
Alga terkejut saat melihat Salma yang sepertinya pingsan di dalam bath tub, ia hendak menolong Salma dan tangannya sudah terulur menyentuh punggung Salma, tapi tiba-tiba mata Salma terbuka lebar dan mengejutkan Alga.
"Astaghfirullah." Alga spontan mengeluarkan ucapan yang terdengar sangat aneh, bagaimana tidak aneh selama ini Alga tidak pernah berkata-kata yang menuju religius yang Salma dengar hanya kata-kata dingin dan ketusnya saja.
"Apaan sih?" Salma menarik jubah handuknya dan langsung menutup badannya yang baru saja terpampang nyata di depan Alga.
Sudah terlanjur di lihat juga, buat apa mau teriak. Kalau di tanya malu enggak? jawabannya malu pakai banget lagi.
"Kenakan jubah handuk kamu dengan benar Salma, apa kamu tidak malu mempertontonkan bagian tubuh kamu." Memperbaiki jubahnya yang terlihat menurun sampai di lengannya.
"Terimakasih," sikap dingin Salma membuat Alga kepikiran, apa gara-gara pesan singkat tadi? bagus deh jika iya setidaknya ada hasil dari usahanya selama ini.
Langak pelan-pelan saja dan mengikuti prosesnya secara bertahap supaya lebih terlihat natural dan alami.
Keesokan harinya.
Salma mengaduk-aduk makanannya tanpa sesuap nasi masuk ke dalam mulut.
Papanya pulang kemarin tanpa berpamitan pada dirinya, padahal banyak sekali pertanyaan yang ingin ia keluhkan pada Adipati. Kenapa beliau begitu tega bahkan ngebet banget pengen cucu?
Alga sudah selesai makan lalu ia membersihkan mulutnya dengan tisu. Tak lupa ia membawakan bekal untuk Salma, salah satu trik untuk meluluhkan Salma yaitu dengan perhatian-perhatian kecil yang akan membuat kesan baik padanya.
"Bekalnya di bawa." Memberikan satu kotak makanan pada Salma.
Salma menatap bekal itu lalu menatap ekspresi wajah Alga seperti apa tulus enggak, saat kedua netra itu bertemu terjadilah tarik menarik pandangan. Alga segera memalingkan wajahnya dan berlalu pergi untuk mengambil kunci mobil untuk mengantar Salma sampai kampus barulah ia ke tempat Adipati, rumah utama keluarga Adipati.
__ADS_1
Salma duduk di sebelah kemudi, positif thinking saja deh semoga gak ada wanita resek yang setengah gesrek itu.
"Apa kamu masih ada hubungan dengan dia?" Salma membuka percakapan.
Alga terdiam, kerongkongan nya terasa kering bahkan sangat sakit untuk ia berbicara. Memang benar dirinya dan Riska belum putus beneran dan hanya jarang bertemu saja sampai sekarang. Tapi waktu itu ia sudah terlanjur bilang putus hubungan pada Salma.
"Tidak, Salma. Lagian wanita seperti dia tidak pantas untuk di pertahankan!" jawabnya bohong, meski setiap bicara secara tidak langsung Alga menyindir Salma.
"Oh." Salma hanya ber oh ria saja dari pada kepo lebih baik ia menyelesaikan tugas di kampusnya.
Mengambil jurusan bisnis di kampus memang menyenangkan bagi Salma, ia tidak mengeluh sebab itu jurusan sesuai dengan kemampuan dan kesukaannya.
"Kenapa tanya begitu." Alga balik menanyai Salma.
"Gak ada apa-apa, cuma mau bilang jika kamu sekarang statusnya beda. Jangan main-main dengan pernikahan bukannya aku melarang tapi takut Papa tau saja, kalau kamu masih menjalin kasih diam-diam dengannya," Salma mengeluarkan unek-uneknya.
"Aku tidak melakukan itu, dan juga tidak mau membuat Papa kamu kecewa."
Alga memang seperti ini, jalan pikirannya sulit di tebak. Antara tulus tidaknya beda tipis.
Selama ini Salma hanya menebak-nebak saja, mungkin tulus perlakuannya tapi dalam sekejap ternyata tipuan manis berasa empedu.
'Ternyata hanya demi papa seorang ia terpaksa mencintai anak majikannya. Apa sih ... Salma yang kamu harapkan dari dia, di hati dia itu sudah terukir jelas dan indah jika hanya Riska ya membuatnya bahagia dan tersenyum serta nyaman dan gak di tekan hidupnya, tidak seperti dengan kamu yang membuatnya selalu tertekan. Ya Allah tolong hambamu ini, buatlah hamba lupa jika hamba mencintainya.' Doa Salma dalam hati.
Meski ia sedih di hatinya tapi ia terlalu pandai menyembunyikan perasaannya itu. Lebih baik memang seperti ini cinta dalam diam.
__ADS_1
"Sudah sampai, apa tidak ingin turun?" tanya Alga membuyarkan kesedihannya.
"Eh, sudah sampai. Terimakasih sudah mengantar!" Salma segera turun dari mobil saat tak sengaja matanya menangkap seseorang yang begitu tidak ia sukai namun sangat di cintai Alga.
Tapi sebelum turun ia mengucapkan beberapa patah kata.
"Kalau mau pacaran jangan di area kampus, takut ada yang tau." Salma menutup pintu mobil.
Sedangkan Alga terpaku dengan ucapan Salma, maksudnya apa coba. Alga belum sadar sepenuhnya bahwa Riska sudah berada di samping mobil yang ia stir.
"Sayang." Sambil mengetuk kaca mobil.
Alga terkejut.
"Sa-sayang, Riska. Ada apa?" membuka pintu mobil dan keluar.
"Kamu kemana sih Alga, beberapa hari ini?" dengan manja Riska bertanya sambil merangkul lengan Alga.
"Aku gak kemana-mana ko, duduk dulu yuk di situ!" jawabnya mengajak Riska berbicara di bawah pohon besar yang rindang.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatapnya dari jauh.
"Aku kamu buat nyaman dengan sikapmu yang romantis dan lembut, tapi aku tidak bisa menggenggam mu. Padahal baru tadi kamu bicara jika wanita seperti itu tidak pantas di pertahankan, tapi sekarang yang aku lihat dia begitu pantas kamu pertahankan Alga." Gumam lirih Salma lalu ia melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kelas kuliahnya.
Alga begitu romantis pada Riska, bahkan ia tidak sungkan mengusap pipi Riska dan sesekali mencium tangan Riska begitu romantis bahkan Riska tidak tau malu mencium pipi Alga dan Salma melihat adegan itu, ia segera pergi dari pada hatinya tercolek bara api.
__ADS_1