Terjerat Pesona Anak Majikan

Terjerat Pesona Anak Majikan
35. Menuju ke jujuran


__ADS_3

Salma merutuki dirinya, kenapa sih setelah perlakuan Alga padanya masih saja jadi orang baik dan peduli padanya.


'Salma kamu harus ingat dengan diri kamu sendiri, meski kamu belum mengungkapkan perasaan kamu padanya sampai detik ini. Kamu jangan mudah luluh dan gegabah lagi, usia tidak mempengaruhi orang berubah jadi lebih baik. Ayo kuatkan hati biar dia sadar diri betapa besarnya pengorbanan di dalam pernikahan.'


Salma menuju ke kamar mandi untuk mencuci wajah, menggosok gigi dan mencuci kakinya. Salma menatap wajahnya di pantulan kaca kamar mandi tentu saja di kamar lain bukan kamar tadi tempatnya berdebat dengan Alga.


"Apakah wanita di luaran sana ada yang nasibnya seperti aku? apa dia sanggup menghadapi suami seperti yang aku punya?"


Salma mulai menerka-nerka tentang wanita di luaran sana.


"Jika Riska sudah tau tentang pernikahan ini, apa dia tetap menjalankan misinya? lebih baik akal sehatku ini aku gunakan baik-baik sebelum gila gara-gara ulah orang benalu tak tau diri." Salma mengucap istighfar beberapa kali.


Sekesal-kesapnya pada orang ia tetap wanita yang tidak tega'an menyakiti orang lain, tapi tergantung juga sih perbuatannya seperti apa dulu.


Adipati termenung sendiri di ruangan tempat ia berkerja, dirinya memang merasa ada yang salah dari pernikahan putrinya dan anaknya Arto. Apa gara-gara keputusan mendadak dan menikahkan mereka secara dadakan pula, kali ini keputusannya meleset dari angan-angan, ternyata lebih mudah mengurus soal perkebunan dari pada anaknya.


Kalau perkebunan ada rugi atau untung sudah biasa, tapi jika putrinya di rugikan bagaimana. Adipati mutuskan akan bertanya langsung pada menantu laki-lakinya, jika bertanya pada Salma pasti jawaban yang tidak di inginkan. Sebab selama ini Salma terlalu pandai menutupi perasaan dukanya sendirian tanpa orang lain sadar dan tau.


"Arto, panggil putramu." Adipati memerintahkan Arto untuk memanggilnya Alga.


Meski Adipati dan Arto besan, namun saat berada di rumah ini Arto tetap berkerja layaknya majikan dan pembantu tapi jika di luar pekerjaan barulah beda cerita.


"Baik Pak Adipati," Arto berpamitan lalu menuju ke kamar Alga.

__ADS_1


Arto lupa dimana putranya istirahat, kamar lantai atas atau bawah. Haduh ... jadi pusing di usia senja dan sering lupa menanyakan beberapa hal penting, ia langsung menuju lantai atas saja tidak mungkin Salma nona mudanya yang dari dulu suka kamar lantai atas tidak suka kamar berada di lantai bawah.


"Kamarnya yang mana ya, coba aku ketuk kamar yang ini deh."


Tok


Tok


Tok


Salma mengerutkan alisnya, siapa yang mengetuk pintu Alga atau pembantu atau jangan-jangan bapak lagi. Salma mengintip di balik celah pintu yang ia buka sedikit penutupnya, ternyata benar dugaannya Bapak yang mengetuk pintu. Atau papanya menyuruh dirinya berbicara sesuatu, kenapa sih tidak langsung mencari putrinya sendiri kenapa harus lewat orang lain.


Cklek.


Arto menatap dalam kamar, sepi tidak ada putranya. Jangan-jangan mereka tidak satu kamar bukannya tadi satu kamar berangkatnya dari meja makan.


"Alga dimana, dia di cari Papa kamu nak Salma!" sambil menengok kesana kemari.


Alga baru keluar dari kamar sebelah Salma, baik Arto dan Alga sama-sama terkejut dan seketika suasana hening.


"Kalian ...." Menunjuk putra dan menantunya bergantian, bingung mau bicara apa.


"Bapak, ada pak mencari Alga sepertinya penting. Barusan aku dengar Bapak bilang jika Papa sedang mencariku," pintar sekali Alga membalikkan suasana tegang barusan.

__ADS_1


'Cih ... pantas saja papa menurut sekali, dasar laki-laki licik permanen.' Kesalnya Salma sambil menatap ketidaksukaannya pada suami penipu nya itu.


'Pasti dia memaki-maki aku lagi, besok-besok harus lebih baik setelah bertemu papanya sebentar lagi. Tapi ... nanti jawab apa jika di tanya perihal apa yang sudah aku lakukan, hais ... ceroboh pembawa petaka.' Alga melirik sekilas wajah istrinya.


Salma dari dulu sampai sekarang ekspresi wajah memang selalu datar dan cenderung tertutup, tapi hem ... soal orang yang mengusik dirinya dia tidak akan tinggal diam.


Kalau emosinya sudah di ubun-ubun pasti langsung tonjok begitu saja, tapi akhir-akhir ini dia selalu menahan amarah dan menurunkan banyak egonya.


"Iya benar Pak Adipati mencarimu nak, ayo temui dia segera. Oh ... ya Salma mau bapak buatkan susu sebelum tidur atau makanan ringan?" Arto mengabaikan putranya.


Alga menggerutu dalam hati.


'Bapak begitu sangat menyukai Salma sebagai menantu selain majikannya, kalau bapak tau Salma aku lukai. Sudah pasti bakalan di gantung, di tambah lagi bapak sayang banget lagi sampai-sampai anaknya di abaikan,' Alga meratapi nasibnya sendiri.


"Tidak usah repot-repot pak, sekarang kan Salma sudah jadi anak mantu Bapak. Biar Salma saja yang membuatkan untuk bapak, bapak istirahat saja!" Salma harus meraih hati mertuanya sebaik mungkin.


Arto bahagia sekali, ia terharu dan matanya mulai mengembun.


Biar tau rasa tuh manusia satu yang kurang bersyukur. Biarin dia merasakan hampa dalam hidup, hitung-hitung memberi pelajaran padanya. Umur sih boleh banyak tapi otaknya gak tau deh isinya seberapa banyak dan apakah sel dalam pikirannya masih bersambung atau sudah putus-putus.


"Ternyata menuju ke jujuran sungguh perlu banyak mental, semangat Alga dari pada menutupi bangkai berlarut-larut lebih baik segera das ... des ... das ... des ... aja." Sambil menuruni anak tangga.


*

__ADS_1


Lebih baik jujur saja dari pada mendengar dari orang lain, bukannya memperbaiki tapi malah memperkeruh keadaan.


__ADS_2