi pula Salma sudah waktunya masuk kuliah kembali seperti dulu.

__ADS_1


πŸ“ž "Ya sudah kalau begitu, papa pulang dulu Alga nanti malam papa akan datang lagi."


sebelum ia menutup telponnya, Alga bernafas lega saat Adipati sudah memutuskan sambungan telepon, lagian horor banget di telpon mertua jika ujung-ujungnya pasti anak perempuan yang ia nikahi sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja hati dan jiwanya.


Sedangkan Salma ia berada di tepian danau sambil merenung, memang jauh dari rumah tapi demi menenagkan pikirannya jauh pun akan ia tempuh meski menguras tenaga cukup banyak.


"Haduh ngapain kamu kesini, lagi patah hati dan mau bunuh diri. ingat dosa mbak jika mau bunuh diri." Ucap seseorang yang tiba-tiba mengejutkan Salma dan main bicara seenaknya jidat saja.


Siapa juga yang berpikiran sempit dan mau mengakhiri hidup, dosa yang ada.


"Su'udzon di gedein. Kamu kira aku gak punya iman apa," Salma tidak terima meski mungkin ini hanya bercanda semata tapi sudah sangat menyinggung jika tentang ketidak percayaan pada Sang Maha Pencipta.


"Bercanda mbak, lagian kenapa sih mbak di tepian danau.. dan dari tadi saya lihat cuma termenung saja, mbak punya banyak masalah ya?" tanya seorang anak remaja.


Dia seorang anak perempuan seperti pemulung tapi tidak yakin sebab pakaiannya seperti anak pengamen, masih usia belasan tahun tidak jauh dari Salma yang berusia 20 tahunan.


"Banyak dan itu membuatku pusing tujuh keliling!" Salma tersenyum getir.


"Itu sebagian kecil, hidupku ini layaknya patung dan boneka yang dimainkan sana sini dengan sesuka hati, aku lelah dan ingin menyerah tapi.. aku dan dia sudah terlanjur menikah dan itu secara sah agama dan negara," Salma menjelaskan saja, lagi pula pasti gadis muda ini tidak paham soal pernikahan.


"Oo.. mbak sudah menikah, pasti suaminya tampan ya sampai-sampai mbak begitu mempertahankan dia, buat apa mbak jika modal tampan saja tidak bisa menghargai istrinya. Lagian mbak jangan mau lagi dengan dia, bukan maksud saya lancang mbak, tapi seorang suami sekali melakukan hal menyakitkan pasti akan ia ulangi lagi mbak suatu hari nanti." Anak remaja ini kenapa begitu berpengalaman sih soal rumah tangga kaya iya-iya saja pernah mengalaminya.


"Sok tau kamu," beranjak pergi namun di cegah oleh gadis itu.


"Kak bagi duit dong." Tangannya di ulurkan di depan Salma.


Salma seketika mengerutkan kening, anak ini benar-benar, manis mulutnya tapi banyak durinya juga.


"Ko manggilnya beda, tadi bukannya mbak bukan kak?" Salma sengaja menggoda anak ini.


Lagian posisi gadis ini pernah ia alami dulu bahkan sekarang pun terkadang jika kumat lagi ya seperti gadis remaja yang berada di hadapannya.


-

__ADS_1


Isi surat perjanjian terngiang-ngiang di kepala Alga. Alga yang memfotonya melihat kembali layar ponselnya.


Perjanjian


1. Jika melanggar dan melukai pihak wanita, maka sang wanita berhak meminta sesuatu yang seharusnya terjadi, bahkan ke pengadilan sekalipun harus di kabulkan tanpa adanya penolakan kecuali ada perubahan pikiran secara dadakan.


2. Kembali ke nomor satu.


3. Juga sama kembali ke nomor satu.


4. Tetap ke nomor satu tidak ada yang lain lagi


5. Titik tidak pakai koma.


Sebenarnya Alga tertawa renyah di dalam hati, lucu isi perjanjiannya. Kenapa istrinya bisa seunik ini bahkan tidak ada kata-kata bosan jika bersama dan berlama-lama dengan Salma.


"Senyum terus,kasihan tuh hapenya nanti kepedean kamu tatap terus." Ledek salah satu orang yang berkerja di bagian barista.


"Gak bakalan kepedean ko, benda mati gak punya hati," Alga memasukkannya kembali ke dalam kantong celana.


"Kata siapa benda mati gak punya hati, ada tuh orangnya hidup gak punya hati." Tunjuknya pada Alga.


Alga mengepalkan tangannya.


Kenapa benar sekali sih sindirannya.


"Sialan kamu, nyindirnya jangan kencang-kencang dong.. malu." Alga memukul kursi yang tidak ada salahnya.


*


Ayo.. ramaikan dong share ke teman-teman juga boleh, agar emak semangat update nya.


Terimakasih yang sudah berkenan mampir dan membacanya.

__ADS_1


__ADS_2