Terjerat Pesona Anak Majikan

Terjerat Pesona Anak Majikan
70. Malu dan canggung


__ADS_3

Alga menatap tubuhnya sendiri yang hampir terpental ke lantai, meski badannya sakit sebab daun pintu ditutup kencang oleh Salma tapi ia tau jika Salma tidak mengunci pintunya.


Tok


Tok


Tok


"Salma ... bolehkah aku masuk?" tanyanya yang sudah membuka pintu dan kepalanya sudah menjulur masuk ke dalam.


Alga tidak melihat siapa-siapa lalu dimana Salma, cepat sekali dia menghilang.


"Kemana dia?" mencari kesana kemari tapi sesok Salma tidak ada.


Sedangkan Salma yang sudah rindu dengan kamar tercintanya langsung pergi ke kamar mandi dan berendam di dalam bathtub sambil bermain busa sabun di dalamnya.


"Salma ... Salma ... sayang." Panggilnya berkali-kali tapi tidak ada sahutan sama sekali.


"Apakah dia mandi?" mendekati kamar mandi dan benar saja ada suara lembut sedang bernyanyi di dalam kamar mandi.


Alga tersenyum lebar saat mendengarnya, ia memilih membaringkan badannya di atas tempat tidur king size berwarna pink kuning itu dan ia mulai memejamkan matanya.


Sekitar 1 jam Salma berendam, dengan percaya diri ia tak membawa apa-apa dari dalam kamar mandi menuju ruang ganti pakaian, bahkan mata tajam Alga yang sedari tadi melihatnya saja tidak ia sadari dari tadi. Apa segitunya rindu dengan kamarnya sampai-sampai lupa jika ada orang lain yang ikut adil menikmati tubuh moleknya itu.


Setelah berpakaian santai ia menuju tempat tidur.


"Alga, sejak kapan kamu di situ?" Salma tidak percaya jika ada orang lain.


Alga masih saja tersenyum bahkan wajahnya masih memerah.


"Sejak kamu berendam di kamar mandi, bahkan saat kamu berjalan dengan pedenya full naked sambil menggoyangkan badan kamu dan bernyanyi!" jawaban yang langsung mendapatkan pukulan ringan dari Salma.


Alga memeluk erat tubuh Salma.


"Jangan marah ya, lagi pula suami kamu sendiri yang menikmatinya bukan orang lain. Menyenangkan hati suami dapat pahala juga." Menenagkan Salma.

__ADS_1


Salma memang merasakan tubuhnya benar-benar di lindungi tubuh tegap dan kuat di dalam dekapannya.


"Gak marah ko, cuma malu sekali," tanpa ekspresi sama sekali.


Alga yang otw menjadi suami terbucin terus saja memberikan cinta penuhnya pada Salma. Di tambah Salma juga merespon dengan baik, kalau masalah ranjang sudah teratasi sekarang giliran masalah perut dan lainnya.


"Kenapa harus malu, justru aku senang melihatmu begini. Ceria, semangat lagi dan yang paling penting tambah cantik." Mencolek hidung Salma.


"Apaan sih, jangan gitu kenapa," malu-malu kucing.


Memang ya setiap ujian yang menimpa akan ada dimana masa-masa indah itu, meski tak selamanya setidaknya pernah merasakan. Luka yang di tahan seorang wanita memanglah tidak sama dengan yang di tahan laki-laki (mungkin begitu).


Alga enggan melepas dekapannya di perut Salma, momen seperti ini harus di gunakan sebaik mungkin dan pantang membuat masalah.


"Alga ... lepas." Dengan memberontak tapi kekuatan Alga lebih besar dan membuat Salma harus kehilangan banyak tenaga juga.


"Kenapa di lepas, kamu tidak suka aku peluk. Ya sudah aku peluk yang lain saja," protesnya langsung mengambil guling yang berada di sampingnya duduk.


Restoran seafood.


"Cih ... Dokter apaan itu, yang pantas itu Dokter mesum. Masa kelakuannya begitu, ck kasihan istrinya nanti dapat bekas koran."


Agam bermonolog sendiri sambil menggerutu saat berjalan menemui Samudra dan wanita entah itu siapa yang jelas wanita dengan pakaian kurang bahan dan berlubang-lubang seperti daun yang dimakan ulat bulu.


"Ngapain kesini bawa wanita jalan9?" geramnya sendiri pada sang kakak sepupu.


"Sopan dikit dong, aku masih Abang kamu loh!" Samudra menyilangkan kakinya.


Sedangkan wanita di sampingnya tidak berkutik sama sekali, ia terpaksa memakai pakaian minim dan berlubang-lubang demi menyenangkan hati Samudra, agar Samudra mau membantu dirinya membiayai rumah sakit tempat bapaknya di rawat beberapa hari ini.


Pertemuan mereka juga tidak sengaja dan entah mengapa Samudra menawarkan hal konyol dengan menjadikan dia sebagai simpanan di ranjangnya saja, tapi saat keluar harus memakai pakaian minim kurang bahan padahal itu bukan karakter sesungguhnya dia, wanita tomboy dipaksa berpakaian minim.


Soal Kamila sudah berpisah sejak lama sekitar satu bulan yang lalu.


"Iya ... iya ... tau Abang bajinga* kan, tega bener ngeprank resto dengan menukar makanan. Untung saja aku gak lapor polisi, bisa masuk sel tahanan atas nama pencemaran nama baik." Sindirnya lagi.

__ADS_1


Wanita yang berada di samping terkejut, dia pikir Dokter ini baik ternyata licik sekali pantas saja meminta diri ini untuk menjadi penghangat ranjangnya.


"Gitu aja ngambek, pantes gak ada satu pun gadis atau wanita yang mau jadi kekasihmu," Samudra dengan terang-terangan menyindir Agam sampai malu.


Tapi Agam tidak menanggapi omongan Samudra dengan serius, lagian meskipun ngeselin tapi Samudra tetaplah orang baik yang terjerumus di dunia yang gelap.


'Wah ... tampannya laki-laki ini, andai aku kenal dia daripada yang ada di sebelah aku. Playboy cap dusta, pasti tubuhnya sudah celup sana celup sini.' Batin Karina terkagum-kagum dengan Agam.


Samudra melirik tatapan mata Karin yang sedari tadi menatap Agam terus menerus, sial membawa Karin kemari.


'Hah ... bakalan saingan lagi dengan nih bocah, gak bisa. Aku kenal Karin lebih dulu dari Agam, gak boleh kalah lagi urusan beginian.' Samudra langsung meraih pinggang Karin secara tidak sadar bahwa dirinya sudah sangat posesif pada Karin.


-


"Alga." Panggilnya tidak ada tanggapan sama sekali.


"Hem," cuma gitu doang.


Salma mendekati Alga dan membuka mata Alga dengan terpaksa.


"Cuma hem doang, ya sudah mumpung aku bisa melihat kembali aku ke restoran Agam ya ... siapa tau di sana ketemu Samudra juga." Tidak ada cara lain selain menyebutkan mereka berdua.


Alga langsung mencekal pergelangan tangan Salma, matanya yang sedari tadi mengantuk kini langsung segar kembali bahkan rasa kantuknya saja lenyap seketika juga.


"Tidak boleh menemui pebinor-pebinor itu, mereka biar saja cari wanita lain wanita yang jelas statusnya bukan istri orang," Alga bahkan enggan melepas cengkaramannya.


"Aku tidak setuju, pokoknya aku mau kesana jika kamu masih lanjut ngambeknya." Salma meraih tas selempang yang ia rindukan.


"Jangan oke, aku gak marah. Nih ... lihat aku sudah senyum lebar dengan tulus nih," dengan menampilkan deretan gigi putihnya.


Restoran seafood.


Samudra, Agam, Karin, Alga dan Salma satu meja dengan perasaan canggung. Mereka benar-benar seperti orang asing yang tidak kenal satu sama lain padahal saling kenal, apa gara-gara ada wanita berpakaian minim ini.


"Kenapa semua diam? tidak mau makan?" Salma menatap satu persatu orang yang ada di sekelilingnya.

__ADS_1


Semua mengangguk dan langsung melahap, pertanyaan bersarang di benak mereka masing-masing.


__ADS_2