
"Yakin gak aku temenin bertemu Karina?" masih berharap di ajak pergi.
"Enggak perlu," cuek dingin lagi.
Alga masih mengekor i Salma dari belakang, rasanya tidak bisa membiarkan Salma berpergian sendiri lagi, setelah kejadian naas itu di tambah tadi Papa Adipati dan bapak juga berpesan untuk menjaga Salma baik-baik agar kecelakaan yang pernah menimpa Salma bahkan hampir merenggut nyawanya tidak ada sejarah mengulanginya.
"Tapi ... Salma." Alga tidak mau beranjak pergi.
Adipati dan Arto mendekat.
"Tidak ada salahnya suami mu mendampingi kamu Salma." Teguran hangat dari Adipati dan Salma langsung menatap papanya.
"Baiklah, ayo" Salma berpamitan pada Adipati dan Arto.
Begitu juga Adipati yang hendak pergi ke perkebunan pagi ini dengan Arto, agar nanti saat ada apa-apa lebih gampang sebab daya ingat Arto lebih unggul sebab ada buku catatan dan pena perekam yang ia bawa kemana-mana saat pergi.
Saat di jalan raya begitu banyak kendaraan berlalu lalang, Salma sedikit tidak fokus saat melihat jalan menuju pasar. Jalan ini adalah jalan kenangan saat sebelum kecelakaan itu terjadi.
"Ish.. lewat sini lagi." Menghela nafas panjang.
"Kenapa?" Alga menatap wajah Salma yang gusar seperti ada sesuatu yang ia pendam sendiri dan tidak mau ia ungkapkan.
Alga memilih memberikan waktu saja mungkin ada masalah yang sangat pribadi dan butuh ia sendiri yang menanganinya.
"Gak apa-apa Alga, cuma jalan ini mengingatkan aku akan kecelakaan maut waktu itu!" jujur saja buat apa menyembunyikan sesuatu.
Biarkan saja orang lain berpendapat dirinya ini tukang curhat sekarang yang penting makan gak minta-minta. Alga menengok wajah istrinya seperti apa, luka itu pasti tidak dapat di sembuhkan lagi.
Diri ini memang bodo* kenapa ia percaya akan hasutan dari Riska, bahkan rela melakukan apa saja demi dia.
__ADS_1
'Aku selalu saja melukai Salma, apa aku pantas berada di sampingnya. Apa aku izin mundur saja mulai sekarang, dia berhak bahagia bersama dengan laki-laki lain yang mengagungkan dia bak ratu di kerajaan. Sedangkan aku.. apa? hanya bisa menorehkan luka saja sampai berlarut-larut lamanya dan dengan mudah di maafkan oleh Salma. Laki-laki gak berguna seperti aku dan cuma anaknya pembantu papanya tidak pantas berada di sampingnya dan di maafkan.'
Alga kepikiran terus menerus, jika jalan ini jalan sebelum ia kecelakaan berarti luka itu benar-benar menganga di hati Salma. Ia mencari-cari kontak nomor Agam dan Samudra berharap ada yang membalas pesan singkatnya itu diam-diam.
Agam dan Samudra menggaruk kepalanya bersama sebab ia sama-sama dalam satu ruangan dan sama-sama mendapatkan pesanan singkat dari Alga.
"Apa.. maksudnya ini?"
Agam dan Samudra berbicara secara bersamaan.
"Bang Samudra, kamu dapat pesan singkat dari suami Salma?" Agam sama sekali tidak melihat ke arah Samudra.
"Iya, apa maksudnya ya. Gak ngerti ini!" jawabnya seperti orang bodo* saja.
Bagaimana tidak seperti orang bodo* jika diminta untuk menggantikan, tanpa adanya kejelasan sama sekali.
Itulah isi pesan singkat dari Alga pada Samudra dan Agam. Meminta untuk gantikan maksudnya apa coba tidak ada sambungannya sama sekali, apa menyuruh menjaga dan menikahi Salma atau menyuruh mengantikan pekerjaan atau apa mereka berdua benar-benar di buat tidak paham oleh Alga.
Alga menatap Salma yang antusias sekali untuk bertemu dengan Karina, kenapa begitu apa yang menyebabkan dia begitu cepat merubah raut wajahnya.
Karina yang berada di rumahnya bergegas untuk membantu ibunya di pasar sebab jam sudah siang dan artinya pasar segera bubar, berganti untuk besok lagi, ia seperti biasannya menggunakan pakaian yang sebenarnya jati dirinya yang sesungguhnya bukan orang lain, menggunakan kaos oblong tak lupa rambut di kuncir kuda sebelum ia mengenakan topi kesayangannya lalu celana jeans dan juga sepatu kets warna biru yang sudah kusam tapi itu senada dengan tampilannya yang tomboy.
"Salma.. sayang lihat." Tunjuknya pada seorang wanita yang pernah ia lihat.
Salma langsung melihatnya dan benar itu adalah Karina yang kemarin ia lihat bersama Samudra dengan pakaian super seksi dan minim sekali.
"Itu Karina, ayo turun dan temui dia Alga," bersemangat sekali untuk bertemu dengan Karina.
Alga sedikit cemburu loh melihatnya, lagian Karina jika rambutnya di potong cepak pasti orang mengira dia laki-laki tulen bukan perempuan lagi.
__ADS_1
'Sial kalah tampan ini.' Mengumpat dalam hati.
Salma menatap jengah Alga, pasti Alga sedang berpikir yang tidak-tidak lagi. Apa yang sedang Alga rencanakan, mungkinkah ada maksud lain seperti hendak melepas atau melukainya.
Ia langsung menemui Karina begitu saja tanpa memperdulikan Alga yang mulai cemburu loh, terus pesan singkat yang ia kirimkan pada Agam dan Samudra bagaimana kelanjutannya. Masa sudah memohon kini minta di urungkan permohonannya, kan tidak mungkin.
"Karina, kamu yang kemarin bertemu dengan Samudera kan?" Salma menghentikan langkah Karina.
"Salah orang mbak, lagian saya tidak ada teman yang bernama Samudra!" berbohong tapi dari raut wajahnya bisa di lihat jika tidak ada sama sekali kebohongan, benar-benar pandai berakting.
Salma akhirnya percaya juga setelah Karina berkilah bahkan aktingnya saja meyakinkan, sedangkan Alga tidak percaya dan membuat perdebatan kecil antara Alga dan juga Salma.
"Stop.. stop.. stop.., kenapa sih kalian berdua ini bertengkar, saya mau berkerja bukan mau mendengarkan pertengkaran kalian berdua yang tidak jelas ini." Karina marah demi menghentikan pertengkaran.
Lagian ia butuh uang lebih agar jeratan hutang yang ada di keluarganya cepat selesai dan tidak membuahkan masalah, selain itu Karina juga bosan dengan kehidupannya yang serba seret dan pancet, tapi sebisa mungkin ia tidak akan pernah membocorkan masalah ini ke siapa pun itu demi keamanan yang yang ia peroleh dengan menemani Dokter muda bernama Samudra.
Salma hendak mengejar tapi tangan Alga menghentikan Salma untuk mengejar Karina sebab Karina sudah melesat di antara kerumunan banyak orang yang berada di area pasar, pasar rakyat ini sangat cocok bukan hanya kalangan masyarakat biasa tapi juga untuk masyarakat menengah ke atas sebab selain terjangkau kualitas pasarnya juga bagus dan bersih jadi bagus untuk di kunjungi oleh siapapun asal tidak merasakan jijik pada tempat tersebut.
"Kamu masih mau mengejarnya?" tanya Alga menatap ke arah kerumunan masyarakat setempat.
Salma menggeleng.
"Tidak saja.., langsung pulang, besok kesini lagi semoga dia gak lari seperti hari ini. Lagi pula dia itu orangnya selalu bersih kukuh dan tidak gampang menyerah dengan hal-hal yang hendak ia capai apapun itu. Sedangkan aku tidak seperti Karina yang mudah dengan cepat menyerah dan pasrah!" jawabnya lesu.
Alga menggenggam tangan Salma dan menguatkan Salma, untuk pesan singkatnya tadi ia pikirkan baik-baik dulu kalau begitu sebelum ia deal dengan keputusannya.
*
Mohon dukungan agar emak semangat untuk up lagi, terimakasih banyak ya sudah singgah dan membaca karya ini🥰🥰
__ADS_1