
Alga membanting pintu kamar dengan kencang, tapi matanya membelalak saat ia malah masuk ke dalam kamar Salma. Ia hendak keluar namun ia terkejut saat Salma ternyata berada di depan pintu dengan tangan sebelah kanan yang mengepal.
"Jangan keluar." Salma masuk ke dalam dengan emosi naik turun di dadanya.
Tapi ia menahan semua itu, ia tidak mau gegabah seperti kejadian barusan di meja makan. Cukup perdebatan ini, lebih baik di bicarakan dengan kepala dingin saja dari pada emosi memuncak semua.
"Untuk apa aku di sini, lagian aku bukan suami yang baik kan. Bahkan kamu tidak mau mendengar ucapan ku sampai selesai, bahkan kamu merendahkan aku tadi," Alga juga tidak mau sebenarnya berada dalam posisi begini.
Ia juga mau ko hidup baik dan normal seperti lainnya, termasuk ingin hidup enak dari hasil kerja kerasnya. Namun usahanya tidak semulus takdir orang contoh seperti Salma yang memiliki hidup berkecukupan dari ia belum lahir sampai dewasa seperti sekarang, meski pemikirannya terkadang anak kecil juga ada.
Maklum saja umurnya masih 20 tahun dan ia masih labil, keadaan tidak ada sosok orang tua yang selalu mendampinginya secara langsung. Bukan mau menyalahkan orang tuanya, tapi Alga sering tau dan melihat jika Salma memang wanita kurang didikan bahkan perilakunya saja mirip dengan orang urakan.
"Maaf Alga." Lirih ucapan Salma.
Alga mengangguk.
Alga terenyuh mendengar permintaan maaf Salma, ia tau Salma tadi emosi berat. Pantas jika dirinya marah sebab sang suami melakukan hal yang menyakitkan hati, jika wanita lain di posisi Salma pasti sekarang suaminya sudah di tendang keluar rumah miliknya tanpa ampun.
Alga mendekati Salma.
"Aku juga minta maaf Salma, maafkan aku," sambil meraih tangan Salma dan mengajaknya duduk di sofa.
Terjadi keheningan sesampainya di sofa.
"Kenapa tidak di jawab permintaan maaf ku?" menatap wajah cantik Salma.
"Iya aku maafkan!" jawabnya tersenyum lega.
Salma tidak mau protes dengan apa yang terjadi di antara Alga suaminya dan Riska. Bagi Salma jika Alga di rumah sudah cukup Alga miliknya seorang, tapi jika di luar terserah mau berbuat apa Salma membebaskannya.
__ADS_1
Dalam benaknya saja ia berbicara tidak sampai disampaikan pada Alga, padahal ini poin terpenting dalam rumah tangga boleh membebaskan pasangan tapi jangan terlalu di biarkan dengan dunia luar bisa-bisa ia goyah dan terlena dengan keindahan luar sana, padahal yang berada di dalam sebenarnya jauh lebih indah sebab ia di rawat dengan baik meski ada beberapa yang tidak enak di pandang.
"Aku mau cerita kejadian tadi antara aku dan Riska, Salma." Alga menatap lekat-lekat netra Salma.
Salma gugub dibuatnya.
"Jangan dekat-dekat," sambil memalingkan wajahnya.
"Kenapa? gugub ya." Godanya tambah mendekatkan pandangannya sampai terkikis habis jarak di antara keduanya.
Cup
Salma membulatkan matanya.
"Alga, kamu kenapa menciumku," menyentuh bibirnya yang basah.
Kring
Kring
Alga langsung mengambil ponsel yang berada di kantong celananya dan melihat siapa yang menganggu dirinya.
Ternyata telpon dari Riska.
"Siapa? Riska ya, angkat saja." Salma berdiri lalu menjauh dari Alga.
Alga hendak menghentikan Salma namun lagi-lagi telpon itu berdering.
📞 "Hallo, ada apa?" (ketus Alga pada Riska, baru kali ini bad moodnya keluar, biasanya ia akan berbicara manis sekali pada Riska.)
__ADS_1
Salma mendengar pembicaraan itu sebab ia tidak pergi dari kamarnya dan Alga sengaja memperbesar volume telponnya dengan Riska.
📞 "Alga sayang, maaf atas kejadian tadi. Aku benar-benar terima bersama kamu selamanya, makannya aku rela tadi kamu tiduri!" (Riska berbicara demikian sebab ia tau jika Alga diam-diam menyembunyikan kenyataan, bahwa dirinya sudah menikah dengan Salma dan ini kesempatan bagus untuk pelan-pelan membuat dirinya seolah-olah terluka dan di dalam keadaan terpaksa)
Seketika mata Salma membulat.
"Tiduri," gumam lirih sambil menutup mulutnya. "Jadi ... tadi kalian," Salma langsung keluar dari kamar ini dan berlari sekencang mungkin.
Alga langsung mematikan saluran telponnya dan mengejar Salma ia sudah tidak peduli lagi jika Riska marah malahan yang terpenting detik ini perasaan Salma, entah mengapa dirinya takut jika Salma menganggap dirinya bukan suami yang baik dan bertanggung jawab.
Dan terjadilah drama-drama ala rumah tangga, yang satu terluka yang satunya lagi berusaha menenangkan tapi pada akhirnya mereka berpisah di satu ruangan sebab Salma sudah menguncikan diri di kamar tamu.
Tok
Tok
"Salma buka, tolong ... buka Salma." Sambil mengetuk pintu.
Salma menutup kedua telinganya berharap suara ketukan pintu menghilang namun tetap saja masih ada suara itu, Salma muak mendengarnya.
"APA SIH." Suara bentakan Salma saat membuka pintu.
Salma menatap nanar ternyata bukan Alga yang mengetuk melainkan Nila sambil tersenyum, Salma tidak sadar jika Alga barusan nyelonong masuk.
*
Yuk tinggalkan like, komen dan bintang 5.
Di kasih bunga dan kopi juga boleh ya, terimakasih banyak.
__ADS_1