
'Awas saja jika masakan kamu bikin aku malu dan naik darah, bakalan aku pecat tanpa ampun.' Lirikan tajam Agam pada Chef yang kurang becus itu.
Agam kesal sekali, pasalnya ia ingin menunjukkan pada Salma jika restoran ini layak di pertahankan.
Jika seperti ini bukannya pembeli akan kabur satu persatu sebab ulah chef yang kurang pandai memasak itu, bukannya lulusan dari kursus masak terbaik di kota ini bahkan pernah mengikuti ajang lomba terbesar di Indonesia Master and mister cooking, pantas saja tidak memang kalau masakannya rasanya kurang di lidah.
Meski dalam keadaan keterbatasan Salma masih begitu peka dengan bumbu-bumbu dapur, meski tidak pandai memasak tapi lidah tidak bisa berbohong jika itu menyangkut makanan yang ia konsumsi.
"Coba tolong terangkan bumbu yang tadi anda gunakan untuk memasak, jika rasanya masih sama seperti yang barusan saya makan berarti memang cita rasanya seperti itu. Tapi jika rasanya lain pasti ada yang sengaja menyabotase masakan anda." Permintaan Salma langsung di iyakan oleh chef tanpa mau menyebutkan namanya.
Salma tidak mau curiga berlebihan pada orang yang baru saja ia kenal, lebih baik mencari kawan dari pada mencari lawan. Dalam sekejap saja mencari lawan begitu mudah dan gampang tapi tidak untuk kawan.
Chef itu langsung menerangkan pertama-tama seafood yang di pilih pastikan segar dan aman bagi konsumen sebelum ia kelola dan di cuci dengan bersih menggunakan air mengalir, lalu bumbu yang perlu di persiapkan dari bumbu kasar sampai saus apa saja yang di gunakan lalu penyedap.
Salma mengangguk paham dengan semua yang di terangkan oleh Chef yang menurut Salma serba bisa memasak, sebab di percakapan tadi sang chef pernah bercerita jika dirinya pernah mengikuti ajang lomba masak terbesar di Indonesia yaitu Master and mister cooking.
Salma tentu saja terpesona, pasti tangannya chef ini tidak di ragukan lagi. Setelah masakan itu siap saji barulah Salma mencicipi masakan tersebut. Enak dan sedap yang ia rasakan, tapi kenapa makanan tadi tidak seenak ini di mulut Salma.
"Tunggu sebentar, jika benar bumbu yang anda gunakan sama persis seperti yang saya makan tadi. Kenapa rasanya berbeda sekali?" Salma bingung sendiri.
Agam mendengar langsung mengambil masakkan yang kebetulan tadi di cicipi oleh Salma, sang chef pun langsung mencobanya ia terkejut ini bukan masakannya rasanya saja sangat berbeda jauh sekali. Siapa kira-kira yang tengah berhianat di dapur untuk mengacaukan pekerjaannya.
Agam sebagai bos dan pemilik restoran ini sudah siap siaga, bahkan cctv saja ia sudah terpasang dengan rapi tanpa ada yang tau terkecuali dirinya dan juga orang kepercayaannya untuk memasang cctv di bagian-bagian tertentu tentunya.
"Sial, pasti ada yang menyabotase acara ku kali ini. Siapa dia? aku harus menemukan dia secepatnya." Agam langsung pergi ke ruangan pribadinya di restorannya.
__ADS_1
Dengan cepat ia mengecek seluruh monitor cctv yang ia pasang diam-diam di restoran barunya. Matanya menangkap sosok tajam, tubuhnya sama seperti orang yang ia kenal tapi tidak mungkin jika dia. Dari samping seperti Samudra kakak sepupunya tapi dari belakang kenapa posturnya seperti Alga suami Salma. Memang mereka berdua hampir sama postur tubuhnya bahkan cara jalannya juga hampir sama.
Agam memijat kepalanya, rasanya tidak mungkin jika mereka melakukannya. Tega sekali mereka bermain topeng secara tersembunyi.
Di luar ruangan Agam terjadi keriuhan banyak yang komplain tentang masakan di restoran ini, katanya sehat dan enak tapi apa buktinya. Bahkan lidah anak kecil saja tidak dapat berbohong jika rasa masakan di sini sama sekali tidak enak dan tidak layak di konsumsi oleh masyarakat, pantas saja harganya di murah meriahkan.
Lebih baik beli harga mahal atau tempat murah lainnya yang jelas rasa tidak seperti di restoran ini yang rasanya hambar, terkadang rasa pahit dan juga pedasnya terlalu menyakiti tenggorokan dan lidah pencicip nya.
Di tempat lain lebih tepatnya di luar restoran, 2 laki-laki tampan saling adu mulut menyalahkan satu sama lain tanpa henti bahkan jeda koma titik saja tidak ada, semua lurus seperti jalan tol.
"Gara-gara kamu Dokter sok kecakepan." Ejek Alga pada Samudra.
"Kamu tuh yang mulai duluan, dasar jadi suami Salma tapi gak becus. Kalau kamu gak sanggup dengan istrimu dan bisanya hanya buat malu dan melukai dia, lepaskan saja. Wanita seperti Salma di luaran sana banyak lelaki yang mengantri dirinya untuk di pinang bahkan ratusan lelaki rela mengantri demi merebut hatinya," mengepalkan tangan dan siap-siap untuk memukul Alga lagi.
Alga tentu saja kualahan, tapi sebisa mungkin ia menghindar. Samudra menyeringai saat melihat lawannya tidak bisa apa-apa, model laki-laki seperti Alga ko di harapkan jadi pelindung. Bukannya pelindung malah minta di lindungi, payah dan lembek.
Alga bangkit ia tidak terima di sebut hanya gumpalan lemak, ia tidak selemah itu. Akan ia buktikan jika hanya dirinya yang sering disebut laki-laki tidak berguna akan menjadi laki-laki yang paling sempurna dalam segala hal.
"Kamu, apa ini pantas sebagai gelar Dokter. Pakaian rapi ..., tapi sayang ... otaknya minus nol besar," Alga memperbaiki kemeja Samudra yang sedikit kusut sambil mengibaskan debu yang menempel di bagian lengan kiri Samudra.
Samudra tentu saja tersungut emosi, ucapan Alga ini benar-benar menantang nyalinya.
"Ayo buktikan siapa yang paling gentle malam ini." Tantang Samudra.
"Dimana?" meladeni Samudra.
__ADS_1
Samudra tersenyum.
"Aku share lock tempatnya!" pergi begitu saja.
Bukan masalah mencari nomor Alga yang pastinya nomor biasa tidak mungkin nomor ponselnya rahasia, seperti milik orang yang memiliki black cards . Dan orang-orang yang mempunyai jabatan tinggi pasti nomornya rahasia, tapi kalau Alga tidak mungkin nomornya rahasia. Lagian buat apa mempunyai nomor-nomor seperti itu, apa dia seorang mafia dan lain sebagainya.
Ketika malam tiba.
Alga was-was dengan ajakan Samudra, kenapa tempat yang di tuju adalah klub malam.
"Haduh ... kalau gak datang di kira anak rumahan, tapi kalau datang rumah tangga jadi taruhannya. Pusing ...." Alga bimbang antara iya atau tidak.
Ia berjalan mendekati kamar Salma, ia ketuk beberapa kali pintu kamarnya namun tidak ada jawaban. Apa Salma sudah tidur? kemudian ia lirik jam tangan yang berada di pergelangan tangan kanannya. Masih pukul setengah 7 malam belum ada jam 7, masa iya sih Salma sudah tidur. Tumben???
Tok
Tok
Tetap saja tidak ada jawaban sama sekali.
"Salma ... Sal ... Salma ...." Terus saja mengetuk pintu tapi Salma masih saja bungkam.
Sudah setengah jam berlalu tapi Salma tidak membuka pintu kamarnya, ia mengelilingi rumah Adipati mertuanya bahkan ia bertanya kepada semua orang yang ada tapi mereka sama menjawab jika Salma berada di kamarnya setelah Magrib tadi dan belum keluar dari kamarnya.
Alga hawatir dengan keadaan Salma, ia bergegas kembali ke lantai atas untuk mendobrak pintu kamar Salma, takut terjadi apa-apa padanya.
__ADS_1
*
Kira-kira Salma kemana hayo??