
'Ya Allah semoga tidak ada kata-kata pisah dari papa.' Doa Alga.
Ternyata tidak ada obrolan yang menyakitkan hanya sedikit sesak saja saat Adipati begitu bangga dengan Agam. Alga memang terpojok tapi ia terus-menerus menimpali perkataan semampunya agar dirinya tidak tenggelam dan menjadi canggung lagi.
Agam sudah memberi tau ke Salma alamatnya secara lengkap.
"Agam, kenapa alamatnya di daerah itu. Bukannya itu daerah mahal? apa di tempat itu yakin ramai di kunjungi orang-orang?" Salma tau jika di daerah itu terlalu padat dan banyak saingan lagi.
Tapi tergantung hoki dan rejeki masing-masing lagi, belum tentu satu tempat sama barang dan dagangan sama-sama laku. Terkadang justru kesamaan ini ada yang menimbulkan positif dan negatif, semoga saja mereka semua bersaing secara sehat tanpa bantuan apa-apa.
"Aku yakin pasti ramai dan lancar, asalkan kamu sebagai sahabatku mau membantu mendoakan. Bukannya itu daerah yang ingin kamu buat usaha dulu Salma, bahkan tempatnya sama persis seperti yang kamu harapkan. Jika ... usahaku tidak berjalan, bisa kamu pakai ko tempatnya untuk usaha kamu!" Agam jujur sekali pada Salma.
Buat apa sih berbohong pada orang lain jika ujung-ujungnya kembali pada diri dan melukai diri lebih dalam dari apa yang ia perbuat ke orang lain, lebih baik bicara apa adanya.
"Benarkah?" Salma tidak percaya dengan yang ia dengar.
"Iya beneran Salma, kamu boleh pakai sampai kapanpun yang kamu mau. Tanpa uang sewa dan lainnya, tinggal kamu pakai saja!"
Agam kenapa dia selalu baik, apakah dirinya ini pantas di perlakuan sebaik ini. Bahkan orang-orang yang ia cintai tidak akan rela berbuat baik yang begitu luar biasa, Salma sadar sesadar-sadarnya jika dirinya tidak pantas di perlakukan demikian.
Rio dan Kamila saja tidak akan seperti Agam yang begitu tulus, mereka hanya dekat jika ada duit yang berbicara sedangkan Agam malah menawarkan tanpa imbalan apa-apa.
Alga dan Arto mati kutu di tempat, Arto juga sadar jika anak lelakinya memang tidak berguna dan beban saja. Kenapa ia bisa memiliki anak seperti ini, mungkin dirinya harus lebih sabar menghadapi putra semata wayangnya yang masih ceroboh dan bertindak sesuai keinginannya saja tanpa memikirkan pihak lain yang di rugikan olehnya.
Sedangkan Adipati begitu senang dengan sikap kedewasaan Agam, jika ini berlanjut biarkan saja cinta di antara mereka tubuh antara Salma dan Agam. Ia tidak tega memisahkan Salma dan Alga secara mendadak, setidaknya jika mereka berpisah bukan dirinya yang akan di salahkan nanti tapi garis yang telah ada di diri mereka masing-masing.
'Semoga berjodoh kalian berdua, setidaknya putriku tidak terbelenggu oleh Alga. Jika di bandingkan dengan Alga, kamu lebih baik darinya Agam. Aku akan mengatur siasat yang rapi untuk mendekatkan Agam dan Salma lagi, biar Salma tidak sakit hati karena cinta bertepuk sebelah tangan.' Adipati berharap lebih sambil berangan-angan.
__ADS_1
Salma sedari tadi terus saja mengobrol ringan dengan Agam bahkan ia beberapa kali mengabaikan Alga suaminya.
'Sakit tak berdarah, ternyata di abaikan sesakit ini ya. Meski rasaku pada Salma aku juga tidak tau, hanya hati ini bergetar saat di dekatnya tapi rasa bersalah pernah melukai dia membuatku tersadar, jika aku memang laki-laki yang tidak layak untuk di pertahankan oleh siapapun itu.' Alga menyadarkan dirinya dengan sadar.
Salma berhak bahagia dengan orang yang tulus dengan dirinya tanpa embel-embel mengharapkan dapat ganti lebih banyak bahkan pujian yang besar.
Keesokan harinya.
Alga sudah siap dengan baju santai namun masih bisa digunakan untuk pergi, meski kemeja ada beberapa di lemari tapi ia lebih enak dan santai pakai kaos polosnya.
Salma baru saja mandi, pengelihatan matanya sedikit ada cahaya silau beberapa waktu ini tapi ia masih bungkam saja. Selain itu ia tidak mau orang-orang mengetahui bahwasanya dirinya sudah bisa melihat meski masih berkabut pandangannya.
'Semangat salma, harus kuat dan mandiri. Bukannya sudah biasa hidup sendiri sejak kecil, kalau sekarang harus hidup sendiri bukankah tidak apa-apa, sakit hati di tahan sedikit pasti lukanya akan membaik seiring berjalannya waktu.' Salma tetap mengenakan tongkat sambil menelusuri ruang ganti pakaian.
Sebenarnya ia sudah rindu dengan rumah pemberian papanya, tapi rumah itu terlalu menyakitkan baginya. Semua kenangan pahit dan asam yang selalu menghantui tiap tidur dan aktivitas fisik yang ia lakukan.
Dari dulu ia menahannya sendiri tanpa ada orang lain yang tau betapa perihnya hari-hari yang ia jalani di tambah lagi cintanya yang tak tergapai sampai detik ini. Jika ingin menyerah sudah dari dulu tapi cinta yang teramat dalam membuatnya tidak bisa lepas dari belenggu dan jeratan cinta Alga.
Suara sepatu mendekati Salma, Salma langsung menatap ke arah sumber suara.
Alga semakin melanjutkan langkahnya dan semakin dekat dengan Salma.
"Salma, apa perlu bantuan ku untuk mencari pakaian yang cocok untuk kamu pakai hari ini ke restoran Agam?" Alga menunjukkan keseriusannya pada Salma.
Salma mengangguk saja, malas berdebat lagi dengan Alga maupun diam-diaman saja. Lagian hari ini momen terpenting untuk Agam ia harus datang dan dandan selayaknya seorang perempuan dan tidak mengenakan pakaian seperti wanita yang tidak berpendidikan saja.
"Kamu pakai ini ya, sepertinya dress merah ini cocok kamu kenakan." Memberikan pada Salma.
__ADS_1
Salma menerimanya dan ia masuk ke ruang ganti pakaian. Salma meraba dress yang tidak pernah ia sentuh, pakaian ini pemberian dari Agam dulu. Sengaja tidak ia kenakan sebab saat perpisahan SMA dulu terlalu besar di badannya, semoga cocok dress itu kali ini.
Salma mencoba mengenakannya, agak kesulitan saat ia menarik resleting dress-nya bagian belakang ke atas, apa badannya sudah gak muat lagi mengenakannya. Tapi, jika tidak muat kenapa masuk badannya. Salma merasa aneh tapi malu juga untuk meminta tolong pada Alga meski dirinya sudah melihat dan mencicipi satu sama lain.
"Alga, apa kamu masih di situ?" tanya Salma dengan terpaksa sekali.
"Iya, ada apa Sal!" jawabnya tidak berani membuka pintu ruangan yang sedang di pakai Salma.
"Tolong dong, naikin resleting dress-nya." Salma menunggu lalu membukakan pintu yang tadinya ia kunci dari dalam.
"Iya sebentar, kamu buka dulu kunciannya dari dalam,"
Alga terkesima saat melihat penampilan Salma, apa tidak salah lihat ini. Salma begitu cantik dan badannya begitu pas mulai dari lekukan badan dan juga leher jenjangnya yang begitu menarik dan ia ingin sekali merasakannya.
"Alga, apa kamu sudah masuk? tolong dong naikkan resleting nya jika kamu sudah masuk ruangan. Keburu telat nanti acaranya." Salma tidak tau jika Alga sudah masuk seperti makhluk halus tanpa permisi datangnya bahkan tanpa suara.
"Sudah ini," Alga tiba-tiba bicara membuat Salma terperanjat dan hampir terjatuh.
Alga dengan sigap menolongnya, kalau tidak pagi ini akan ada drama yang membuat kepala, mata dan pernafasannya mendadak tidak bisa di gunakan secara normal.
"Kamu ini hantu ya, iseng banget bicara dadakan. Mau buat aku jantungan gitu."
"Enggak ko, maaf bikin kamu terkejut," lemah lembut dan penuh perhatian nada bicaranya.
*
Maafkan Emak yang sok repot ini ya, sekali lagi terimakasih banyak sudah membaca dan memberikan dukungannya.
__ADS_1