Terjerat Pesona Anak Majikan

Terjerat Pesona Anak Majikan
33. Di suruh jujur ke orangtuanya


__ADS_3

Setelah sekian lama ia menunggu akhirnya Alga pulang tapi ia menatap keadaan rumah yang kosong tanpa ada bunga dengan vas besar baik di luar ataupun di dalam rumah. Matanya tidak sengaja bertabrakan dengan tas yang teramat ia kenali.


"Ini tasku, untuk apa Salma??" Alga kebingungan sendiri. Kenapa tasnya di keluarkan dari kamar.


"Kenapa kamu mengeluarkan tasku seperti ini, apa maksudnya?" pura-pura gak paham.


"Mana kunci mobilku!" tangannya meminta untuk mengembalikan kontak mobil.


Alga langsung memberikannya ia terkejut saat Salma menyemprot kunci mobil dengan semprotan anti bakteri.


"Mulai hari ini kamu jangan pakai kendaraan milikku dan berhenti pura-pura perhatian, dan tas kamu ini bawalah pulang ke rumah bapak dan jelaskan secara terperinci apa kesalahan yang kamu perbuat sampai detik ini begitu juga ke rumah Papa. Silahkan ...." Sambil menunjuk ke arah pintu keluar.


Alga di buat bingung dengan sikap Salma, apa maksudnya ini. Dirinya di pulangkan oleh Salma secara halus tapi juga kejam secara bersamaan. Pikiran Alga tidak dapat menangkap dan merespon sikap acuh Salma yang begitu sangat dingin.


Ia teringat tadi siang menjemput Riska di kampus, apa ini masalah sesungguhnya.


"Salma maafkan aku, bukan maksudku aku lupa diri. Tapi ... asalkan kamu tau, aku menjemput Riska hanya untuk memutuskan dia secara baik-baik. Dan aku lebih memilih kamu yang sekarang menjadi istriku," jujur Alga tapi Salma sudah terlanjur kecewa dengan Alga.


Salma lagi-lagi tersenyum miris ada rasa getir di lidahnya.


Memang tidak ada kekerasan sama sekali di dalam rumah tangga, tapi hati ini tidak dapat berbohong tentang perasaannya. Jika sudah terluka maka yang ia rasakan ya luka, jika bahagia ya pasti bahagia rasa itu.

__ADS_1


Salma acuh tak acuh dengan menirukan gaya bicara Alga. Ucapan Alga pasti hanya bualan dan alasan untuk mengelak saja, kemarin-kemarin juga begitu katanya putus tapi masih jalan lagi bahkan. Hem ... hampir melakukan hal di luar nalar, pasti kali ini juga sama melakukannya lagi.


"Gak peduli dengan alasan kamu, pergi dan jangan kembali sebelum kamu berterus terang pada Papa dan bapak. Keputusan ada di mereka dan aku, jika mereka memaafkan kelakuan dan kejujuran kamu aku akan pertimbangkan lagi." Sambil mengibaskan tangannya dan ia enggan menatap Alga lagi.


Terlalu perih luka ini.


Alga pasrah, memang kondisinya begini mau bagaimana lagi. Mengelak juga tidak mungkin, tapi jujur pada Bapak dan pak Adipati bagaimana.


'Bunuh diri sendiri ini namanya, terus aku harus mulai percakapan seperti apa. Bapak pasti selalu ada di samping Papanya Salma,' Alga gigit jari.


Alga tertunduk, atas perbuatannya sendirilah ia harus menerima setia konsekuensinya. Seharusnya dari dulu ia tidak mau menuruti permintaan Riska itu, dendam apa yang ada di pikiran Riska juga ia tidak tau.


"Sekali lagi maafkan aku Salma, aku harap kamu masih berbesar hati memaafkan kebodoha* aku ini." Alga tertunduk lemas bahkan kakinya untuk menopang badannya saja sudah terasa lemas sekali.


"Tergantung," Salma memalingkan wajahnya.


Alga dengan terpaksa meninggalkan rumah dan meluruskan semua permasalahan dirinya dengan Salma agar baik-baik saja hubungannya dengan Salma.


'Ya Allah, berat sekali ujian ini. Andai ada pilihan aku pasti memilih tidak melanjutkan pernikahan tanpa cinta dari suamiku, terlalu sakit mencintai laki-laki yang mencintai wanita lain, bahkan meski dia bukan yang terbaik tapi tetap saja suamiku ujung-ujungnya tetap lebih memilih dia pastinya, lagian siapa sih yang gak tertarik dengan rayuan maut Riska yang selalu menonjolkan bodynya itu.'


"Lebih baik melepaskan saja, move on dan melakukan hal yang lebih bermanfaat." Salma mengetik beberapa pesan singkat pada Kamila dan juga Rio bagaimana kabar club' dan juga pasar serta panti asuhan yang mulai di bangun lagi beberapa hari ini.

__ADS_1


Alga sudah sampai di rumah Adipati Papanya Salma, ada keraguan saat ia memasuki pekarangan rumah mertuanya dan tempat bapaknya berkerja selama ini, lidahnya serasa terputus saat melihat keakraban dan kedekatan Arto dan Adipati layaknya sahabat di tambah lagi laki-laki sebaya Adipati juga ikut mengobrol-ngobrol santai pada sore hari.


"Alga." Adipati tersenyum pada Alga dan melambaikan tangannya.


Alga terdiam.


"Kesini lah, kenapa diam disitu?" tawaran Adipati mengurangi kecanggungan Alga pada mertuanya.


Alga mengangguk dan berjalan mendekati ke 3 pria paruh baya itu.


"Mana Salma?" Adipati menanti sang putri juga ikut kemari.


"Em ... Salma!" jawaban bingung terlihat jelas di wajahnya.


"Assalamu'alaikum pa." Salma datang dengan senyum yang mengembang ia menyalami Adipati, Arto dan Yudi.


Sorot mata tajam Salma mengisyaratkan Alga untuk bicara sekarang, ia ingin suaminya mengaku pada orang tuanya.


*


Rasa cinta datang tanpa kita sadari, saat kehilangan kepercayaan baru mengerti dan paham apa itu cinta dan takdir.

__ADS_1


__ADS_2