Terjerat Pesona Anak Majikan

Terjerat Pesona Anak Majikan
46. Adipati berusaha meminta maaf


__ADS_3

Adipati mengangguk paham.


"Benar, apa yang kamu bilang. Saya sebagai papa dan juga mertua sekaligus besan kamu Arto, saya meminta maaf sebesar-besarnya pada kalian Alga ..., Arto ...." Adipati bicara terasa canggung.


Arto paham dengan maksudnya.


"Iya pak Adipati, saya di sini juga sama salahnya. Saya juga meminta maaf," Arto menyambut jabatan tangan Adipati lalu ia duduk kembali di samping putranya.


"Tapi sekarang Salma jadi hak saya Pah ... bapak, saya yang berhak atas dirinya." Alga menyahut dan langsung berdiri tidak terima.


Alga memang berhak menguasai istrinya namun bukannya laki-laki harus mengayomi, melindungi dan tidak melukai istrinya.


Namun apa yang Salma peroleh dan dapat selama pernikahan ini terluka lagi dan lagi bukan, bahkan umur pernikahannya saja belum ada 1 bulan pernikahan.


Semua mematung, benar juga yang di keluhkan Alga. Salma istrinya dia yang berhak atas Salma bukan orang lain bahkan orang tuanya sekali pun tapi jika sang putri sudah terluka bagaimana coba.


"Pa ... Bapak, saya pamit pulang dahulu." Mencium punggung tangan mertua dan bapaknya.


"Dan kamu laki-laki yang tidak jelas, saya harap ini terakhir kalinya anda menginjakkan kaki anda di rumah mertua saya." Bisiknya sambil menepuk bahu Samudra tepat di samping jalan yang ia lalui dengan Salma.

__ADS_1


Samudra tersenyum lalu berjalan di belakang sepasang pengantin yang belum rukun itu.


"Jika tidak cinta gak usah sok-sokan menguasai hati seseorang, bukannya itu menambah beban dan luka?" Samudra berbicara sangat lantang.


Para pembantu tutup mulut, mata bahkan pendengaran. Hidupnya masih banyak yang harus ia hidup i selain dirinya dan keluarganya yang berada di rumah, dari pada di pecat dari kediaman Adipati lebih baik begini tutup semua.


Alga membalikkan badannya.


"Benar kata anda, tapi sebagai laki-laki sejati tidak mungkin mengambil hak milik laki-laki lain dengan cara yang tidak sopan dan tidak terhormat!" Alga langsung membalikkan kata-kata.


Samudra tidak bungkam, ia langsung menyahut tak terima.


"Bukannya laki-laki sejati tidak akan menyia-nyiakan wanita yang berada di sampingnya." Senggak Samudra.


Salma memberontak tapi lagi-lagi aksinya tidak berhasil.


'Aha ... aku ada ide.'


Batinnya tersenyum puas.

__ADS_1


Gigi Salma sudah tidak tahan ingin menggigit lengan Alga, tidak ada suara saat menggigit dan membuat si empu teriak kesakitan.


"ADUH ... sakit Salma. Kamu lahirnya tahun berapa sih, sio kamu anjin9 ya?" kesalnya sambil mengusap-usap lengan kanannya yang sudah berwarna merah dengan di tandai bekas gigitan.


"IYA KENAPA!" jawab ketus Salma memalingkan wajah.


Mau marah tidak bisa, hatinya lemah lagi dan lagi di hadapan suaminya. Meski ... banyak ujian di setiap bersama dengan dirinya, antara cinta ... harta dan kepedulian. Terkadang dirinya tidak tau malu menaruh cinta yang teramat besar dan ia tidak mampu membawanya sampai terjatuh pecah berantakan dan apa yang ia peroleh hanyalah luka lagi dan lagi.


Terjadi keheningan di dalam mobil, seperti kisah cinta orang lain yang pernah tak sengaja ia dengar, hambar dan membosankan tinggal di buang saja.


"Sejak kapan kalian bersama?" suara dingin Alga mendominasi ruangan mobil.


"Kenapa?" balik bertanya.


"Sepertinya kalian berdua sangat akrab ya, bahkan lebih akrab dari Agam!" lidah tajam Alga tidak bisa di pungkiri jika ucapan yang keluar dari dia selalu menyakiti hati.


Salma tertawa pelan.


"Ha ... ha ... ha ..., apa pertanyaan kamu tidak ada topik yang lain. Aku saja tidak pernah tanya macam-macam ko dengan apa yang kamu lakukan Alga, jadi buat apa aku jawab pertanyaan konyolmu itu." Salma heran kenapa dia jadi begini, posesif yang ia rasakan.

__ADS_1


"Oh. .. ya benar juga ucapan kamu. Oke. .. deh aku tidak tanya lagi sekarang," Alga langsung bungkam.


Tidak ada salahnya Salma bicara demikian, pasti dirinya kesal sekali di perlakukan begitu.


__ADS_2