Terjerat Pesona Anak Majikan

Terjerat Pesona Anak Majikan
78. Salma merasa di kelilingi orang2 egois


__ADS_3

...Sekedar penyejuk hati tapi tidak dapat mengobati, luka......


...Salma Adipati...


*


"Aku.. benar-benar tidak ada niatan melepasmu Salma, kemarin aku mengirimkan pesan singkat itu sebab aku merasa sangat bersalah terus saat kamu bilang jika jalan itu mengingatkan kamu atas kejadian kecelakaan kamu. Aku tambah bersalah, andai saja aku memblokir nomor Riska dan membuang nomer HP milikku pasti kejadian itu tidak pernah terjadi dan menimpa kamu Sayang." penjelasan yang sedikit masuk akal.


Tapi.. tidak sepenuhnya salah Alga di sini, sebenarnya ada yang menyabotase mobil yang ia kendarai tapi ia tidak mau berprasangka buruk, mungkin orang itu mengambil benda miliknya yang terjatuh di kolong mobil taksi yang ia tumpangi waktu itu.


"Tapi.. bagaimana dengan luka ini Alga, kenapa kamu dengan mudahnya bicara begitu lalu meminta maaf kembali?" Salma akhirnya angkat bicara.


Alga bungkam dan tidak bisa menjawabnya.


Pelukan erat Alga di perut Salma kini lepas, Alga membiarkan Salma berpikir sejenak. Entah apa yang akan ia pikirkan namun di dalam benak Alga Salma tidak mungkin bisa memaafkan diri ini semudah seperti yang sebelum-sebelumnya. Kesalahan ini sudah sangat fatal mustahil benar-benar di maafkan kembali.


Pasti sekarang rasa cinta Salma terkikis perlahan-lahan. Alga yakin itu dalam hati, sesal memang di akhir cerita.


Salma sendirian ke rumah papanya ketika sore hari secara dadakan, sedangkan Alga berkerja hari ini mulai siang tadi sampai malam di salah satu rumah makan sebagai pramusaji, meski gajinya tak seberapa tapi di lakukan dengan ikhlas maka akan menjadi berkah tersendiri untuk Alga, semoga saat gajian tiba nanti Salma mau memaafkan dirinya dan menerima gajinya sebagai nafkah lahir dari Alga.


Pramusaji adalah seseorang karyawan atau karyawati di sebuah restoran yang bertugas menunggu para tamu-tamu restoran tersebut dan membuat tamu itu mendapatkan sambutan yang baik dan tentu saja nyaman, lalu mengambil pesanan makanan para tamu dan minuman serta menyajikannya, dan juga membersihkan restoran serta lingkungan area restoran.


Kediaman Utama Adipati.


"Papa hari ini tidak di rumah mbak?" tanya ke salah satu pembantu rumah papanya.


"Tidak ada nona Salma, bapak hari ini keluar kota dan bertemu dengan seseorang pamitnya tadi pagi nona!" jawab Titin.

__ADS_1


Salma menghela nafas panjang tidak seperti biasanya Papanya pergi ke luar kota tanpa berpamitan pada anaknya.


Akhir-akhir ini memang semua orang begitu tega dan menyakitkan, bukan akhir-akhir ini tapi satu tahun terakhir ini lebih tepatnya. Begitu banyak kesedihan yang Salma rasakan dan memuncak semua, dari luka, kepedihan, ketidak pedulian dan lainnya.


Salma berpikiran yang tidak-tidak, bagaimana tidak anak cuma satu biji tapi sepertinya tidak punya anak dan tidak pamitan dahulu, apa dirinya tidak penting? pasti tidak penting sehingga keluar kota saja tidak berpamitan.


Padahal di benak Salma begitu banyak pertanyaan demi pertanyaan yang hendak ia tuntaskan tapi sepertinya tidak akan pernah terwujud jika papanya saja sering kali sulit di temui dengan alasan berbagai macam alasan yang sedikit tidak logis.


Adipati memang sering melarikan diri dari Salma, bukan tanpa sebab tapi dirinya tidak mau identitas lamanya terungkap pada putrinya. Cukup diri ini yang tau tidak dengan orang lain termasuk putrinya sendiri, ia tidak mau Salma menjadi sedih dan tambah terluka jika ia tau identitas papanya dan ibunya seperti apa dulu.


Di tambah lagi papanya dulu seorang Casanova yang tidak berperasaan sama sekali, mungkin tidak hanya Salma yang lahir bisa jadi ada anak lain juga yang terlahir secara tidak sengaja sebab dirinya yang selalu mengutamakan membuat produk asalkan wanita itu terjerat pesona dan kekayaannya makan akan dengan leluasa Adipati mendapatkan hasil, tapi.. Adipati tidak mau putri tercintanya tau semuanya.


"Nak Salma." Arto yang baru kembali dari super market menyapa anak menantu kesayangannya dan memeluk menantunya.


Arto terkejut saat mendengar isak tangis Salma.


"Hu.. hu.. hu.. bapak.." Air matanya terus saja terjun di pipinya.


"Nak.. ada apa sebenarnya, ceritakan semua ke bapak nak," melonggarkan pelukannya dan menatap wajah sembab Salma.


Salma kesulitan bernafas sebab tangisan barusan pecah.


"Alga pak..." Salma melanjutkan air matanya yang lagi-lagi luntur.


Arto jelas sekali kebingungan, apa yang sudah di perbuat putranya pada putri kecil kesayangannya ini anak majikan sekaligus menantu tersayangnya.


'Anak itu memang harus di atasi lagi, apa dia kurang di ajar baik-baik oleh bapaknya. Lagi-lagi menyakiti Salma lagi, apa sudah bosan hidup ayem tentrem di dunia.'

__ADS_1


Arto menggertakkan giginya.


Ia harus secepatnya mencari Alga tanpa sepengetahuan dari Adipati maupun Salma, tanpa bicara apa-apa saja Arto yakin jika Alga kali ini membuat masalah yang sangat luar biasa tidak dapat di tolerir lagi, gimana sih jalan pikiran dan otak Alga itu.


Apa tidak bisa bersikap dewasa selayaknya laki-laki normal di luaran sana, bukan Alga yang akan menjadi gila tapi orang-orang yang berada di sekitarnya yang akan menjadi gila sebab ulah kekanak-kanakan Alga.


"Bapak tau, bapak akan membuat perhitungan dengan anak itu. Tidak usah menjelaskan apa-apa bapak akan mengatasi dia sampai masuk ke rumah sakit lagi, enak saja melukai anak kesayangan bapak dan mantu kesayangannya bapak," Arto yang di liputi amarah menahan semua di depan Salma agar Salma tidak terkejut dan takut jika tau Arto yang sebenarnya seperti apa.


Ia tidak akan tanggung-tanggung jika menyangkut orang-orang yang berada di dekatnya itu, bahkan anak kandung sendiri tidak peduli jika salah yang harus menanggung akibatnya.


Sebenarnya tidak baik memberikan hukuman semengerikkan itu tapi mau bagaimana lagi di bilangin baik-baik saja tidak bisa diterima dengan terpaksa pakai sedikit tenaga otot saja.


"Tapi pak.. bukan karena itu Salma menangis." Salma masih melindungi aib suaminya.


Sekuat itu rasa cintanya agar Alga tau dan sadar, tapi..


"Lantas karena apa?" Arto menatap Salma yang ia anggap putri kandungnya.


"Tidak pak, kemarin aku dan Alga pergi ke suatu tempat dan lebih tepatnya menemui seseorang untuk memastikan saja, saat di perjalanan aku teringat jalan yang di lewati adalah jalan terakhir sebelum aku kecelakaan beberapa bulan yang lalu pak. Maka dari itu kenapa aku menangis barusan!" jawabnya berbohong.


Dengan mati-matian Salma melindungi semua tanpa terkecuali.


Beruntunglah wahai laki-laki yang mendapatkan wanita yang pandai menjaga aib suami dan rumah tangganya,tapi jangan pernah engkau membuka aib istrimu jika tidak ingin aibmu terbuka juga. Hargai dan cintai dia dengan tulus tanpa pamrih, buatlah dia nyaman berada di sampingmu.


Dan satu lagi catatan penting, jangan sesekali mengumbar aib di depan keluarga mu atau sanak famili lain. Taukah engkau wahai pasangan bahwa itu benar-benar menyakitkan dan setiap waktu akan selalu teringat.


*

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya.


Jika ada salah dalam penulisan mohon kritikan ya, emak masih harus belajar lagi dan lagi agar tulisan emak enak di baca.


__ADS_2