Terjerat Pesona Anak Majikan

Terjerat Pesona Anak Majikan
88. Kisah tertunda


__ADS_3

Entah sejak kapan kehidupannya berubah dari laki-laki yang beja* kini berangsur-angsur berubah setelah kepergian Miranda, benar-benar efek kepergian Miranda secara tidak langsung mengubah Adipati.


"Rawatlah anak kita Adipati, dia darah daging kamu Adipati." Miranda tersenyum.


Usai makan malam Adipati dan Miranda berpisah, lebih tepatnya Miranda menghilang bak di telan bumi. Ia tadi cuma izin ke toilet tapi nyatanya ia tidak ke toilet melainkan ke Bandara Internasional. Sudah ada taksi yang menunggunya sedari tadi, raut wajahnya begitu sedih harus berpisah dengan gadis kecilnya.


'Maafkan mama nak, bukannya mama tega. Tapi.. mama sudah berusaha mendapatkan hati papa kamu tapi semuanya sia-sia, papamu memang tidak pernah menginginkan mama kamu. Sebenarnya mama ingin membawa kamu tapi Mama tau jika papamu memiliki segalanya, pasti kamu bahagia di tambah papamu akan menikah pasti kasih sayang untuk kamu bertambah banyak dan melimpah nak. Maafkan Mama nak.'


Sebelum berpisah dengan putrinya ia mencium putrinya dan memfoto begitu banyak foto dengan putrinya yang cantik, wajahnya sangat cantik sekali.


Miranda kembali terbang ke negara asal ibunya yaitu Belanda, tidak ada yang tau bahkan kakak dari bapaknya saja juga tidak tau. Sebab Miranda pergi meninggalkan rumah bude nya semenjak hutang piutangnya lunas plus bunga yang membludak.


Di tempat yang baru ia membuka lembaran baru juga, tidak ingin mengingat luka perih. Tidak apa-apa dirinya tidak di nikahi setidaknya ia mau bukan merawat putri kandungnya yang tidak bersalah dan tidak berdosa itu bukan.


Setelah kepergian Miranda, Adipati langsung menuju ke rumah sakit untuk tes DNA apakah benar jika bayi kecil mungil ini darah dagingnya atau jangan-jangan Miranda membohonginya.


"Awas.. saja jika kamu membohongi aku Miranda, sampai ke ujung dunia tak akan aku lepaskan kamu." Ia mengepalkan tangannya di balik mengendong tubuh mungil putri kecil tersebut.


Waktu terus berjalan dan hari ini tes DNA itu keluar, salah satu orang kepercayaan Adipati menyerahkan berkas itu untuk di lihat oleh Adipati secara langsung sebelum semua orang yang setia dengan dirinya di pensiunkan, tapi tentunya dengan uang pensiun yang tidak main-main. Lalu ia berpamitan untuk undur diri dahulu.


"Hasilnya." Adipati terkejut ternyata dia benar-benar putri kandungnya.


"Maafkan papa nak" sambungnya mencium berkali-kali seluruh wajah putri kecilnya.


Adipati membawa putrinya jalan-jalan sebentar, ia begitu senang sekali membawa putrinya tersebut.


"Tuan Adipati, di depan sana ada sepasang suami istri yang sedang berteduh sambil membawa anak laki-laki yang sepertinya sedang mencari rumah." Sopir Adipati berkata demikian sebab dari penglihatannya.


"Benarkah, kamu jangan asal bicara Alwi," ketusnya sambil menimang putrinya.


"Benar tuan,lihat saja tuan. Mereka membawa barang-barang begitu banyak tapi sedari tadi saya duduk di sini ke tiga orang itu masih berada di tempat yang sama, jika mereka tidak sedang mencari tempat tinggal kenapa tidak pergi."


Adipati yang mendengar ocehan Alwi memijat dahinya.


"Kamu ini jika ingin menolong orang telpon taksi dan suruh ia memilih di hantarkan dimana, lalu setelah itu suruh mereka berkunjung ke rumah," Adipati memang bijak sekarang.


Tidak seperti dulu, entah kenapa mendadak begini setelah ada anak perempuan yang berada di pangkuannya. Alwi juga tidak tau jika anak itu putri kandung Adipati sebab Adipati tidak memberitahu siapa-siapa. Hanya memberikan pesangon dan pensiun pada mereka yang sudah lama berkerja di rumah.


Itulah dimana awal mulai Arto berkerja di kediaman Adipati.

__ADS_1


Flashback end


Salma benar-benar di buat malas oleh Adipati.


"Jadi cerita atau tidak sih pa?" Salma hendak beranjak pergi.


Tapi.. tangan Alga mencekal pergelangan tangan Salma sambil menggelengkan kepalanya bertanda Alga tidak setuju kalau Salma pergi begitu saja, setidaknya dengarkan dulu alasannya jika tidak logis ya berpamitan pulang.


"Jadi.. tapi kamu jangan kecewa!" jawab Adipati datar.


Alga menatap raut wajah Adipati yang aneh dan sedikit ada kepanikan.


Adipati terlihat menarik nafas panjang lalu menghembuskan nafas, ia tarik lagi lalu menghembuskan nya lagi.


"Papa kamu ini bukan orang baik, dulu.. sangat dulu.. sekali, sebelum kamu lahir Salma." Adipati menatap wajah Salma dan juga Alga.


Ia ingin tau apakah anak-anaknya sudah siap mendengar, terus.. jika sudah tau kenyataannya sikap Alga bagaimana kedepannya terhadap putri tersayangnya itu?


"Maksudnya? tidak usah bertele-tele pa jika ingin bercerita, bukannya papa tau aku tidak suka yang namanya bertele-tele," kesal juga bercerita namun terputus-putus.


Salma melipat kedua tangannya di depan perut.


Dret..


Dret


Dret


📞 "Iya.. hallo ada apa?


Adipati tersenyum bahagia.


📞 "Ada dimana? dengan siapa?"


Tanya seseorang di balik telpon.


Salma mengerutkan dahinya, pasti telpon dari wanita-wanita yang mengejar-ngejar Papanya. Kenapa sih papa selalu begitu.


"Yuk pulang aku sudah tidak di anggap lagi."

__ADS_1


Beranjak pergi sedangkan Alga juga tidak berani menganggu Adipati yang sedang asik bertelepon dengan seseorang yang berada di balik telpon itu.


"Tunggu.. kalian jangan pulang, makan dulu setelah itu papa akan lanjutkan cerita." Adipati mengeraskan suaranya.


"Tidak usah pa.. aku sudah kenyang," tolaknya tetap melanjutkan perjalanannya.


Alga menoleh dan menatap Adipati mengisyaratkan permintaan maaf padanya sebab masih belum bisa merubah sifat Salma.


Di rumah Salma.


Salma menatap malas minuman yang baru saja di buat oleh Alga


"Kenapa cuma di aduk saja, tidak mau mencicipi rasanya." Alga meminum coklat hangat.


"Tidak.. semua rasanya hambar tidak ada yang manis sama sekali Alga," Salma bad mood.


Ketika makan malam tiba, begitu banyak hidangan yang tersaji di atas meja makan, berbagai macam lauk tersedia agar mood Salma kembali baik.


Alga mempersiapkan ide saja sedangkan pembantu di rumah yang di buat kelimpungan dadakan untung saja tenaganya kuat dan mampu menyelesaikan semua hidangannya tepat pada waktunya.


Adipati berada di jalan raya menuju ke rumah putrinya. Ia harus menyelesaikan kesalah pahaman antara dirinya dan juga putrinya, jika nanti Alga tidak mau dan tidak sudi menerima Salma ia akan mencarikan pemuda lain yang mau menerima putrinya, lagi pula belum ada seorang anak yang hadir di tengah-tengah mereka berdua bukan.


"Salma" Adipati menyapa putrinya.


Adipati sadar sesadar-sadarnya jika ada jarak di antara dirinya dan sang putri sebab ulahnya sendiri, andai dirinya jujur sejak dulu pasti masalah ini tidak berlarut-larut lama. Kasihan sekali Salma yang butuh penjelasan namun sampai detik ini penjelasan sedikit saja tidak ia dapatkan.


"Kenapa datang, ada hal yang perlu di bicarakan lagi. Jika tidak ada pintu keluar rumah, papa tau sendiri kan ini kan rumah papa sendiri." Salma berbicara kurang sopan santu mengusir orang tuanya sendiri.


(Jangan di tiru ya, adegan tidak untuk di tiru)


"Salma.. nak.. dengarkan papa dulu sebentar saja," Adipati memohon agar putrinya mau berbaik hati memberikan diri ini kesempatan untuk berbicara.


"Silahkan." Salma mempersilahkan saja.


Ia juga penasaran apa saja rahasia yang di sembunyikan oleh papanya itu.


*


Bersambung dulu ya, masih repot di dunia nyata. Terimakasih banyak atas dukungannya 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2