Terjerat Pesona Anak Majikan

Terjerat Pesona Anak Majikan
59. Kedatangan tamu tak di undang


__ADS_3

"Salma ... Salma ... aku mohon. Aku benar-benar tidak melakukannya Salma, itu fitnah semua hanya fitnah Salma." Alga bersimpuh di kaki Salma.


Salma tersenyum.


'Haduh ... bualan apa lagi yang kamu mainkan Alga, sudah cukup permainan anak-anakmu.'


"Benarkah? rasanya tidak percaya deh. Lagian bukannya aku tidak ingat jika pernah menikah, atau jangan-jangan pernikahan ini juga skenario kamu lagi," ledeknya kesal.


"Salma ... aku mohon percaya padaku Salma, sekali ini saja." Merengek seperti anak kecil.


"Hubungan yang sudah di ujung tanduk, aku tidak bisa terima Alga. Jika suamiku menghamili wanita lain," masih keras kepala juga.


Adipati segera pergi setelah mendapatkan telepon saat ia masuk ke dalam mobil ia melihat ada mobil yang sangat asing, mungkin itu teman Salma.


Elang dan Riska sudah sampai di rumah Adipati setelah perdebatan panjang, mereka bertengkar tiada hentinya bahkan di jalan juga adu mulut.


Elang tidak terima sebagai ayah di dalam perut Riska tidak ia akui padahal selama ini hanya dengan dirinya melakukan hal itu, tapi Riska yang aneh tidak mau Elang yang jadi ayah si jabang bayi.


"Kamu harus mengaku jika ini bayi aku, jika tidak kamu akan kehilangan fasilitas mewah yang kamu miliki selama ini, bahkan nasib keluargamu di ujung keruntuhan jika kamu masih tidak mau mengakui jika di dalam perut kamu bukan bayi aku." Ancam Elang pada Riska.


Riska tentu saja tidak mau kehilangan harta dan tahta, di tambah lagi usaha keluarganya sedang jaya-jayanya sebab bantuan suntikan dana dari keluarga Elang.


Kesempatan emas jangan di sia-siakan, jika tidak pasti hilang. Soal Alga biarkan saja tidak usah di kejar lagian dia gak ada apa-apanya di bandingkan dengan Elang yang tajir melintir, berkedip saja uang bercucuran tanpa henti.


"Iya ... iya ... asalkan tidak menghancurkan bisnis keluarga aku," pasrah.


Riska melangkah dengan biasa-biasa saja seperti wanita pada umumnya jika hamil tidak ada masalah.


Salma mendengar suara langkah kaki tidak hanya sepasang kaki tapi banyak, sepertinya tamu tidak di undang.


Alga menatap ke sumber suara, ia terbelalak saat netranya menatap objek yang sangat merusak pemandangan.


"Hallo, selamat sore." Suara Elang begitu nyaring.

__ADS_1


Salma hanya mencibir saja, benar-benar ya kehidupannya seperti drama sinetron tau tidak. Tokoh protagonis yang selalu jadi sasaran empuk sekali.


Salma berjalan sambil membawa tongkat tapi ia di papah Alga, terpaksa. Biar tuh biang kerok tau rasa, jika matanya membaik secepatnya atau tidak bakalan ia balas nanti Alga. Untuk sepasang pasangan kompak yang sedang bertamu inilah yang harus segera di basmi.


"Silahkan duduk, ada apa kesini? tumben." Cuek.


Elang tidak terkejut begitu juga dengan nya yang juga tidak terkejut yaitu Riska.


"Kamu???" pandangan Elang tidak lepas dari wajah Salma yang bertambah cantik saja. Ia pura-pura tidak tau jika Salma tidak bisa melihat, jika sampai informasi bocor nama baik keluarganya pasti terseret juga.


Lagian kalau Salma mau lapor mana bisa, keluarga Salma di bawahnya sangat jauh bahkan jauh sekali di bandingkan dengan keluarganya yang banyak perusahaan dan usaha baik di kota ini, sampai luar pulau ini juga ada beberapa.


"Tidak bisa melihat, jangan banyak tanya. Mau bahas apa kesini, jika tidak penting tau kan arah pintu keluar dan aku tidak bisa mengantar!" Salma geram sekali.


Riska gerogi sekali, meski ia selalu punya ide dan rencana di luar perkiraan orang-orang ini. Tapi jika Salam mau membalas atau memukul dirinya, bisa di pastikan besok tidak bisa bangun atau berakhir di rumah sakit.


"Soal berita tadi yang heboh, em ... aku mau minta maaf Salma." Riska berbicara sangat pelan.


Salma melebarkan telinganya.


Biarkan saja dia usaha lebih keras lagi, berani berbuat berani juga bertanggung jawab.


Riska mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya.


'Awas kamu Salma, jika bukan karena ancaman Elang aku akan melanjutkan drama ini. Awas saja aku akan menghancurkan kamu tapi tidak hari ini.'


Riska menghela nafas.


"Salma ... aku minta maaf yang sebesar-besarnya, kejadian tadi itu fitnah. Dan Alga tidak pernah melakukan itu padaku Salma, jadi aku mohon maafkan aku." Riska menahan amarahnya.


Alga menatap lega, setidaknya Riska sudah bicara jujur tentang permasalahan yang heboh yang tadi.


Salma berdiri tanpa menjawab sepatah katapun.

__ADS_1


"Kalian pulang saja, aku capek dan perlu istirahat," Salma meninggalkan tempat sambil berjalan mencari arah anak tangga.


Alga menatap kepergian Salma, Elang sebenarnya sangat marah mengetahui Riska masih saja ngebet ngejar-ngejar suami orang.


Apa dia belum puas terlibat dalam kecelakaan itu dan sampai detik ini masih Elang bantu selamatkan, jika tidak lapas adalah rumah terakhirnya. Sebab skandal Riska tidak hanya satu, selain mengancam Salma terus peneror dan juga penyebab nyawa orang hilang.


"Tapi ...." Ingin menghentikan tapi ternyata Salma tidak mau memaafkan dirinya.


Riska menahan sekuat hati, tapi nyatanya.


"Dasar wanita buta, sombong." Perkataan yang keluar begitu saja.


Salma mendengar jelas olokan Riska, ia menoleh dan tersenyum ramah.


"Terimakasih atas sambutannya, aku sangat senang. Oh ya jangan lupa tentang tamparanmu waktu itu di perpustakaan, aku masih ingat loh," Salma berjalan sesantai mungkin, padahal dalam hati berkecamuk tidak karuan.


Di saat seperti ini dimana sosok suaminya, dimana perhatiannya. Dirinya butuh dukungan penuh tapi dalam kenyataan Alga tidak ada di dekatnya.


'Jika nanti penglihatan ku kembali pulih, aku harap tidak bertemu dengannya lagi. Terlalu perih luka ini aku rasakan sendiri, rencana balas dendam saja hanya jadi angan-angan belaka. Aku bahkan tidak mampu dan lemah akibat cinta buta ku ini.'


Tersenyum getir, ia benar-benar sendiri sekarang dan seterusnya.


Alga mengepalkan tangannya dan hendak memukul Riska namun di cegah oleh Elang.


"Kamu mau apa hah ... rakyat jelata seperti kamu ini tidak pantas bersanding dengan Salma yang cantik dan kaya raya seperti tuan putri, satu lagi yang harus kamu tau Alga. Riska ini wanita simpanan ku selama ini dan juga bayi ini memang milik aku dan soal kejadian tadi dan rumor yang menyebar begitu cepat itu semua ulahku." Bisiknya tepat di telinga Alga bahkan Riska saja tidak tau pembicaraan bisik-bisik barusan.


"Terimakasih atas infonya, sayang aku tidak punya pena perekam. Apa kamu sudah merekamnya barusan?" pertanyaan konyol apa ini Alga.


Elang tertawa nyaring.


"AA ... HA ... HA .... Aku senang kamu menderita Alga bersama wanita itu dan juga istri kamu!" Elang begitu senang dan bahagia sekali.


Riska ingin protes namun tidak berani, hanya dan tahta lebih dari segalanya. Asalkan di dunia bahagia dan bisa memuaskan keinginan buat apa lagi peduli dengan keadaan yang lain.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2