
"Alga, sepertinya saya ingin berbicara serius dengan kamu kali ini." Adipati melepas dekapannya dari sang putri dan mengajak Alga bicara di luar.
"Iya, Pak Adipati," benar-benar sudah tidak berdaya lagi, kalau di pecat dirinya sekarang gak apa-apa tapi jika bapaknya berimbas juga bagaimana.
Adipati mengusap surai rambut Salma.
"Nak, papa keluar sebentar ya." Nada lembut Adipati langsung di iyakan oleh Salma.
Alga mengikuti Adipati dari belakang.
'Sial, apa yang akan papa bicarakan jika di luar kamar. Telinga juga gak sampai daun pintu pula.' Salma memperjelas pendengarannya namun sia-sia saat ada telpon pakai masuk pula di ponselnya.
Salma menolak panggilan itu dan ternyata berbunyi lagi dengan terpaksa ia mengangkatnya.
π "Iya, ada apa?" (malas melayani)
π "Aku sudah ada di depan gerbang rumah kamu ini, apa gak di izinkan masuk?" (suara Agam begitu jelas di ponsel Salma sebab ia loud speaker)
π "Papa ada di rumah tidak perlu kamu datang, pulang saja besok-besok kalau aku izinkan kamu datang ke rumah!" (jawaban acuh tak acuh Salma membuat Agam menyunggingkan senyum di sudut bibirnya)
__ADS_1
π "Baik, besok aku akan datang lagi dan lagi Salma. Bye ... bye ... jumpa esok di kampus ya." (Agam mematikan sambungan telponnya)
Adipati mengajak Alga duduk di kursi kayu dekat kamar Salma.
"Bagaimana pertanggungjawaban kamu, bukannya kamu sebagai pembimbing Salma sekaligus pelindungnya?" Adipati sangat tegas sekali.
Alga sudah banjir keringat dingin sampai jantungnya berdegup kencang.
"Maaf ... maaf ..., saya tadi keluar sebentar untuk menenagkan diri di makam ibuk. Maaf pak Adipati, saya jamin hal ini tidak akan terulang lagi kedepannya!" Alga berbohong jika dirinya ke makam ibunya, padahal ia pergi ke pantai sambil berteriak sekencang-kencangnya tadi.
Adipati menepuk pundak Alga.
Oh ... my God mimpi apa semalam jika ini nyata dan benar adanya, bisa-bisa di congkel ini hatinya dari hati Riska dan di ganti oleh orang lain. Hiks ... nyesek pakai banget lagi.
"Em ... maaf pak Adipati, rasanya saya tidak pantas dan tidak cocok sebagai pendamping putri bapak. Saya ... berasal dari orang tidak berada Pak, pasti kedepannya saya tidak dapat membahagiakan putri Bapak!" jawabnya merendah.
Adipati bukannya tidak suka malah justru tambah suka dengan kepribadian dari Alga.
"Tidak masalah, asalkan kamu mau berkerja keras dan membantu saya mengurus perkebunan teh dan tembakau sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan kalian."
__ADS_1
Tawaran yang sangat menggiurkan bagi Alga, jika di taksir perbulan saja pendapatan bisa sampai ratusan juta tinggal pengalian perbulan lalu pertahun itu hanya beberapa petak saja sedangkan perkebunan milik keluarga Adipati berhektar-hektar.
Tapi Alga kembali pada dunia kenyataan, tidak mungkin dirinya akan bisa seperti pak Adipati yang sukses mengembangkan usahanya bahkan sampai mengangkat perekonomian kota ini, pantas saja jika Salma otak cerdas dalam bisnis menurun dari Papanya sebab Papanya saja seperti ini luar biasa dalam masalah perbisnisan.
"Jalankan saja dulu Alga, saya yakin jika kamu bisa. Tapi, kamu harus janji sama saya untuk tidak melukai putri kesayangan saya, jika kamu berani mendua darinya saya pastikan kamu dan kekasihmu masa depan itu menderita. Saya bercanda Alga, jangan tegang seperti itu, saya tidak akan memaksa kamu Alga. Itu hak kamu untuk bahagia, satu lagi tugas kamu menjaga putri saya jika kejadian ini terjadi lagi dengan terpaksa saya pecat kamu dan tidak akan mengaji kerja kamu pada bulan tersebut." Adipati tersenyum sedikit kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Alga yang masih termenung di tempat.
Alga berpikir keras, ternyata dekat dengan orang kaya dirinya menjadi orang yang benar-benar lemah tanpa daya. Mau menolak uang bicara gak menolak uang juga bicara, pusing sekali memikirkan ini.
"Pa." Salma menatap sendu Adipati.
Adipati sangat kasihan dengan sang putrinya ini, pasti hidupnya sangat ketakutan sekarang. Kenapa peneror datang lagi, jika tidak suka dengan usaha perkebunan setidaknya jangan mengancam keselamatan putrinya, lebih baik dirinya yang dapat kiriman boneka itu atau sejenisnya. Salma terlalu kecil dan seharusnya tidak jadi korban keegoisan orang dewasa.
"Salma, mau Papa suapi makan?" tawarnya.
Salma menggeleng
"Terus mau apa?" Adipati menatap Salma yang bingung mau bicara apa, lalu ia mengacak-acak rambut Salma. "Istirahat saja dulu, papa mau ke bawah." Meninggalkan Salma sendirian.
Mati kutu sudah, kesempatan keponya gagal padahal sedikit lagi ia bakalan tau apa yang sedang di bicarakan Papanya dengan Alga barusan. Hati Salma merasa sedikit aneh setelah kepergian Adipati, apa Papa menyuruh Alga untuk jadi pendampingnya seperti beberapa waktu yang lalu itu.
__ADS_1