
Danau Abadi.
"Kamu membawa aku kemana Alga?" Salma dapat mendengar suara burung yang saling berkicau dan dedaunan yang saling menyapa.
Suara kompak seperti paduan suara di sekolah dulu.
"Danau Abadi, apa kamu suka?" menatap netra Salma yang berbinar-binar.
"Iya!" sambil mengangguk.
Tak dapat melihat tak apa-apa yang penting masih bisa merasakan, apalagi jika dia mau jadi mata untuk mewakilkan bagaimana keindahan pesona alam itu.
"Apa kamu mau merasakan air di danau ini Salma." Menawarkan jika ia mau atau tidak.
"Takut Alga," lebih tepatnya hawatir.
Salma masih takut dan trauma atas kecelakaannya beberapa bulan lalu, ingatannya begitu jelas kecelakaan yang merenggut sang sopir taksi dan juga hampir merenggut kehidupannya juga. Jika Alga ada niatan jahat bagaimana, rasa hawatir tidak dapat Salma tampik ia takut bahkan sangat takut sekali.
"Salma, percayalah padaku. Aku tidak akan melukai kamu lagi."
Tuhkan dari omongannya saja jelas-jelas Alga punya niatan tidak baik, siapa tau dengan keadaan tidak dapat melihat dirinya di tenggelamkan ke danau.
"Jika kamu melukai aku bagaimana? aku tidak bisa melihat!" resah nya.
"Percaya oke." Alga memberikan ciuman lagi lebih tepatnya di bibir Salma.
Salma mendengus kesal, kenapa pria ini semakin bucin saja tapi gak mau mengungkapkan cinta. Kalau gengsinya di gedein lagi Salma yakin hatinya bakalan dan culik berondong tajir atau duda tajir gak apa-apa yang penting cinta dan masih singel.
"Dasar perampok," mengusap bibirnya.
__ADS_1
"Biarin, lagian halal dan kamu gak menolaknya." Alga senang sekali bahkan melebihi dapat hadiah dari boneka capit yang sulit di dapat itu.
"Gimana mau nolak babang, jika aku saja gak bisa lihat terus kamu caplok dadakan," manyun.
Tapi menarik sekali sikap Salma, semakin kesini Salma begitu berbeda dari Riska. Dulu jika dengan Riska ia akan selalu keluar banyak uang sebab Riska selalu minta ini itu dan harganya mahal-mahal di kantong Alga. Bukannya pelit tapi lama-lama bisa kere dan kismin jika terus-menerus dengan Riska.
Sedangkan dengan Salma, di ajak ketempat ini saja ia tak minta apa-apa. Tapi masa iya ngajak kencan tidak di belikan apa gitu, nanti di kira pelit dan medit.
Tapi kesadaran ini kenapa munculnya saat Salma pergi dan kembali dalam keadaan terpuruknya, seharusnya dari dulu sadarnya sehingga Salma tidak terluka.
"Coba kamu rasakan airnya." Ketika sudah sampai di tepi danau.
Salma menyentuh air itu dengan tangannya tapi di bantu Alga supaya tepat ia menyentuh air di danau tersebut. Alga bahagia Salma tidak menolaknya dan tidak mengeluarkan kata-kata ketusnya lagi, mungkin jika dirinya dalam posisi Salma pasti yang ada hanya emosi dan kebencian.
Sungguh luar biasa gadis seperti Salma ini, jarang ada dan hanya Salma seorang yang berbeda.
"Dingin dan sejuk," senyum tak lepas dari bibir Salma.
"Alga ... sepertinya aku menyentuh ular di dalam karung deh, di dalam karung tepung yang terbuat dari kain itu loh?" Salma mencengkram kuat.
"Aduh ... sakit Salma!" Alga hendak melepaskan cengkraman Salma namun Salma berbicara lagi.
"Tapi ko dia mengeluarkan suara dan suaranya persis suara kamu? dan dia kenal aku pula sambil nyebutin nama aku." tangannya semakin tidak dapat di kondisikan dan cengkraman itu begitu kuat dan ++ .
"Itu punyaku," menarik tangan Salma.
Blush
Wajah keduanya memerah padam, apa orang-orang disini jadi penonton dan melihat tingkah konyol barusan. Malunya ....
__ADS_1
"Alga ... dasar mesum." Menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Kamu yang mesum, ngapain tangan kamu itu remas-remas yang seharusnya gak kamu remas," elaknya yang sebenarnya ia begitu menikmati tangannya.
Cengkraman kuat itu.
Alga menyudahi hayalannya lagian ini tempat umum dan ia melihat sekitar masih sepi jadi aman tapi netranya menangkap ada sepasang sejoli yang lagi adegan plus, sentuh tangan yang bersembunyi di balik kaos.
"Tempat ini memang tidak baik, semoga sejoli itu gak ketangkap satpol PP. Tapi semoga kena razia." Doanya jelek banget mentang-mentang sudah sah.
"Jangan membicarakan orang lain, kayak kamu sudah benar saja," sindir Salma.
"Benar juga ya, aku ini memang banyak dosanya, pantas saja kamu melupakan aku." Lemah, tertindas, tak berdaya.
Tapi sayangnya Salma tidak melihat, percuma saja.
Saat kembali ke rumah Adipati, Alga menghentikan laju mobil yang ia kendarai sendiri, ia membeli beberapa coklat dan camilan lainnya juga di sebuah minimarket.
"Kamu beli apa?" saat telinganya yang masih peka mendengar suara kantong kresek.
"Makanan kesukaan kamu, coklat dan camilan lainnya!" memberikan pada Salma.
Salma terkejut. Apa dia ini lupa jika matanya belum berfungsi normal lagi dan lagi-lagi membuat terkejut untuk yang kesekian kalinya.
"Bisa gak sih ngasihnya gak ngagetin aku." Tetap menerima dan membukanya secara kasar.
Apa mentang-mentang mata dia masih bisa melihat dan melupakan yang tidak bisa melihat ini.
"Maaf Salma, aku lupa," Alga mulai melajukan kemudinya.
__ADS_1
*
Romantis-romantisan dulu ya, emosinya di tahan dulu biar gak pusing