Terjerat Pesona Anak Majikan

Terjerat Pesona Anak Majikan
61. Di buat menyesal pelan2 saja


__ADS_3

'Memang sesal itu berada di akhir, aku menyesal pernah melukai dia dan perlahan-lahan penyesalan itu menggerogoti tubuhku. Seperti inilah rasanya terluka dalam diam sakit tak berdarah.'


Alga membatin sambil menatap kepergian sang pujaan yang baru saja memporak-porandakan hati dan pikirannya.


"Sal ...." Hendak menghentikan tapi pintu itu sudah tertutup lebih dulu daripada ucapannya yang masih tercekat.


Alga hanya bisa meratapi nasibnya, sesal sungguh sangat menyesal. Andai waktu dapat di putar kembali ke masa lalu dimana dirinya masih awal-awal menikah saat itu, tak akan di sia-siakan semua yang menjadi kenangan menyakitkan.


Salma sudah bersama Agam dengan suka cita bahkan Adipati sempat terkejut melihatnya.


'Sepertinya aku memang yang salah dulu, terlalu gegabah mengambil tindakan. Seharusnya Agam lah yang menjadi suami Salma, tapi apa boleh buat semua sudah terjadi bahkan Salma sampai di titik ini. Aku akan membuat Alga merasakan apa yang putriku rasakan, enak saja main-main dengan anak orang di tambah lagi kamu cuma anaknya Arto bawahan saya. Aku kira kamu akan seperti Arto yang setia meski istrinya sudah tiada lama, ternyata anak dan bapaknya tidak sama. Sungguh menyesal aku menikahkan kalian, lihat saja jika tidak ada perubahan dan selalu membawa orang ketiga itu.'


Adipati geram sendiri, tapi ia tidak mungkin menunjukkan langsung ke Arto maupun Alga. Istilahnya gengsi sudah minta anak laki orang untuk menikahi putrinya masa mencabutnya begitu saja dan membawanya pulang sebagai putrinya lagi.


"Om." Sapa Agam kembali.


Adipati tersenyum di tambah lagi dengan keadaan sang putri yang ternyata baik-baik saja, pasti gara-gara Agam mood putrinya segera membaik.


"Apakah ada papa?" Salma mulai bingung dan sedikit panik, takut saja wajahnya sebab di ketahui oleh Adipati.


Tapi sepertinya tidak.


"Iya Salma!" mengantar Salma duduk di dekat papanya.


Obrolan hangat antara Agam, Salma dan Adipati membuat Alga tidak nyaman. Ia sedikit tersinggung sebenarnya tidak di anggap, tapi mengingat ini semua masalah bersumber dari dirinya.


'Sepertinya aku harus segera mengundurkan diri saja, berlama-lama membuat luka Salma semakin menganga bukan di tambah lagi ingatannya tidak mengingat aku sedikit pun.'


Alga kembali masuk ke dalam kamar, ia ingin mengemas pakaiannya tapi dirinya ingat jika saat menginjakkan kakinya di sini ia tidak membawa apa-apa kecuali modal wajah saja.


"Tapi ... jika aku pergi sekarang, bukannya aku berada di titik kekalahan dan membuat pebinor dengan lihai masuk ke kehidupan rumah tangga ini. Gak bisa, aku harus menyusul Salma dan meraih hatinya lagi sampai ia mengingatkan tentang diriku yang baik-baik bukan yang buruk-buruk." Alga mulai semangat lagi mengejar harapan.


Semoga Salma mau berlapang dada menerima dirinya kembali meski kemungkinannya sangatlah kecil sekali.


Alga masih menatap nanar di ruang itu, ruang tamu itu menjadi saksi dimana Agam dan Salma saling tertawa. Adipati juga ikut sesekali tertawa, terus ... fungsi dirinya apa bukannya sama dengan parasit yang menempel di salah satu tubuh hewan atau tumbuhan tidak menguntungkan dan membuat rugi saja.

__ADS_1


Arto yang baru saja dari dapur melihat putranya yang sedang melamun dengan tatapan kosong.


"Alga, kenapa kamu cuma terbengong-bengong di situ. Susul sana istrimu, jika kamu mau hubungan berakhir ya silahkan. Bapak gak maksa, tapi satu pesan bapak kamu jangan pernah menyesal jika suatu saat nanti kesempatan itu tidak kamu dapatkan lagi." Peringatan Arto ke pada Alga seperti tamparan yang begitu sangat keras.


Alga mengangguk.


Arto kembali masuk ke dapur saat ada sesuatu yang tertinggal di dapur.


"Papa ... Salma. Agam." Canggung mendadak.


Agam sedikit tidak suka dengan kedatangan laki-laki model beginian, ganteng doang percuma ... jika kerjaannya cuma nyakiti anak gadis orang saja. Agam mengepalkan tangannya di belakang.


"Eh ... Alga, aku kira kamu tidak ada tadi. Sebab saat aku ketuk pintu kamunya tidak muncul." Jujur Agam memang tadi benar-benar tidak melihat keberadaan Alga.


"Iya, tadi di kamar mandi perut tidak bisa di ajak kompromi. Makanya kamu gak lihat tadi di atas," Alga canggung.


Salma tau jika terjadi ketegangan di ruangan yang tadi suhunya dingin mendadak jadi pengap dan panas. Pasti ketiga laki-laki di sekelilingnya sedang berebut perhatian dan yang lainnya meski tidak di tunjukkan tapi dari percakapan saja bisa di tebak.


'Kayak Bu dosen saja aku ini, aa ... ha ... ha ....' Dalam batin Salma tertawa renyah sekali.


Alga mengerenyitkan dahinya, apa sebegini inginnya menarik perhatian Salma dan Adipati mertua Alga.


'Dasar sok-sokan mau cari perhatian, tak akan ku biarkan kamu sukses meraih hati Salma.' Batin Alga sedikit tidak senang.


"Kamu punya usaha, usaha apa Agam?" pertanyaan Salma sukses membuat Alga kecewa.


Kenapa Salma begitu antusias, sebegitunya tidak ingin mengingat diri ini kecuali orang-orang yang lebih dulu mengenalnya tanpa melukai dirinya sedikit pun.


'Akan aku buat kamu tambah menyesal Alga, sikapmu dulu ke aku akan aku tunjukkan ke kamu pelan-pelan. Meski aku tidak bisa melihatmu untuk sekarang, biarkan saja kamu mengungkapkan isi hatimu dan keluh kesahmu.'


"Usaha kecil-kecilan ko, restoran seafood kesukaan kamu!" jawab Agam membuat senyum di kedua sudut bibir Salma mengembang.


"Benarkah? aku mau Agam kesana. Tolong dong nama restorannya dan alamatnya dimana, biar aku nanti gak kesasar saat ke sana." Antusias sekali Salma ini.


Arto datang membawakan beberapa makanan ringan dan juga minuman hangat, cuaca tidak menentu sebaiknya minum yang menghangatkan badan dan tentunya dengan bahan-bahan minuman yang sehat dan bagus untuk tubuh.

__ADS_1


"Silahkan diminum." Arto hendak berpamitan namun di cegah oleh Adipati.


"Arto tunggu?"


Arto langsung membalikkan badannya.


"Iya, ada apa pak!" Arto tersenyum ramah tamah.


Agam juga menatap Arto, terkadang Agam juga tidak mengerti kenapa sih bapak dan anak perbedaannya itu berbanding terbalik. Dan semoga saja jika keadaan Salma membaik perilaku Alga juga makin membaik, tidak baik sepasang suami istri terus memanas hubungannya.


"Besok, kamu sekalian ikut ya. Acara pembukaan restoran seafood milik Agam." Tawarannya pada Arto.


"Baik pak," hendak pergi lagi tapi di cegah lagi.


"Arto, mau kemana?" Adipati lagi-lagi bertanya.


"Saya mau mengembalikan ini ke belakang!" Arto menunjukkan meja dorong yang sedari tadi ia pegang.


"Duduk dulu, kita sama-sama besan. Tidak baik seperti ini Arto, kamu bukan pelayan lagi tapi besan dan juga bapak bagi Salma. Duduklah dulu kita bicara santai-santai saja." Adipati mengajak Arto.


Sebenarnya Arto sedikit tidak suka, sebab biasanya jika seperti ini ada beberapa hal yang hendak di bahas.


Dag


Dig


Dug


Tidak hanya Arto, Alga pun juga merasakan hal yang sama.


Jangan-jangan ini bertanda ...


*


Hayo bertanda apa coba?

__ADS_1


TO BE CONTINUED


__ADS_2