
Alga mendekati Adipati yang duduk di kursi meja kerjanya dan kebetulan ruangan itu tidak di tutup pintunya dan di biarkan terbuka begitu saja, suasana ruangan kerja penuh dengan buku tebal. Baru kali ini ia masuk lagi setelah beberapa tahun yang lalu pernah masuk ke ruangan ini saat di suruh mengambil map yang berada di atas meja itu.
Tempatnya masih sama seperti dulu, tiba-tiba Adipati berdiri dan duduk di salah satu sofa yang berada di ruangan tersebut sambil menatap menantu laki-lakinya.
"Duduklah dekat Papa Alga." Adipati menunjuk tempat di samping dirinya.
Alga tentu saja langsung mengiyakan, sadar jika posisinya terancam tapi ia berusaha tenang dan baik-baik saja. Pasti Papa mertuanya ini juga tau jika dirinya ada main sedikit di luaran sana, lagian orang seperti Adipati tidak mungkin tidak tau perlakuan tercela menantunya ini, pasti sudah tau dan merasakan.
"Apa tidak ada hak yang ingin kamu bicarakan Alga, sepertinya tadi kamu kesini membawa tas besar?" Adipati penasaran ada apa dengan Alga dan Salma.
Meski tadi sempat sembunyi-sembunyi saat masuk membawa tasnya.
"Em ... itu ... anu. Se-- benarnya, saya kesini. Itu ...," bingung jujur atau tidak ya ... bagaimana jika Bapak tau.
Pikiran Alga masih egois dan memikirkan nasibnya sendiri.
'Sudah ... aku siap di hukum sekarang, ayo ... semangat-semangat untuk jujur dan di tendang. Hu ... hu ... nangis sendiri di pojokan.'
"Begini Pa, sebenarnya saat menikah dengan Salma saya masih punya kekasih namanya Riska. Tapi hari ini saya memutuskan dia dengan cara baik-baik dan jujur padanya jika saya sudah menikah dan saya memilih Salma, tapi ... kemarin saya melakukan hal fatal Pa." Jantungnya berdegup kencang.
Dug
Dug
__ADS_1
Dug
Arto hendak masuk tapi tidak jadi, ia juga ingin tau mengapa putranya dan menantu kesayangannya pisah kamar, apa yang terjadi sebenarnya.
"Hal fatal apa?" Adipati tidak terkejut sama sekali.
Masa mudanya juga bandel bahkan ia sampai menghasilkan Salma saat dirinya belum menikah, bahkan menutup rahasia sampai detik ini hanya dirinya yang tau bahkan Arto saja tidak tau tentang ini.
Alga terkejut bukan main begitu juga Arto yang berada di samping pintu masuk ruangan.
"Kemarin lusa, setelah saya kerumah Papa. Saya membantu mantan saya memperbaiki kran dan saya benar-benar tidak tau jika makanan dan minuman yang dia berikan ada obat terlarang dan membuat saya hampir menyentuh wanita itu, tapi untung saja bayangan Salma datang dan berhenti di saat yang tepat!" Alga tertunduk.
"Selain itu, meski pengaruh itu tidak sampai ke tahap saling bersentuhan. Tapi ... tangan ini sudah bermain yang seharusnya tidak terjadi, dan yang lebih parahnya lagi saya membantu mantan saya untuk balas dendam membuat Salma mencinta saya lalu saya tinggalkan saat ia menyukai saya," sambungnya lagi.
Adipati tersenyum, tak pernah di sangka ternyata hal ini terjadi pada putrinya. Ia memejamkan matanya, ini buah yang ia tanam dulu saat muda. Tidak menyangka dan tidak menduga jika putri tunggalnya lah yang menjadi orang yang menanggung kisah masa lalu.
Arto menutup mulutnya. Pantas saja tadi saat berbicara dengan Salma ia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan ternyata ini jawabnya. Sang putra berhianat dan menjadikannya tempat untuk membantu mantannya balas dendam dan melukai Salma meski menyandang status kekasih wanitanya itu.
BUGH
Alga terkejut mendapat pukulan mentah, bukan dari Adipati melainkan bapaknya sendiri memukul wajah Alga.
"Dasar anak kurang ajar, gak tau di untung. Tega ... teganya kamu berhianat dan menyakiti istri kamu, kamu ini sebenarnya laki-laki macam apa sih hah." Arto mencengkram kerah baju Alga.
__ADS_1
"Maaf Pak, Alga tidak ada maksud melukai Salma," Alga pasrah di hajar Arto sampai babak belur.
"Maaf, kamu kira dengan meminta maaf akan mengembalikan keadaan hah .... Bapak tanya siapa yang mengajarkan kamu jadi laki-laki yang tidak punya pendirian dan harga diri." Arto melepas cengkaramannya dan menghempaskan tubuh Alga sehingga Alga terjatuh ke lantai.
BRUGH
Alga menahan sakit di badan dan wajahnya juga, tidak apa ini salahnya sendiri yang begitu bodo* dalam cinta. Ternyata reaksi Arto seperti ini saat tau anak mantu kesayangan jadi korban balas dendamnya dan akibat dirinya yang tidak bisa menjaga pernikahan. Belum seberapa ini, Adipati selaku mertuanya juga belum menghabisinya di tambah Salma yang bisa bela diri juga belum menghajarnya secara terang-terangan.
"Ayo berdiri." Arto menantang sang putra yang di lihat langsung oleh Adipati.
Adipati juga ingin menghajarnya tapi tidak ada hak meski anak menantu keluarga ini. Seharusnya diri ini yang mendapatkan hukuman berat, sebab dulu diri inilah banyak melukai hati wanita secara bersamaan kala itu. Wajah tampan banyak uang dan laki-laki sukses dari keluarga kaya membuatnya terlena.
'Seharusnya aku juga mendapatkan ini bukan.'
Adipati mulai menyalakan diri sendiri.
*
Yuk dukungannya jangan lupa, kirimkan penyemangat untuk karya ini ya.
Emosi sih Emak tapi Emak tahan, melihat kelakuan Alga yang minus.
Ikuti terus kisah ini ya.
__ADS_1