Terjerat Pesona Anak Majikan

Terjerat Pesona Anak Majikan
18. Khilaf tak sengaja


__ADS_3

Emak akan mengajak kalian mendayung lautan dengan perahu, naik-naik di atas perahu dalam ... dalam sekali. Wk wk wk ...


'Khilaf itu akan membawa sesal di kemudian hari, tapi apa boleh daya akal tidak sejalan dengan tindakan.


Aku tak akan menyesal jika ini benar-benar terjadi, aku rela melakukannya sebagai bakti ku pada suami. Dan juga demi Papa tercinta.' Salma Adipati.


**


Alga benar-benar di buat frustasi, baru pagi tadi menikah sekaligus resepsi tapi sang Papa mertua sudah minta cucu yang banyak, haduh ... apa mengandung itu secepat kilat. Bukannya semua butuh proses daru cara buat dan.


Alga tidak melanjutkan pemikirannya yang sudah kemana-mana di tambah lagi membayangkan tubuh Salma pasti waw ... sekarang saja yang masih berbalut baju tidur saja sudah mencetak bulatan menonjol besar di kedua badannya bagian atas.


Salma mengerutkan dahinya, sedang memikirkan apa Alga atau jangan-jangan ia sudah berpikiran mesum.


"Kenapa masih melamun kalian berdua, sana makan dan segera malam pertama. Pokoknya Papa mau bulan depan sudah mendengar positif hamil, lagian saat pemeriksaan kemarin lusa semuanya dalam keadaan sehat. Jangan menunda kehamilan, kalau sampai papa tau kalian pakai kontrasepsi Papa tidak mau bicara dengan kalian." Adipati ngambeknya berlanjut.


Salma tersenyum getir, malam pertama ini membuat dirinya bingung. Lagian selama ini dirinya tidak pernah melakukan itu bagaimana caranya, ia melirik Alga kenapa dia sesantai ini bahkan ia sedari tadi tersenyum-senyum.


Makan malam dengan suasana biasa-biasa saja tidak ada hal romantis malah yang romantis itu lilinnya, bagaimana tidak lilin yang berbentuk sepasang angsa putih sangat cantik entah harganya berapa yang jelas aroma dari lilin ini sedikit membuat tidak nyaman.

__ADS_1


"Aku sudah selesai makan, ayo ke kamar kita." Alga berbicara sambil mengulurkan tangannya bak pangeran menyambut putri tercintanya dari kereta kuda.


"Sekarang? apakah harus begini?" Salma menunjuk tangan Alga yang terulur di depannya.


Alga mengangguk yakin sekali, sebenarnya Alga juga tidak merasa nyaman di tambah lagi kenapa makan malamnya di dekat kamar Adipati, sebisa mungkin ia memerankan perannya sebaik-baiknya agar ya Papa mertua percaya jika dirinya menerima pernikahan ini.


Sesampainya di kamar pengantin yang berhiaskan kelopak mawar merah yang sengaja di bentuk secantik mungkin, tapi Salma merasakan sensasi panas di tubuhnya.


"Alga, kenapa aku merasakan sedikit tidak nyaman di badanku? apa kamu juga merasakannya?" mata bersinar Salma sungguh indah malam ini, cantik lugu dan polos.


Alga menatap lekat-lekat wajah Salma, hanya seperti inilah cara dia menikmati keindahan anak majikan Bapaknya.


"Kenapa kamu mendekat?" Salma sedikit merancau.


Alga berusaha menahan, ia terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk menyalakan shower namun naas air dari shower juga tidak keluar ia pun beralih dan terpaksa di wastafel tapi sama yang paling ia tidak suka yaitu tempat duduk b** juga sama air tidak mengalir, mati sudah kenapa tidak ada setetes pun air yang keluar dari kamar mandi, oh ... my God.


Salma duduk di sofa ia enggan duduk di tempat tidur yang banyak bunga, risih sekali melihat pemandangan yang terlalu menuju ke arah gadis manis dan maunya yang berbunga-bunga suasana hari pertama menikah.


Alga keluar dari kamar mandi, bukan air yang membasahi badannya namun keringat dari dalam badannya yang terasa panas lah yang menyebabkan banyaknya keringat yang keluar.

__ADS_1


"Salma, apa ada tali di kamar ini?" Alga mencari-cari di lemari namun naas lemari isinya kosong momplong. Salma hanya diam tanpa bicara, badannya panas sekali.


Salma berjalan mendekati Alga, ia membuka dua kancing baju Alga dan mencium dadanya. Benar-benar hilang akal sehatnya, sebegitu hebatnya obat yang merasuk di dalam diri Salma bahkan Alga saja tidak menolak.


Alga menggigit bibir bawahnya sendiri.


"Salma ..., jangan. Aku ... tidak mau." Hendak mendorong badan Salma namun Salma justru mengeratkan pelukannya.


Suara Alga membangkitkan gejolak yang ada dalam diri Salma.


"Aku mohon, jangan menolak Alga. Meski besok mungkin saja akan ada penyesalan, namun hubungan kita sudah sah baik di Agama maupun di Negara. Jadi ...," Salma menengadahkan wajahnya ke atas.


"Apa ..., lepaskan Salma." Mencoba melepaskan dekapan Salma, namun suara sesenggukan tiba-tiba datang.


"Hiks ... hiks ..., ayo kita lakukan Alga. Biar Papa bahagia dan kita bisa bebas dari tugas ini, biarkan khilaf tak sengaja ini terjadi Alga," Salma menyembunyikan wajahnya yang mulai sebab sebab tangisannya pecah.


Di luar kamar pengantin ada daun telinga yang tengah menguping kegiatan mereka.


"Yes ... dapat cucu sebentar lagi." Adipati semangat empat lima, padahal tadi ia yakin jika usahanya gagal melihat anak dan menantunya biasa-biasa saja tanpa terpengaruh sedikit pun dengan obat perangs*ng dan juga lilin aroma terapi yang dipesan khusus untuk orang baru menikah yang hendak melewati malam panjangnya.

__ADS_1


**


Ya ampun segitunya pengen dapat cucu😒😒🤫🤭


__ADS_2