
"Aku mau mengintrogasi kamu Alga." Sambil memakan coklatnya.
"Mengintrogasi aku apa? Salma," fokus pada jalan raya.
"Sudah menghubungi Riska?" kenapa Salma membahas ini lagi.
Alga jadi mati kutu di kursi kemudinya, jawab apa coba. Jawab ini salah apalagi mengelak bukannya tambah salah, apa begini nasib pria di luaran sana selalu salah padahal tidak melakukan apa-apa.
"Belum, bukannya sedari tadi aku asik berduaan dengan kamu. Aku tidak mau momen untuk memperbaiki ingatan kamu terganggu dengan orang yang tidak ada kepentingan sama sekali!" tersenyum.
"Alasan, aku sebenarnya ingin bicara dengannya. Aku ingat beberapa waktu yang lalu dia nyiram aku pakai air comberan satu timba makannya aku mau kamu memarahi dia, tapi aku juga gak bisa memaksa sih. Jika kamu suami aku pasti ka ...." Salma berkeluh kesah.
"Akan aku telpon nanti, tapi tunggu sampai dirumah saja. Jalan sedang ramai," pasrah susah.
Memang benar Salma pernah di siram air comberan itu tapi kejadian itu sudah lewat sekitar 4 tahun yang lalu.
'Aku sengaja Alga, terimakasih sudah membantu meski aku tau kamu tidak akan tega membalasnya. Sudah ... hati ini tidak apa-apa, bukannya sudah biasa terluka. Andai aku kamu perhatikan dan tidak kamu lukai seperti sikap kamu ke Riska, mungkin aku jadi wanita paling beruntung di dunia ini. Tapi sayang itu tidak akan pernah bisa terjadi di hidup aku, hati ini selalu lemah.Tidak apa gak kaya, yang penting kaya di hati dan tingkah laku itu sudah lebih dari cukup. Tapi itu hanya hayalan aku saja.'
Hati Salma memanas.
Meski ia pura-pura kuat tapi nyatanya hatinya sudah hancur.
Kediaman Adipati.
Adipati menyambut sang putri dan langsung mengajaknya ke meja makan.
"Mau kemana sih pa?" bingung Salma nya.
"Makan nak, papa suapi ya!" menawarkan pada sang putri.
__ADS_1
Salma senang sekali, sudah lama Adipati tidak menyuapinya makan. Ternyata sakit membawa berkah tersendiri nya jadi harus pandai-pandai bersyukur.
"Boleh pa." Salma dengan senang hati.
Adipati juga sangat bahagia, tangan ini mulai sekarang akan tercurahkan kepada putrinya. Nasib Salma begitu malang sekali, tak pernah merasakan sentuhan tangan wanita selain pengasuhnya dulu dan pembantu.
Di tambah lagi kisah rumit pernikahan dan sekarang ini, air mata Adipati tak dapat di bendung lagi. Ia menangis dalam diam tanpa suara, ia tidak mungkin menghancurkan suasana hati Salma yang sedari tadi tersenyum saat mengunyah makanannya.
Semua orang ikutan terbawa suasana.
"Kenapa semua diam? apa hanya kita berdua yang berada di ruang makan pa." Salma merasakan kesunyian.
"Iya," jawab lirih Adipati.
Semua orang masih berada di ruang itu tapi mereka melepas sepatu kerja dan berpamitan pergi dari ruangan itu supaya Salma tidak tau jika mereka sebenarnya menangis sedih.
Alga bahkan juga tidak mampu membendung tangisnya, sama halnya dengan Arto yang berlari ke arah teras rumah ini. Bertahun-tahun ia membantu mengasuh Salma dari kecil hatinya juga tidak kuat menyaksikan Salma yang masih mampu tersenyum bahagia di dalam kekurangan tubuhnya.
Alga menghubungi Riska atas permintaan Salma baru saja.
π "Alga sayang, kamu kemana sih sudah satu bulan lebih gak telepon aku? (manjanya Riska)
π "Malas!" (cueknya jawaban Alga)
π "Apa aku ada salah Alga ke kamu sayang, apa aku ini membuat kamu tertekan. Maafkan aku, aku rindu pada kamu dan ingin cium pipi kamu lagi seperti dulu. Kita balikan ya." (Ajakan Riska)
Salma melebarkan pandangannya.
Padahal ia tau dua sejoli ini memang tidak dapat di pisahkan, sekaligus ada ikatan pernikahan dengan pasangan lain.
__ADS_1
π "Tidak ada, cuma gak cinta," (Alga bersikap dingin)
π "Jika gak cinta kenapa telpon aku coba? bukannya ini tandanya kamu masih cinta aku termasuk kamu masih menyimpan baik nomor telpon aku."
Riska tidak mau menyerah begitu saja. Dirinya masih belum puas melihat Salma yang masih hidup dan selamat, pencarian Salma memang di persulit oleh Riska. Uang bagi Riska tidak ada masalah bahkan satu kota kecil saja bisa ko di beli oleh keluarga Riska jika mau dengan uang secara langsung bukan angsuran.
π "Besok ketemuan, ada yang penting mau aku bahas. Tempatnya nanti aku share lock,"
Tut
Alga mematikan sambungan telepon.
"Aku sudah menelponnya, apa besok kamu ikut?"
Salma menggelengkan kepalanya.
'Buat apa ikut, kamu mau jadikan aku sirkus orang buta di depan Riska. Mana tau aku kamu kambing hitamkan di depan banyak orang.'
Penolakan Salma membuat Alga tidak nyaman, kenapa di tolak sih seharusnya di iyakan. Jika hanya dirinya yang berangkat takut Salma berpikiran negatif lagi tentangnya.
"Kenapa, aku mohon kamu ikut ya."
Permohonan Alga dapat di pertimbangkan tapi Salma harus siap mental juga.
'Kalau ikut, ah ... sudahlah jadi galau lagi.'
Salma beranjak pergi, tidak tau arah kemana ia meraba-raba dengan tongkat penunjuk jalan miliknya.
*
__ADS_1
*Banyak di dunia ini yang buta dan jadi bodo* karena cinta, termasuk emak ya*.