
Bu Cherry mengepalkan tangannya.
"Tunggu sebentar." Ketusnya masuk kembali ke ruangannya dan mengambil amplop coklat yang sudah di persiapkan jauh-jauh hari untuk mengaji karyawannya.
Cherry memberikan amplop itu dengan baik menyerahkannya tidak di lempar sebab banyak karyawannya berlalu lalang di sekitar ruangannya. Bahkan sudah ada beberapa orang yang sudah bergosip simpang siur bahkan.
"Terimakasih banyak Bu Cherry yang baik,saya dan istri saya pamit undur diri." Tersenyum devil sebelum beranjak pergi.
Salma juga tersenyum tapi senyumnya tersembunyi di balik maskernya, untung wanita tadi tidak menyuruh dirinya untuk membuka maskernya.
Bisa gawat jika ada yang melihat Salma bahkan kenal masa lalu Salma yang suka keluar masuk club malam bahkan investasi di dunia malam tersebut meski tidak menggunakan sepeserpun uang dari hasil investasinya.
Salma tidak membalas genggaman tangan Alga ia diam seribu bahasa, jadi pendiam adalah hobinya sekarang.
"Salma sayang" di panggil juga tidak ada reaksi apa-apa.
Alga mengulang lagi dan lagi tapi seperti sebelumnya tidak di tanggapi. Alga pun membiarkan saja mungkin Salma sedih atau apa itu pasti sebentar lagi moodnya akan membaik, Alga akan berusaha memperbaiki semuanya meski tidak mungkin akan kembali seperti semula.
Lagian bukannya kemarin malam papa Adipati menyuruh Salma untuk datang.
"Salma.. ke rumah papa hari ini bagaimana?" ragu-ragu Alga bertanya.
Salma diam saja tanpa mau menjawab.
"Maaf Salma sayang jika perkataan dan tindakan ku barusan membuat kamu marah." Membujuk, merayu Salma dengan menciumi punggung tangan Salma.
"Ayo pulang, aku lapar," Salma berjalan begitu saja.
Berjalan lebih dulu entah ia kemana sambil duduk termenung di taman yang sudah di sediakan bangku untuk santai-santai dan menghabiskan waktu sebentar untuk beristirahat sebelum keluar dari area restoran mewah ini.
Alga membonceng Salma dengan sepeda motor dan membantu Salma mengenakan helmnya.
__ADS_1
"Cantiknya istriku." Ia cubit padahal di dalam masker mulut pipi Salma merasakan panas dan sakit akibat ulah Alga yang gemas pada wajahnya.
"Gak usah cubit.. cubit.. sakit tau," Salma naik sepeda motor dan mau di bonceng Alga.
Sudah lama tidak naik motor ia juga rindu dengan sepeda motornya yang berada di garasi, bagaimana keadaan mereka ya apa ada masalah di mesin atau ban dan lainnya terus nanti kalau di gunakan di jalan apa ada masalah lain.
'Sepertinya aku harus jual semua dan beli yang baru saja, takutnya terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan lagi. Masih horor pengalaman ku waktu itu kecelakaan itu..'
Salma menggelengkan kepalanya dengan cepat agar pikirannya tidak terpatuh akan satu hal yang menyakitkan.
"Salma.. sayang." Alga menatap wajah Salma dari pantulan kaca spion.
"Hem.. ada apa?" tanpa menyambut tatapan Alga.
"Jadi pulang ke rumah atau ke rumah papa"
Salma bisa mendengarnya, kenapa Alga bahas lagi sih padahal mood barusan membaik kini memanas kembali. Tapi lebih baik segera ke sana dan tau apa yang harus di lakukan dan keputusan apa yang harus di ambil jika positif ya di ambil jika negatif ya di tinggalkan saja.
"Iya.. iya.. bisa sopan sedikit enggak sih ke suami?" pertanyaan Alga langsung mendapatkan tawa renyah dari Salma.
"Aa.. ha.. ha.. mau di hormati? sepertinya ada yang salah deh dengan kata-kata kamu Alga, apa kaca di kamar kurang besar dan jelas!" sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya harus menghormati dia.
Sudah lama Salma menghormati dan menghargai Alga sejak menikah tapi Alga tidak tau dan benar-benar tidak merasa di hormati. Dari menjaga aib, menerima takdir sebagai istri, paruh dan menerima semua perlakuan Alga para dirinya tapi.. apa yang ia peroleh hanyalah luka sayatan tajam di hatinya.
"Salma.. aku suamimu dan kamu harus menghormati aku sebagai suamimu, aku diam selama ini sebab aku menunggu kamu hormat dan patuh padaku Salma." Perkataannya penuh dengan penekanan.
Salma tersenyum kini ia paham bahkan otaknya kembali normal dan seperti dulu lagi.
"Haduh.. suami yang di hormati ternyata semakin lama ngelunjak ya, tidak pantas di jadikan sandaran dan panutan istrinya, apa gak sadar selama ini perbuatan yang ia perbuat ke aku dan merubah hidupku. Suami egois buat apa di hormati, terlalu mulia jika di hormati. Sedangkan dia.. apa balasan dari istri yang patuh dan hormat itu? hanya sakit hati yang ia dapatkan. Sudahlah Alga jika kamu ingin di hormati dan di hargai oleh orang lain mulai dari sekarang mengaca pada diri kamu sendiri, sudah benar belum perlakuan kamu" ucap panjang lebar Salma memalingkan wajahnya.
Salma kesal jika di suruh hormat ke suaminya, sedangkan Alga saja tidak pernah menghargai apalagi saat baru menikah ia hanya laki-laki picik yang pernah hidup di planet bumi.
__ADS_1
Alga tentu saja marah dengan ucapan Salma, ia tidak seburuk itu dan masih menghargai pernikahan.
"Aku masih menghargai pernikahan, kamu jangan asal bicara Salma." Lagi-lagi menggertak.
Salma tidak takut dengan gertakan Alga baginya hanya angin lalu saja.
"Iya aku tau aku terlalu asal bicara, turunkan aku disini," tidak mau berlama-lama duduk di belakang Alga yang ada bisa panas pantatnya bukan lagi hatinya.
"Tidak akan, aku mau mengajak kamu makan siang dulu" bersih kukuh.
"Tidak mau.. aku sudah kenyang duluan. Lebih mengenyangkan berdebat dengan kamu dari pada makan berdua kaya iya.. iya.. saja rumah tangga baik-baik saja seolah-olah tidak ada yang terjadi," mode kesal Salma meluap-luap.
Alga tetap melajukan sepeda motor yang ia kendalikan sedari tadi, demi keamanan sang istri ia sering menservis motornya agar sewaktu-waktu Salma bersama dengannya ia merasakan kenyamanan.
"Maafkan aku Salma." Lagi-lagi kata-kata basi Alga lontarkan.
Tidak ada salahnya meminta maaf tapi setelah meminta maaf ia ulangi lagi kesalahannya dan yang terakhir pasti Salma yang akan di salahkan. Capek.. lelah.. menghadapi suami yang egonya tidak dapat di kontrol sama sekali.
Alga menghentikan laju motornya dan memarkirkan motor tersebut di salah satu mal yang tidak jauh dari rumah, lumayan sudah dekat paling sekitar 2 kilo meter dari rumah.
"Kenapa tidak di rumah sekalian?" Salma terpaksa mengikuti Alga sebab Alga membantu membukakan helm dan juga menggenggam erat tangan nya.
"Aku mau jalan-jalan romantis dengan istriku!" mencium pipi Salma sekilas sebelum ia memperbaiki masker mulutnya.
Salma hanya memutar bola matanya dengan malas, terserah deh mau ngapain di tempat ini. Ramai banyak pengunjung pasti Alga tidak akan berbuat yang aneh-aneh.
Saat memesan makanan mata Salma tertuju pada sesuatu pemandangan yang menarik untuk di tonton, jika di sapa bagaimana ya reaksi Alga.
*
Hayo... kira-kira siapa yang orang yang menarik perhatian Salma sampai-sampai ia ingin melihat reaksi suaminya itu.
__ADS_1