
Salma dengan wajah datar tapi penasaran segera bergegas di koridor rumah sakit sambil was-was bawaannya takut terjadi fitnah, hati seorang perempuan lebih peka apalagi jika menyangkut harga dirinya.
"Alga." Salma mematung saat dirinya membuka pintu kamar rawat Alga.
Ada Adipati Papanya dan juga ada Arto mertuanya. Mereka menatap kecewa pada Salma, Salma tau itu bisa di lihat dan di baca dari raut wajah mereka apalagi Alga yang menatapnya acuh sekali. Kenapa dengan mereka ini aneh sekali, seharusnya Salma yang marah dan kecewa atas kejadian ini. Tapi ini, justru sebaliknya merekalah yang terlihat tidak suka atas kedatangan diri Salma.
"Apa aku tidak boleh masuk?" cicitnya pelan.
"Pulang, kamu pergi saja. Aku tidak butuh di jenguk wanita tidak tau malu seperti kamu!" tolak Alga pada Salma.
Salma tentu saja sangat terkejut.
"Kenapa?" Salma bertanya-tanya.
"Pulanglah Salma sayang, jelaskan nanti saat kami pulang. Sebentar lagi, di rumah Papa ya sayang!" Adipati mendekati Salma dan mengusap surai rambut Salma.
"Iya Pa." Salma segera pergi dari tempat tersebut, sakit hatinya hari ini.
Tes
Baik Alga maupun Salma sama-sama meneteskan air mata dengan diam tanpa suara.
Siang hari pukul 01.17 WIB.
Salma tertunduk, ia tau salah tapi kenapa seolah-olah semua menyudutkan dirinya kenapa tidak Alga yang di salahkan. Apa wanita tempatnya salah, seharusnya tidak seperti ini kejadiannya.
"Maksudnya ini apa Salma, lihatlah. Bukannya ini kamu?" tanya Alga menunjukkan foto di ponselnya tertera nama Riska di atas layar Alga.
__ADS_1
Salma tersenyum, ternyata suaminya ini masih berhubungan baik ya dengan Riska. Pasangan klop markotop patut di beri piala dan di acungi 4 jempol tangan dan kaki.
"Iya ini aku, aku tidak memungkiri jika di dalam foto itu adalah aku!" jawab Salma seketika Adipati emosi dan hampir menampar Salma.
"Kamu." Tangannya hendak melayang namun tidak jadi.
"Kenapa ... kenapa ... tidak jadi menampar aku, ayo tampar aku pa. Aku anak memalukan kan pa, ayo tampar. Kamu juga Alga ayo tampar aku sekalian," Salma mulai emosi.
Sekuat tenaga ia tidak menangis padahal matanya sudah merah sekali, Arto tidak berani berbuat apa-apa. Salma tetaplah Salma kecil kesayangannya ia tidak akan melukai Salma, gadis sekecil ini harus di hadapkan masalah yang begitu besar. Betapa tegar nya Salma, ia mendekati Salma.
"Apa bapak juga akan sama? menyudutkan Salma pak?" mata Salma berkaca-kaca.
Arto menggeleng.
"Tidak, bapak tau nak Salma tidak akan berbuat sembrono. Bapak tau itu!" Arto bicara apa adanya.
Salma tersenyum sedikit.
Bukannya dengan lari dari kenyataan seperti mengejar-ngejar sinar matahari dari pagi ke sore hari.
"Dan menyudutkan aku seolah-olah aku selingkuh dan mendua kan, apa kalian tau perasaanku saat aku tau suamiku yang aku cintai dalam diam menduakan aku bahkan mereka hampir berhubungan badan, apa kalian tau perasaanku. Sakit sekali ... dan sekarang kalian menuduhku selingkuh, baik ... baik ... pasti kalian tetap percaya dengan foto itu kan. Jadi jangan salahkan aku jika aku benar-benar akan selingkuh." Sambung Salma berlari sekencang mungkin menuju jalan raya yang ramai padat orang berlalu lalang.
Tin
Tin
Banyak orang membunyikan klakson mobil dan motor mereka agar Salma dengar dan kembali ke trotoar atau tempat orang menyebrang yaitu zebra cross.
__ADS_1
"Mbak jalannya di pinggir dong jangan di jalan raya, kasihan pengendara lain jika tak sengaja nabrak mbak." Ucap seorang anak muda yang mengenakan motor matic.
Lalu ada juga yang memaki-maki Salma dengan kata-kata kasarnya.
"WOY mata Lo buta ya, minggir sana." Kata-kata kasar Salma dengar, ia patah hati sakit hati bahkan sakit hatinya membuat diri ini mati dengan raga yang menempel.
Salma langsung berjalan di trotoar. Sakit memang sih tapi ia berusaha baik meski yah rasanya sesak di dada.
"Kenapa tadi Alga marah, seharusnya aku yang marah. Atau jangan-jangan ia ada rasa untuk ku, aa ... haa ... haa ... pasti aku gila sudah benar-benar gila. Alga suka padaku, jika dia suka tidak mungkin dia terus menerus membawa Riska dalam hubungan rumah tangga ini." Salma menertawakan dirinya sendiri.
Samudra siang ini sudah selesai kerjanya tinggal masuk nanti malam sebentar, setiap hari pekerjaannya seperti ini di rumah sakit. Menangani pasien darurat tapi bukan dokter bedah dirinya.
Saat di jalan raya ia sepertinya tidak asing dengan postur tubuh tinggi dan badannya berkelok itu.
"Salma, pasti dia. Tapi kenapa pakaiannya kotor seperti itu." Samudra segera menepikan mobilnya di dekat tempat parkir yang kebetulan ada tempat parkir mobil di depan ruko-ruko besar.
Salma berhenti di depan warung makan, perutnya lapar sekali. Kenapa tadi sebelum ada perdebatan tidak makan dulu, jadinya begini deh perut meronta-ronta minta di isi. Jika masuk ke dalam warung di kira orang gak punya duit dan kucel tapi kenyataannya memang dirinya kucel dan tidak ada duit sama sekali.
Ia merogoh kantongnya, ada tebal-tebal di kantong sepertinya ponsel dan uang.
"Ternyata masih bawa uang ya kabur dari rumah." Samudra menyindir Salma.
Salma terperanjat, sejak kapan makhluk serba mesum ini datang.
*
Dukungannya jangan lupa ya, terimakasih kritik dan sarannya yang sangat mendukung karya ini.
__ADS_1
Karya ini memang banyak kekurangan, Emak memang masih belum mahir merangkai kata.
Terimakasih sudah berkenan mampir dan membaca.