Terjerat Pesona Anak Majikan

Terjerat Pesona Anak Majikan
52. Keluhan Salma tentang cinta


__ADS_3

"Hentikan." Pekik Salma mencekal tangan Alga yang hendak masuk di antara selangkangannya.


"Kenapa?" dengan nafas yang sudah memburu.


Permainan sudah setengah jalan kenapa berhenti di saat naik-naiknya.


"Aku tidak mau dan jangan memaksa, jika kamu benar suamiku!" Salma menggeser duduknya pelan dan memperbaiki posisinya.


"Maaf aku khilaf dan hampir melukai kamu." Alga mencium kening Salma.


Bekas ciuman terasa sekali di dahinya, ia mengusap pelan lalu memalingkan wajahnya padahal sekarang kan posisi dirinya masih belum bisa melihat.


Alga menjauh dan segera masuk ke kamar mandi, ia menuntaskan bi*ahinya di sana dengan bantuan sabun dan tangannya sendiri tentunya, bukan jorok atau apa tapi dari pada di tahan dan sakit jadinya lebih baik di lepaskan saja.


"Tau begini besok potong rambutnya saja dari pada di cabut malah tambah naik bir*hinya." Alga menuntaskannya.


Salma mendengar suara yang tak asing di telinganya, biarkan saja pelepasan sendiri salah sendiri melukai. Tapi bukannya menolak permintaan suami dosa ya hukumnya, tapi sekarang dirinya pura-pura hilang ingatan. Tuh kan jadi gak tega dan tergugah lagi untuk baik hati dan memaafkan kesalahan orang lain.


"Kamu gak boleh lemah Salma, ingat kamu bukan wanita lemah. Masa iya gara-gara dia kamu jadi seperti ini." Cicitnya berpikir jernih saja.


Suara pintu kamar mandi terbuka.


Alga masih telanjang dada dan mengambil kaos warna hitamnya dan ia kenakan kembali. Ia mendekati Salma dan memberikan satu gelas air putih dan juga ada obat di samping tempat tidur Salma, pasti pembantu yang mengantar barusan saat dirinya di kamar mandi. Alga mengambil nampan berisi makanan yang tak jauh dari tempat Salma berbaring menyandarkan dirinya.


"Makan dulu lalu minum obat ya, maaf Salma."


Alga terus-menerus mengatakan kata maaf ia akan mengucapkannya sampai Salma benar-benar ingat akan dirinya dan mau berlapang dada untuk memaafkan kebodohannya dahulu.

__ADS_1


"Bisa tidak ya kamu itu jangan minta maaf terus, bosan tau dengarnya," Salma mendengus kesal.


"Aku hanya bisa meminta maaf pada kamu Salma dan aku akan membuktikan jika aku benar-benar tulus meminta maaf." Alga mendekat dan menyodorkan makanan pada Salma.


"Hak ... buka mulut kamu." Perintahnya dengan tegas dan tidak mau menerima penolakan darinya.


"Aku haus bukan lapar, tidak usah menyuapiku," Salma meraba laci sebelahnya namun tidak menemukan apa-apa meski ia sudah sangat pelan meraba atas laci, yang ia temui sesuatu yang tak seharusnya ia sentuh.


"Pakailah." Alga tau apa yang sedang gadis di depannya pikirkan.


"Tidak ... em tapi," menyodorkan tangannya ke depan Alga.


Misi ini tidak boleh gagal dan harus semulus mungkin.


Alga tentunya dengan senang hati memasangkan cincin pada jari Salma, mereka sama-sama tersipu tapi segera saling berpaling.


Pertanyaan Salma seketika membuat Alga yang semula senang kini berubah ia terkejut bukan ini jawaban yang ia mau. Tapi ... ya sudahlah takdir ngenes gak apa-apa dari pada nyugsep lebih parah lagi.


"Gak bilang apa gitu!" lesu.


"Memang ingin aku jawab apa, aku saja masih ragu jika kamu suami aku atau orang mesum yang cari kesempatan dalam kesempitan." Salma langsung meminum air putih pemberian Alga.


Ternyata drama yang ia lakoni begitu menguras tenaga dan pikirannya, suara tegukan air di kerongkongan terdengar berkali-kali.


"Habis maraton neng?" lagi-lagi perkataan Alga semakin aneh dan ngelantur kemana-mana.


"Iya, gak cuma maraton. Tapi lari ngejar hati orang yang gak kesampaian!" jawabnya acuh mengambil tongkat penunjuk jalan yang tepat di samping kirinya.

__ADS_1


"Kamu lagi suka sama seseorang?" Alga tidak suka Salma bicara begitu di tambah lagi Salma lupa ingatan.


Pasti laki-laki itu teman satu sekolah atau anak kuliah, pasti itu.


"Iya, tapi dia pasti gak suka dengan aku ..., di tambah aku sekarang!" memainkan pucuk jarinya.


Genggaman tangan Alga begitu kokoh dan terasa, Salma sedikit menghangat dengan perhatian kecilnya.


"Kamu cantik dan baik, orang mencintai tidak memandangi fisiknya Salma. Percaya denganku oke." Alga menguatkan Salma.


'Benar juga kata kamu tak memandang fisik, jika kamu memandang fisik mana mungkin kamu suka dengan Riska yang minus kelakuannya dan sebegitu dalamnya bahkan jadi bodo* kayak aku ini.'


Salma menjelek-jelekkan Alga dalam batinnya.


"Jika aku cantik dan baik kenapa aku tidak di cintai? apa aku tidaklah pantas untuk di cintai?" pertanyaan ini membuat Alga sangat dilema.


Meski hatinya sudah tidak ada nama Riska tapi posisi Salma sekarang sedang kehilangan ingatan, jika dia ingat bukannya Salma akan sangat benci sudah memanfaatkan orang hilang ingatan untuk kepuasan dirinya sendiri.


"Eh ... hari ini cuaca bagus, aku ajak kamu ke danau yuk untuk menikmati kesegaran airnya." Mengalihkan percakapan.


Salma membiarkan terserah apa yang ia buat, lagian sudah lama dirinya tidak pergi ketempat itu selama beberapa bulan ini hanya rumah sakit saja dan beberapa tempat lain bukan tempat alam terbuka.


*


Emak tau karya ini sepi pembaca, entah apa yang kurang menarik dari karya ini. Tapi emak berusaha yang terbaik dan gak meniru karya yang sedang melejit mau beda sendiri dan gak mau sama seperti yang lain.


Mohon dukungannya boleh ya share karya ini tapi no plagiat ya.

__ADS_1


Biar emak semangat ngetik jika pembaca bertambah dan senang dengan krya yang emak bawakan, terimakasih banyak.


__ADS_2